Kecanduan Pornografi, Musibah?

Survei membuktikan, sebanyak 97 persen pelajar SMP dan SMA di Indonesia mengakses dan menonton video di situs porno
Survei membuktikan, sebanyak 97 persen pelajar SMP dan SMA di Indonesia mengakses dan menonton video di situs porno (Sumber gambar : Klik disini)

Survei membuktikan, sebanyak 97 persen pelajar SMP dan SMA di Indonesia mengakses dan menonton video di situs porno. Sebanyak 97 persen responden mengaku telah mengakses situs berkonten pornografi dan juga menonton video porno melalui internet, bioskop, buku, games dan media lainnya. (Okezone, 2013; suara merdeka, 2014) Hingga saat ini pengguna internet di Indonesia mencapai 63 juta, dan 80 persen penggunanya berusia 15-30 tahun.

Kecanduan pornografi tersebut pada akhirnya memicu perilaku negatif seperti seks di luar pernikahan. Akibatnya timbulah kehamilan yang tidak diinginkan, menularnya HIV /AIDS, Aborsi, Infeksi Menular Seksual (IMS). (detik.com, 2015) Ketika terjadi seks bebas lalu remaja putri yang notabene belum siap memiliki anak, hamil di usia muda, bisa saja melakukan aborsi. Jika sudah nekat aborsi maka akan timbul ancaman bahaya bagi ibu dan bayi sehingga angka kematian ibu dan anak pun bertambah. Belum lagi pendidikan remaja juga bisa terhambat.

Dari hasil penelusuran juga ditemukan 75 persen lebih pelecehan seksual baik oleh anak-anak terhadap anak-anak maupun orang dewasa pada anak-anak, adalah akibat tontonan pornografi.  Contoh kasus sodomi yang dilakukan antara anak-anak beberapa waktu lalu, akibat kebiasaan mereka menonton dan membaca hal-hal yang berbau pornografi. Juga aksi pemerkosaan yang dilakukan anak-anak SMP terhadap teman sekolahnya disebabkan seringnya mereka menonton pornografi.   (Beritasatu, 2013)

Donald Hilton (2014) juga mengatakan bahwa kecanduan pornografi dapat menyebabkan seseorang mengalami kerusakan otak yang menyebabkan fungsi motivasi dan memorinya menjadi terganggu. Seseorang yang kecanduan pornografi akan memiliki motivasi rendah dalam hidupnya; tidak bersemangat, tidak menyukai belajar, dan juga akan membuatnya akan kesulitan dalam memahami pelajaran, sehingga prestasinya menjadi menurun bahkan rendah di bandingkan yang lainnya.

Demikian harus menjadi kewaspadaan orangtua karena melalui data yang dilansir tahun 2013, Indonesia peringkat enam pengakses situs porno. Tahun 2014 meningkat menjadi peringkat ketiga. 2015 kita peringkat kedua. Hasil penelitiannya bahkan menyebut sebagian besar remaja Indonesia menyimpan konten pornografi di telepon pintarnya.  (Tribun, 2016)

Apa yang dimaksud pornografi? Thomas Bombadil (2007) menyebutkan pornografi adalah segala bentuk tindakan melihat orang lain sebagai sesuatu yang digunakan untuk mendapatkan kepuasan seksual. Baik itu melalui media gambar, video, suara, dan lain sebagainya.

Penyebab konsumsi pornografi. Jika kita menelusur kembali mengenai masa perkembangan remaja maka kita mengenal bahwa masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun. Pada masa tersebut, ada dua hal penting menyebabkan remaja melakukan pengendalian diri. Dua hal tersebut adalah, pertama, hal yang bersifat eksternal, yaitu adanya perubahan lingkungan, dan kedua adalah hal yang bersifat internal, yaitu karakteristik di dalam diri remaja yang membuat remaja relatif lebih bergejolak (dirinya) dibandingkan dengan masa perkembangan lainnya (storm and stress period).

Tidak heran, kita menemukan saat anak pada usia mereka mengalami berbagai macam gejolak diri termasuk sedang masanya mencari identitas dirinya karena juga perubahan fisik yang menyebabkan psikisnya juga berubah. Dua perubahan yang dialami masa remaja ini menurut para ahli terjadi yaitu pertama perubahan emosi, yang menyebabkan mereka mudah marah, mudah menangis, cemas, frustasi, dan sebaliknya bisa tertawa tanpa alasan yang jelas. Utamanya sering terjadi pada remaja putri, lebih-lebih sebelum menstruasi. Mereka juga mudah bereaksi bahkan agresif terhadap gangguan atau rangsangan luar yang mempengaruhinya. Itulah sebabnya mudah terjadi perkelahian. Suka mencari perhatian dan bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. Mereka juga miliki kecenderungan tidak patuh pada orang tua dan lebih senang pergi bersama temannya.

Kedua, masa remaja juga mengalami masa perkembangan intelegensia. Pada perkembangan ini menyebabkan remaja cenderung mengembangkan cara berpikir abstrak yaitu suka memberikan kritik dan cenderung ingin mengetahui hal-hal baru, sehingga muncul perilaku ingin mencoba-coba. Demikian membuat mereka menjadi terjerumus pada hal yang berbau pornografi, terlebih tuntutan sosial (teman sebaya) yang sering membuat remaja menjadi termotivasi untuk terus melihat hal yang berbau pornografi bahkan hingga kecanduan.

Saat kita menelusur kembali mengapa remaja mengonsumsi pornografi itu disebabkan karena fungsi keluarga, dan perkembangan positif remaja yang erat kaitannya awal mula pengonsumsiannya. Saat fungsi keluarga hilang; anak tidak mendapatkan pengawasan, perhatian, hilang rasa cinta kasih, dan tidak menjadi tempat utama anak untuk bercerita, curhat, dan sebagainya anak akan lebih memilih ‘tempat lain’ yang bisa membuatnya senang. Terlebih saat pola asuh orangtua yang juga cenderung kurang kasih sayang dan penerimaan, bahkan cenderung menekan dan kasar, akan membuat anak menjadi tidak memiliki penerimaan yang baik dalam dirinya. Tingkat perubahan konsumsi materi pornografi juga akan terus meningkat saat hal tersebut terus terjadi pada anak terutama karena keutuhan keluarga.

Anak memerlukan orang tua. Dalam perkembangan sosial, emosional, kognitif, dan psikisnya, hakikatnya anak selalu memerlukan orang tua hadir di sampingnya. Orang tua jangan lengah untuk terus mengawasi anak juga terus memenuhi segala kebutuhan yang diharapkan anak terutama kebutuhan kasih sayang, penerimaan diri, rasa penghargaan, dan sejatinya demikian akan membuat anak akan terus nyaman saat bersama orang tuanya. Tantangan di luar rumah yang tidak bisa kita bendung dan cegah, sejatinya bisa kita antisipasi dengan keterbukaan anak kepada orang tuanya, keterbukaan tersebut akan membuat anak menjadi tidak terbebani saat ingin menceritakan apapun yang terjadi dalam kesehariannya, termasuk soal pornografi yang dapat berawal dari ketidak sengajaan, ajakan teman, dan lain sebagainya.  Setidaknya anak akan berbicara dan mengkomunikasikan kepada orang tuanya saat ada hal demikian terjadi, “Mah, aku tadi kok dilihatin video begini dan begitu.” dan cerita lain sebagainya.

Juga kepada orangtua, jangan kita bersikap reaktif (marah, cemas, khawatir) saat anak menceritakan hal yang tabu. Justru keterbukaan anak akan membantu kita untuk tahu darimana anak tahu akan hal tersebut, mengapa anak dapat mengaksesnya, dan demikian membuat orang tua akan lebih tenang saat mengarahkan anak mendapati hal yang negatif disekitarnya. Jika orangtua justru tidak berkomunikasi dengan baik dengan anak, justru malah marah bahkan membentak bahkan dengan hardikan: “Kamu tau dari mana video ini? Hapus!” anak akan menutup diri, tidak ingin bercerita, dan justru takut saat kembali menemukan hal serupa di lingkungannya. Hal tersebut justru akan membuat anak semakin lincah mengakses konten negatif, termasuk pornografi.

Sex education. Pendidikan sex sejatinya harus mulai diajarkan kepada anak semenjak usia mereka 4-5 tahun. Orang tua harus mulai mengenalkan perbedaan anggota tubuh laki-laki dan perempuan, bagaimana menjaganya, dan apa yang harus dilakukan saat ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi seperti pelecehan seksual dan lain sebagainya. Orang tua jangan tabu saat menyebutkan nama alat vital laki-laki dan perempuan, dan jangan juga menyebutkan istilah pada yang bukan tempatnya seperti: burung, dsb.

Pendidikan sex akan membuat anak menjadi tidak salah bertindak saat menemukan hal yang justru tidak sesuai dengan norma sosialnya seperti menemukan konten pornografi, melaporkan saat ada yang memegang anggota badannya yang terlarang, mengenal sentuhan yang boleh dan tidak, dan lain sebagainya.

Religiusitas. Penelitian Hardy, dkk. (2013) yang berjudul Adolescent Religiousness As A Protective Factor Against Pornography Use menunjukkan bahwa religiusitas sangat efektif untuk mencegah segala prilaku pornografi. Keyakinan kepada Allah, ibadah yang tekun, dan kontrol sosial (pengawasan orangtua) sangat membantu untuk tidak terjerumus pada pornografi. Bahkan penelitian tersebut mengatakan bahwa saat seseorang berniat membuka atau ada unsur ketidak sengajaan, religiusitas akan membantunya untuk menolak hal demikian. Terlebih pengawasan orangtua sangat terbatas pada anak, orangtua tidak bisa mengawasi anak hingga 24 jam, maka religiusitas dapat membantu anak untuk bisa melindungi dirinya dari pornografi.

Demikian di atas menjadi perhatian kita sebagai orangtua untuk dapat hadir di tengah anak kita yang sedang dalam usia perkembangannya; penuh masa kegalauan, agar mereka selalu dapat menjadi pribadi yang dapat terjaga dari segala aspek kehidupan termasuk tantangan yang ada di sekitarnya.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Sakinah Majalah Mentari Bulan 6 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait