Manajemen Konflik dalam Organisasi

PENULIS Novia Nuryany, S.IP.,M.Pd (Guru SD Muhammadiyah Sapen)

Ibarat sebuah gerbong kereta yang sarat dengan penumpang, sebuah lembaga tentu memiliki berbagai permasalahan.

Dari sisi usia, ada yang lansia, ada yang balita.

Jika dalam perjalanan ada balita yang (maaf) muntah-muntah, tentu tidak dengan serta merta kita minta untuk pindah gerbong. Apalagi menurunkannya di tengah jalan untuk melanjutkan dengan kereta lain. Walau mungkin ada seseorang yang ingin melakukanya, karena mungkin dianggap mengganggu kenyamanan dalam perjalanan. Penumpang  lain yang mungkin berwawasan luas dan berpengalaman, secara bijak mencoba untuk mencari tahu, kenapa balita itu muntah. Jika masuk angin segera beri pengobatan yang tepat. Jika karena kedinginan karena AC atau jendela yang terbuka, tentu matikan AC dan tutup jendela. Semua tindakan yang diambil, tentu ada resikonya. Tapi meminimalisir resiko tentu juga menjadi skala prioritas.

Dari sisi niat dan tujuan. Masing-masing punya kepentingan. Tapi supaya semua penumpang selamat dan sampai tujuan, gerbong harus fokus, mengikuti jalur sesuai rel nya. Jika ternyata ada penumpang yang salah naik, salah tujuan, bisa dibantu untuk mencari transportasi yang dimaksud di stasiun berikutnya. Tentu bukan dengan memindahkan relnya, mengubah jalur kereta, apalgi meminta masinisnya untuk mengantarkannya pada tujuannya sendiri.

Dari sisi kemampuan, baik fisik maupun psikis. Ada penumpang yang kuat. Ada yang lemah. Ada yang berani ada yang penakut. Ada yang berhati baja, ada juga yang lembut hati. Tapi semua harus saling menyadari untuk tetap saling menghargai,sehingga yang berani tidak harus arogan, dan yang lembut hati tidak merasa tertekan. Kita semua sama. Hak dan kewajiban sebagai penumpang harus dipatuhi, dijaga dan dilaksanakan.

Dari sisi pola pikir dan kepribadian, Penumpang kereta mungkin ada yang punya kemampuan berfikir cerdas istimewa, tapi  mungkin juga ada yang biasa saja, atau ada yang sedang bingung mencapai cita-cita dan harapannya. Ada yang mencapai dengan cepat tapi ada yang perlu mencapainya secara bertahap. Dalam kebimbangan dan keberagaman itu ada  penumpang yang jadi komentator, ada yang jadi penonton, ada yang iba tapi tak bisa berbuat apa-apa, tapi ada pula yang tidak peduli. Dan semua bertahan dalam satu kondisi demi kebaikan semu.

Mungkinkah ada penumpang yang mencoba untuk berbuat baik dengan mengurai sedikit perbedaan menjadi sebuah kebersamaan yang indah ?

Kisah  gerbong kereta di atas sangat jelas menggambarkan, sebuah lembaga tentu memiliki  beragam konflik yang berbeda. Permasalahan dapat diselesaikan jika warga sekolah dapat memahami manajemen konflik. Konflik merupakan sesuatu hal yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi. Dalam sebuah organisasi, tentu ada pembagian tugas atau pekerjaan (job description/jobdes) yang dilakukan baik secara individual ataupun kelompok. Pekerjaan individual maupun kelompok  ini dalam pelaksanaannya saling terkait dengan pekerjaan pihak-pihak lain melalui apa yang disebut dengan interaksi. Dalam interaksi dan interelasi sosial antar individu atau antar kelompok inilah biasanya konflik sering terjadi.  Konflik sebenarnya merupakan hal alamiah. Dahulu konflik dianggap sebagai gejala atau fenomena yang tidak wajar dan berakibat negatif, tetapi sekarang konflik dianggap sebagai gejala yang wajar yang dapat berakibat negatif maupun positif tergantung bagaimana cara mengelolanya.Agar dapat mengelola konflik dengan baik tentu kita harus memahami konflik itu sendiri, penyebabnya, orang-orang yang terlibat di dalamnya dan tentu saja cara untuk mengelolanya agar menjadi energi yang positip.

A. Pengertian Konflik.

Robbins (1996)  menjelaskan bahwa konflik adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh atas pihak-pihak yang terlibat baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Sedangkan menurut Luthans (1981) konflik adalah kondisi yang ditimbulkan oleh adanya kekuatan yang saling bertentengan. Kekuatan-kekuatan ini bersumber pada keinginan manusia. Istilah konflik sendiri diterjemahkan dalam beberapa istilah yaitu perbedaan pendapat, persaingan dan permusuhan.

Sedangkan menurut Wood dkk., (1998:580) konflik (dalam ruang lingkup organisasi) yaitu : Conflict is a situation which two or more people disagree over issues of organisational substance and/or experience some emotional antagonism with one another, yang kurang lebih artinya konflik adalah suatu situasi dimana dua atau banyak orang saling tidak setuju terhadap suatu permasalahan yang menyangkut kepentingan organisasi dan/atau dengan timbulnya perasaan permusuhan satu dengan yang lainnya. Ketidaksetujuan itu dapat disebaban oleh beberapa hal yang kemudian menjadi penyebab konflik.

B. Penyebab Konflik

Dalam kenyataannya konflik di dalam organisasi dapat disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  1. Faktor Manusia
    1. Ditimbulkan oleh atasan, terutama karena gaya kepemimpinannya.
    2. Kurangnya pemahaman, wawasan dan kemampuan bawahan dalam memahami dan melaksanakan tugas-tugasnya.
    3. Masalah kepribadian antara lain sikap egoistis, tidak peduli, selalu menganggap dirinya benar, kurang dapat menerima pendapat orang lain, kurang dewasa dalam menghadapi perbedaan.
  2. Faktor Organisasi
    1. Alokasi sumberdaya : Alokasi sumber daya yang dimiliki suatu organisasi dapat menjadi sumber konflik jika tidak ada pembagian secara rasional antar bidang
    2. Perbedaan tujuan dan tata kerja : Tiap unit dalam organisasi mempunyai spesialisasi dalam fungsi, tugas, dan bidangnya.  Perbedaan target, tujuan  dan tata kerja antar unit ini dapat menimbulkan hubungan yang kurang harmonis jika tidak memiliki arah dan koridor yang jelas, pada akhirnya dapat mengarah pada konflik.
    3. Interdependensi tugas : Konflik terjadi karena adanya saling ketergantungan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Kelompok yang satu tidak dapat bekerja karena menunggu hasil kerja dari kelompok lainnya. Sementara kelompok lain tidak dapat menunjukkan kinerja yang diharapkan.
    4. Beban kerja : Beban kerja seringkali menjadi sumber konflik karena suatu kelompok tertentu ataupun individu memiliki  beban kerja yang kurang seimbang dibandingkan dengan yang lain.
    5. Ketidakjelasan dan ketidaktegasan dalam standar prosedur operasional : Konflik terjadi karena batas-batas aturan dan wewenang tidak jelas,  tanggung jawab yang tumpang tindih, dan pelanggaran dalam pelaksanaan prosedur .
    6. Formasi dan jobdes : Masalah formasi/penempatan orang yang kurang tepat, dapat menimbulkan konflik karena kemampuan yang dimiliki tidak sesuai dengan kebutuhan/spesifikasi bidang yang akan dikerjakan sehingga job des yang ada pun tidak dapat dilaksanakan secara optimal.
    7. Hambatan komunikasi : Hambatan komunikasi, baik dalam perencanaan, pengawasan, koordinasi bahkan kepemimpinan dapat menimbulkan konflik personal ataupun antar bidang/kelompok.
  3. Faktor Lingkungan dan Budaya Organisasi

Faktor lingkungan baik secara internal maupun eksternal serta budaya organisasi dapat menjadi sumber konflik. Sebagai contoh, secara eksternal lingkungan memaksa suatu organisasi untuk berubah sesuai perkembangan jaman. Namun secara internal budaya organisasi yang ada tidak siap untuk mengikuti perubahan tersebut. Pro kontra pasti akan terjadi, sehingga akan menimbulkan konflik.

Kartun manajemen konflik
Ibarat sebuah gerbong kereta yang sarat dengan penumpang, sebuah lembaga tentu memiliki berbagai permasalahan (sumber gambar : klik disini)

C. Cara Mengatasi Konflik

Mengatasi dan menyelesaikan suatu konflik bukanlah suatu yang sederhana. Cepat-tidaknya suatu konflik dapat diatasi tergantung pada kesediaan, keterbukaan serta good will dari pihak-pihak yang bersengketa, berat ringannya tingkat konflik yang terjadi, serta kemampuan pimpinan dalam mengatasi konflik yang muncul.

Ada banyak cara dalam mengatasi konflik, baik secara personal maupun secara organisasional. Namun secara sederhana, konflik dapat diatasi dengan menganalisis persoalan mendasar yang menjadi sumber konflik, menghadirkan pihak-pihak yang berkonflik, serta mencari solusi yang sekiranya dapat diterima oleh kedua belah pihak. Selain itu, dalam mengatasi konflik seorang pemimpin/manajer hendaknya  bersikap bijak dan obyektif, berwawasan luas, serta tidak mengambil keputusan secara tergesa-gesa sehingga justru dapat menimbulkan masalah baru.

Masalah-masalah ini, dalam tuntunan Islam dapat diselesaikan dengan cara musyawarah sebagaimana tercantum dalam QS.Ali  imran ayat 159 yang artinya sebagai berikut :

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.

Dengan dasar dan tuntunan dalam ayat tersebut, semoga konflik yang terjadi dalam organisasi dapat membawa dampak positif  baik secara personal ataupun organisasional sehingga dinamika dalam perjuangan mencapai tujuan organisasi dapat berjalan lebih baik, lebih maju dan dapat menjawab tantangan jaman. Semoga !

Referensi :

  • Luthans F.(1981) Organizational Behavior, Singapore :Mc Graw Hill.
  • Robbins, SP. ( 1994).Organizational Behaviour, Siding :Prentice Hall.
Gambar Manajemen Konflik dalam Organisasi
Jurnalis Jamaah
Jamaah Muhammadiyah (pimpinan, anggota, simpatisan dan pegawai) yang mengirim artikel dan berita ke redaksi Majalah Mentari dan PDMJOGJA.ORG. Artikel dan berita ini ditulis oleh penulis lepas / kontributor tidak tetap | Artikel dan berita yang ditulis adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi. Untuk mengirim tulisan silahkan kunjungi link berikut : pdmjogja.org/kirim-tulisan/.

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...