Oleh Ashad Kusuma Djaya (Wakil Ketua PDM Kota Yogyakarta)
Oleh : H. Ashad Kusuma Djaya (Wakil Ketua PDM Kota Yogyakarta)

Sudahkan sampai kabar kepada Anda tentang Negeri Buruh? Di Negeri Buruh pemimpin bekerja tak ubahnya seperti karyawan. Semboyannya kerja kerja kerja. Tanpa perlu tahu urgensi kerjanya itu arahnya kemana.

Di Negeri Buruh, berpikir dan kreatifitas menjadi barang langka. SOP menjadi kitab suci birokrasi. Diskusi hanya diperlukan dalam memahami juklak.

Di Negeri Buruh, upah menjadi sangat penting. Minat pekerjaan ditentukan dari seberapa besar upah yang akan didapatkannya, bukan seberapa penting usaha yang dilakukannya. Status sosial pun diukur dari benda-benda yang bisa dibeli dari upahnya.

Simak saja tiga cirinya. Yaitu kerja sekedar kerja, miskinnya kreativitas dan inovasi, serta menjadikan upah segala-galanya.

1. Kerja Sekedar Kerja

Beberapa waktu ini kita sering menemukan kutipan yang katanya berasal dari Buya Hamka berbunyi “kalau kerja sekedar kerja, kerbau di sawah juga bekerja”. Entah itu benar dari Buya Hamka atau tidak, tapi kutipan tersebut memiliki makna mendalam dan menggelitik kita untuk merenungkan makna kerja kita. Untuk apa dan bagaimana kita bekerja selama ini?

Kerja sesungguhnya adalah suatu serangkaian tindakan untuk menghasilkan sesuatu yang mendatangkan manfaat untuk manusia. Karena itu dalam konsep kerja yang bermartabat semua manusia yang bekerja memahami seluruh aktivitas kerjanya ujungnya adalah memberi manfaat pada manusia. Kerja menjadi ajang pembuktian diri manausia sebagai makhluk sosial. Namun nyatanya struktur logika Negeri Buruh menjadikan manusia hanya akan memenuhi kebutuhan orang lain sejauh itu memberi keuntungan pada dirinya saja.

Kita sering dikacaukan dengan pemilahan kontradiksi buruh-majikan sehingga melupakan pentingnya membangun semangat kepemimpinan. Maka pemimpin tak merasa perlu memimpin karena dibenaknya hanya ada kerja kerja dan kerja. Buruh bekerja, majikan bekerja, dan semua cukup bekerja.

Para pemimpin seringkali merasa tak perlu menjelaskan peta jalan yang akan ditempuhnya. Ketika mereka ditanya apa programnya maka yang muncul adalah daftar keinginan kerja. Itupun hanya mengumpulkan dari para pekerja apa yang akan mereka kerjakan. Karena itu jangan pernah tanyakan kepada mereka tahap-tahap pelaksanaan tujuan. Sebab tujuan para pimpinan itu hanyalah melaksanakan kerja.

2. Langkanya Kreatifitas dan Inovasi

Pimpinan yang tak memiliki tujuan jangka panjang bukan hanya tak punya program tetapi juga miskin kreatifitas dan inovasi. Kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan ide baru atau menghubungkan ide-ide yang sudah ada menjadi sebuah ide baru yang berbeda. Sedangkan inovasi adalah kemampuan untuk membawa ide kreatif tersebut ke dalam dunia nyata. Kerja yang dipimpin oleh mereka yang tidak kreatif dan inovatif akan dipenuhi kerja yang hanya sekedar menjalankan pekerjaan sebagaimana biasanya. Aktivitas harian dan rutinitas yang sama dilakukan tanpa ada kreasi ide baru.

Pimpinan yang tidak kreatif dan inovatif menjadikan SOP (Standart Operating System) sebagai satu-satunya rujukan utama yang tak bisa diganggu gugat. Orang-orang ditakut-takuti agar jangan keluar dari aturan. Orang-orang pun jadi enggan berpikir di luar kotak karena cari aman. Kembali bekerja seperti biasanya dan terus bekerja seperti itu-itu juga.

Di lingkungan kerja yang tidak kreatif dan inovatif diskusi dilakukan hanya sekedar untuk memahami juklak. Rapat-rapat diisi dengan perbincangan teknis pelaksanaan, penentuan biaya yang dikeluarkan, konsumsi apa yang harus disediakan, seragam apa yang harus dipakai, dan pembagian tugas siapa saja yang akan menghadiri acara-acara. Munculnya diskusi tentang ide-ide besar dan terobosan baru akan dianggap mimpi di siang bolong.

3. Upah adalah segalanya

Banyak orang menjadi terasing dari hakekatnya sebagai makhluk sosial karena kerjanya tidak berorientasi pada mengejar nilai kemanusiaannya. Mereka bertindak demi keuntungan semata. Banyak orang separti bekerjasama tapi sesungguhnya mereka hanya sama-sama kerja untuk mencari keuntungan sendiri-sendiri.

Adapun yang disebut sebagai ”keuntungan” yang ingin diraih dengan kerja secara konkret adalah uang. Dengan demikian pertimbangan kerja yang dilakukan kebanyakan bukan lagi penting dan tidaknya pekerjaan, tapi seberapa besar bisa mendatangkan uang. Jabatan menjadi dipuja karena dianggap semakin tinggi jabatan akan semakin tinggi pula uang penghasilan yang didapatkannya.

Banyak orang berlomba-lomba mendapatkan jabatan bukan untuk memberi manfaat buat sesama. Fokus mereka ialah berapa uang yang mungkin didapatkannya. Soal apakah bisa menjalankan amanah dengan jabatannya yang diembannya itu bukan hal yang utama bagi mereka.

Kalau dulu status sosial diukur dari keturunan siapa maka sekarang diukur dengan seberapa banyak uang yang ia punya. Penampilan pun dijadikan etalase pameran harta. Kendaraan yang dipunya menjadi sarana menegaskan kelas sosialnya.

Banyak orang menjadi terasing dari hakekatnya sebagai makhluk sosial karena kerjanya tidak berorientasi pada mengejar nilai kemanusiaannya
Banyak orang menjadi terasing dari hakekatnya sebagai makhluk sosial karena kerjanya tidak berorientasi pada mengejar nilai kemanusiaannya (Sumber gambar : klik disini)

4. Yuk, Keluar dari Belitan Logika!

Negeri Buruh adalah kenyataan rumah kita, ruang hidup pergerakan kita, nafas persyarikatan kita dengan segenap manusia, serta bumi dimana kita ada di dalamnya. Mengata-ngatainya berarti juga mengata-ngati kita. Memakinya sama saja memaki kita yang ada di dalamnya. Merusaknya berarti merusak rumah kita juga. Maka bukan mengata-ngatai, memaki, dan merusaknya yang harus kita lakukan.

Berhadapan dengan Negeri Buruh maka yang harus kita lakukan adalah keluar dari belitan logikanya. Yaitu menjadikan kerja bukan sekedar kerja. Yaitu menumbuhkan kreativitas dan inovasi di lingkungan kita. Yaitu menjadikan upah bukan segala-galanya. Untuk itu kata kuncinya adalah integritas.

Integritas adalah suatu hal yang berkaitan dengan konsistensi dalam menjaga kualitas pribadi dan hasil kinerja. Itu termasuk konsistensi dalam memegang prinsip, dalam mengaktualkan nilai-nilai kebenaran yang diyakini, dalam menjalankan amanah secara bertanggung jawab, dalam penggunaan cara-cara yang beradab untuk mencapai tujuan, serta dalam memenuhi harapan-harapan bersama. Orang yang berintegritas adalah orang yang jujur dan memiliki karakter yang kuat, serta memiliki semangat menggerakkan kemajuan. Orang yang berintegritas adalah orang yang bisa diharapkan mendatangkan perubahan.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 11 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Tolong masukkan komentar anda
Tolong masukkan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.