Keikhlasan Ciri Utama Kader Muhammadiyah Dalam Beramal

“Manusia semua mati (seperti orang tidur) kecuali para ulama (yang selalu ingat bahaya siksa di akhirat). Dan ulama-ulama itu sama bingung (takut mengkhawatirkan dirinya sendiri kalau nanti akan disiksa masuk neraka) kecuali orang yang telah beramal tetapi orang yang telah beramal (orang beramalpun masih takut) kecuali orang-orang yang ikhlas karena Allah swt.”

Bagaimanapun manusia hidup di dunia ini mengharapkan menjadi yang terbaik dimata Allah SWT. Mereka selalu melakukan semua perbuatan yang mereka mampu untuk menjadikan dirinya tercatat sebagai manusia yang beramal. Akan tetapi apa yang terjadi jika ia (manusia) menjadikan dirinya tercatat sebagai manusia yang beramal hanya dalam pandangan manusia saja? Maka ia akan terjebak dalam sebuah kesombongan dan riya. Manusia hanya ingin dipandang orang lain tentang perbuatannya. Maka hal itu ciri dari kerusakan hati ini yang hanya membuat manusia akhirnya lalai. Itu tidak ada gunanya dan perbuatan yang sia-sia

Apa yang dilakukan manusia agar dipandang orang lain bukan wujud haqiqi dari tujuan yang sebenarnya ia hidup. Manusia akan memiliki keistimewaan di dunia ini jika ia melaksanakan amal perbuatannya hanya ingin dicatat oleh Allah swt. Benar sekali, sekecil apapun perbuatannya hanya ingin dicatat oleh Allah swt, dan juga ia (manusia) melaksanakan sebagai wujud hamba kepada Allah. Tujuan Ilahiyah inilah yang menjadi tujuan haqiqi manusia dalam menjalankan hidup. Bukan tidak mungkin jika manusia hanya ingin dicatat oleh Allah swt karena memang Allah swt menginginkan hal tersebut. Allah swt menciptakan kita manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Nya.

Keridhoan Allah SWT berjalan sepanjang waktu, tidak ada kesulitan mencari keridhoan Allah swt dari dan sampai zaman kapan pun, termasuk zaman sekarang ini. Mungkin saja manusia sekarang ini menganggap sulit menggapai keridhoan Allah karena berbagai macam rintangan kehidupan yang semakin komplek. Namun itu adalah sifat manusia yang sering mengalami keluh kesah jika ingin mencapai keridhoan Allah. Artinya sejatinya manusia sanggup untuk menjalankan perbuatan hanya untuk dicatat oleh Allah, hanya menginginkan keridhoan Allah dan hanya untuk ibadah kepada Allah. Dimanapun kita berada dan menjadi apapun kita, entah sebagai pejabat, pendidik, pengusaha ataupun profesi lainnya, semua akan mampu menjadikan dirinya orang yang hanya tunduk dan mencari keridhoan Allah, sehingga keikhlasan akan datang kepada kita.

Menjalani kehidupan dengan penuh keikhlasan pasti merupakan dambaan semua umat manusia sebagai hamba Allah. Momen – momen keikhlasan dalam menjalani hidup itu ada dalam setiap manusia, namun manusia tidak pernah memanfaatkan momen tersebut untuk berusaha dalam keadaan ikhlas kepada Allah swt. Hal itu bisa jadi penyakit hati masih terdapat dalam diri kita. Angkuh, egois, riya, sinis, dengki masih menyelimuti diri kita sebagai hamba Allah swt dalam menjalankan aktivitas kehidupan.

Kalimat awal tulisan di atas merupakan kalimat yang sering dipakai oleh KH. Ahmad Dahlan untuk mengingatkan manusia bahwa semua manusia akan terbuai dalam kehidupanya kecuali hanya orang yang ikhlas. Tentunya pernyataan tersebut berlaku khususnya bagi kita sebagai warga persyarikatan muhammadiyah yang sedang menjalankan aktivitas perjuangan sebagai kader Muhammadiyah dan umumnya untuk seluruh umat Islam. Keikhlasan sangat perlu untuk dibawa kemana – mana dan dari hari kehari sepanjang waktu.

Pernah sekali atau bahkan berkali – kali kita menginginkan pekerjaan kita atau perbuatan kita dipandang sebagai hasil perjuangan kita dan itu membuat berkembang sebuah keadaan. Itu sering terjadi dan pasti terjadi. Saat kita dalam struktural pimpinan Muhammadiyah, atau saat kita berada dalam amal usaha Muhammadiyah. Perasaan ingin dipandang dan dilihat bahwa kita merupakan orang yang menjalankan perbuatan tersebut. Entah itu perbuatan benar-benar dilakukan ataupun tidak, yang pasti perasaan ingin diakui dan dipandang merasuki dalam diri kita. Apakah perasaan seperti itu wajar? Perasaan itu masih wajar jika yang dilakukan hanya ingin dicatat oleh Allah swt sebagai amal sholeh, bukan karena yang lain.

Apa yang membuat perasaan kita menjadi seperti itu?

Bisa jadi kita memang kurang dalam muhasabah diri atau introspeksi diri dalam setiap shalat kita dalam setiap sujud kita dan nafas kehidupan kita. Kita kurang memahami apa sebenarnya tujuan hidup kita, apa sebenarnya yang telah kita lakukan itu benar di mata Allah swt, apakah semua itu hanya benar di mata manusia, apakah itu mendapatkan keridhoan kepada Allah dengan hal tersebut. Muhasabah diri inilah yang menjadi kunci untuk membangkitkan kesadaran kita sebagai hamba Allah yang beramal hanya untuk keridhoan Allah swt.

Atau keadaan tersebut bisa jadi merupakan kebiasaan kita dalam setiap amal kita. Setiap amal yang telah kita perbuat selalu diumbar kepada orang lain yang sebenarnya orang lain pun ketika mendengar tidak memberikan manfaat kepada mereka, dan memandang amal kita lebih banyak dari orang lain dan yang paling merasuk dalam jiwa kita adalah perasaan bahwa perbuatan kita akan diapresiasi oleh orang lain akan tetapi ketika orang lain tidak mengapresiasi, kita merasa orang lain tersebut benar benar kurang perhatian kepada kita. Apakah kita termasuk dalam kategori yang kedua ini? Semoga saja tidak.

Bisa jadi kita memang kurang dalam muhasabah diri atau introspeksi diri dalam setiap shalat kita dalam setiap sujud kita dan nafas kehidupan kita
Bisa jadi kita memang kurang dalam muhasabah diri atau introspeksi diri dalam setiap shalat kita dalam setiap sujud kita dan nafas kehidupan kita (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Bina Kader Majalah Mentari Bulan 3 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait