Local Genius Budaya Jawa untuk Penanaman Nilai – Nilai Kepemimpinan Bangsa

Oleh : Khamim Zarkasih Putro (Wakil Ketua PDM Kota Yogyakarta 2010/2015)

Local Genius orang Jawa adalah sebuah pilar pemikiran orang Jawa yang hebat, yakni sebuah pemikiran yang didasarkan pada watak tradisi. Karena orang Jawa tak sekadar mengembangkan pemikiran dalam hidup, local genius tersebut telah berbaur dengan rasa. Pikiran dan rasa Jawa itulah yang bercampur manis sehingga membuat orang Jawa lebih bijak, termasuk dalam hal menyampaikan nilai-nilai moral kepada generasi berikutnya. Dan modal yang seperti ini akan memberikan konstribusi yang sangat besar bagi penanaman nilai-nilai moralitas dan watak bangsa yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bangsa sekarang ini.

A. Tembang Macapat : Pesan Moral yang Menyenangkan

Nama-nama tembang Macapat yang sebelas memberikan tuntunan atau ajakan berperilaku yang baik.

  1. Mijil yang berarti ”keluar” terkandung faktor-faktor waku, tempat dan keadaan, maka dalam menyampaikan nasehat atau ”tutur” dengan orang lain harus mengingat faktor-faktor : (1) waktu yang sesuai, (2) tempat yang berarti ”empan papan” dimana menyampaikan sesuatu haruslah memilih tempat yang sesuai. (3) keadaan orang yang menerima nasehat, umurnya, tingkat pengetahuannya, golongannya, dan sebagainya. Konon, Mijil disusun oleh Sunan Gunung Jati atau Feletehan atau Fatahilah di Cirebon dan Banten. Mijil artinya keluar, yang mengandung makna jangan asal bicara saja. Dalam arti lain, orang juga harus siap untuk mengeluarkan sesuatu bagi orang lain (berderma).
  2. Pangkur yang berasal dari kata ”nyimpang lan mungkur”, artinya dalam hidup ini jangan sampai menyimpang dari perintah agama, namun simpangilah serta tinggalkanlah kejahatan. Tembang Pangkur dikarang oleh Sunan Muria yang teguh sekali dalam memegang dan melaksanakan perintah agama.
  3. Kinanthi yang berasal dari ”kanthi” diberi sisipan ”in” menjadi ”Kinanthi”, yang artinya dikanthi, digandeng, disertai, ditemani. Terutama orang-orang yang masih ”buta” dari tuntunan agama, harus ditemani untuk dituntun menuju kepada hidup beragama yang lebih baik. Dalam mengajak kepada kebaikan hendaknya banyak berusaha untuk mencari teman baru, tidak mengadakan permusuhan. Tembang Kinanthi dikarang oleh Sunan Giri, guru dari Sunan Kalijaga.
  4. Dhandhanggula, yang berasal dari kata ”dhandhang” dan ”gula” yang berarti pengharapan yang manis dalam hidup ini. Ajakan kepada kebaikan haruslah disampaikan dengan enak dan menyenangkan , karena yakin dan percaya akan Kebijaksanaan, Kemurahan, Keagungan, Kekayaan, Keadilan dari Allah, Tuhan Semesta Alam ini. Dhandhanggula ini disusun oleh Sunan Kalijaga.
  5. Sinom, yang berarti daun muda ”pupus”  (daun muda) pohon asam atau rambut halus di atas dahi wanita, yang mengandung arti bahwa ajakan kebaikan dengan cara yang menggembirakan akan meresapkan rasa keagamaan, yang merupakan hiasan bagi hidup manusia dan menjadikan manusia yang penuh harapan (optimis) dan tampak awet muda, karena bersih lahir batin. Tembang Sinom disusun oleh Sunan Giri.
  6. Asmaradana, yang berasal dari kata ”asmara” dan ”dana” yang artinya suka memberi. Ajakan kebaikan yang berhasil dapat menjadikan manusia yang suka memberi atau suka mengeluarkan infak, derma dan sadakah, suka menolong sesama, tanpa pamrih. Disusun oleh Sunan Giri.
  7. Megatruh yang berasal dari kata ”megat” dan ”ruh”, yang berarti memisahkan roh dari pemikiran yang tidak baik atau menahan hawa nafsu. Ajaran agama pada dasarnya membawakan keimanan untuk menjalankan ibadah dengan menjauhkan hawa nafsu, berbuat baik dengan mentaati perintah Sang Pencipta dan menjauhi kejahatan serta menghindari larangan-larangan Allah dan menjauhi iblis. Disusun oleh Sunan Giri.
  8. Durma, yang berasal dari kata ”dur” dan ”ma” yang artinya mundur saka M5 atau menjauhi dari maksiat yang lima, yakni : (1) madon = berzina; pelanggaran dalam hal ini sangat mengacaukan kehidupan masyarakat, (2) minum = minuman keras, yang akibatnya merusak kesehatan lahir batin, keturunan, masyarakat dan rumah tangga, (3) madat = menghisap obat yang memabukkan, membuat orang tidak ingat : mariyuana, morfin, candu, mirasantika, yang sangat merusak kesehatan lahir batin. Akibatnya merusak perekonomian perseorangan dan masyarakat, (4) main = berjudi, mengadu untung, dan (5) maling = mencuri (termasuk didalamnya menggelapkan, korupsi, menipu, memeras dengan riba). Durma disusun oleh Sunan Bonang (baboning kemenangan) putrera dari Sunan Ampel.
  9. Maskumambang,  yang berasal dari ”emas” lan ”kumambang” (emas yang terapung), maknanya karena ajaran agama itu indah dan baik, sekalipun berat, asal ada jiwa mengabdi kepada-Nya, aka semua itu akan menjadi ringan. Emas adalah logam mulia yang paling berat dan paling baik. Maskumambang disusun oleh Sunan Maja Agung.
  10. Pucung = mati (”dipocong” = dibungkus mori putih, luar dan dalam suci), atau puncak (sudah yang tertinggi; sudah habis). Maknanya : ajaran agama menuju kepada kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat, kesempurnaan dalam arti kebahagiaan. Pucung dikarang oleh Sunan Gunung Jati.
  11. Gambuh = ”sak madya”, artinya orang dalam hidup supaya apa adanya. Sadarlah akan posisi kita masing-masing, jangan terkena penyakit ”lali” = lupa. ”Gambuhke olehe dadi menungsa”.
    Gamelan salah satu khasanah budaya jawa
    Gamelan salah satu khasanah budaya jawa (sumber gambar : klik disini)

