Kader

Gambar Kader
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita yang hanif. Beliau adalah istri Rasulullah SAW yang selalu menjadi tambatan hati manakala Rasulullah mendapatkan cemooh saat menyampaikan risalahNya. Apabila beliau mendengarkan sesuatu yang tidak ia sukai atau bantahan manusia terhadapnya, atau tuduhan-tuduhan mereka terhadapnya yang menjadikan beliau bersedih, semuanya itu akan hilang ketika beliau pulang ke rumah menemui istrinya.

Ali bin Abi Thalib adalah anak paman Rasulullah SAW yang dipelihara oleh beliau di rumahnya. Ali dididik dan dibesarkan di Madrasah Rasulullah SAW, saat masih berumur 10 tahun.

Zaid bin Haritsah adalah budak milik Khadijah istri Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah melihatnya dan memintanya, maka Khadijah memberikannya. Setelah itu, Rasulullah memerdekakannya dan mengangkatnya sebagai anak. Zaid sangat bahagia dan cinta kepada Rasulullah SAW, bahkan mengalahkan cintanya kepada orang tuanya dan pamannya.

Abu Bakar bin Abi Quhafah adalah shahabat dekat Rasulullah SAW, mengenali Nabi dan sifat-sifatnya yang terpuji. Tidak pernah Abu Bakar mendapati beliau berdusta sama sekali. Maka ketika Rasulullah mengabarkan tentang kerasulannya, dia segera menyambutnya tanpa ragu sedikitpun.

Al-Arqam bin Abil Arqam al-Qurasyi al-Makhzumiy adalah sahabat yang agung, salah seorang tokoh-tokoh yang pertama masuk Islam.  Dirumah al-Arqam yang berada di bukit Shafa inilah Rasulullah menggembleng sahabat-sahabatnya. Bukan hanya mereka yang kami sebutkan di atas, tapi masih ada beberapa sahabat yang menjadi andalan Rasulullah yang siap bahu membahu menyampaikan dakwah. Mereka merupakan kader pilihan, yang kelak namanya tertulis tinta emas dalam sejarah Islam. Metode Rasulullah juga menjadi rujukan dalam setiap pengkaderan yang dilakukan oleh pergerakan Islam.

KHA Dahlan tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Rasulullah SAW dalam menemukan kader sebagai generasi penerus. Beliau, meskipun dalam tekanan dan cemoohan tetap tersenyum dalam mengembangkan Islam dan Muhammadiyah.

Secara kelembagaan, salah satu kader Muhammadiyah adalah Kepanduan Hizbul Wathan. Organisasi kepemudaan yang sedang popular saat itu. Gagasan pembentukan barisan kepanduan Hizbul Wathan dalam Muhammadiyah muncul dari KH. Ahmad Dahlan sekitar tahun 1916 ketika beliau kembali dari perjalanan tabligh di Surakarta pada pengajian SAFT (Sidiq, Amanah, Fathonah, Tabligh) yang secara rutin diadakan di rumah KH. Imam Mukhtar Bukhari.

Secara kelembagaan, salah satu kader Muhammadiyah adalah Kepanduan Hizbul Wathan. Organisasi kepemudaan yang sedang popular saat itu
Secara kelembagaan, salah satu kader Muhammadiyah adalah Kepanduan Hizbul Wathan. Organisasi kepemudaan yang sedang popular saat itu (Sumber gambar : IG @kwarda_hw_kota_jogja)

Di kota tersebut beliau melihat anak-anak JPO (Javansche Padvinders Organisatie) dengan pakaian seragam sedang latihan berbaris di halaman pura Mangkunegaran. Sesampainya di Yogyakarta, beliau membicarakannya dengan beberapa muridnya, antara lain Sumodirjo dan Sarbini, dengan harapan agar pemuda Muhammadiyah juga dapat diajar tentang kepanduan guna berbakti kepada Allah SWT.

Sejak pembicaraan itu mulailah Sumodirjo dan Sarbini merintis berdirinya di dalam Muhammadiyah. Kegiatan pertama banyak diarahkan pada latihan baris-berbaris, olah raga, dan pertolongan pertama pada kecelakaan. Pada setiap Ahad sore para peserta dilatih dengan kegiatan-kegiatan di atas, pada malam Rabu mereka diberikan bekal keagamaan. Dari cikal bakal itu lahirlah Hizbul Wathan pada tahun 1918, pada waktu itu bernama Padvinder Muhammadiyah. Kemudian, karena dianggap kurang relevan, atas usul H. Hadjid nama itu ditukar menjadi Hizbul Wathan.

Mengelola Kader

Organisasi pasti memiliki visi dan misi. Mengemban visi dan misi hendaklah dilakukan oleh sekelompok orang terpilih, agar organisasi tetap lurus sesuai dengan harapan. Menyiapkan sekelompok orang didalam sebuah organisasi atau lembaga merupakan tantangan utama. Yang harus dilakukan dalam tahap ini adalah menyampaikan pesan utama atau inti dari organisasi tersebut. Tak hanya itu. Kader haruslah orang yang akan menjadi tauladan dalam segala tindakan. Karena visi dan misi bukan hanya sekedar penyampaian informasi.

Bung Hatta pernah bertutur mengenai kaderisasi, “Bahwa kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam.”.

Tanpa adanya kaderisasi bagaimana sebuah organisasi mau berkembang? Karena organisasi membutuhkan tangan-tangan yang kreatif. Kaderisasi merupakan cikal bakal yang menciptakan organisasi berkembang sesuai dengan tuntutan jaman. Kaderisasi berusaha menciptakan kader yang bukan hanya hebat dalam mengerjakan suatu program, tapi lebih dari itu. Kaderisasi haruslah mampu menciptakan kader yang memiliki jiwa pemimpin, memiliki emosi yang terkontrol, kreatif dan mampu menjadi pemberi solusi.

Djazman Al Kindi dalam sebuah tulisannya menyebutkan bahwa keberhasilan KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah sejak tahun 1912, tidak serta merta aman dari intimidasi dari berbagai pihak. Baik di kalangan warganya sendiri maupun di luar Muhammadiyah. Gerakan Muhammadiyah dalam hal ini menitikberatkan pola gerakannya pada tiga hal. Pertama, Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam. Kedua, Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah Islam. Ketiga, Muhammadiyah sebagai Gerakan Tajdid, membuat Muhammadiyah semakin berkembang dan sesuai dengan cita-cita Muhammadiyah.

Guna mencapai cita-cita gerakan amar makruf nahi mungkar yang sudah dirintis dan mengalami perkembangan maka Muhammadiyah membutuhkan kekuatan pendukung, penggerak yang akan melanjutkan cita-cita Muhammadiyah. Dengan demikian Muhammadiyah membutuhkan kader-kader untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Salah satu hal yang tertanam dalam diri seorang kader, bahwa dalam Muhammadiyah seorang kader diarahkan agar terbentuknya kader yang siap berkembang sesuai dengan spesifikasi profesi yang ditekuninya yang nantinya ditransformasikan dalam tiga lahan yakni: persyarikatan, umat dan bangsa.

Tentu menjadi seorang kader tidak semudah yang dibayangkan. Seorang kader menjadi penerus persyarikatan tentunya harus sesuai dengan perkembangan masyarakat. Karena tantangan ke depan akan semakin berat dengan berkembangnya zaman.

Kader tidak muncul tiba-tiba, harus dipersiapkan melalui lembaga perkaderan. Pengkaderan harus melalui proses. Bahkan proses ini yang akan menjadikan seorang kader menjadi kelompok manusia yang terbaik karena terpilih dan terlatih. Namun tidak hanya terjadi dalam diri kader akan tetapi kader harus muncul melalui lembaga perkaderan.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan 6 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait