Konsep pendayagunaan zakat

Pendayagunaan Zakat

Keberhasilan zakat tergantung pada pendayagunaan dan pemanfaatannya kemudian tantangan terbesar dari optimalisasi zakat adalah bagaimana pendayagunaan dana zakat menjadi tepat guna dan tepat sasaran. Tepat guna berkaitan dengan program pendayagunaan yang mampu menjadi solusi terhadap problem kemiskinan, sedangkan tepat sasaran berkaitan dengan mustahiq/penerima dana zakat. maka fakir miskin menempati prioritas pertama sebagai penerima zakat. Sayangnya program itu hanya bersifat karitatif (bagi-bagi habis) dan konsumtif, karena belum mengarah kepada program yang lebih produktif dan memberdayakan kemudian pengentasan kemiskinan adalah bagaimana program tersebut dapat menangani sampai akar permasalahan bukan gejalanya saja.

Sasaran Penerima Zakat

Secara garis besar, sasaran penerima zakat dibagi dua kelompok. Golongan yang pertama adalah kelompok 8 asnaf sebagaimana disebutkan dalan Al qur’an, yaitu : (1) Fakir (2) Miskin (3) Amil (4) Ibnu sabil (5) Sabilillah (6) Gharim (7) Muallaf (8) Riqab.

Golongan yang kedua adalah kondisi khusus yaitu selain 8 golongan di atas (penerima dana zakat adalah mereka yang tengah dalam kondisi khusus). Kelompok masyarakat yang berhak menerima zakat ketika dalam keadaan khusus, yaitu  : (1) Anak jalanan (2) Gelandangan (3) Pengemis (4) Anak-anak putus sekolah (5) Korban bencana alam (6) Remaja dan pemuda pengangguran (7) Korban kekerasan (8) PSK

Model Pendayagunaan Zakat

Potensi zakat, yang pelaksanaannya merupakan salah satu dari lima Rukun Islam, bisa mencapai jumlah yang besar. Namun sejauh ini pengorganisasian zakat tersebut belum optimal sehingga manfaatnya belum dapat dirasakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dana zakat bila dikelola dengan baik dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan menekan angka kemiskinan.

Pengelolaan zakat tidak hanya sekedar menyalurkannya begitu saja. Hendaknya pengelolaan zakat ini benar-benar membawa dampak yang signifikan bagi kehidupan penerima zakat. Sehingga kedepannya pengelolaan zakat yang professional bisa bersifat ”memberi kail bukan umpan’’ kepada mereka yang berhak menerimanya sehingga yang semula mereka menjadi penerima zakat mampu merubah status ekonomi mereka dan mampu menjadikan kehidupan mereka yang sejahtera.

Pemanfaatan dan pendayagunaan zakat dapat digolongkan ;

  1. Konsumtif tradisional, zakat dimanfaatkan dan digunakan langsung oleh mustahik untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya.
  2. Konsumtif kreatif, zakat yang diwujudkan dalam bentuk lain dari jenis barang semula, misalnya beasiswa, bantuan pendidikan.
  3. Produktif tradisional, yaitu zakat yang diberikan dalam bentuk barang-barang produksi seperti kambing/sapi, mesin produksi.
  4. Produktif kreatif, yaitu pendayagunaan zakat diwujudkan dalam bentuk modal bergulir bagi pedagang untuk berwirausaha.

Salah satu cara pengelolaan zakat yang efektif adalah dengan adanya program terarah sebagai tindak lanjut dari penyaluran zakat tersebut. Salah satu programnya adalah dengan program pengembangan masyarakat atau community program development.

Secara umum community development dapat didefinisikan sebagai kegiatan pengembangan masyarakat yang diarahkan untuk memperbesar akses masyarakat untuk mencapai kondisi sosial, ekonomi dan budaya yang lebih baik apabila dibandingkan dengan sebelum adanya kegiatan pembangunan. Sehingga masyarakat di tempat tersebut diharapkan menjadi lebih mandiri dengan kualitas kehidupan dan kesejahteraan yang lebih baik. Program community development memiliki tiga karakter utama yaitu berbasis masyarakat (community based), berbasis sumber daya setempat (local resource based) dan berkelanjutan (sustainable).

Dua sasaran yang ingin dicapai yaitu: sasaran kapasitas masyarakat dan sasaran kesejahteraan. Sasaran pertama yaitu kapasitas masyarakat dapat dicapai melalui upaya pemberdayaan (empowerment) agar anggota masyarakat dapat ikut dalam proses produksi atau institusi penunjang dalam proses produksi, kesetaraan (equity) dengan tidak membedakan status dan keahlian, keamanan (security), keberlanjutan (sustainability) dan kerjasama (cooperation) kesemuanya berjalan secara simultan.

Di lihat dari programnya maka pengembangan masyarakat mempunyai 3 keunggulan yang sekaligus menjadi karakter utamanya, diantaranya: berbasis masyarakat (community based), berbasis sumber daya setempat (local resource based) dan berkelanjutan (sustainable). Untuk itu setidaknya ada beberapa hal yang yang harus diperhatikan ketika community development dijadikan sebagai salah program kegiatan yang merupakan penyaluran dari zakat itu sendiri disamping 3 hal di atas tadi.

Pertama, peran aktif masyarakat. Untuk pembinaan pengembangan masyarakat tentu saja tidak bisa sepenuhnya hanya dilakukan oleh badan pengelola zakat itu sendiri. Ia memerlukan bantuan dari luar. Misalnya saja tenaga ahli, LSM atau relawan dari lembaga Pengelola zakat itu sendiri. Dengan adanya peran aktif masyarakat itu sendiri setidaknya secara tidak langsung adanya badan atau perseorangan yang menjadi pengawas atau kontrol bagi program pengembangan masyarakat tersebut. Selain itu, dengan adanya peran aktif masyarakat, di antara mereka ada yang mampu menjadi pembimbing kegiatan pengembangan masyarakat tersebut sehingga membuat para penerima zakat bisa mengeluarkan ide-ide kreatif mereka, lebih mandiri dan tentu saja punya mental baja untuk memulai berwirausaha sendiri. Ini menjadi nilai lebih bagi mereka karena tidak ada konsekuensi rugi yang terlalu besar bagi mereka ketika tidak berhasil karena mereka masih dalam pembinaan badan amil zakat.

Kedua, lembaga pengelola zakat sebagai pihak pengontrol langsung. Hal ini bisa dilakukan dengan terjun langsung melihat perkembangan ke tempat pengembangan masyarakatnya. Selain itu, badan pengelola zakat juga mempunyai andil dalam membantu menghubungkan antara masyarakat yang dibina dengan lokasi pemasaran atau pihak yang mampu menampung untuk memasarkan hasil kreatifitas para penerima zakat.

Ketiga, adanya pihak yang bersedia memasarkan atau menampung produk yang dihasilkan masyarakat. Faktor yang ketiga ini sangat penting mengingat produk mereka bukanlah sesuatu yang diciptakan kemudian hanya dibiarkan menumpuk tetapi ia perlu pengakuan dari pangsa pasar.

Akhirnya, pengelolaan zakat yang berbasis pengembangan masyarakat memang melibatkan banyak pihak untuk sebuah program yang berkelanjutan. Harapannya program yang berkelanjutan ini memang menghasilkan sebuah perbaikan dan peningkatan ekonomi yang signifikan buat masyarakat.

Ilustrasi Zakat

Gambar Konsep pendayagunaan zakat
LAZISMU
Lembaga Zakat, Infaq dan Shadaqah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Ketua Lembaga : H.M. Arifin, A.Md.RO., SE, Lokasi Kantor : Lantai Dasar Bagian Depan (Ruko) Kantor PDM Kota Yogyakarta

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...