Kementrian agama bertanggung jawab memberi pengayoman dan ketentraman kepada semua umat

Berikut wawancara Fuad Hasyim dari redaksi Majalah Mentari dengan Maskur Ashari, Kepala Seksi Bimas Islam Kemenag Kota Yogyakarta seputar seruan dari Menteri Agama tentang politisasi Masjid.

Apa sebarnya latar belakang dan substansi seruan menteri agama?

Kementrian agama bertanggung jawab memberi pengayoman dan ketentraman kepada semua umat. Tujuannya tentu agar dakwah yang ada di Indonesia itu menyejukkan, tidak bersifat profokatif dan menjadi bagian dari pembinaan umat. Karena banyak sekali ceramah yang tidak memberikan kesejukan serta tidak menggambarkan islam rahmatan lil alamin, dan justru memunculkan hal bersifat radikalisme, yang itu pada taraf pengamalannya umat tidak ada kontrol. Menteri agama ingin pengawasan bukan bagian dari kecurigaan, tetapi lebih menjadi proses pembinaan dan proses memberikan pedoman bagi para dai, bagaimana menyampaikan islam yang moderat dan rahmatan lil alamin

Kenapa bentuknya hanya seruan dengan publikasi media yang masif atau melalui pembinaan saja?

Karena itu seruan maka bersifat spontan, itu keinginan karena melihat keadaan. Pembinaan dai sudah ada di kementrian agama melalui penyuluh agama, PNS dan Non PNS, ada program pendataan guru ngaji juga sebagai bagian dari pembinaan. Saat ini ada  113 penyuluh Non PNS dan 145 PNS. Di antara mereka kita sampaikan agar menyampaikan dakwah yang menyejukkan, tidak memusuhi pemerintah, dan tidak memunculkan permusuhan pada perbedaan agama, sehingga dakwah tidak akan membuat umat islam menjadi bagian dari oposisi pemerintah. Kita juga kembangkan dakwah multikultural, karena kita memang berbhineka dan bermacam agama untuk membina umat masing-masing. Ini himbuan saja dan tidak ada surat resmi terkait hal itu.

Apakah kasus-kasus ceramah yang kontraproduktif di Kota Jogja memang ada?

Kalau di kota Jogja tidak ada, alhamdulillah belum pernah ada laporan, di daerah tertentu mungkin ada, satu atau doa orang yang berceramah dipandang memprofokasi umat. Sampai saat ini aman dan tidak ada profokasi anti pemerintah apalagi memecah umat.

Apakah seruan ini seakan ditujukan bagi umat islam, atau masjid?

Tidak, jadi seruan itu menteri semua agama jadi semua tempat ibadah. Seruan untuk semua umat beragama.

Apakah ada intervensi politik?

Saya tidak tahu.

Apakah seruan itu tidak membatasi kebebasan berpendapat?

Tidak karena umat kita pandai, para penceramah baik dan pintar saya yakin. Umat islam sudah cinta tanah airnya, sehingga seruan tidak akan mempengaruhi utnuk menyampaikan ajaran islam dengan kekerasan.

Apakah seruan itu menjadi bagian dari upaya pemerintah yang memperkarakan suara kritis masyarakat?

Selama kita berceramah sesuai dengan kaidah agama dan mauidzoh hasanah tidak akan bermasalah, karena pemerintah tidak gegabah. Silahkan sampaikan kebenaran dalam agama tidak akan membatasi.

Bagaiamana jika keyakinan penceramah tentang agama bertentangan dengan pemerintah?

Kita mengkritisi pemerintah boleh asal masih dalam jalur aturan yang ada. Silahkan disampaikan ajaran yang diyakini tidak apa-apa. Seperti kriteria pemimpin menurut islam. Karena memang itulah ajaran dalam islam. Pemerintah luwes tidak melihat semua ujaran sebagai melawan pemerintah. Negara tidak bertentangan dengan ajaran islam. Jika dipandang memusuhi itu adalah pandangan pihak-pihak tertentu saja.’

Bagaimana tindak lanjut dari seruan tersebut?

Kita adakan pembinaan kepada tokoh agama, ormas seperti Muhammadiyah. Kita libatkan untuk pembinaan.

Apakah tidak ada kebijakan yang mengikat sebagai follow up?

Belum ada, kita belum ada perintah seperti itu. Kita percaya dan yakin tokoh agama di Jogja baik dan mendukung pemerintah.

Bagaimana respon umat terhadap respon tersebut?

Saya lihat biasa saja dan sangat dewasa menangkap himbauan tersebut, jadi tidak ada reseistensi. Itu tidak merugikan kita, kita ambil hikmah agar dakwah dengan cara yang baik. Kita perlu membentengi umat dari dakwah yang mengajak pada permusuhan kepada pemerintah maupun sesama umat?

Bagaimana pesan bapak terkait momentum ramadhan dan idul fitri?

Kita tingkatkan ibadah kita untuk memunculkan masyarakat yang bertakwa, kami himbau di idul fitri menjaga kondisi yang kondusif dengan mengedepankan ketertiban. Hari raya kita rayakan sebaik mungkin sebagai budaya kita budayakan saling memaafkan dan toleransi. Jangan ribut karena perbedaan.


Daftar Laporan Khusus “Pesan Ramah Di Tempat Ibadah”

Reporter : Fuad Hasyim

Liputan ini pernah dimuat di Rubrik Fokus Majalah Mentari Bulan 6 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Kementrian agama bertanggung jawab memberi pengayoman dan ketentraman kepada semua umat
Fuad Hasyim, S.S, M.A
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kota Yogyakarta, Dosen Bahasa Inggris Universitas Islam Indonesia, Pimpinan Redaksi Majalah Mentari

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...