Kebersamaan Keluarga

Kebersamaan akan menghasilkan berbagi nilai dan kepercayaan yang sama yang menciptakan rasa memiliki dan ikatan antara anggota keluarga. Saat ini kebanyakan keluarga sibuk dengan berbagai kegiatan yang ada; sekolah anak-anak, dan jadwal kerja orangtua menyulitkan waktu untuk menghabiskan waktu bersama.

Menurut Dr. William Doherty, keluarga saat ini menghabiskan lebih sedikit waktu untuk makan bersama. Mereka memiliki lebih sedikit berbincang dengan keluarga. Anak-anak kurang memiliki waktu luang. Anggota keluarga memiliki waktu yang lebih terjadwal dan sedikit waktu untuk berbicara dan menikmati waktunya untuk hal lain, jadi penting bagi keluarga untuk menyediakan waktu untuk berbicara. Satu tempat yang banyak keluarga berbincang adalah di dalam mobil, tempat makan, jalan-jalan saat week end, atau beberapa jam sebelum tidur.

Ilustrasi : Makan Bersama Keluarga
Ilustrasi : Makan Bersama Keluarga

Emotional Bank Account

Dalam banyak kesempatan, tidak sedikit orang bercerita bahwa ada orang di sekitarnya tidak banyak mengerti perasaannya, kebutuhannya, dan harapannya pada mereka. Hal demikian memberikan perasaan dikecewakan dengan sikap tidak saling mempercayai, saling curiga, saling bermain di belakang, saling mengumpat dan lain sebagainya. Hubungan yang terjalin dengan orang sekitar pun menjadi bermasalah dan tidak lebih dari sekedar hubungan ‘saling sapa’ saja.

Kehidupan ini tidaklah semata kita bersikap “membutuhkan orang lain saat mereka dibutuhkannya saja” lebih dari itu ternyata sunnatullahnya, saat kita menjalin hubungan tulus, penuh keramahan, tidak suka menghakimi pada siapapun maka kita akan mendapatkan yang namanya emotional bank account (EBA). Layaknya sebuah bank, Stephen Covey, menyebutkan bahwa EBA adalah suatu tabungan emosional yang Anda akan miliki dalam interaksi dengan orang lain.

EBA ini dibentuk dari kebaikan yang kita lakukan tanpa pamrih dan keburukan yang kita lakukan pada orang tersebut. Semakin kita berbuat baik dan semakin jarang berbuat keburukan pada orang lain, maka tabungan kebaikan kita akan semakin besar. Sebaliknya, saat kita melakukan keburukan, tanpa sadar tabungan kita akan berkurang bahkan bisa jadi negatif.

Kebaikan tanpa pamrih bisa bermacam bentuknya. Sering kali kita meremehkan kebaikan-kebaikan kecil yang sangat berarti di sekitar kita seperti tersenyum, ramah, berkata baik, mengucapkan terimakasih, memuji kebaikan orang lain, berjabat tangan, menyemangati, berempati, memahami perasaannya, menjaga komitmen, jujur, dan lain sebagainya akan menambah EBA kita dalam kehidupan ini.

Sebaliknya, saat keburukan yang kita lakukan yaitu kebalikkan yang di atas, secara otomatis EBA kita akan berkurang. Berkata bohong, tidak memenuhi janji, suka menyalahkan orang lain, melakukan sesuatu pada orang lain secara pamrih “Aku akan senyum padanya, jika ia juga tersenyum“, misalnya, maka EBA yang kita miliki akan berkurang juga.

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri. (al-isra: 7)

Stephen Cover menjelaskan ada enam langkah agar kita dapat mendapatkan rekening kebaikan yang banyak di sekitar kita;

  1. Memahami individu, ini berarti kita harus mendengarkan dengan saksama apa yang orang lain katakan dan berempati dengan apapun yang mereka rasakan. Menjaga hubungan dengan orang lain jangan hanya sebatas : apa yang kita dapatkan dari orang lain, namun yang lebih penting adalah apa yang kita berikan pada orang tersebut sebanyak-banyaknya.
  2. Menjaga Komitmen, apa yang kita rasakan saat telah membuat janji dengan orang lain, ternyata orang tersebut justru datang terlambat, tidak memenuhi janji, dan lain sebagainya? Atau ada orang yang mengatakan kepada kita sebuah kebaikan, namun justru ia sendiri yang melanggarnya? Menjaga komitmen apa yang kita yakini, dan ucapkan pada orang lain sejatinya akan membuat kita miliki rekening emosional pada orang lain: menjadi orang yang dapat dipercaya, dan lain sebagainya.
  3. Komunikasi yang terbuka, komunikasi yang terbuka dapat meningkatkan tabungan emosional kita. Kita menyampaikan segala sesuatu yang menjadi harapan kita, secara terbuka, jujur dan apa adanya. Berbicara secara eksplisit, tanpa pernah ada itikad menyembunyikan sesuatu (implisit), apalagi politiking.
  4. Menanamkan kesan yang baik, menanamkan kesan yang baik kita lakukan dengan tidak meremehkan kebaikan yang kecil. Seperti tersenyum, ramah, santun, berkata baik, empati di dalam pertemuan-pertemuan yang ktia lakukan dengan orang lain; tanpa berpura-pura. Dimanapun, kapanpun, dan pada siapapun tanpa pandang bulu kita lakukan hal demikian pada orang lain.
  5. Menanamkan integritas diri, sederhananya, integritas adalah kepercayaan yang kita bangun pada orang lain melalui perkataan yang kita katakan adalah sebuah kejujuran, dan tidak bermuka dua. Tentu kita akan lebih mendengar dan berteman dengan orang yang melakukan apa yang dikatakannya bukan? Saat menyarankan pada orang lain untuk ontime, misalnya, maka ia pun melakukannya.
  6. Meminta maaf, saat ada suatu komitmen yang kita bangun bersama orang lain tidak terpenuhi, maka kita harus dengan secara sadar meminta maaf. Tidak lepas juga saat kita berbuat salah kepada orang lain, maka kita harus dengan secara terbuka meminta maaf padanya.

Tidak heran, mungkin kita pernah menemui orang yang ada di sekitar kita yang nampaknya kehidupannya selalu dimudahkan, usianya selalu bermanfaat, mendapatkan kebaikan tanpa ia duga karena nyatanya selama kehidupannya selalu memberikan yang terbaik juga pada orang lain; rekening kebaikannya sangat banyak. Sebaliknya, ada yang ternyata mereka kehidupannya rumit, tidak berbahagia, tidak mudah dipercaya oleh orang lain, karena selama kehidupannya tidak banyak memberikan sesuatu pada orang lain; rekening kebaikannya menjadi minus. Yuk, penuhi tabungan kita!

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Sakinah Majalah Mentari Bulan 11 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Kebersamaan Keluarga
Lady Farhana, S.Si, M.Psi
Psikolog Muda, Sekretaris LPB PDM Kota Yogyakarta 2015 - 2020

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...