Konsepsi Islam Sebagai Agama Rahmatan Lil `Alamin dan Aktualisasinya Dalam Kehidupan Bernegara

Terminologi Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin dalam diskursus keislaman di Indonesia muncul di akhir dekade 1990-an. Para ilmuan muslim memandang bahwa konsep rahmatan lil ‘alamin merupakan implementasi nilai-nilai Islam secara nyata dalam kehidupan masyarakat. Islam berarti tunduk,patuh dan berserah diri kepada Allah SWT agar tercapai keselamatan dan kedamian di muka bumi. Konsep Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin tertuang dalam firman Allah SWT :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Artinya  : “Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Qs. Al Anbiya : 107).

Terkait terminologi rahmat dalam ayat tersebut di atas, Quraish Shihab dalam kitab tafsirnya Al Misbah yang menyatakan bahwa kata rahmat meliputi empat hal. Pertama, rasul/utusan Allah SWT yakni Muhammad SAW. Kedua, yang mengutus rasul yakni Allah SWT. Ketiga, yang diutus kepada mereka (al ‘alamin). Keempat, risalah yang dibawamya. Keempat hal tersebut merupakan rahmat yang sangat besar bagi kehidupan masnusia dan alam semesta. Dengan demikian berarti Islam menjadi rahmat untuk seluruh alam bukan hanya rahmat bagi manusia tetapi rahmat untuk semua. Konsep Islam sebagai arahmatan lil ‘alamin bermakna Islam yang mengandung ajaran mulia penuh rahmat.

Islam sebagai rahmat bagi semua, juga disampaikan oleh Kuntowijoyo dalam bukunya “Paradigma Islam” yang menyatakan bahwa Islam merupakan humanisme teosentrik yang berarti seperangkat nilai keberagamaan yang sangat mementingkan manusia sebagai tujuan sentralnya. Nilai dasar Islam memang mumasatkan dirinya pada keimanan kepada Tuhan, tetapi sesungguhnya ia berusaha mengarahkan perjuanganya untuk kemuliaan peradaban manusia. Islam mengenal trilogi “Iman+ilmu+amal”. Iman harus berujung pada amal (aksi), artinya keyakinan kita akan ke-Esaan Allah (Tauhid) harus diaktualisasikan secara nyata  dalam kehidupan. Pusat keimanan Islam memang kepada Tuhan tetapi ujung aktualisasinya adalah manusia.

Islam menjadikan tauhid sebagai pusat dari semua orientasi nilai, sekaligus memposisikan manusia sebagai tujuan dari transformasi nilai itu. Manusia yang bukan hanya muslim tetapi juga non muslim, bukan hanya suku tertentu, bangsa tertentu saja tetapi semua manusia di muka bumi ini. Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin telah ditunjukkan oleh rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, RA. Diceritakan bahwa pernah dikatakan kepada nabi SAW, “Wahai Rasulullah, berdoalah untuk mengutuk kaum Musyrikin, namun rasulullah SAW berkata :

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَة

Artinya  : “Saya tidak dikirim sebagai kutukan, melainkan sebagai rahmat.” (HR. Muslim).

Hadits tersebut di atas menjelaskan bahwa misi protetik rasulullah SAW adalah membawa kedamaian, ketentraman, dan tidak saling menyalahkan  terlebih mendoakan kejelekkan kepada orang yang berbeda, meskipun berbeda agama. Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin memiliki beberapa nilai dasar yakni :

1. Al Huriyah

Setiap individu bebas menentukan pilihan hidupnya tidak terkecuali bebas memilih agamanya.  Pemaksaan dalam kehidupan beragana sering menimbulkan ketersinggungan dan ketegangan. Islam menjamin adanya hak beragama sebagaimana hak untuk tidak beriman. Allah SWT. berfirman :

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

artinya : “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?” (Qs. Yunus : 99).

Ayat ini jelas menyebutkan bahwa dalam memeluk sebuah agama itu tidak boleh ada paksaan. Terdapat nilai tinggi dalam ayat itu, yaitu kebebasan / Al huriyah memeluk agama, memuliakan, menghargai kehendak, pemikiran dan perasaan serta membiarkan mengurus urusanya sendiri dan menanggung segala perbuatanya. Prinsip kebebasan merupakan ciri manusia yang paling spesifik dan asasi. Sebab Islam mengutamakan kebebasan dan melindungi hak sebagai manusia.

2. Tasammuh

Secara bahasa kata tasammuh berasal dari bahasa arab yakni tasammuha-yatasammahu-tasammuhan, yang berarti saling menghargai, menghormati, dan toleransi. Sebagai  konsep ajaran Islam, sikap tasammuh hadir sebagai bukti adanya pengakuan Islam terhadap hak-hak asasi masing-masing individu manusia. sikap tasammuh juga sering diartikan dengan sikap toleransi.Toleransi dalam perspektif komunikasi antar manusia adalah  sikap tolong-menolong, saling menghargai, menyayangi, saling percaya tidak saling curiga atau lebih kepada sikap saling menghargai hak-hak sebagai manusia, anggota masyarakat sebagai manusia. Sikap tasammuh sangat diperlukan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Keragaman dan perbedaan pendapat dalam segala aspek kehidupan merupakan fenomena yang lahir dari konsekekuensi hidup. Tasammuh hanya dilakukan pada wilayah sosial kemasyarakatan bukan pada wilayah teologi, akidah dan ibadah . Sikap tasammuh atau toleran juga berarti sikap lemah lembut. Sikap yang mutlak harus dimiliki bagi setiap muslim untuk menghindari sikap egoisme, fanatisme kelompok dan golongan.  Allah SWT berfirman :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

artinya : “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Qs. Ali Imran : 159).

Sebagai konsep ajaran Islam, sikap tasammuh hadir sebagai bukti adanya pengakuan Islam terhadap hak-hak asasi masing-masing individu manusia
Sebagai konsep ajaran Islam, sikap tasammuh hadir sebagai bukti adanya pengakuan Islam terhadap hak-hak asasi masing-masing individu manusia (Sumber gambar : klik disini)

3. Al-MuSAWah

Persamaan / al–muSAWah dalam Islam adalah tidak membedakan umat manusia atas jenis kelamin, etnis, warna kulit, ras dan sebagainya. Sikap persamaan ini merupakan refleksi dari sikap tauhid yang dimanisfestasikan dalam ahlak (ukhuwah) yaitu prinsip yang menekankan nilai persaudaraan dan kebersamaan yang dibingkai oleh rasa tanggung jawab dalam menjalani hidup bermasyarakat. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Al Hujurat : 13).

Ayat ini memuat pesan bahwa tidak ada perbedaan baik laki-laki maupun perempuan dalam hal apapun. Perbedaan hanya terletak pada kualitas iman dan taqwanya kepada Allah SWT. Islam mengajarkan sikap penghargaan terhadap orang lain tanpa melihat warna kulit, suku, ras dan golongan. Inilah makna ukhuwah basyariah  yakni menjaga dan merawat persaudaraan sesama umat manusia. Penghargaan terhadap seseorang itu berdasarkan prestasi bukan prestise seperti fanatisme keturunan maupun kesukuan. Dalam kontek beragama sikap persamaan/al-muSAWah dan prinsip saling menghargai merupakan sarana untuk menciptakan tatanan masyarakat yang adil dan beradab, persuasif, bebas dari unsur paksaan dan diskrimanatif.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tabligh Majalah Mentari Bulan 12 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait