Kecakapan Hidup

Gambar Kecakapan Hidup
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Kehadiran manusia dalam komunitas bermasyarakat tidak sekedar berupa wujud badan atau fisik semata. Hidup dalam bermasyarakat artinya selalu berperan aktif dalam setiap menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat itu sendiri. Karena gerak masyarakat dinamis, tak jarang persoalan yang timbul tidak sedikit. Selalu ada hal-hal baru yang membutuhkan penyelesaian secara, agar kehidupan tetap stabil.

Setiap saat hampir selalu  ditemui permasalahan yang bersinggungan dengan orang lain. Baik yang sifatnya besar ataupun masalah sepele. Ada yang bisa diselesaikan seketika, ada pula yang memakan waktu lama. Andai problem dihadapi oleh orang yang dewasa, cepat tuntas. Namun kalau diselesaikan oleh orang yang kerdil, apalagi dibarengi dengan penuh nafsu, pasti akan berlarut-larut.

Oleh karena itu, menyelesaikan pergolakan dalam masyarakat tidak bisa diselesaikan hanya bermodalkan waktu yang cepat, apalagi hanya dibekali ketrampilan yang sederhana. Diperlukan orang yang trampil dan berpengalaman.

Ketrampilan dapat dipelajari, apalagi media sosial yang hadir ditengah masyarakat, menawarkan beberapa pilihan. Media internet dapat dijadikan bahan untuk belajar. Kawan di dunia maya bisa dimanfaatkan untuk mengukur kedewasaan. Kehadiran media yang dimanfaatkan untuk jejaring sosial sebenarnya suatu berkah bila digunakan secara tepat. Namun media ini akan bernilai laknat manakala dipergunakan dengan cara-cara yang zalim.

Memiliki kedewasaan dalam berpikir dan berperilaku sangat diperlukan untuk difungsikan sebagai individu yang siap dalam menata pergaulan dengan lingkungan. Kecakapan dalam menata keseimbangan intelektual dan psikis akan membantu seseorang untuk meraih kecakapan hidup.

Ketrampilan kecakapan hidup, sebagaimana yang tertera dalam Undang-undang Sisdiknas merupakan bagian dari pendidikan nonformal. Payung hukum tersebut menjamin  bagi setiap warga negara untuk memperoleh berbagai macam ketrampilan hidup melalui lembaga-lembaga resmi negara.

Pendidikan kecakapan hidup merupakan suatu upaya pendidikan untuk meningkatkan kecakapan seseorang untuk melaksanakan hidup dan kehidupannya secara tepat guna dan berdaya guna.

Pendidikan kecakapan hidup merupakan suatu upaya pendidikan untuk meningkatkan kecakapan seseorang untuk melaksanakan hidup
Pendidikan kecakapan hidup merupakan suatu upaya pendidikan untuk meningkatkan kecakapan seseorang untuk melaksanakan hidup (Sumber gambar : klik disini)

Kecakapan hidup perlu dimiliki baik sebagai personal maupun kelompok. Kecakapan yang dimaksud tidak hanya sekedar skill atau ketrampilan dalam bekerja, tetapi harus memiliki kecakapan yang lebih luas. Ada 4 kecakapan yang harus dimiliki, dalam menghadapi tuntutan dan tantangan dalam kehidupan secara lebih efisien.

  1. Kecakapan mengenal diri (self control)

Self control dalam beberapa literatur manajemen menjadi faktor terpenting dalam mengembangkan organisasi.  Organisasi  merupakan sekumpulan beberapa orang yang mempunyai itikad yang sama dan tujuan yang sama, maka self control untuk pribadi akan mirip dengan organisasi.

Pribadi manusia pasti memiliki tujuan. Entah tujuan jangka pendek maupun tujuan jauh kedepan. Diibaratkan seorang atlit lempar lembing, atlit itu pasti berharap agar lemparannya dapat mencapai titik terjauh. Maka, sebelum melempar ia akan berfikir dan meninimbang-nimbang, seberapa berat benda yang akan dilempar, berapa jarak ideal untuk lari sebelum melempar, perlukah memakai alas kaki khusus agar kecepatan lari dapat optimal ?

Termasuk dalam self control diantaranya pengelolaan kebutuhan pribadi. Setelah beranjak cukup besar, ada beberapa hal yang harus kita lepas dalam pendidikan anak. Misalnya mandi, mulai dari pengambilan air sampai mengenakan pakaian. Di usia beranjak tertentu anak harus diperlakukan mandiri, kebutuhan untuk menentukan sendiri tentang kehidupan kelak. Pengelolaan kesehatan, harta pribadi, meluangkan waktu dan lain-lain membutuhkan latihan terlebih dahulu.

Demikian pula bila orang hendak bermasyarakat ataupun berorganisasi. Pastilah ia akan memiliki bekal agar kelak bisa berperan aktif dalam komunitasnya. Syarat minimal yang harus dimiliki adalah tahu secara persis tata kehidupan dalam masyarakat itu. Dengan demikian, ia tak akan canggung bila berinteraksi dengan sesamanya.

  1. Kecakapan berpikir

Sungguh tepat orang tua kita, dengan sungguh-sungguh mendorong putra-putrinya untuk mengenal pendidikan. Pendidikan, mengajarkan tentang demokrasi, tidak terlalu tarik keatas, juga tidak terlalu tenggelam. Karena hakikatnya pendidikan adalah mengais kebudayaan, mengajarkan mana yang baik dan buruk dan mengajarkan perilaku agar hormat depada orang lain.

Mengenal budaya berarti belajar kecakapan berpikir. Memahami potensi yang dimiliki, percaya pada diri sendiri, dan tak terpengaruh orang lain. Mengenal orang lain membutuhkan ketrampilan berkomunikasi dengan orang lain. Dengan demikian, semua usaha yang termaktub diatas tak lain agar setiap orang meraih kecakapan dalam berpikir.

Mengerti adat istiadat saja tidak cukup. Sopan santun saja tidak akan membawa harapan yang baik. Orang mesti harus berpikir terlebih dahulu sebelum berbaur. Sebab, secara individu pasti ia sudah punya tujuan yang spesifik. Dia tidak ingin kehilangan tujuan hanya karena bergaul dengan tata cara hidup dalam lingkungan itu. Orang mesti pandai-pandai membawa diri. Sebisa mungkin malah harus mampu mewarnai. Untuk bisa mewarnai bukan hanya bekal kepandaian yang ia miliki, tapi berfikir keras agar corak kehidupan dapat terbentuk.

  1. Kecakapan sosial.

Kecakapan sosial adalah kemampuan untuk dapat berhubungan dan bekerjasama dengan orang lain. Untuk dapat bergaul dengan orang lain, ada dua pondasi yang bisa dijadikan pijakan.

Pertama adalah komunikasi. Kemampuan ini untuk berhubungan dengan orang lain agar dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang sedang dihadapi. Secara umum komunikasi ada berbagai macam. Tiap orang memiliki spesifikasi dalam berkomunikasi. Baik lisan maupun tulisan. Teknologi komunikasi dapat menerjemahkan semua spesifikasi itu ke dalam bahasa yang dapat diterima oleh penerima.

Kedua adalah kerja sama. Dalih utamanya, bahwa orang tak akan mampu menyangga kehidupan tanpa bantuan orang lain. Kerja sama merupakan salah satu bentuk kegiatan yang mengarah kepada kebersamaan dan saling bahu membahu. Kemampuan ini dapat meningkatkan rasa persaudaraan yang erat dan rasa saling memiliki satu dengan lainnya sehingga tumbuh rasa saling menjaga.

Harapan semua orang adalah ingin memberi warna, ingin menjadi pemuka dalam bidang tertentu, ingin menjadi penolong tanpa pamrih. Dengan corak warna yang khas tapi tidak meninggalkan akar kodrat manusia.

Idaman setiap orang adalah keinginan untuk menjadi panutan. Hal ini sejalan dengan kata mutiara “setiap kamu adalah pemimpin”. Artinya bahwa sebenarnya secara fitrah (naluriah) setiap individu harus berperan aktif dan tidak menunggu perintah. Bila setiap anggota masyarakat memiliki itikad yang demikian langkah selanjutnya adalah koordinasi.

  1. Kecakapan kejujuran.

Dalam realita saat ini banyak orang pandai, banyak orang ahli, banyak orang terampil namun sedikit orang jujur. Menjadi orang jujur tidak serta merta namun melalui proses yang bertahap. Sejak usia dini sudah harus dididik dengan nilai kejujuran. Membentuk karakter kejujuran tidak hanya tanggung jawab keluarga, tapi masyarakat juga memiliki andil yang sangat besar dalam membentuk pribadi yang jujur.

Rasulullah Muhammad SAW adalah contoh yang kongkrit. Sejak kecil beliau disematkan dengan gelar Al-Amin yang berarti jujur. Perilaku beliau sangat menyenangkan. Beliau menjadi contoh bukan hanya teman sebaya, tapi banyak orang tua yang segan dengannya. Jujur melambangkan pribadi yang kuat, tegar dan mandiri. Banyak orang yang menaruh harapan kepada beliau, meskipun belum diangkat menjadi Rasul.

Orang jujur pasti mendapat apresiasi dari masyarakat. Orang tidak jujur juga akan mendapat perlakuan dari masyarakat. Kejujuran yang sudah menjadi barang langka, mesti kita godog, kita ramu lagi menjadi barang yang berharga.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan 11 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...