B. Psikologi Kepemimpinan Jawa: Mawas Diri

Dalam Serat Negarakertagama, terdapat 15 sifat Patih Gadjah Mada yang patut diteladani oleh para pemimpin saat ini :

  1. Wignya, artinya bijaksana dalam memerintah. Ia penuh hikmah dalam menghadapi berbagai kesukaran. Akhirnya dapat berhasil menciptakan ketenteraman.
  2. Mantriwira, artinya pembela negara yang berani karena benar.
  3. Wicaksaning naya, artinya bijaksana dalam sikap dan tindakan. Kebijaksanaannya selalu terpancar dalam setiap perhitungan dan tindakan, baik ketika menghadapi lawan maupun kawan, bangsawan maupun rakyat jelata.
  4. Matanggwan, artinya memperoleh kepercayaan karena tanggung jawabnya yang besar sekali dan selalu menjunjung tinggi kepercayaan yang dilimpahkan di atas pundaknya.
  5. Satya bhakti prabu, artinya bersikap setia dengan hati yang tulus ikhlas kepada negara serta pemimpin di atasnya.
  6. Wagmi wak, artinya pandai berpidato dan berdiplomasi mempertahankan atau meyakinkan sesuatu.
  7. Sarijawopasama, artinya  berwatak rendah hati, berbudi pekerti baik, berhati emas, bermuka manis dan penyabar.
  8. Dhirotsaha, artinya terus-menerus bekerja rajin dan sungguh-sungguh.
  9. Tan lalana, artinya selalu tampak gembira di dalam hati dan perasaannya  sedang gundah gulana.
  10. Diwyacitta, artinya mau mendengarkan pendapat orang lain dan senantiasa bermusyawarah.
  11. Tan satrisna, artinya tidak memiliki pamrih pribadi untuk menikmati kesenangan yang berisi girang dan birahi.
  12. Sih-samasta-bhuwana, artinya menyayangi seluruh dunia sesuai dengan falsafah  hidup bahwa segala yang ada di dunia ini adalah fana, bersifat sementara. Ia menghargai alam semesta sebagai rahmatan lil ’alamien.
  13. Ginong pratidina, artinya selalu mengerjakan yang baik dan membuang yang buruk. Sikap amar ma’ruf nahi munkar.
  14. Sumantri, artinya menjadi abdi negara yang senonoh dan sempurna kelakuannya.
  15. Anayaken musuh, artinya bertindak memusnahkan musuh. Ia tak gentar menewaskan musuh, meskipun sebenarnya selalu menjalin kasih sayang kepada sesama negara.

DAFTAR PUSTAKA

  • Abdul Munir Mulkhan. 2002. Makrifat Burung Surga dan Ilmu Kasampurnan Syekh Siti Jenar. Yogyakarta: Kreasi Wacana
  • Eka Susylowati. 2006. Kesantunan Berbahasa Jawa dalam Kraton Surakarta Hadiningrat, (Online), (http//esusylowati@gmail.com/kesantunan-berbasa-jawa), diakses tanggal 17 Agustus 2015.
  • Harimurti Kridalaksana. 2001. Wiwara Pengantar Bahasa dan Kebudayaan Jawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Muhammad Damami. 2002. Makna Agama Dalam Masyarakat Jawa. Yogyakarta: Lesfi
  • Murtadho. 2002. Islam Jawa; Keluar dari Kemelut Santri Vs Abangan. Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama
  • Ranggawarsita. 1993. Serat Pustakaraja Purwa. Jilid 4. Dilatinkan oleh Kamajaya. Yogyakarta:Yayasan Centini
  • Simuh. 1995. Sufisme Jawa; Transformasi Tasawuf Islam Ke Mistik Jawa. Yogyakarta: Bentang
  • Suwardi Endraswara. 2003. Falsafah Hidup Jawa. Tangerang: Cakrawala
  • ________________. 2003. Mistik Kejawen. Yogyakarta: Narasi

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Opini Majalah Mentari Bulan 9 Tahun 2015, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Artikel SebelumnyaMasa Mencoreng
Artikel BerikutnyaMembangkitkan Etos Gerakan Muhammadiyah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait