Kami sebagai SSR mempunyai kader yang tersebar di semua kecamatan di Jogja

Berikut wawancara Fuad Hasyim dari redaksi Majalah Mentari dengan Rahmawati selaku Koordinator Program SSR TB Care Aisyiah Kota Yogyakarta seputar program TB Care Aisyiah.

Bagaimana awal mula program TB Care Aisyiah?

Program ini berawal tahun 2002 pada saat  Aisyiah menjadi implementing unit, kemudian tahun 2005 Aisyiah dan pemerintah dalam hal ini, kementrian kesehatan mendapat dana dari Global Fund. Pemerintah berperan dalam pembenahan fasilitas kesehatan, sementara PP Aisyiah fokus pada dukungan komunitas masyarakat. Di kota Jogja sendiri, program ini pernah dibuka pada tahun 2005. Namun sejak 2009 sampai 2012 program tersebut dipindah ke Sleman. Pada tahun 2016, program ini  dikelola olah Wilayah, dan tahun 2017 dibuka lagi di kota Jogja. Program ini pernah mencakup 33 provinsi, namun saat ini hanya 25 provinsi dan 160 kabupaten dan kota. Di DIY sendiri semua kabupaten dan kota membuka program tersebut. Kota Jogja yang dikelola oleh PDA baru mulai per januari bersama dengan Kulonprogo, Gunung Kidul dan Bantul.

Seperti apa jaringan dan struktur organisasinya?

Dari pusat adalah Global Finance kemudian dibawahnya adalah CCM semacam koordinator secara nasional, kemudian dibawahnya adalah Principle Partnership. Posisi ini membawahi Sub-Recipient dari ormas-ormas lintas agama yang mendapat dana. Kemudian di level daerah disebut SSR atau Sub-Sub-Recipient.

Kenapa pilihan gerakannya adalah melalui komunitas?

Kita sebagai penguatan komunitas yang dekat dengan masyarakat sehingga bisa menjangkau sasaran yang luas. Kami sebagai SSR mempunyai kader yang tersebar di semua kecamatan di Jogja. Kader ini terjun langsung di masyarakat. Kita melakukan sosiaisasi, terhadap temuan kita lakukan screening. Para kader tersebut sudah dibekali pengetahuan yang cukup melalui pelatiha teori maupun praktik selama hampir satu minggu.

Apa yang dilakukan tim TB Care terhadap penderita?

Kader diharapkan melakukan sosialisasi terus menerus agar masyarakat semakin sadar dan stigma negatif terhadap penderita berkurang. Stigma seperti kumuh dan miskin harus berkurang karena pada dasarnya semua kalangan bisa terkena, ini karena persebarannya sangat cepat dan mudah, khususnya TB paru. Sebenarnya bakteri tersebut mudah dibunuh dengan sinar matahari, akan tetapi kalau kumuh akan susah mendapat akses matahari. Kita punya alat peraga untuk edukasi agar kader di pertemuan aktif di sana seperti posyandu dan PKK. Kita minta waktu untuk sosialisasi dan dibekali form screening. Pada forum tersebut kalau ada yang batuk langsung kita cek, kalau masuk gejala utama kita lihat gejala tambahannya seperti berat badan, kurang selera makan, kita kasih rujukan ke puskesmas untuk cek dahak untuk memastikan.

Kita memiliki macam-macam versi pembiayaan, yang terbaru adalah new funding model. Kita maksimalkan peran fasilitas kesehatan pertama terdekat, saat ini puskesmas tersebut sudah mulai berbenah. Mereka membenahi fasilitas seperti TB DOT seperti pojok khusus untuk memeriksa para terduga TB. Ada pengobatan degan cepat. Sementara untuk data bisa ke puskesmas. Kita juga kerjasama dengan semua puskesmas se kota jogja kita dengan memperkenalkan secara langsung. Kalau kader sudah menemui faskes kita ada form pencatatan dan pelaporan.

Kenapa Aisyiah bergerak di jenis penyakit ini?

Sebenarnya Aisyiah punya kepedulian besar di berbagai jenis penyakit lainnya seperti malaria dan HIV. Manun di kota Jogja yang sedang kita garap adalah TB dan HIV karena sama2 menyerang daya tahan tubuh. Saat ini kita kerjasama untuk sosialisasi HIV juga.

Seperti apa data persebaran TB di Jogja saat ini?

Secara umum penemuan kasus 2015 di peta Dinas Kesehatan satu terdapat satu kelurahan yang bebas sama sekali. Namun tahun 2016  hampir semua terdapat kasus TB. Paling banyak kasusnya ada di UH dan Ngampilan. Intinya Data penemuan dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Apa fokus program kedepan di Jogja?

Penjangkauan masyarakat untuk sosialsisasi sehingga masyarakat sadar dan peduli akan TB.

Apakah dampak dari program ini sudah mulai terlihat?

Kalau di Kota Jogja sendiri sosialisasi sering dan terus berjalan. Dari sisi capaian yang diminta dari donor belum tercapai, namun kita memiliki kekuatan karena berhadapan langsung dengan masyarakat kota yang karakternya berbeda dengan kabupaten, seperti susah untuk diajak kumpul, para suspected kurang kooperatif ketika diantara ke puskesmas. Banyak diantara warga kota yang mandiri mendatangi puskesmas setelah mengikuti sosialisasi dari kita, kasus seperti ini tidak dicatat sebagai pencapaian SSR TB Care Aisyiah. Setelah kita lakukan deklarasi beberapa hari yang lalu dengan semua puskesmas sehingga di kota Jogja kita harapkan lebih aktif dan semakin banyak hasil dan partisipasi masyarakat

Bagaimana mencegah terjangkitnya penyakit ini?

Untuk bayi agara imunisasi BCG. Penting sekali kita mejaga pola hidup sehat (PHS) seperti cuci tangan dan menjaga sinar matahari masuk ke rumah. Jika tidak ada bisa dibuat genteng kaca atau tembok kaca. Jika sakit batuk maka harus pakai masker. Kalau ada salah satu anggota keluarga yang terkena TB maka harus diterima dan dijaga agar tidak menular karena mereka yang paling rawan tertular adalah anggota keluarga. Usahakanlah membuang dahak tidak sembarangan bisa di kloset dan pisahkan alat makan. Aktifitas fisik dan menjaga makan makanan sehat dan segera berobat jika sakit sampai sembuh yakni 6-8 bulan. Jika tidak nanti bisa menyebabkan MDR karena pengobatan yang tidak selesai.

Seperti apa indikasi orang yang terkena?

Batuk berdahak lebih dari 2 minggu, kalau belum 2 minggu tapi berdahak sudah patut dicurigai, sementara untuk TB anak kadang tidak batuk, dilihat penurunan berat badannya. Berkeringat di malam hari tanpa aktifitas. Hilang selera makan dan sesak nafas dan kadang ada darahnya. Meski Itu semua sekarang tidak utama karena sekarang banyak mengalami perubahan.


Daftar Laporan Khusus “Sinergi Muhammadiyah dan Aisyiah Menanggulangi Tuberkulosis”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait