Konsep Makrifat dan Perbaikan Akhlak

Gambar Konsep Makrifat dan Perbaikan Akhlak
H. Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Ada tiga cara mengkaji Islam sebagaimana yang ada dalam manhaj tarjih, yaitu pendekatan bayani, burhani, dan irfani. Pendekatan bayani adalah pengkajian Islam menggunakan nas-nas syariah. Penggunaan burhani adalah pengkajian menggunakan ilmu pengetahuan yang berkembang, seperti dalam ijtihad menggenai hisab menentukan kalender hijriyah. Sedang pendekatan irfani adalah pengkajian Islam melalui penyucian hati dan perbaikan akhlak sehingga jiwa mudah menangkap  ayat-ayat Allah yang ada dalam Qur’an maupun di segenap alam. Adapun tulisan yang ada di tangan pembaca ini adalah contoh kajian Islam dengan pendekatan Irfani ini.

Pengkajian Islam dalam pendekatan irfani sesungguhnya berangkat dari kesadaran pentingnya ihsan dalam kehidupan orang beriman. Makna ihsan ini adalah sesuai dengan sabda Rasulullah, yang artinya: “…kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, jika kamu tidak bisa melihat-Nya, maka ketahuilah sesungguhnya Dia melihatmu” (HR. Bukhari). Dengan kesadaran pentingnya ihsan tersebut maka tulisan ini menekankan taqarrubillah (pendekatan diri kepada Allah) dan ma’iyyatullah (rasa selalu bersama di dampingi, diawasi, dan dibimbing oleh Allah) sebagai jalan untuk ihsan..

Pengertian al-Irfan ini secara umum bisa dipahami sebagai pengetahuan yang mendalam berdasarkan hati nurani. Bentuk dari  pengkajian dengan pendekatan Irfani ini adalah berupa penelitian dan perenungan yang mendalam disertai dengan penajaman hatinurani, yang dibangun melalui penyucian hati dengan akhlak mulia. Melalui pengkajian Irfani tersebut seseorang akan mendapatkan bashirah, yaitu mata hati yang mampu melihat janji dan ancaman Allah, surga dan neraka, serta yang segala yang disediakan Allah bagi orang-orang yang beramal salih.

Allah berfirman yang Artinya: “Dan barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS. an-Nur [24]: 40)

Betapa banyak orang-orang yang bisa membaca ayat-ayat al-Qur’an tetapi tidak mendapat petunjuk dari apa yang dibacanya itu. Bahkan ada yang justru bertambah keingkarannya pada Allah dengan bacaannya itu. Allah berfirman yang artinya: Dan adapun orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS. at-Taubah [9]: 125)

Orang yang tidak mendapat petunjuk dari ayat-ayat Allah yang dibacanya itu karena ia tidak dikarunia nur atau cahaya dari Allah, sehingga tak memiliki bashirah. Sedang orang yang semakin kufur dengan adanya ayat-ayat al-Qur’an yang disampaikan kepadanya sesungguhnya bukan hanya karena tidak memiliki nur tapi juga karena di dalam hatinya ada penyakit.

Selain dua jenis manusia tersebut ada jenis lain yang disebutkan Nabi SAW dalam sabda beliau: “Dari kelompok orang ini, akan muncul nanti orang-orang yang pandai membaca al-Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya“. (HR Muslim 1762)

A. Konsep Makrifat

Makrifat atau makrifah berasal dari kata arafa, yu’rifu, irfan, ma’rifah yang artinya pengetahuan atau pengalaman. Menurut Jamil Saliba, dalam kitab Muj’am al-Falsafi, makrifat diartikan pengetahuan tentang rahasia hakikat agama, yaitu ilmu yang lebih tinggi daripada ilmu yang biasa didapati oleh orang-orang pada umumnya. Dalam tulisan ini apa yang disebut makrifat adalah pengetahuan yang berasal dari pandangan batin tentang kebenaran yang hakiki sebagai buah dari rahmat Allah kepada hamba-Nya yang mensucikan jiwa dengan akhlak mulia.

Karena merupakan pandangan batin sebagai buah rahmat dari Allah maka para ulama berbicara tentang makrifat sesuai dengan pengalamannya sendiri dan menunjukkan tanda-tanda sesuai dengan yang datang kepadanya. Dalam kitab Risalatul Qusyairiyah, Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata bahwa makrifat membawa ketentraman dalam hati, sebagaimana pengetahuan membawa kedamaian. Jadi orang yang makrifatnya bertambah maka bertambah pula ketentramannya. Dalam kitab Madaarijus Saalikin Ibnul Qoyyim al-Jauziyah mengutip perkataan Yahya bin Mu’adz bahwa orang arif (orang yang telah makrifat) keluar dari dunia sedangkan dia belum mendapakan kepuasaannya dalam dua hal: tangisan terhadap dirinya dan pujian kepada Tuhan-nya. Ibnul Qoyyim berkomentar bahwa ini merupakan perkataan yang paling baik. Sebab hal ini menunjukkan bahwa dia memiliki makrifat terhadap diri termasuk cacat dan kekurangannya. Dan juga makrifatnya yang tinggi terhadap Tuhan-nya berupa kesempurnaan-Nya dan keagungan-Nya. Sehingga dia sangat menghinakan dirinya di hadapan Allah dan terus mengucapkan dzikir kepada Allah.

Makrifat berhubungan dengan nur (cahaya Allah). Di dalam al-Qur’an dijumpai tidak kurang 43 kali kata nur diulang dan sebagian besar dihubungkan dengan Tuhan. Misalnya pada firman Allah yang artinya: “Dan barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS. an-Nur [24]: 40)

Firman Allah yang artinya: “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (untuk) menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya).” (QS. az-Zumar [39]: 22)

Dua ayat tersebut sama-sama berbicara tentang cahaya Allah yang ternyata dapat diberikan Allah kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Mereka yang mendapatkan cahaya akan mudah mendapatkan petunjuk hidup, sedang mereka yang tidak mendapatkan akan mendapat kesesatan hidup.

Makrifat dalam artian mengetahui kebenaran yang hakiki sebagai buah dari rahmat Allah, berupa cahaya, sesungguhnya merupakan pancaran dari nilai-nilai ihsaan. Karena itu makrifat memunculkan kesadaran hidup untuk selalu berbuat baik. Tentang ihsan ini, Nabi saw. menyatakan: “Anta’budallaah ka’annaka taroohu fa’in lam takun taroohu fa’innahu yarooka” (yang artinya kurang lebih: kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, jika kamu tidak bisa melihat-Nya, maka ketahuilah sesungguhnya Dia melihatmu”. (HR al-Bukhari)

Alat yang dapat digunakan untuk makrifat telah ada dalam diri manusia, yaitu qalb (hati), namun artinya tidak sama dengan heart dalam bahasa Inggris. Sebab qalb selain sebagai alat untuk merasa juga alat untuk berpikir. Bedanya kalau akal tidak bisa memahami perkara yang ghaib, qalb bisa memahami hakikat segala kebenaran atas rahmat dari Allah. Qalb atau hati yang mendapat rahmat dari Allah sehingga bisa memahami hakikat segala kebenaran itu adalah hati yang tersucikan dari dosa dan akhlak yang tercela atau madzmumah.

B. Konsep Akhlak

Secara  bahasa, kata akhlak atau akhlaaq berasal dari kata khulq yang berarti thabi`ah, tabiat dan watak. Dalam al-Qur’an, kata khulq yang merujuk pada pengertian perangai disebut dua kali, yaitu dalam Firman Allah yang artinya: “(Agama kami) ini tidak lain hanyalah tabiat orang dahulu.” (QS. as-Syu’aara’ [26]: 137)

Dan firman Allah yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. al-Qalam [68]: 4)

Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya ‘Ulummuddin mengartikan akhlak dengan kalimat al-khulq ‘ibaarotun ‘an hai’atin fîn nafs rosikhotin, ‘anhaa tashdurul ‘af’aal bi suhuulatin wa yusrin min ghoiri haajatin ilaa fikrin wa ruwiyyatin (artinya kurang lebih: Akhlak adalah sebuah kondisi mental yang tertanam kuat dalam jiwa seseorang, yang darinya lalu muncul perbuatan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan). Sedang Ibnu Maskawaih sebagaimana dikutip Prof DR Rosihon Anwar, M.Ag mengartikan akhlak sebagai suatu kondisi jiwa yang menyebabkan ia bertindak tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan yang mendalam. Dua pengertian tersebut meletakkan akhlak berasal dari kondisi mental yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, disebabkan ia telah membiasakannya, sehingga ketika akan melakukan perbuatan tersebut, ia tidak perlu lagi memikirkannya, seolah perbuatan tersebut telah menjadi gerak reflek.

Rasulullah SAW bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Trimidzi, dan Al-Hakim). Selanjutnya dalam beberapa hadits yang tertulis dalam Kitab Iman Shahih Bukhari, Rasulullah menyiratkan puncak dari Islam adalah akhlak yang mulia.

Abdullah bin Umar r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari)

Abu Musa r.a. berkata, “Mereka (para sahabat) bertanya, wahai Rasulullah, Islam manakah yang lebih utama?” Beliau menjawab, ”Orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya.” (HR. Bukhari)

Abdullah bin Amr r.a. mengatakan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw, “Islam manakah yang lebih baik?” Beliau bersabda, “Kamu memberikan makan (orang-orang miskin) dan mengucapkan salam atas orang yang kamu kenal dan tidak kamu kenal.” (HR. Bukhari)

C. Tahap-Tahap Perbaikan Akhlak

Allah berfirman yang artinya: “Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan.” (QS. asy-Syams [91]: 8)

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa makrifat sesungguhnya merupakan pancaran dari nilai-nilai ihsaan yang memunculkan kesadaran hidup untuk selalu berbuat baik. Oleh karena itu orang arif (yang telah mencapai makrifat) pada dasarnya adalah orang yang selalu berada dalam usaha mendekati kesempurnaan akhlak.

Untuk menuju kesempurnaan akhlak tersebut bisa dilakukan melalui tiga tahap, yaitu Pembebasan diri dari godaan setan, Pencapaian kebahagiaan hidup, dan Pendakian menuju Allah. Tiga tahap tersebut akhlak pada dasarnya adalah manifestasi dari konsep makrifat.

1. Tahap Pertama

Pembebasan diri dari godaan setam menjadi tahap pertama dalam perbaikan akhlak. Pada tahap ini segala potensi keburukan manusia (fujur) dibendung dari kekuatan setan yang akan membesarkannya dan menguasai jiwa manusia. Tiga prinsip dalam membendung potensi keburukan manusia itu ialah: 1. Iman; 2. Tawakal; dan 3. Ikhlas.

Hal demikian didasarkan pada firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya dia (setan) itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.” (QS. an-Nahl [16]: 99).

Dan firman Allah yang artinya: “Iblis menjawab: ‘Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka’.” (QS. Shaad [38]: 82-83).

2. Tahap Kedua

Pencapaian kebahagiaan hidup adalah tahap kedua untuk perbaikan akhlak. Pada tahap ini segala potensi kebaikan manusia (taqwa) dikembangkan agar tumbuh kekuatan yang besar pada diri manusia untuk siap melakukan pendakian menuju Allah. Tiga prinsip penting dalam mengembangkan potensi kebaikan manusia itu, ialah: 1. Sabar; dan 2. Syukur.

Hal demikian mengingat pada Sabda Rasulullah: “Aku heran dengan urusan orang mukmin, sesungguhnya urusan orang mukmin semuanya baik. Dan hal itu tidak ada kecuali bagi seorang mukmin. Jika ia ditimpa dengan kesenangan ia pandai bersyukur, maka hal itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesulitan ia bersabar. Itu pun baik baginya. (HR. Muslim dan Ahmad).

3. Tahap Ketiga

Pendakian Menuju Allah adalah tahap ketiga dalam perbaikan akhlak. Secara umum ada empat unsur penting dalam metode ini, ialah: a. Tazkiyatun nafs penyucian jiwa Lihat (QS. al-Baqarah  ayat 222); b. Tafakur (lihat QS. al-Hasyr ayat 21); c. Riyadloh (lihat QS. al-Ankabuut ayat 69); dan d. Dzikrullah (lihat (QS. az-Zumar ayat 22 dan QS. al-Ankaabut ayat 45).

Pendakian Menuju Allah adalah tahap ketiga dalam perbaikan akhlak
Pendakian Menuju Allah adalah tahap ketiga dalam perbaikan akhlak (Sumber gambar : Designed by Freepik)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 3 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait