Kepemimpinan Ilahiyah

Gambar Kepemimpinan Ilahiyah
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Ali Imran : 26).

Kekuasaan itu indah. Di balik keindahan ada nafsu. Di dalam nafsu ada seberkas sifat keserakahan. Kekuasaan menjadi keserakahan manakala berawal dari budaya kekeluargaan yang kuat. Kekuasaan menjadi keberkahan karena berangkat dari itikad menjalankan sebagian kecil sifat Allah. Diantaranya sifat Adil. Seseorang dapat melakukan kekuasaan yang berkeadilan karena ia tahu benar bahwa hanya Allah yang memiliki sifat mutlak berkuasa.

Dalam alqur’an terdapat beberapa ayat yang dapat menjadi pedoman manusia dalam melakukan kekuasaan, antara lain Surat Ali Imran : 26. Dalam ayat ini Allah menyuruh Nabi Nya untuk menyatakan bahwa Allah lah Yang Maha Suci, yang mempunyai kekuasaan tertinggi dan Maha Bijaksana. Ia bertindak dengan sempurna di dalam menyusun, mengurus, dan menuntaskan segala tindakan, dan Ia menegakkan keadilan, melaksanakan timbangan undang-undang di seluruh alam semesta ini.

Allah lah yang memberikan kekuasaan kepada siapapun yang Dia kehendaki. Allah lah yang memberikan pangkat, jabatan dan segala pernak-perniknya kepada hamba Nya yang dikehendaki. Ada kalanya Allah memberikan itu bersamaan dengan pangkat kenabian seperti keluarga Ibrahim, dan ada kalanya hanya memberikan pemerintahan saja menurut hukum kemasyarakatan, yaitu dengan membentuk suku-suku dan bangsa-bangsa.

Adakalanya Allah juga yang mengembalikan dengan cara mencabut pemerintahan dari orang-orang yang Dia kehendaki disebabkan melanggar aturanNya. Mereka telah meninggalkan ketauhidan, melanggar norma-norma kemasyarakatan yang dicontohkan oleh nabi-nabi Nya. Meninggalkan keadilan dan menjalankan kekuasaan sesuai kehendak hatinya sendiri. Pemimpin yang demikian itu banyak dicontohkan dalam Al-Qur’an. Allah jualah yang memberi kekuasaan kepada orang yang Dia kehendaki, dan menghinakan orang yang Dia kehendaki.

Orang yang diberi kekuasaan ialah orang yang didengar tutur katanya, banyak penolongnya menguasai jiwa manusia-dengan wibawanya dan ilmunya yang berguna bagi manusia, serta mempunyai keluasan rezeki dan berbuat baik kepada segenap manusia.

Adapun orang yang mendapat kehinaan ialah orang yang rendah jiwanya dan merasa lemah membela kehormatan, lagi tidak mampu mengusir musuhnya yang menyerbu dan tidak bersatu padu. Padahal, tidak ada satu kemuliaanpun dapat dicapai tanpa persatuan untuk menegakkan kebenaran dan menentang kelaliman.

Kepemimpinan yang berakar dari Al-Qur’an dan Sunah Rasul saja yang mendapat keberkahan mendapat pengakuan dari rakyat. Karena kepemimpinan yang dicontohkan oleh Nabi dan Rasul Nya adalah tipe kepemimpinan yang telah teruji oleh ruang dan waktu. Bila demikian, adakah yang akan melakukan model lain? Kalau kepemimpinan model demikian telah teruji?
Benar, bahwa pemimpin adil adalah mereka yang mengikuti jejak Rasul. Benar, bahwa pemimpin yang dicintai adalah mereka berangkat dari kebutuhan dan keinginan rakyatnya. Namun apapun bentuk dan teknisnya, selalu berujung pada keteladanan nabi-nabiNya dan petunjuk Allah.

Bangsa yang besar bukanlah dari masyarakat yang banyak jumlahnya. Bukan pula yang luas kekuasaannya. Untuk menjadi bangsa yang besar atau masyarakat yang utama tergantung kepada seberasa besar ikatan ketauhidan kepada Allah, seberasa keterikatan emosi kita kepada Rasul Nya. Tingkat keimanan kepada Allah dan kadar keteladanan kepada Nabi dan Rasulnya sangat berpengaruh terhadap motivasi dalam melaksanakan kepemimpinan. Karena kuat atau lemahnya seseorang hanya Allah saja yang memberi. Sebagaimana dalam surat Al-Munafiqun ayat 8 : “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui”.

Sejarah membuktikan. Bahwa jumlah yang banyak belum tentu menunjukkan kekuatan. Dari beberapa peristiwa Nabi Muhammad SAW dalam melakukan peperangan, pasukan Rasulullah hampir selalu lebih sedikit dibandingkan dengan kaum kafir. Namun umat Islam dapat memperlihatkan kemenangan. Memang tidak semua peperangan dimenangkan oleh Islam. Kekalahan yang diderita oleh pasukan Islam, bila ditelusuri karena terlena dan tidak tunduk terhadap perintah Rasul.

Lihatlah bangsa-bangsa timur, mereka berjumlah banyak tetapi dapat dikuasai oleh bangsa-bangsa barat yang berjumlah lebih sedikit. Ini disebabkan oleh merajalelanya kebodohan, permusuhan atau perpecahan yang terjadi di antara sesama mereka.

Dalam ayat ini Allah menerangkan pula bahwa segala kebajikan terletak ditangan Nya, baik kenabian, kekuasaan ataupun kekayaan. Ini menunjukkan bahwa Allah sendirilah yang memberikan menurut kemauanNya. Tidak ada seorangpun yang memiliki kebajikan itu selain Allah.

Dari paparan di atas dapat dipahami bahwa secara normatif, kepemimpinan harus merujuk kepada kehendak Allah dan meneladani sifat Nabi dan RasulNya. Landasan yang fundamental ini sering dipakai sebagai landasan spiritual seseorang dalam memimpin. Memahami apa yang dikehendaki oleh Allah bukan perkara mudah kecuali bagi orang yang diberi petunjuk. Seorang pemimpin memang harus memiliki komunikasi dengan sang khalik. Hubungan yang terus menerus inilah sebagai jalan untuk saluran petunjuk Nya. Maka tidak sedikit seorang pemimpin memiliki jiwa kashalihan.

Landasan lain untuk rujukan seorang pemimpin adalah menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri tauladan. Pemimpin tidak hanya butuh inspirasi yang diperoleh dari munajat kepada Allah. Seorang pemimpin membutuhkan role model dalam segala tindak tanduknya atau akhlaknya. Karena tindakan rasul ini sebagai petunjuk teknis dari keinginan Allah, maka suri tauladan Rasulullah merupakan model yang terbaik.

Karena tindakan rasul ini sebagai petunjuk teknis dari keinginan Allah, maka suri tauladan Rasulullah merupakan model yang terbaik
Karena tindakan rasul ini sebagai petunjuk teknis dari keinginan Allah, maka suri tauladan Rasulullah merupakan model yang terbaik (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan 9 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Artikel SebelumnyaManajemen Industri
Artikel BerikutnyaAndai Engkau Tahu Bunda Kartini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait