Kerja itu Sebuah Ibadah

Gambar Kerja itu Sebuah Ibadah
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Kerja adalah kewajiban. Apalagi bagi seorang muslim. Kerja adalah konsekuensi hidup. Bila eksistensi kehidupan manusia tidak ingin punah, maka harus bekerja.  Kerja adalah perintah suci Allah kepada manusia. Meskipun akhirat lebih kekal daripada dunia, namun Allah tidak memerintahkan hambanya meninggalkan kerja untuk kebutuhan duniawi.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (untuk kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Qashash: 77).

Pondasi manusia dalam bekerja sudah sangat jelas yaitu perintah dari Allah SWT. Sabda  Rasulullah Muhammad SAW saat melakukan pekerjaan, juga tampak jelas yaitu memuliakan orang bekerja. Dalam sebuah kisah ada seseorang yang berjalan melalui tempat Nabi Muhammad. Orang tersebut sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, andaikata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan jihad fi sabilillah, maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Nabi pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabilillah, kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia, itu adalah fi sabilillah, kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itu juga fi sabilillah.” (HR. Ath-Thabrani).

Persoalan yang muncul bahwa bekerja bukanlah sendirian. Ia bekerja pasti untuk orang lain. Ia bekerja juga karena orang lain. Jadi orang bekerja itu bergantung dari orang lain. Tak ada pekerja untuk dirinya sendiri. Muncullah mata rantai yang saling terkait dalam urusan pekerjaan.

Bagi seorang muslim dan muslimah, bekerja memang harus dilandasi dengan niat yang baik. Sebab niat akan membuahkan amal. Kerja pada hakekatnya adalahnya manifestasi amal kebajikan. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad bersabda, “Sesungguhnya nilai amal itu ditentukan oleh niatnya.”

Bagi seorang muslim dan muslimah, bekerja memang harus dilandasi dengan niat yang baik
Bagi seorang muslim dan muslimah, bekerja memang harus dilandasi dengan niat yang baik (Sumber gambar : Klik disini)

Amal seseorang akan dinilai berdasar apa yang diniatkannya. Suatu hari Nabi Muhammad berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari. Ketika itu Nabi Muhammad melihat tangan Sa’ad melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. “Kenapa tanganmu?,” tanya Nabi kepada Sa’ad. “Wahai Rasulullah,” jawab Sa’ad, “Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. Seketika itu Nabi mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka”.

Bekerja mandiri ataupun dalam sebuah institusi, prinsipnya tetap sama. Ada karakter atau parameter bila seseorang harus bekerja terutama dalam lingkup institusi. Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi pekerjaan sehingga menjadi sebuah kebudayaan atau budaya kerja.

Motivasi. Bagi orang Islam, bekerja mestinya kembali pada surat Al-Qashash ayat 77, dan sebuah nukilan sabda Nabi di atas. Motivasi lahir dari niat yang tulus. Niat yang tulus muncul karena ada yang hendak diraih untuk masa depan. Niat termanifestasikan karena hati yang bersih. Semakin bersih hati seseorang dari keburukan, semakin tajam dan sensitif terhadap kebaikan dan kebenaran. Karena itu, diperlukan tazkiyatun nafs (penyucian hati lewat disiplin zikir, ibadah dan amalan-amalan lain yang cukup luas cakupannya). Bersihnya hati berarti juga hidupnya hati sehingga memancarkan cahaya kebaikan dalam segala aktifitasnya, termasuk bekerja.

Proses Pembelajaran. Belajar tak mengenal usia. Menuntut ilmu tak mengenal Negara. Kemanapun ilmu harus dicari. Belajar sepanjang hayat bahkan sudah menjadi amanah dari Undang-undang Pendidikan Nasional. Berlaku bagi siapapun. Seorang guru dituntut untuk berlaku professional dengan cara memperbaharui basic ilmu yang ia kuasai. Seorang dokter tak hanya pandai menasehati pasien, tapi harus cekatan mengobati pasien sampai sembuh. Bahkan seorang polisi harus mahir dalam menjaga ketertiban bermasyarakat, meskipun kemungkaran selalu lebih canggih.

Semangat kompetisi di semua bidang terus diperbaharui. Tak ada alasan untuk tidak belajar. Dimanapun orang bekerja, mandiri maupun masuk dalam team, tingkat ketrampilan selalu diutamakan. Kekerabatan dengan seorang kawan sangat diharapkan. Tapi keprofesionalan menjadi landasan utama dalam menempuh visi dan misi. Jangan sampai hubungan pertemanan menambah daftar kerunyaman dalam sebuah team. Kompetisi tak mengenal waktu. Hampir tiap detik selalu terjadi hal-hal yang baru.

Keteladanan Pemimpin. Andai pembaca bekerja dalam sebuah perusahaan atau lembaga,  akan tampak bahwa pemimpin memegang peran utama. Betapapun bagusnya program yang telah dicanangkan, tanpa dirigen dari pemimpin, mustahil ketercapaian pekerjaan akan digenggam. Di beberapa amal usaha Muhammadiyah, tampak jelas siapa sebenarnya yang memiliki latar belakang pengalaman berorganisasi. Keteladanan seorang pemimpin sama saja dengan lebih dari separo dari perintah yang hendak dilaksanakan.

Seorang pemimpin (apalagi di perusahaan) memang dituntut lengkap dari segala sisi. Tapi itu tak mungkin. Namun ada dua wajah yang mesti ia lakukan. Menjaga hubungan antar manusia dalam lembaga itu dan pelaksanaan tugas. Seorang pemimpin yang baik tidak hanya menyadari bahwa ia membutuhkan orang lain, tetapi juga menyadari bahwa ia dengan penuh tanggung jawab harus membina hubungan baik dengan orang lain, yang menjamin kerja sama yang baik dan keberhasilan kerja.

Kedua, melaksanakan tugas yang senantiasa membuat iklim kerja kondusif. Yang membuat seseorang yang disebut ahli itu tahu dan dapat melakukan tugasnya dengan baik dan benar. Kecakapan tugas berkaitan erat dengan hal-hal praktis yang bersifat teknis sehingga dapat juga disebut keahlian teknis/praktis. Keahlian ini berkaitan erat dengan ketrampilan.

Budaya luar. Tidak dipungkiri lagi, bahwa orang bekerja atau perusahaan bergerak bila berinteraksi dengan orang lain. Ia akan bersentuhan dengan lembaga lain, agar semua yang terkait menimbulkan sirkulasi yang dinamis. Imbasnya, budaya ini akan masuk ke setiap sendi kehidupan dalam perusahaan. Sebagai sebuah perusahaan atau yang bekerja mandiri, budaya luar bisa menjadi energy. Ia seperti kekuatan yang datang dari luar.Andai mampu mengelola dengan baik. Budaya luar akan menggerogoti semua aspek pekerjaannya, manakala tidak mampu menata. Kembalinya kepada manusianya sendiri.  Didalam suatu organisasi, budaya dapat dikatakan lebih dipengaruhi oleh komunitas budaya luar yang mengelilinginya.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan 6 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...