Komunikasi Organisasi

Gambar Komunikasi Organisasi
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Menarik untuk disimak dan diteliti, mengapa Muhammadiyah memilih Minangkabau sebagai tempat penyelenggaraan musyawarah organisasi yaitu muktamar di tahun 1930. Minangkabau merupakan pilihan kota pertama di luar jawa sebagai ajang untuk melakukan konggres yang ke-17. Apakah perkembangan Islam di Minangkabau cukup pesat dibanding yang lain? Rasanya tidak. Islam di Indonesia bagian timurpun tidak kalah majunya.

Ternyata Muhammadiyah cukup jeli dalam memilih lokasi. Tidak sembarangan daerah tertentu untuk dipilih, meskipun dari segi dana dan transportasi cukup mudah. Minangkabau memiliki budaya sistem adat yang khas, yang dicirikan dengan sistem jalur perempuan atau matrilineal. Dalam pandangan sosiologi, Orang Minangkabau sangat menonjol di bidang perniagaan. Mereka merupakan pewaris terhormat dari tradisi tua Kerajaan Melayu dan Sriwijaya yang gemar berdagang dan dinamis.

Muhammadiyah melaksanakan konggres di Minangkabau dengan harapan agar misinya lebih cepat menyebar melalui budaya dan perilaku orang Minangkabau. Muhammadiyah perlu tenaga untuk berkomunikasi dengan masyarakat luas. Salah satu yang dipilih adalah masyarakat Minangkabau. Secara kebetulan, Islam disana juga cukup signifikan dengan Islam yang dipahami oleh Muhammadiyah.

Teknologi komunikasi saat itu hanyalah radio, telepon, surat kabar, yang masih sangat terbatas. Masih banyak masyarakat yang belum mampu memiliki radio, berlangganan surat kabar apalagi telepon. Budaya lisan masih menjadi andalan. Oleh karenanya strategi yang dilakukan Muhammadiyah adalah menggandeng orang Minangkabau untuk melakukan menyebarkan Islam sesuai dengan faham Muhammadiyah.

Komunikasi dalam sebuah organisasi sangat penting. Karena misi yang diemban hendak disampaikan kepada orang lain. Jangan sampai maksud dan tujuan yang akan diterima oleh orang lain, tidak dipahami dengan benar. Perlu strategi yang tepat agar pesan bisa dimengerti orang lain. Ada beberapa faktor agar komunikasi dapat berjalan dengan baik.

Pertama, Citra Diri. Seorang guru yang akan mengajar kepada siswa, hendaklah menampilkan citra diri sebagai guru. Bukan sebagai komandan atau manajer yang memerintah kepada anak buahnya. Karakteristik pengajar haruslah dimiliki oleh seorang guru. Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi, haruslah memerankan sebagai organisasi yang memiliki tujuan yang jelas, memakai sistem manajemen yang handal dan modern, serta sifat-sifat yang telah dibangun oleh pendirinya. Apabila citra diri Muhammadiyah telah terbangun dengan pondasi yang kuat, misi yang hendak disampaikan, akan mudah dipahami oleh orang lain. Paling tidak, orang akan terkesan dengan tatapan pertama. Nilai yang terkandung dalam kesan pertama ini menjadi modal besar sebagai jembatan agar proses komunikasi berjalan lancar.

Kedua, Citra Pihak Lain. Salah satu syarat dalam berkomunikasi adalah adanya komunikator (yang menyampaikan) dan komunikan (penerima). Seorang komunikator harus pandai mengetahui kondisi komunikan. Orang yang akan diajak berkomunikasi memiliki karakteristik tersendiri. Meskipun Muhammadiyah telah berpengalaman dengan model dakwah yang dilakukan dengan turun temurun, belum tentu cara seperti itu efektif untuk masa sekarang. Diperlukan strategi tersendiri, yaitu dengan melakukan kajian tentang karakteristik masyarakat yang hendak menjadi obyek komunikasi. Dengan demikian, citra diri dan citra orang lain saling terkait. Saling melengkapi. Perpaduan dua citra itu menentukan gaya cara berkomunikasi. Baik perorangan maupun organisasi. Tidak akan berhenti pada satu titik, model Muhammadiyah dalam berdakwah. Selalu menggali dengan teknologi terkini dan situasio¬nal, meskipun misi Muhammadiyah tetap seperti semula. Orang menyebutkan kemasan saja yang berbeda.

Ketiga, Sosial Budaya. Kyai Dahlan tidak merasa tabu untuk berguru pada Budi Utomo. Sebuah organisasi politik saat itu. Kyai Dahlan tidak merasa canggung menggunakan metode barat untuk diterapkan di pesantrennya. Ki Bagus Hadikusumo tetap mempertahankan identitasnya sebagai pimpinan Muhammadiyah, saat bersama-sama dengan pendiri republik dalam pembuatan dokumen dasar-dasar Negara. Bahkan dalam beberapa segi cukup mewarnai.

Berkomunikasi dengan pihak lain perlu memahami budaya yang berlaku saat itu. Komunikasi yang telah dibangun oleh Muhammadiyah telah berupaya menyesuaikan dengan kondisi masyarakat. Mulai dari sebelum kemerdekaan, orde lama, orde baru sampai masa reformasi bergulir. Teladan yang diperlihatkan oleh Pimpinan Muhammadiyah dalam melakukan komunikasi, hendaknya menjadi bahan evaluasi, agar Muhammadiyah selalu berpijak pada realisasi yang terjadi dimasyarakat sambil memperbaharui sistem komunikasi.

Komunikasi yang telah dibangun oleh Muhammadiyah telah berupaya menyesuaikan dengan kondisi masyarakat
Komunikasi yang telah dibangun oleh Muhammadiyah telah berupaya menyesuaikan dengan kondisi masyarakat

Keempat, Membangun Sistem. Komunikasi dalam berorganisasi dapat berupa komunikasi antar individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok. Masing-masing memiliki ciri dan tantangan tersendiri. Tradisi yang dibangun oleh Muhammadiyah dalam berkomunikasi tergantung situasi. Dakwah yang disampaikan dapat berupa perorangan maupun kelompok. Bentuknya bisa dengan lisan atau tindakan konkrit. Karena Muhammadiyah bukanlah kelembagaan yang resmi, melainkan organisasi masyarakat, maka semua produk keputusannya berdasarkan keinginan pimpinan dan warga. Dukungan finansial juga masih bertumpu pada kemampuan warga. Sehingga dalam melakukan komunikasi masih terbatas dalam radius kelompok tertentu. Muhammadiyah pada jaman sebelum kemerdekaan memiliki karakteristik yang khas saat berkomunikasi dengan pihak lain. Semangat yang dibangun oleh KH Ahmad Dahlan sampai Ki Bagus Hadikusumo memberi warna tersendiri dalam melakukan komunikasi. Pendekatan yang dilakukan melalui sikap yang tegas terhadap pemerintahan (Belanda dan Jepang). Disisi lain Muhammadiyah dituntut untuk lentur terhadap budaya sekitar.

Periode orde lama, Muhammadiyah juga memiliki budaya komunikasi yang spesifik. Saat itu, terjadi masa yang dilematis. Godaan politik sangat kental dimasa kepemimpinan dari AR Sutan Mansur sampai AR Fachrudin. Model komunikasi harus dilakukan dengan hati-hati. Karena periode ini jati diri Muhammadiyah di uji. Orde baru adalah masa pembangunan. Masa pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat, tapi dibarengi dengan ketimpangan sosial. Pelanggaran HAM, kemajuan IPTEK, menambah kehidupan masyarakat semakin komplek. Komunikasi yang dibangun Muhammadiyah dapat diwakili oleh gaya khasnya AR Fachrudin. Saat ini, Muhammadiyah memasuki periode reformasi. Sebuah jaman yang ditandai dengan loncatan perkembangan teknologi informasi. Dunia tanpa sekat. Silaturahmi yang semakin memudar. Komunikasi yang hendak dibangun Muhammadiyah harus memiliki karakteristik masyarakat sekarang. Bila sebuah pesan akan disampaikan kepada orang lain, pilihlah media yang tepat sesuai dengan kondisi komunikator dan komunikan.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari terbitan MPI PDM Kota Yogyakarta No. 6 tahun ke – 19, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...