Kehidupan Dalam Mengembangkan Profesi

Gambar Kehidupan Dalam Mengembangkan Profesi
Wahyu Wijayanta, S.Sy, S.Pd.I
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta periode 2010 - 2015

Profesi adalah kata serapan dari sebuah kata dalam bahasa Inggris “Profess”, yang dalam bahasa Yunani adalah “Επαγγελια”, yang bermakna: “Janji untuk memenuhi kewajiban melakukan suatu tugas khusus secara tetap/permanen”.

Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. Seseorang yang memiliki suatu profesi tertentu, disebut profesional. Walaupun begitu, istilah profesional juga digunakan untuk suatu aktivitas yang menerima bayaran, sebagai lawan kata dari amatir.

Sebagai gerakan Islam yang berkemajuan dalam menuju abad kedua Muhammadiyah dituntut lebih profesional dalam mengelola sekian ribu amal usaha yang dimiliki. Tuntutan profesional menjadi wajib bila eksintensi amal usaha Muhammadiyah dapat mampu bersaing atau bahkan bertahan dalam persaingan global menuju pasar bebas.

Maka dalam Muktamar Muhammadiyah satu abad yang diselengarakan di tempat kelahiran Muhammadiyah, telah dirumuskan pernyataan Pemikiran Muhammadiyah menuju abad kedua, sebagai berikut : Dalam gerak melintas zaman dari abad pertama ke abad kedua dan dalam menghadapi masalah-masalah kemanusiaan yang sangat komplek itu Muhammadiyah berkomitmen kuat untuk menjadi bagian dari penyelesai masalah yang dengan mengambil prakarsa, partisipasi dan langkah-langkah proaktif dan strategis. Di samping itu, Muhammadiyah juga berkomitmen kuat untuk melakukan gerakan pencerahan, yaitu Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan dan memajukan kehidupan.

Dalam rangka usaha pencerahan itulah Muhammadiyah kemudian berusaha secara berkesinambungan melakukan ijtihad untuk menghadapi problem-problem secara universal. Salah satu pembahasan dalam “Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah”, dapat kita temukan tentang prinsip-prinsip pedoman kehidupan dalam pengembangan profesi. Pedoman ini sangat penting bagi pengembangan amal usaha Muhammadiyah sebagai media dakwah amar ma’ruf nahi munkar agar dapat bersaing dikancah global dan bersih dari usaha-usaha tidak jujur dan tidak amanah.

Sampul Buku Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah

Adapun poin-poin Pedoman dalam pengembangan profesi adalah :

(1) Profesi merupakan bidang pekerjaan yang dijalani setiap orang sesuai dengan keahliannya yang menuntut kesetiaan (komitmen), kecakapan (skill), dan tanggunggjawab yang sepadan sehingga bukan semata-mata urusan mencari nafkah berupa materi belaka.

Penulis teringat akan pesan Kai Haji Ahmad Dahlan “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah”. Tentu pesan ini tidak berarti menelantarkan semua warga yang sudah bekerja untuk kemajuan Muhammadiyah dengan tanpa diberi gaji, tetapi bekerja di amal usaha Muhammadiyah dalam rangka untuk beribadah, berjuang dan ikut mewujudkan tujuan Muhammadiyah menuju masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, bukan bertujuan mencari penghidupan di dalam amal usaha dengan menumpuk kekayaan alias memperkaya diri, kemudian secara pribadi tidak mendukung visi dan misi Muhammadiyah bahkan malah menjelek-jelekkannya.

(2) Setiap anggota Muhammadiyah dalam memilih dan menjalani profesinya di bidang masing-masing hendaknya senantiasa menjunjung tinggi nilai-­nilai kehalalan (halalan) dan kebaikan (thayyibah), amanah, kemanfaatan, dan kemaslahatan yang membawa pada keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Ketika amal usaha Muhammadiyah yang kita perjuangkan berkembang dengan pesat dan telah dipercaya oleh masyarakat, akan berpengaruh pada peningkatan materi sebagai timbal balik dari perjuangan pengelola amal usaha tersebut, dari sinilah godaan keduniaan yang sering tidak sanggup dihadapi oleh kita semua. Maka Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dalam mencapai tujuan perjuangannya dengan cara yang dibenarkan oleh ajaran agama, tetap menjaga nilai-nilai kehalalan, kebaikan, amanah dan kemanfaatan bersama. Sehingga keberadaan amal usaha Muhammadiyah menebarkan rahmat bagi seluruh masyarakat secara adil dan proporsional.

(3) Setiap anggota Muhammadiyah dalam menjalani profesi dan jabatan dalam profesinya hendaknya menjauhkan diri dari praktik-praktik korupsi, kolusi, nepotisme, kebohongan, dan hal-hal yang batil lainnya yang menyebabkan kemudharatan dan hancumya nilai-nilai kejujuran, kebenaran, dan kebaikan umum.

Keteladanan Kai Haji ahmad Dahlan saat merintis berdirinya sekolah pertama kali, telah berjihad dengan harta dan jiwanya mengeluarkan hartanya untuk membiayai lembaga pendidikan yang beliau dirikan. Kemudian secara estafet diteruskan oleh generasi-generasi awal secara ikhlas dan berani berkurban demi kemajuan amal usaha sebagai media dakwah. Dengan keikhlasan dan ketulusan dalam perjuangan para pendahulu-pendahulu itulah akhirnya Muhammadiyah dapat berkembang pesat seperti sekarang ini. Kita semua tentu akan sangat malu dan tidak tahu malu jika kemudian merusak ketulusan dan perjuangan mereka dengan melakukan praktik-praktik yang menyimpang dan bertentangan dengan jiwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

(4) Setiap anggota Muhammadiyah di mana pun dan apapun profesinya hendaknya pandai bersyukur kepada Allah di kala menerima nikmat serta bershabar serta bertawakal kepada Allah manakala memperoleh musibah sehingga memperoleh pahala dan terhindar dari siksa.

Setiap agama mengajari umatnya untuk bersyukur. Allah akan berjanji akan menambah nikmat-Nya Bila kita lalai bersyukur, sesungguhnya azab-Nya sangat pedih. Dalam ilmu tasawuf, syukur berarti ucapan, sikap dan perbuatan terima kasih kepada Allah dan pengakuan yang tulus atas nikmat dan karunia yang diberikan-Nya. Orang yang bersyukur adalah orang yang terlihat padanya tanda-tanda syukur, sehingga orang yang mengaku sebagai orang yang bersyukur tidak dapat diterima pengakuannya itu bila ia malas beribadah kapada Allah.

Diharapkan para anggota Muhammadiyah yang sedang mengabdi melalui amal usaha Muhammadiyah secara bekerjasama saling membatu agar tugas pengabdian kepada Allah dapat terlaksana dengan baik.

(5) Menjalani profesi bagi setiap warga Muhammadiyah hendaknya dilakukan dengan sepenuh hati dan kejujuran sebagai wujud menunaikan ibadah dan kekhalifahan di muka bumi ini.

Kejujuran adalah nilai kebaikan sebagai sifat positif yang akan diterima oleh semua orang dimanapun dan kapanpun ia berada. Jadi, nilai kejujuran adalah nilai kebaikan yang bersifat universal. Jika kita telaah lebih jauh sebuah nilai kejujuran, maka dari nilai positif ini dapat kita lihat berdasarkan beberapa bentuk, yaitu : (a) Kejujuran terhadap diri sendiri adalah sikap lurus ketika dihadapkan pada beberapa pilihan sikap “yang baik” atau “yang buruk” yang orang lain tidak mengetahuinya. (b) Kejujuran terhadap orang lain adalah sikap lurus ketika berinteraksi dengan orang lain tanpa mengubah sedikitpun suatu keadaan yang telah ada.

Nilai-nilai kejujuran memiliki sifat positif sehingga dapat diterapkan dimana saja dan kapan saja karena dapat diterima oleh siapa saja. Nilai ini dapat membentuk sikap yang didalamnya terkandung nilai-nilai kejujuran.  Sikap itu terbagi menjadi dua, yaitu sikap terbuka dan sikap wajar. Sikap terbuka adalah sikap kita yang apa adanya tidak menipu diri sendiri dan orang lain dengan bersikap seolah-olah menjadi orang lain. Sikap wajar adalah sikap objektif dengan memperlakukan orang lain berdasarkan ukuran-ukuran standar bagaimana kita menghargai hak orang lain sebagaimana mestinya. Kejujuran sepertu inilah sangat dibutuhkan untuk mengelola amal usaha Muhammadiyah.

(6) Dalam menjalani profesi hendaknya mengembangkan prinsip bekerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan serta tidak bekerjasama dalam dosa dan permusuhan.

Allah SWT memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman supaya saling tolong-menolong dan bekerjasama, dengan syarat mestilah atas dasar kebenaran dan ketakwaan, dan melarang mereka untuk tolong-menolong dan bekerja sama dalam perkara yang haram dan pencabulan.

Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman supaya bertolong-tolongan dan bekerjasama dalam melakukan perbuatan baik, iaitu perkara kebajikan (al-birr), dan menengah mereka daripada tolong-menolong dalam perkara kebatilan, dan melarang mereka bantu-membantu dan bekerjama dalam perkara haram dan dosa. Kunci keberhasilan dan kesuksesan pengelolaan amal usaha Muhammadiyah tidak lepas dari kerjasama yang baik oleh seluruh komponen yang ada.

(7) Setiap anggota Muhammadiyah hendaknya menunaikan kewajiban zakat maupun mengamalkan shadaqah, infaq, wakaf, dan amal jariyah lain dari penghasilan yang diperolehnya serta tidak melakukan helah (menghindarkan diri dari hukum) dalam menginfaqkan sebagian rejeki yang diperolehnya itu.

Zakat profesi dikenal dengan istilah zakah rawatib al-muwazhaffin (zakat gaji pegawai) atau zakah kasb al-‘amal wa al-mihan al-hurrah (zakat hasil pekerjaan dan profesi swasta). Zakat profesi didefinisikan sebagai zakat yang dikenakan pada tiap pekerjaan atau keahlian profesional tertentu, baik yang dilakukan sendiri maupun bersama orang atau lembaga lain, yang mendatangkan penghasilan (uang) yang memenuhi nishab.

Zakat profesi merupakan perkembangan kontemporer, yaitu disebabkan adanya profesi-profesi modern yang sangat mudah menghasilkan uang. Misalnya profesi dokter, konsultan, advokat, dosen, arsitek, dan sebagainya. Kenyataan membuktikan bahwa pada akhir-akhir ini banyak orang yang karena profesinya, dalam waktu yang relatif singkat, dapat menghasilkan uang yang begitu banyak.

Berdasarkan hasil riset Islamic Development Bank (IDB), potensi zakat di Indonesia pada 2010 mencapai Rp 100 triliun. Sementara pada 2011 meningkat menjadi Rp 217 triliun. Angka Rp 217 triliun ini didapat setelah IDB membagi 1,7-3 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB)/ GDP (Gross Domestic Brutto) Indonesia. Rinciannya, Rp 117 triliun dari rumah tangga dan Rp 100 triliun dari perusahaan-perusahaan milik muslim. Namun yang terkumpul sekitar 1.5 triliun “ujar Teten. Berapakah potensi yang dimiliki Muhammadiyah?

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tarjih Majalah Mentari Bulan 11 Tahun 2013, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...