Islam Gaduh dan Islam Teduh Dalam Kultur Industri Lanjut

Gambar Islam Gaduh dan Islam Teduh Dalam Kultur Industri Lanjut
H Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

“NU Gaduh, Muhammadiyah Teduh” demikian saya baca dalam pemberitaan di http://www2.jawapos.com yang mengulas Muktamar NU di Jombang dibandingkan dengan Muktamar Muhammadiyah di Makasar. Meskipun meminjam istilah “Gaduh” dan “Teduh” dari judul berita itu, tulisan ini tidak dalam rangka berbicara Muktamar kedua ormas Islam tersebut. Tulisan ini juga tidak untuk membandingkan antara gerakan NU dan gerakan Muhammadiyah, yang masing-masing memiliki sifat kedua sifat itu, yaitu gaduh dan teduh. Dalam NU ada nilai kegaduhan dan keteduhan, demikian pula dalam Muhammadiyah ada nilai kegaduhan dan keteduhan. Tulisan ini mencoba memahami karakter kegaduhan dan keteduhan dalam Islam, bukan dalam hubungan benar-salah, baik-buruk, dan indah-jelek, karena pada dasarnya dalam kegaduhan dan keteduhan punya kelebihan dan kekurangan.

Tujuan utama dari tulisan ini adalah untuk memberikan suatu gambaran sintesa antara karakter “Islam Gaduh” dan “Islam Teduh” dalam kultur industri lanjut. Saya merasa perlu menulis tema kegaduhan dan keteduhan ini karena di satu sisi telah muncul berbagai pandangan di kalangan muslim terdidik yang menafikan sifat kegaduhan Islam dan di sisi lain sebagaian muslim menganggap keteduhan sebagai kejumudan yang tidak bisa ditolerir. Padahal keduanya sesungguhnya adalah bagian dari kekayaan Islam yang akan mendewasakan umat menghadapi berbagai tahap peradaban manusia.

Prinsip Islam dan kultur industri lanjut

Islam hadir, dulu dan kini, tidak dalam ruang kosong. Ada kondisi masyarakat yang bersifat kontekstual menyertai kehadiran Islam di dunia ini. Sesuai sifatnya yang kontekstual maka kondisi masyarakat yang dihadapi bisa saja berbeda-beda. Meski demikian, ada pesan yang dibawa Islam yang bersifat universal dan tak berubah-ubah.

Konteks kondisi di mana Islam hadir, berupa struktur dan kultur masyarakat, yang berbeda-beda pada lingkungan dan zaman tertentu. Dalam sejarah, Islam hadir pertama kali dalam stuktur dan kultur masyarakat Mekah yang didominasi masyarakat pedagang. Selanjutnya ketika terjadi proses Hijrah ke Madinah, struktur dan kultur yang dihadapi pun berbeda dengan yang di Mekah. Demikian pula ketika Islam hadir di nusantara, terdapat struktur dan kultur yang berbeda pula.

Berhadapan dengan konteks, maka dibutuhkan strategi dan taktik dalam menghadirkan Islam. Di wilayah strategi dan taktik menghadirkan Islam itulah muncul “kegaduhan” dan “keteduhan” sesuai dengan konteks yang dibutuhkan. Kegaduhan dan keteduhan itu pun ada dalam setiap tahapan sosial masyarakat di nusantara ini, baik tahapan agraris, tahap industri awal, maupun dalam tahap industri lanjut.

Ada beberapa gejala modern masyarakat industri lanjut yang dicatat Kuntowijoyo dalam bukunya Muslim Tanpa Masjid (Mizan, 2001). Gejala masyarakat industri lanjut itu ialah sekulerisme, spiritualisme, intelektualisme, demokrasi, posmodernisme, dan fundamentalisme. Menurut Kuntowijoyo, langsung atau tidak, gejala modern tersebut akan berpengaruh pada kebudayaan dan dakwah. Gejala-gejala tersebut adalah tantangan dalam menjaga keislaman kita dan umat sebagai prinsip yang tak boleh goyah.

Selain adanya kondisi yang bersifat kontekstual, terdapat prinsip Islam yang bersifat universal. Sebagaimana kita tahu Islam berasal dari kata salima yuslimu istislaam –artinya tunduk atau patuh– selain yaslamu salaam –yang berarti selamat, sejahtera, atau damai. Menurut bahasa Arab, pecahan kata Islam mengandung pengertian: islamul wajh (ikhlas menyerahkan diri kepada Allah, baca: QS. an-Nisa, ayat 125), istislama (tunduk secara total kepada Allah, baca Ali Imran ayat 83), alaamah atau saliim (suci dan bersih, baca Asy-Syu’araa’ ayat 89), salaam (selamat sejahtera, baca Al-An’am ayat 54), dan silm (tenang dan damai, baca Muhammad ayat 35). Dengan dasar ayat-ayat di atas, maka bisa simpulkan bahwa secara prinsip Islam adalah tunduk berserah diri total kepada Allah dengan mensucikan diri serta menebarkan kedamaian di muka bumi ini.

Dengan demikian tak bisa dibantah lagi bahwa jika berpedoman pada Qur’an, orang Islam itu harus cinta damai dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, serta menentang perusakan alam. Allah berfirman: “Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. al-Baqarah [2]: 26-27)

Kegaduhan dalam Islam bukan berarti membuat kerusakan, karena membuat kerusakan adalah perbuatan fasik. Demikian juga keteduhan dalam Islam itu bukan berarti membiarkan kefasikan. Kegaduhan dan Keteduhan dalam Islam adalah dalam rangka tunduk berserah diri total kepada Allah dengan mensucikan diri serta menebarkan kedamaian di muka bumi ini.

Islam Gaduh dan Islam Teduh

Islam Gaduh dan Islam Teduh bukanlah oposisi binner yang bertentangan satu sama lain. Keduanya dibutuhkan, dalam hubungan inter-changeability (saling menggantikan) sesuai dengan kondisi yang ada. Pertemuan antara kultur industri lanjut sebagai sebuah peradaban dan Islam yang memiliki nilai-nilai yang pembentuk peradaban sangat mungkin menghasilkan kegaduhan maupun keteduhan. Kegaduhan terjadi dari konflik saling meniadakan antara nilai-nilai yang ada pada kultur industri dengan nilai-nilai Islam yang diyakini. Sedang keteduhan terjadi karena unsur-unsur peradaban dalam kultur industri lanjut saling mengisi dan saling menguatkan. Kadang-kadang kita butuh Islam Gaduh dan kadang-kadang kita butuh Islam Teduh.

Islam Gaduh adalah pemahaman Islam yang selalu membenturkan Islam dengan peradaban lainnya, termasuk peradaban industrial. Islam Gaduh mempermasalahkan peradaban lain dalam berbagai dimensi, bisa isi (prinsip) maupun teknisnya. Islam Gaduh tidak identik dengan Fundamentalisme Islam, sebab dalam tahap tertentu gerakan pembaharuan pun tampil dalam wajah Islam Gaduh ini. Pembaharuan, terutama dalam dimensi sosial, hampir selalu melahirkan kegaduhan meskipun tidak semua kegaduhan merupakan proses pembaharuan. Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan pun membuat kegaduhan pada awal berdirinya dengan perlawanannya pada hegemoni budaya tradisional yang penuh TBC (Taqlid, Bid’ah dan Khurofat).

Islam Teduh yang saya maksudkan adalah Islam yang melihat hubungan Islam dengan peradaban lain bisa saling memberi inspirasi, bisa saling mengisi, dan bisa saling menguatkan untuk membentuk peradaban manusia. Islam Teduh tidak pernah mempermasalahkan peradaban lain sebagai peradaban, namun tak pernah berhenti untuk menjadikan nilai-nilai Islam bisa teraktualisasi dalam peradaban manusia. Dalam pandangan Islam Teduh, peradaban barat, peradaban padang pasir, dan juga peradaban nusantara, masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan ketika dihadapkan dengan nilai-nilai Islam yang diwujudkan dalam peradaban orang-orang Islam. Dengan demikian untuk membangun peradaban manusia yang Islami, Islam Teduh menganggap bisa mengambil inspirasi dari peradaban mana saja selama tidak bertentangan dengan nilai dasar Islam. Demikian juga sangat mungkin praktik-praktik peradaban yang dimunculkan merupakan ikhtiar mengisi kekurangan peradaban lain atau mengambil teknologi peradaban lain dalam membangun peradaban manusia.

Tema utama Islam Gaduh adalah perlawanan dan dominasi. Perlawanan ini bisa bersifat kultural maupun struktural. Bahasa yang digunakan pun bisa demi Islam, demi kebenaran, dan demi keadilan. Ujungnya menentang pada dominasi oleh faktor yang dilihat sebagai bukan Islam atau tidak islami. Faktor bukan Islam atau tidak islami yang dimaksud belum tentu subjeknya adalah non-Islam, namun yang dimaksud adalah bentuk dominasinya. Islam Gaduh bisa melawan pemimpin muslim maunpun non muslim yang dianggapnya dzalim, dengan perlawanan struktural maupun kultural.

Tema utama Islam Teduh adalah manajemen dan jaringan. Pembicaraan manajemen menyangkut perngetahuan tentang masalah, cara mengelola sumber daya berkaitan dengan masalah, dan  bagaimana menyelesaikan masalah. Sedang pembicaraan tentang jaringan menyangkut pengembangan sumber daya yang dimiliki.

Pola hubungan pimpinan dan massa dalam Islam Gaduh adalah kepeloporan, sedang dalam Islam Teduh adalah profesionalisme. Dalam Islam Gaduh pemimpin adalah pelopor perlawanan, berbeda dengan Islam Teduh yang menempatkan pemimpin sebagai penghubung dan pengelola sumber daya untuk menyelesaikan berbagai problematika yang ada.

Namun sekali lagi yang perlu diingat, hubungan antara Islam Gaduh dan Islam Teduh adalah hubungan inter-changeability (saling menggantikan) sesuai dengan kondisi yang ada. Dalam menghadapi gejala kultur industri lanjut, pada kondisi tertentu memerlukan hadirnya Islam Gaduh dan pada kondisi lain membutuhkan Islam Teduh. Tak menutup kemungkinan pada suatu tahap keduanya hadir dengan proporsi tertentu yang berbeda-beda. Yang paling penting diingat, jangan sampai Islam Gaduh tersebut identik dengan aksi kekerasan yang akan mudah diberi stigma radikal, teroris dan semacamnya.

Sekulerisme, melepaskan agama dari nilai-nilai kolektif. Kemerdekaan, demokrasi, rule of law, dan HAM, yang merupakan bagian dari nilai-nilai kolektif itu, semakin menonjol sebagai nilai objektif terlepas dari nilai agama. Untuk mengatasi sekulerisme ini, agama harus disampaikan dengan bahasa zamannya. Prinsip Islam tetap, hanya strategi dan taktiknya yang harus “berkemajuan. Untuk itu Islam Teduh sangat diharapkan kehadirannya dalam mengobjektifkan ajaran Islam dengan idiom-idiom yang mudah dipahami umat, dan Islam Gaduh melakukan proses penyadaran umat atas ancaman sekulerisme dengan menghindari adanya aksi kekerasan.

Spiritualisme, mengutamakan semangat rohaniah namun menolak agama formal. Spiritualisme ini mudah masuk ke Indonesia karena bangsa Indonesia memiliki budaya spiritual. Satu hal yang menguntungkan agama ialah spiritualisme selalu melihat ke belakang. Kalau Islam dapat meyakinkan orang bahwa Islam memandang ke depan tidak akan ada perlu khawatir adanya spiritualisme tradisional maupun modern. Islam Gaduh diharapkan kehadirannya membongkar hubungan spiritualisme ini dengan kapitalisme, dan Islam Teduh diharapkan bisa memberi pemaparan problematika sosial yang tak bisa diselesaikan oleh spiritualisme.

Intelektualisme, mengarah pada penempatan ilmu dan teknologi menggantikan agama sebagai “petunjuk”. Hukum ilmu yang ditemukan manusia melalui penelitian ilmiah, telah menggantikan hukum Tuhan. Hal demikian tidak akan menjadi masalah bagi Islam Teduh yang bisa menampilkan Islam sebagai agama ilmiah dan objektif.

Demokrasi, yang secara substansial menjadi jalan bagi lahirnya pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat dengan berbagai variasi pelaksanaannya. Demokrasi menjadi trend dalam masyarakat industri lanjut, dan tampaknya trend tersebut masih akan terus berlanjut. Banyak harapan pada Islam sebagai kekuatan sosial untuk memberi isi dari demokrasi tersebut, sehingga sangat mungkin jika demokrasi tidak berjalan akan ditimpakan pada Islam. Hanya masalahnya untuk ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah ialah bagaimana tanpa menjadi partai Islam tetap bisa berperan aktif dalam demokrasi. Islam Gaduh sebaiknya tidfak terfokus menolak demokrasi politik ini, tapi menggeser wacana demokrasi yang sekedar prosedural itu dengan demokrasi ekonomi yang lebih struktural yang lebih adil.

Post-modernisme, sebagai modernisme lanjut yang meragukan segalanya. Cita-cita “kemajuan” dalam modernisme mulai disangsikan, digantikan dengan post-modernisne ini. Hal ini seharusnya membuat gerakan modern seperti Muhammadiyah yang mengusung kemajuan sebagai citra keislamannya perlu memikirkan ulang visi gerakannya. Kalau NU merespon keraguan terhadap modernisne ini dengan menegaskan identitasnya dengan Islam Nusantara-nya yang beraroma post-tradisonal, tentu tidak bisa dilakukan oleh Muhammadiyah yang selalu menampilkan diri berorientasi pada masa depan. Jawaban terhadap gejala ini, baik oleh NU maupun Muhammadiyah, tidak bisa hanya mengandalkan identitas. Post-modernisme yang mengusung relativisme hanya bisa diatasi dengan menampilkan Islam secara konkrit, yaitu Islam yang hadir untuk menyelesaikan problematika kemanusiaan. Peran itu hendaknya diambil oleh Islam Teduh.

Fundamentalisme, di sini bisa kita artikan sebagai gerakan agama yang melawan peradaban industrial, kapitalisme, dan komersialisme. Di dalamnya ada sisi negatif dan sisi positifnya. Negatifnya, seringkali fundamentalisme ini tampil sebagai anti-gerakan agama yang mapan, anti-otoritas keduniaan, membentuk hierarki sendiri, tertutup, dan sering disertai ajaran yang menyimpang. Positifnya ialah sebenarnya gerakan fundamentalisme berada di garis depan peradaban, karena gerakan-gerakan yang ada seolah membenarkan arus peradaban utama. Gejala ini harus disikapi secara hati-hati sehingga tidak tertular sisi-sisi negatifnya dan justru bisa mendapatkan sisi-sisi positifnya. Saat berinteraksi dengan fundamentalisme ini, Islam Teduh diharapkan bisa sedikit memiliki daya dobrak perubahan dan Islam Gaduh bisa berkaca pada pemikirannya sehingga merumuskan wacana perlawanan yang lebih efektif.

Di tahap masyarakat apapun, prinsip Islam haruslah dipegang erat agar tidak membuat kegaduhan menjadi kerusakan dan keteduhan menjadi kejumudan. Jangan sampai umat kehilangan kegaduhan dan keteduhannya, karena keduanya bagian dari kekayaan Islam yang akan mendewasakan mereka menghadapi berbagai tahap peradaban manusia. Kegaduhan dan Keteduhan Islam adalah metode Islam Bil Hikmah untuk mendewasakan umat.

Islam Gaduh dan Islam Teduh bukanlah oposisi binner yang bertentangan satu sama lain, keduanya dibutuhkan
Islam Gaduh dan Islam Teduh bukanlah oposisi binner yang bertentangan satu sama lain, keduanya dibutuhkan (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 9 Tahun 2015, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait