Kunci Amanah

“Nikah” sebagai yang tertuang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan dengan (1) Perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami istri (dengan resmi); (2) Perkawinan. Menurut Prof. Quraish Shihab seorang mufasir dari Indonesia,  Al-Qur’an menggunakan kata ini untuk makna tersebut diatas, di samping – secara majazi (perumpamaan) – diartikan dengan “hubungan seks”. Yang menurut beliau kata ini dalam berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 23 kali. Namun jika di tilik secara bahasa sesungguhnya pada mulanya kata nikah digunakan dalam arti “berhimpun”.

Al-Qur’an  menggunakan kata zawwaja dari kata zauwj yang berarti “pasangan” untuk makna diatas. Ini karena pernikahan menjadikan seseorang memiliki pasangan. Kata tersebut dalam beberapa bentuk dan maknanya terulang tidak kurang dari 80 kali. Secara umum Al-Qur’an hanya menggunakan dua kata ini untuk menggambarkan terjalinnya hubungan suami istri secara sah. Kata-kata ini, mempunyai implikasi hukum dalam kaitannya dengan ijab kabul (serah terima) pernikahan. Pernikahan, atau tepatnya “keberpasangan” merupakan ketetapan Ilahi atas segala makhluk. Berulang-ulang hakikat ini ditegaskan oleh Al-Qur’an antara lain dengan firman-Nya dalam Surah Adzâriyat [5]:49,

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu menyadari (kebesaran Allah)”

Merangkai tingkatan tali perekat pernikahan Prof. Quraish Shihab membagi menjadi empat tingkatan yaitu cinta, mawaddah, rahmah dan amanah Allah. Beliau menggambarkan bahwa ketika cinta telah pupus dan mawaddah putus, masih ada tali rahmah, dan jika kalau ini tidak tersisa, masih ada amanah. Dalam agama Islam setiap muslim hendak memiliki sifat amanah, karena Al-Qur’an memerintahkan,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“pergaulilah istri-istrimu dengan baik dan apabila kamu tidak lagi menyukai (mencintai) mereka (jangan putuskan tali perkawinan), karena boleh jadi kamu tidak menyayangi sesuai, tetapi Allah menjadikan kepadanya (di balik itu) kebaikan yang banyak.” (QS Al-Nisâ’ [4]: 19)

Mawaddah, tersusun dari huruf m-w-d-d yang maknanya berkisar pada kelapangan dan kekosongan. Adanya kelapangan dada membuat hubungan akan terus bertahan, apa lagi jika jiwa bersih dari sifat buruk. Kalau tingkatan cinta dalam perkawinan bisa dengan mudah hilang seperti saat ketika cinta tergores dan mengakibatkan hatinya kesal makan akan mengakibatkan cintanya pudar bahkan putus. Tetapi lain halnya pasangan yang memiliki dan bersemai dalam hatinya dengan sifat mawaddah, tidak lagi akan memutuskan hubungan, seperti yang bisa terjadi pada orang yang bercinta. Ini disebabkan karena hatinya begitu lapang dan kosong dari keburukan sehingga pintu-pintunya pun telah tertutup untuk dihinggapi keburukan lahir dan batin (yang mungki datang dari pasangannya).

Rahmah adalah kondisi psikologis yang muncul di dalam hati akibat menyaksikan ketidakberdayaan sehingga mendorong yang bersangkutan untuk memberdayakannya. Karena itu dalam kehidupan keluarga, masing-masing suami dan istri akan bersungguh-sungguh bahkan bersusah payah demi mendatangkan kebaikan lagi bagi pasangannya serta menolak segala yang mengganggu dan mengeruhkannya.

Al-Qur’an menggarisbawahi, bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga dengan kesadaran itu hendaklah kita saling mengisi satu sama lain untuk menciptakan tatanan kehidupan yang lebih baik. Begitu pula dalam hubungan perkawinan, pasangan memiliki kelebihan dan kekurangan, namun dengan demikian menjadi sempurna dan saling melengkapi. karena betapapun hebatnya seseorang, ia pasti memiliki kelemahan, dan betapa lemahnya seseorang, pasti ada juga unsur kekuatannya. Suami dan istri tidak luput dari keadaan demikian, sehingga suami dan istri harus berusaha untuk saling melengkapi.

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ

“istri-istrimu (para suami) adalah pakaian untuk kamu, dan kamu adalah pakian untuk meraka” (QS Al-Baqarah [2]: 187)

Ayat ini tidak hanya mengisyaratkan bahwa suami-istri saling membutuhkan sebagai kebutuhan manusia pada pakaian, tetapi juga berarti bahwa suami istri – yang akan masing-masing menurut kodratnya memiliki kekurangan – harus dapat berfungsi “menutup kekurangan pasangan”. Sebagaimana pakaian menutup aurat (kekurangan) pakaiannya.

Pernikahan adalah amanah, digarisbawahi oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya, “Kalian menerima istri berdasarkan amanah Allah”. Amanah adalah sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain desertai dengan rasa aman dari pemberiannya karena kepercayaannya bahwa apa yang diamanatkan itu, akan dipelihara dengan baik, serta keberadaannya aman di tangan yang diberi amanat itu.

Istri adalah amanah di pelukan suami, suami pun amanah di pangkuan istri. Tidak mungkin orang tua dan keluarga masing-masing akan merestui perkawinan tanpa adanya rasa percaya dan aman itu. suami – demikian juga istri – tidak akan menjalin hubungan tanpa rasa aman dan percaya kepada pasangannya.

Istri adalah amanah di pelukan suami, suami pun amanah di pangkuan istri. Tidak mungkin orang tua dan keluarga masing-masing akan merestui perkawinan tanpa adanya rasa percaya dan aman itu
Istri adalah amanah di pelukan suami, suami pun amanah di pangkuan istri. Tidak mungkin orang tua dan keluarga masing-masing akan merestui perkawinan tanpa adanya rasa percaya dan aman itu (Sumber gambar : Klik disini)

Kesediaan seorang istri untuk hidup bersama dengan seorang lelaki, meninggalkan orang-tua dan keluarga yang membesarkannya, dan “mengganti” semua itu dengan penuh kerelaan untuk hidup bersama lelaki “asing” yang menjadi suaminya, serta bersedia membuka rahasianya yang paling dalam. Semua itu merupakan hal yang sungguh mustahil, kecuali jika ia merasa yakin bahwa kebahagiaannya bersama suami akan lebih besar di banding dengan kebahagiaannya dengan ibu bapak, dan pembelaan suami terhadapnya tidak sedikit dari yang dituangkan istri kepada suaminya dan itulah yang dinamainya Al-Qur’an مِيثَاقًا غَلِيظًا mitsaqan ghalizha (perjanjian yang amat kokoh) (QS Al-Nisâ’ [4]: 21).

 SUMBER  Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Sakinah Majalah Mentari Bulan 6 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait