Keluarga Peduli Lingkungan

PENULIS Zuhriyah (Anggota Aisyiah di Kota Yogyakarta)

Bumi makin panas, iklim semakin sulit diprediksi, udara yang semakin tercemar, air bersih yang semakin mahal, semua itu hanyalah sebagian problematika yang pada saat ini sedang dihadapi oleh semua bangsa di dunia ini. Berdasarkan pengamatan para ilmuwan, lapisan ozon telah mengalami penipisan sehingga panasnya matahari semakin menyengat. Di dalam negeri, bencana kekeringan di daerah tandus dan banjir daerah padat pemukiman, seolah menjadi permasalahan yang tidak kunjung usai karena kurangnya alternatif pemecahan masalah. Tanah longsor yang mengakibatkan kerugian jiwa maupun material, terjadi di banyak titik di daerah lereng gunung akibat gundulnya hutan. Alam sepertinya sudah tidak bersahabat dengan manusia dikarenakan ulah manusia sendiri yang tidak peduli lingkungan dan dengan serakah mengeksploitasi sumber daya alam yang sangat kaya ini.

Di peringkat internasional, isu global warming (pemanasan global) telah menjadi perbincangan penting dan menjadi komitmen bersama untuk penanggulangannya. Negara-negara maju sangat komitmen dan menyadari lebih awal dibandingkan Negara-negara kurang maju tentang isu tersebut, karena mereka adalah Negara-negara yang melakukan penelitian khusus dan intensif tentang penyebab, dampak, tingkat kerusakan dan hal-hal yang berkaitan dengan pemanasan global yang salah satunya disebabkan oleh kemajuan teknologi dan industri.

Dalam keluarga modern seperti era sekarang ini, kebutuhan akan perangkat rumah tangga hasil teknologi modern seperti kulkas, air conditioner (AC), mesin cuci, seterika listrik dan sebagainya, sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa terpisahkan pada kehidupan sehari-hari.

Dengan kondisi masyarakat seperti ini, upaya pelestarian lingkungan hidup semakin berat dan memerlukan tindakan serta dukungan semua elemen masyarakat. Keluarga sebagai elemen terkecil dari masyarakat memerankan fungsi penting bagi penyadaran individu-individu di dalamnya.

Lester L. Brown dalam bukunya Building a Sustainable Society mengatakan, We have not inherited the earth from our fathers, mare borromng from our children.” (Kita tidak mewarisi bumi/ lingkungan dari orang tua kita, tapi kita meminjamnya dari anak cucu kita).

Terkandung maksud bahwa kita mempunyai kewajiban untuk memelihara lingkungan hidup ini, karena kita berkewajiban mengembalikannya kepada anak cucu dengan keadaan yang tidak berkurang bahkan lebih baik dari sebelumnya. Bagaimanakah anggota keluarga bisa memerankan diri sesuai dengan tingkatannya masing- masing? Penyadaran akan pentingnya tindakan pelestarian ini harus dimulai sejak dini. Anak-anak yang secara alamiah masih suka bermain-main air, perlu kita beri pengertian akan berharganya air dalam kehidupan.

Kita ceritakan bagaimana di daerah kurang air, orang harus berjalan berkilo-kilo meter hanya untuk mendapatkan satu dirigen air untuk keperluan minum. Bagi yang dewasa, bagaimana aktifitas yang memerlukan pemakaian air seperti mencuci gelas piring, baju, ataupun mobil, bisa dilakukan dengan cara seirit dan seefisien mungkin, dan perlu dipastikan tidak ada kebocoran pada keran atau pipa air. Mandi dengan shower/pancuran bisa menghemat 40% dibandingkan dengan gayung.

Berkaitan dengan energi listrik, kita harus banyak melakukan penghematan karena persediaan energi yang terbatas dibandingkan dengan penggunaannya yang cenderung tak terbatas. Kita bisa membiasakan diri dari keluarga, misalnya dengan cara mematikan alat elektronika jika tidak terpakai, pilih lampu dan alat elektronika yang hemat energi, hindari alat pengering listrik dan gunakan sinar matahari.

keluarga islami

Pemakaian tas plastik atau kresek patut untuk dibatasi, karena plastik tidak bisa dihancurkan oleh tanah seperti halnya daun yang mudah untuk dibusukkan oleh tanah sehingga bisa menyuburkan. Jika belanja usahakan memakai tas yang ramah lingkungan atau bisa dipakai ulang.

Dengan beberapa cara dan pembiasaan melalui individu dalam keluarga tentang peduli lingkungan seperti yang sudah dibahas di atas, maka diharapkan kebiasaan itu menjadi pola yang berlaku juga di masyarakat secara umum, pada gilirannya lingkungan (alam) akan menjadi lebih ramah dan bersahabat dengan kita.

Sudah tiba saatnya bagi kita untuk menyadari bahwa kita meminjam alam ini dari anak cucu kita dan berkewajiban mengembalikannya dengan kondisi yang seharusnya lebih baik. Ingatlah bahwa kita semua adalah khalifah fil ard atau pemimpin di muka bumi.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Child Education Majalah Mentari terbitan MPI PDM Kota Yogyakarta No. 5 tahun ke – 15, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Keluarga Peduli Lingkungan
Jurnalis Jamaah
Jamaah Muhammadiyah (pimpinan, anggota, simpatisan dan pegawai) yang mengirim artikel dan berita ke redaksi Majalah Mentari dan PDMJOGJA.ORG. Artikel dan berita ini ditulis oleh penulis lepas / kontributor tidak tetap | Artikel dan berita yang ditulis adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi. Untuk mengirim tulisan silahkan kunjungi link berikut : pdmjogja.org/kirim-tulisan/.

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...