Komunikasi Dakwah dan Jender

Gambar Komunikasi Dakwah dan Jender
Margianto, S.Ag, MA
Majelis Tabligh PDM Kota Yogyakarta, Korps Mubaligh Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Dilihat dari segi bahasa kata dakwah mengandung arti proses penyampaian pesan-pesan tertentu yang berupa ajakan atau seruan dengan tujuan agar orang lain memenuhi ajakan tersebut. Di dalam prakteknya dakwah tidak dapat dipisahkan dengan komunikasi, bahkan dakwah merupakan proses komunikasi. Secara umum komunikasi memiliki kecenderungan menyampaikan pesan-pesan yang sifatnya lebih umum, baik tentang informasi yang sifatnya ilmiah ataupun yang lainnya..Kecenderungan umum keilmuan komunikasi pada dasarnya dilatarbelakangi oleh sifat komunikasi yang bisa masuk dalam setiap keilmuan serta kebutuhan keilmuan-keilmuan lain tersebut dengan pengetahuan komunikasi.

Satu di antara tantangan dakwah berasal dari komponen masukan adalah yang berasal dari subyek dan obyek dakwah, khususnya berkaitan dengan persoalan peran yang dimainkan laki-laki dan perempuan muslim dalam komunikasi dakwah. Dakwah Islam mengandung dua orientasi yaitu dakwah sebagai suatu proses komunikasi dan dakwah sebagai perubahan sosial budaya. Sebagai suatu proses komunikasi, dakwah mengandung makna pengalihan pesan-pesan dakwah (ajaran Islam) dari da’i (Komunikator) kepada umat (kominukan) melalui media tertentu.

Dakwah sudah pasti sebuah komunikasi, tepatnya komunikasi persuasif, karena hakikat dakwah adalah mengajak (da’a, yad’u, da’watan). Namun,  semua komunikasi belum tentu mengandung pesan dakwah. Komunikasi persuasif adalah komunikasi yang bertujuan untuk mengubah atau mempengaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator. Tujuan komunikasi persuasif identik dengan tujuan utama dakwah, yakni menanamkan believe (keyakinan) dan mengubah attitude (sikap/perilaku).

Komunikasi  dakwah adalah suatu bentuk komunikasi yang khas dimana seseorang komunikator menyampaikan pesan-pesan yang bersumber atau sesuai dengan ajaran al Qur’an dan Sunnah, dengan tujuan agar orang lain dapat berbuat amal shaleh sesuai dengan pesan-pesan yang disampaikan. Secara doktrinal antara laki-laki dan perempuan muslim mempunyai peranan (Ideal-role) dalam melakukan dakwah, hal ini berdasarkan firman Allah swt : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs. At Taubah : 71)

Peranan ideal tersebut semestinya didiringi dengan peranan nyata (Actual-role) dari kedua jenis kelamin yang berbeda tersebut. Isi ayat tersebut juga mengandung konsekuensi agar potensi laki-laki dan perempuan digali dan diaktifkan untuk saling membantu dalam melaksanakan tugas-tugas dakwah. Dengan kata lain keduanya harus memperlihatkan semangat kemitrasejajaran dalam melaksanakan tugas-tugas dakwah.

Dalam perspektif jender dapat disimpulkan bahwa al-qur’an secara tegas mengumandangkan idiolagi kemitrakesajajaran dalam bidang dakwah. Masalahnya terletak pada dataran kenyataan dalam masyarakat kita yang masih terperangkap dalam idiologi patriarki, khususnya dalam kegiatan komunikasi dakwah. Dalam masyarakat Islam Indonesia proporsi da’i wanita lebih kecil dibandingkan da’i pria. Kegiatan dakwah di luar rumah dalam berbagai bentuknyadi banyak tempat dan peristiwa lebih banyak didominasi da’i pria.

Dalam perspektif jender dapat disimpulkan bahwa al-qur’an secara tegas mengumandangkan idiolagi kemitrakesajajaran dalam bidang dakwah
Dalam perspektif jender dapat disimpulkan bahwa al-qur’an secara tegas mengumandangkan idiolagi kemitrakesajajaran dalam bidang dakwah (Sumber gambar : klik disini)

Kaum wanita muslim nampaknya masih terbelengu stereotif jender tradisional dalam masyrakat. Meskipun agama sudah memberikan keleluasaan, bahkan Islam memberikan kewajiban bukan hak agar mereka melakukan penyiaran Islam sebagaimana bagi pria, namun mereka belum berani menerobos tembok stereotif wanita sebagai manusia yang bisa melakukan dakwah di depan publik.

Wanita muslim saat ini berada di dua sisi yang belum terjembatani.  Di satu sisi agama menuntut agar mereka berperan di sektor publik (dakwah), namun di sisi lain mereka masih terbelenggu nilai-nilai tradisi setempat yang mengharuskan mereka cukup berkecimpung di sektor domestik. Kalau dalam komunikasi dakwah yang memang secara tegas ada perintah agama wanita masih sangat sedikit yang berperan, apalagi dalam bidang-bidang lain yang masih menjadi perselisihan penafsiran dikalangan umat Islam, misalnya boleh tidaknya wanita menjadi imam shalat, khatib jumat dan muazin.

Da’i sebagai komunikator tentunya tidak hanya terbatas menyampaikan pesan dakwah namun harus memperhatikan pula kelanjutan efek komunikasinya terhadap umat (komunikan). Oleh karena itu komunikasi yang disampaikan membutuhkan tindak lanjut, maka setiap da’i juga dapat berperan sebagai tokoh dari jamaahnya. Sebagai seorang pemimpin da’i memiliki posisi strategis di tengah – tengah umatnya. Dengan kata lain da’i berperan dalam mensosialisasikan gagasan atau ide baru yang sangat efektif kepada jamaahnya. Efektifitas ini karena da’i menjadi suri tauladan, pembimbing, pengarah serta pemegang kendali legitimasi.

Seperangkat ciri tokoh yang juga melekat pada diri da’i sebagai komunikator akan sangat berpengaruh kepada keefektifan komunikasi. Semakin besar dan kuat pengaruh da’i kepada umatnya, maka komunikasi akan semakin efektif. Umat (komunikan) akan mudah dibawa ke situasi sosial yang dikehendaki da’i secara persuasif. Dari segi orientasi kewilayah maka ada dua jenis tokoh yakni tokoh lokal (local influentials) dan tokoh lintas lokal/kosmopolitan ( interlocal influential).

Beberapa  perbedaannya adalah tokoh lokal lebih memikirkan hubungan dengan masyaraktnya sendiri. Semenatara tokoh kosmopolitan selain memikirkan masyarakatnya juga banyak melakukan hubungan masyarakat di luar lingkunganya. Selain itu tokoh lokal lebih dekat dengan lingkungan masyarakat dan karenanya lebih banyak mengenal dengan anggota masyarakatnya karena frequensi komunikasi yang dilakukan. Tokoh kosmopolitan umumnya pendatang  dan karenaya pengenalan terhadap masyarakatnya lebih terbatas dan lebih berhubungan dengan orang-orang pada tingkat status sosial yang sama. Selaian itu pula tokoh lokal lebih berpartisipasi dalam organisasi kemasyarakatan untuk menciptakan persahabatan. Adapun tokoh kosmopolitan lebih cenderung memasuki organisasi pengembangan minat dan kelompok profesional. (Nawari Ismail :Pergumulsn Dakwah Islam dalam Konteks Sosial Budaya : 2010)

Komunikan atau obyek dakwah dari da’i wanita bersifat  monoaudien yaitu dari kalangan anak-anak sementara da’i tertuju pada dua atau lebih komunikan (poliaudien)  yaitu semua tingakatan usia dan umur dari mulai anak-anak hingga orang tua. Komunikasi dakwah merupakan bentuk komunikasi khusus. Kekhususan bukan saja karena pengunaan konsep – konsep pada komponennya, seperti istilag da’i atau mubaligh untuk komunikator dan umat atau jamaah untuk komunikan tetapi juga terletak pada subtansi pesan yang disampaikan.

Selain itu status komunikasi dakwah juga unik karena komunikasi dakwah merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap muslim, bukan suatu hak yang boleh ditinggalkan atau dilakukan menurut sekehendak pelalu komunikasi (da’i/mubaligh). Kewajiban melakukan komunikasi dakwah bukan hanya untuk pria tapi juga untuk wanita. Pria – wanita sama –sama memiliki peranan dalam bidang dakwah. Masalahnya dalam banyak kasus di Indonesia memperlihatkan adanya perbedaan  perilaku komunikasi dakwah dari kedua jenis kelamin tersebut. Perbedaan itu terdapat dikalangan komunikan dan dikalangan komunikator.

Dalam kaitannya dengan isu jender, perbedaan perilaku komunikasi dakwah pria-wanita tersebut akibat dari idiologi jender patriarki yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. Suatu idiologi yang melatakkan posisi wanita di bawah pria. Wanita dianggap layak sebagai orang yang berperan disektor domestik, sehingga peranan sebagai komunikator belum sebanding dengan proporsi jumlah mereka. Kalaupun ada yang bereperan sebagai komunikator, kegiatanya masih terbatas, misalnya jika dilihat dri unsur model dakwah masih dalam bentuk monomodel dan komunikan yang dibina bersifat .

Selain itu dalam penggunaan media komunikasi, sebagai wanita, sebagai komunikan lebih banyak memilih media dan pola komunikasi tradisional, sementara pria lebih banyak memilih media dan pola komunikasi moderen.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tabligh Majalah Mentari Bulan 11 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait