Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak Dalam Islam

Oleh : Wasito,S.Sos.I (Guru Al-Islam SD Muh Karangkajen 2)

Dalam ilmu psikologi barat dikatakan bahwa anak ibarat kertas putih atau tabularasa, lebih jauh dari itu sebelum psikologi barat muncul, Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam sudah  berpandangan bahwa semua anak dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah) maka kemudian menjadi tugas orang tuanya apakah ia akan tumbuh menjadi yahudi, Nasrani atau Majusi. Banyak kita jumpai para orang tua menganggap bahwa anak adalah miliknya  sehingga orang tua memperlakukan anak semaunya. “Anak akan saya apakan itu terserah sayakan  anak-anak saya sendiri”.  Padahal anak adalah titipan Allah Subhanahu Wata’ala yang artinya bahwa anak merupakan amanah yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala kepada kita. Amanah itu berarti ada tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakan terhadap anak-anak kita. Dalam sebuah hadist Rasulullah shalallahu’alaihi Wassalam bersabda bahwa, “kamu semua adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepimimpinanmu. suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan istri adalah pemimpin dalam rumah tangganya (HR.Bukhari).  Tugas dan kewajiban itu dimulai dari beberapa hal diantaranya :

1. Memilih calon suami atau istri yang terbaik untuk anak-anak

Jauh sebelum menjadi orang tua yang akan dikenai tugas dan tanggung jawab terhadap anak-anaknya atau keluarganya maka yang dilakukan adalah memilih ayah, abi, papa, bapak , abah atau ibu, umi, mama, uma yang terbaik untuk anak-anaknya. Dari mana ia mendapatkan pasangan hidup itu akan sangat berpengaruh di dalam membina rumah tangga yang sakinah mawadah dan warahmah atau menciptakan keluarga idaman yang akan melahirkan generasi-generasi yang unggul.

2. Memberi nama yang bagus dan baik artinya kepada anak

Setelah memilih pasangan hidup (calon ayah dan ibu yang terbaik untuk  anak-anak) berikutnya adalah memberi nama yang bagus dan artinya baik untuk anak-anak, hal ini karena Nabi Muhammad shalallahu’alaihi Wassalam memerintahkan untuk memberi nama yang bagus dan  kelak pada hari kiamat seseorang akan dipanggil sesuai dengan namanya. Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam bersabda: ”Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian” (HR.Abu Daud).

3. Menjaga mereka dari siksa api neraka

Setelah memberi nama yang baik kepada anak-anak maka kewajiban berikutnya menjaga mereka dari siksa api neraka hal ini telah Allah Subhanahu Wata’ala jelaskan dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya : ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Setalah membaca ayat di atas jelas bahwa tugas mendidik bukan hanya kedua orang tuanya akan tetapi semua yang mempunyai tanggungan  (orang tua, saudara, tetangga, RT, RW, Camat dll) agar menjaga diri bersamaan dengan itu ia menjaga yang lain dari siksa api neraka. Maka yang harus dilakukan oleh setiap orang untuk memperbaiki diri dan menjadi teladan anak-anak. Apalagi sebagai orang tua karena merekalah yang paling dekat dan waktu yang paling banyak bersama anak-anak. Ibnu ‘abas mengatakan terkait ayat di atas bahwa kewajiban orang tua terhadap anak-anak mereka adalah  mengajari mereka untuk taat kepada Allah dan tidak bermaksiat kepadanya. Sehingga kelak di akhirat akan selamat dan terbebas dari siksa api neraka yang bahan bakunya manusia dan batu.

4. Jangan meninggalkan generasi yang lemah

Allah Subhanahu Wata’ala menjelaskan  dalam Surat An-Nisa ayat 9 ;

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا

Artinya : ”Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Ayat di atas turun dilatarbelakangi oleh seorang sahabat Nabi yang akan mewariskan separoh hartanya kemudian Rasulullah shalallahu’alaihi Wassalam hanya membolehkan sepertiga hartanya untuk ahli warisnya. Artinya bahwa janganlah  seorang muslim meninggalkan generasi yang lemah iman, financial, ilmu, dan spiritual. Maka generasi yang harus disiapkan adalah generasi yang kuat seperti yang dijelaskan dalam sebuah Hadist bahwa orang yang kuat akan lebih Allah cintai dari pada mukmin yang lemah “ Al-mukminun qowiyyu khoiru waahabbu  ilallah minnal mukmin dho’if “(HR.Muslim)

Maka untuk menyiapkan generasi mukmin yang kuat harus disiapkan generasi yang memiliki sembilan karakter sebagai berikut :

  1. Aqidahnya lurus artinya  keyakinan terhadap Allah kuat, bukan menjadi pelaku syirik karena perbuatan syirik ini tidak akan diampuni oleh Allah Subhanahu Wata’ala “Inna Syirka Ladzulmun ‘Adzim artinya sesungguhnya perbuatan syirik adalah kedzoliman yang besar.
  2. Ibadanya benar artinya ibadahnya  ikhlas  karena Allah Subhanahu Wata’ala, dan  itiba’ rosul mengikuti apa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi Wassalam.
  3. Akhlaqnya baik artinya menjadi mukmin yang dicintai dan mencintai sesama muslim. Ketiga; kuat fisiknya artinya fisiknya terus dilatih dengan olahraga dan makan makanan yang sehat.
  4. Bermanfaat untuk orang lain, Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam bersabda “Khairunnas an’fa’ahum linnas artinya sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk manusia lain”.
  5. Kuat intelektualnya artinya terus mengasah intelektualnya dengan senang mencari ilmu, mendatangi majelis-majelis ilmu, suka membaca dan sebagainya.
  6. Memerangi hawa nafsu artinya bisa menundukkannya bukan memperturutkan hawa nafsu.
  7. Memperhatikan waktu dengan baik  artinya modal seseorang adalah waktu yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala digunakan sebaik-baiknya dengan mengisinya dengan amal shaleh.
  8. Mandiri artinya berusaha sendiri tidak selalu mengandalkan bantuan orang lain sehingga tidak memilki ‘Izzah (harga diri).
  9. Cermat dan rapi kerjanya artinya bahwa seorang mukmin harus memiliki karakter ketika melakukan sesuatu akan selalu cermat dan kerjanya tertata dengan rapi.

Semoga amanah anak yang dititipkan kepada kita ini bisa jaga atau emban dengan baik dengan berusaha menjaga jangan sampai kelak mereka terkena siksa api neraka dan menyiapkan mereka menjadi generasi yang kuat dan tangguh fidunnya wal akhirah. Wallahu’a’lam

Semua anak dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah) maka kemudian menjadi tugas orang tuanya apakah ia akan tumbuh menjadi yahudi, Nasrani atau Majusi
Semua anak dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah) maka kemudian menjadi tugas orang tuanya apakah ia akan tumbuh menjadi yahudi, Nasrani atau Majusi (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Child Education Majalah Mentari Bulan 8 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait