Komunikasi, Kunci Keluarga Bahagia

Keluarga dapat diibaratkan sebagai harta paling berharga dan anugrah terindah yang pernah kita miliki. Keluarga mempunyai ikatan yang sangat kuat karena orang-orang yang terdapat didalamnya itu dipertemukan oleh Allah bukan tanpa sebab, melainkan sudah ada pertimbangan menurut ukuran-Nya.

Dengan adanya keluarga, kehidupan seseorang menjadi lebih lengkap karena keluarga selalu memberikan kasih sayang yang sangat besar yang tidak pernah bisa diberikan oleh siapapun dan hanya keluargalah juga yang bisa mengerti keadaan kita. Apabila peran keluarga tidak mendominansi di dalam kehidupan kita, mungkin arah dan tujuan kita akan keliru.

Komposisi keluarga pun tidak bisa digantikan oleh yang lain. Pernikahan yang menjadi awal sebuah keluarga pun selalu direalisasikan dalam perhelatan yang agung meriah. Akan tetapi, banyak sekali terdengar cerita perceraian atau keluarga yang bermasalah tapi belum masuk tahap perpisahan.

Hal ini seharusnya bisa dihindari bila dalam suatu keluarga terdapat yang namanya sebuah pengertian satu sama lain. Dengan adanya rasa saling perngertian, perselisihan yang terjadi bisa diredam sehingga persoalan yang akan mengakar mejadi gunung bisa dihindari.

Sikap saling pengertian harus ditanamkan sejak dini sehingga kelak fungsi keluarga bisa bejalan dengan baik dan harmonis. Ingat! Api jika dilawan dengan api maka tidak akan pernah padam. Tapi bila terdapat sikap pengertian, maka dengan air bisa memadamkan api yang berkobar-kobar sekalipun. Dalam sebuah penelitian dikatakan bahwa kekuatan keluarga dapat terjalin salah satunya dengan komunikasi.

Dengan berkomunikasi maka keterbukaan dan kejujuran akan terjalin keluarga kuat. Komunikasi yang baik sangat penting untuk hubungan yang sehat. Cara orang berbicara dan mendengarkan satu sama lain membangun ikatan emosional dan membantu membuat harapan menjadi jelas. Misal saat anak menyampaikan kepada ayah ibunya bahwa ibu dan ayah begitu sibuk sehingga dirinya merasa kurang perhatian.

Komunikasi yang efektif membantu anggota keluarga merasa dimengerti dan didukung. Orang yang telah dewasa didalam keluarga memainkan peran penting dalam mengkomunikasikan nilai anak-anak seperti rasa hormat dan kepedulian. Orang tua melakukan ini dengan berbicara dengan anak-anak dan terutama menunjukkan nilai mereka sesuai dengan cara mereka berkomunikasi.

Kebutuhan dalam berkomunikasi adalah kebutuhan semua orang, termasuk bersama orang terdekat kita. Untuk menjadikan hubungan tetap terjaga dan erat, maka penting bagi kita untuk dapat berkomunikasi secara efektif tentang perasaan, kebutuhan dan keinginan, pendapat, dan pikiran lainnya. Hal terpenting dalam membangun komunikasi tersebut adalah dengan menjadi pendengar yang baik.

Ingatlah bahwa komunikasi yang baik dimulai dengan mendengarkan secara efektif. Orang di sekitar kita akan bicara lebih banyak bersama kita jika mereka yakin bahwa kita bisa mendengarkan mereka dan memahami perasaannya.

Saat kita diberikan waktu untuk bicara, maka gunakanlah kesempatan bicara itu sebaik mungkin, terutama untuk menggali lebih banyak tentang hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari anggota keluarga. Tidak lupa, hal yang dibicarakan jangan terlalu jauh dari kebutuhan yang mereka alami dalam keseharian. Demikian akan lebih mudah kita untuk masuk dalam kehidupan mereka, juga meminta dan menawarkan dukungan saat mereka membutuhkannya.

Dengan keterampilan mendengarkan dan menunjukkan bahwa kita antusias dengan hal yang mereka bicarakan, akan mendorong anggota keluarga untuk bicara dan memungkinkan kita memahami apa yang mereka pikirkan dan rasakan.

Mendengarkan dengan penuh perhatian dan aktif adalah hal yang paling penting untuk menciptakan iklim di mana komunikasi terbuka dan jujur ​​dapat terjadi. Berfokus pada apa yang orang lain katakan, daripada memikirkan tanggapan kita sendiri saat mereka berbicara, hal tersebut menunjukkan bahwa kita benar-benar tertarik.

Dengarkan makna dan perasaan dari yang anggota keluarga kita sampaikan, lalu aktiflah menyimak dengan memahami sudut pandangnya
Dengarkan makna dan perasaan dari yang anggota keluarga kita sampaikan, lalu aktiflah menyimak dengan memahami sudut pandangnya

Dengarkan makna dan perasaan dari yang anggota keluarga kita sampaikan, lalu aktiflah menyimak dengan memahami sudut pandangnya, misalnya: “Kedengarannya kamu merasa sedih karena tidak ada yang peduli saat kamu presentasi di sekolah ya Nak?” Untuk mendengarkan secara aktif, beri mereka perhatian penuh saat mereka berbicara dan membantu untuk menarik keluar perasaan dan pemahaman mereka.

Memperhatikan hubungan emosional juga sangat penting untuk mendukung hubungan keluarga yang positif. Saat mendengarkan, bahasa tubuh dan ungkapan yang bisa mendukung kita saat menyimak bisa menunjukkan bahwa kita telah merespon dari apa yang mereka sampaikan. Misal dengan sentuhan di pundaknya, menganggukkan kepala, memegang tangannya, dan lain sebagainya.

Hal lainnya yang tidak kalah penting adalah waktu yang paling tepat untuk berkomuniasi adalah saat kita meluangkan waktu membicarakan segala sesuatu dengan mereka saat tidak ada aktivitas yang mengganggu komunikasi. Meminta izinlah saat memang kita belum dapat berbicara dengan orang di sekitar kita saat waktu belum memungkinkan.

Berhati-hatilah saat membicarakan masalah

Tidak semua orang mudah saat menghadapi masalah. Saat ada anggota keluarga yang datang ke dalam rumah dengan wajah yang kusut, pintu di banting, dan perasaan bermasalah lainnya yang bisa kita baca dari gerak geriknya, jangan membuat kita terlalu terburu-buru menyimpulkan. Membicarakan masalah kepada orang sekitar, termasuk keluarga, adalah hal yang tidak mudah. Demikian karena orang yang sedang bermasalah harus memastikan terlebih dahulu bahwa orang yang akan diajak untuk bicara tentang keluh kesahnya adalah orang yang tepat terhadap apa yang terjadi pada dirinya.

Kita harus memastikan terlebih dahulu bahwa keluarga kita merasa didukung dan aman saat bersama kita sehingga saat menghadapi masalahnya ia akan dapat atasi lebih efektif saat bersama kita. Awal mula yang harus kita lakukan adalah masuklah ke dalam perasaan mereka dan dekatilah, baik secara verbal dan non verbal, yang menunjukkan bahwa kita peduli kepada mereka. Komunikasi non verbal seperti tatapan yang ramah, wajah yang menyenangkan, senyuman tulus, akan membuat orang di sekitar kita merasa nyaman saat bersama kita. Keuntungan komunikasi non verbal adalah :

Pertama, komunikasi nonverbal memberi informasi tentang suasana hati pengirim pesan atau maksud dari pesan yang disampaikan. Anggukan kepala, tanda setuju. Sentuhan ke pundak, tanda peduli. Tatapan mata tanda kita antusias mendengarkan.

kedua, membantu mengendalikan percakapan. Bahasa tubuh akan memberitahu kita saat pembicara selesai berbicara. Ini juga bisa membantu kita mengetahui berapa lama percakapan seharusnya dilakukan. Saat mencoba berbicara dengan orang yang tampak terburu-buru, kita akan lebih menyingkat pembicaraan agar lebih singkat.

Ketiga, dengan komunikasi nonverbal kita dapat menempatkan posisi diri sesuai lawan bicara. Misalnya, bagaimana kita berbicara dengan keluarga sendiri akan berbeda saat berbicara dengan orang lain. Berbicara dengan keluarga tentu tidak perlu dengan duduk yang tegap, tangan yang kaku, tatapan yang serius seperti saat menghadapi atasan, sebaliknya, komunikasi yang dibangun pada keluarga idealnya senyuman hangat, banyak anggukkan kepala, dan lain sebagainya.

Bagaimana cara melakukan komunikasi nonverbal?

Ekspresi wajah yang kita keluarkan adalah cara kita memberitahu orang lain tentang emosi dan mood kita. Senyum dan cemberut memiliki arti yang sama tidak peduli dari budaya mana itu.

Kontak mata adalah cara nonverbal untuk menunjukkan kepada seseorang apakah kita memperhatikan atau tidak. Memelihara kontak mata memungkinkan pembicara mengetahui bahwa kita sedang mendengarkan atau tidak.

Postur tubuh kita juga mengirimkan pesan nonverbal. Duduk pada tingkat yang sama dengan seseorang akan lebih baik daripada berdiri di atas mereka. Hal ini juga berlaku jika kita berada pada tingkat mata yang sama. Hindari menyilangkan lengan; Seorang pembicara dengan lengan silang menyampaikan pesan ditutup, marah atau tidak tertarik.

Bagaimana agar kita dapat mendengarkan lawan bicara kita secara aktif?

Pertama, berhentilah berbicara. Dengarkan secara terbuka lawan bicara kita. Jangan menyela saat orang terdekat kita sedang menceritakan dan membicarakan sesuatu. Menginterupsi, akan membuat pembicaraan menjadi terganggu. Misal saat seorang adik bercerita tentang orang yang disukainya, jangan sesekali kita menyela dengan sesuatu yang membuatnya berhenti bicara, “Kamu tidak boleh donk suka sama laki-laki. Berdosa nanti!” Dengan menyela, di kemudian hari adik kita tidak akan nyaman bercerita kepada kita.

Kedua, hindarkan hal yang dapat mengganggu komunikasi. Misal silent handphone, hindarkan untuk tidak membuka terlebih dulu gadget yang kita miliki karena gadget hanya akan mengganggu pembicaraan dan keseriusan dalam menyimak. Apakah kita menyukai ada orang yang tidak memperhatikan kita bicara?

Ketiga, bersikaplah terbuka terhadap orang yang sedang berbicara dengan kita. Tunjukkan bahwa kita siap untuk mendengarkan dan menerima apa yang mereka katakan (tanpa secara otomatis menyetujui hal itu). Isyarat non verbal bisa sangat penting di sini, misalnya menjaga postur tubuh terbuka, kontak mata yang tepat / nyaman, tubuh sedikit condong ke depan. Ini kadang-kadang dikenal sebagai keterampilan menghadirkan diri kita kepada lawan bicara kita.

Keempat, tunda evaluasi atas apa yang telah didengar sampai kita benar-benar memahami hal yang dibicarakan lawan bicara kita. Kita harus menyimak secara bersungguh hingga ia selesai berbicara.

Kelima, pertahankan perhatian kita pada lawan bicara. Tanggapi melalui ekspresi wajah atau gerak tubuh kita seperti anggukan atau senyuman tanpa mengganggu hal yang dibicarakan orang lain. Demikian menunjukkan bahwa kita mendengarkan, tertarik dan berusaha memahami apa yang mereka katakan dan rasakan.

Keenam, tanyakan kepada lawan komunikasi kita sedetail mungkin; mengulang atau parafrase apa yang dikatakan orang lain untuk memastikan bahwa kita memahaminya dan memeriksa pemahaman kita. Parafrase dengan mengajukan pertanyaan non-interogatif pendek, dengan menggunakan beberapa dari apa yang dikatakan pembicara untuk memeriksa pemahaman kita; Seperti ‘ohh begitu.. jadi tadi adek sedih ya?‘ atau ‘jadi maksudnya kakak tadi…‘.

Hindarilah kata-kata yang menyalahkan, menghakimi dan mengkritik dalam berkomunikasi karena hal tersebut akan segera menutup segala komunikasi yang ada. Misalnya saat melihat anggota keluarga yang marah, hindarilah berbicara, misal dengan nada sinis, “Kenapa sih mukanya kok gitu banget?”, “Selalu aja yang aku lihat dari kamu masalah terus!”, “wajahnya biasa aja kalii.” Atau membuat tuduhan, “Mama kecewa kalau adek nakal di sekolah!” tanpa melakukan konfirmasi, dan memahami apa yang terjadi.

Cobalah menggunakan kata yang lebih berempati kepada mereka dengan pertanyaan terbuka, “Ada apa dek, kok wajahnya cemberut? Sini cerita sama kakak.” Jika memang masalah yang terjadi membuat kita malah marah, maka tetaplah tenangkan diri dan menarik nafas, dan simak dengan sebaik-baiknya apa yang diceritakan oleh anggota keluarga kita.

Sekali lagi, hal yang akan memicu konflik baru adalah karena kita menghakimi, menyalahkan, berkata kasar, hanya akan membuat kerusakan hubungan dengan keluarga dan perlu waktu untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari mereka. Mereka akan merasa terluka. Bagaimana jika itu telah terjadi? Jangan segan untuk menjadi yang pertama melakukan komunikasi dengan mereka dan tunjukanlah bahwa kita menghargai mereka juga mendukung terhadap apapun yang mereka lakukan.

 SUMBER  Artikel ini pernah dimuat di , dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Sakinah Majalah Mentari Bulan 12 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait