Islam Agama Ilmiah

Gambar Islam Agama Ilmiah
H. Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Fushilat [41]: 53)

Dalam tulisan sebelumnya telah saya jelaskan bahwa pilar dari Islam bil Hikmah itu ada dua, yaitu Islam Rahmatan Lil ‘Alamin dan Islam Agama Ilmiah. Konsep Islam Agama Ilmiah di sini tidak identik dengan agama saintifik yang memandang kebenaran hanya berdasarkan dalil-dalil yang bisa dideteksi dengan panca indera. Konsep tersebut adalah sebuah pernyataan bahwa Islam bukan agama dogmatis yang ditegakkan atas dasar keyakinan semata tanpa melalui proses berpikir sama sekali. Lebih jauh lagi, konsep itu merupakan suatu penegasan bahwa sesungguhnya Islam adalah sumber ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan.

Islam Agama Ilmiah memiliki dua sifat penting. Pertama, sifat Islam yang sejalan dengan ilmu pengetahuan atau tepatnya sifat Islam sebagai sumber ilmu pengetahuan. Kedua, sifat Islam yang objektif. Dengan kedua sifat itulah Islam benar-benar menjadi agama yang ilmiah.

Sebagian kalangan meragukan konsep Islam sebagai agama ilmiah itu karena menurut mereka ada bagian-bagian dalam Islam yang tidak bisa dipahami dengan ilmu pengetahuan dan cukup diyakini. Bisa saja bantahan tersebut berupa penelitian mendalam atas proses terjadinya dogma-dogma dalam Islam, namun bantahan yang demikian justru kontraproduktif dalam pembahasan Islam Bil Hikmah. Pertama, karena bantahan seperti itu sangat mungkin menghasilkan kontroversi baru. Kedua, karena bantahan seperti itu tidak memberi nilai tambah bagi praktik Islam Bil Hikmah. Keraguan seperti itu sebaiknya memang bukan untuk didebatkan dalam perang wacana, namun perlu dibantah dengan kerja keras dalam mengembangkan Ilmu Pengetahuan berangkat dari nilai-nilai Islam dan mempraktikkannya secara objektif dalam kehidupan nyata.

A. Sifat Islam sebagai sumber ilmu pengetahuan

Sebelum membicarakan Islam sebagai sumber ilmu pengetahuan, ada baiknya menengok asal muasal terjadinya ilmu modern yang ada sekarang ini, termasuk keterlepasannya dengan agama. Marvin Perry (2012) dalam buku “Peradaban Barat: Dari Zaman Kuno sampai Zaman Pencerahan” memberikan gambaran tentang sosok Galileo yang membangun suatu prinsip fundamental ilmu modern—ketertiban dan keseragaman alam. Bersama Galileo ini, ilmu Copernicus (tentang pandangan baru alam semesta) dan serangan pada aristoteles memasuki fase baru. Didukung oleh para guru dalam komunitas akademik yang secara rutin mengajarkan astronomi lama, para pendeta di Florence berkhotbah melawan Galileo, menggunakan tulisan-tulisan Aristoteles dan Alkitab untuk mendukung serangan-serangan mereka. Pada 1633, ajaran Galileo dikutuk dan ia dikenakan tahanan rumah. Ilmu seperti yang diajarkan oleh Galileo, seperti yang diketahuinya dengan sangat baik, secara inheren tidak membahayakan Katolikisme. Tetapi kaum imam dan sekutu-sekutu akademiknya melihat ilmu itu sebagai suatu tantangan bagi kekuasaan mereka, dan mereka dapat meminta dukungan kepausan dan Inquisisi, yaitu pengadilan gereja yang diberlakukan atas dasar hukum bible.

Bermula pada abad keempat belas akhir, di dataran eropa berlangsung suatu proses transformasi hingga abad ketujuh belas akhir. Dalam transformasi itu melemahnya feodalisme dan gereja diikuti pudarnya pandangan alam semesta yang secara berangsur-angsur digantikan dengan pengertian alam yang modern dan ilmiah. Apa yang terjadi ini pada dasarnya adalah Revolusi Ilmiah modern di abad ketujuh belas yang memberikan sumbangan penting bagi pandangan dunia modern berupa konsepsi baru alam.

Revolusi Ilmiah bersifat menentukan dalam membentuk mentalitas modern. Metodologi yang memproduksi pandangan alam yang baru ini—ilmu yang baru—memainkan suatu peran historis yang sangat penting dalam mengorientasikan kembali pemikiran Barat dari teologi dan metafisika Abad Pertengahan menuju studi masalah-masalah fisik dan manusiawi. Semua pengetahuan, dipercaya, dapat menyamai pengetahuan ilmiah; ia dapat didasarkan pada pengamatan, eksperimentasi, dan deduksi rasional; ia dapat bersifat sistematik, dapat diverifikasi, progresif, dan bermanfaat. Di mana-mana, para penganjur pendekatan yang baru pada pengetahuan ini menyambut para ilmuwan abad keenam belas dan ketujuh belas sebagai bukti bahwa tidak ada lembaga atau dogma yang mempunyai monopoli kebenaran. Tumbuh keyakinan bahwa pendekatan ilmiah akan memberikan pengetahuan yang mungkin, jika diterapkan dengan tepat untuk kebaikan semua orang, menghasilkan suatu zaman yang baru dan lebih baik.

Akhirnya, Revolusi Ilmiah memperlemah Kekristenan tradisional karena para pemikir mempertanyakan mukjizat, kenabian, dan kepercayaan-kepercayaan kristen lainnya. Teologi mulai dipandang sebagai suatu wilayah yang terpisah dan agak tidak relevan dalam penyelidikan intelektual, tidak cocok untuk kepentingan-kepentingan praktis orang yang berpengetahuan luas. Bukan hanya doktrin-doktrin kristen yang diserang, tetapi juga kepercayaan-kepercayaan yang tersebar luas dan populer di bidang magis, guna-guna, dan astrologi. Secara berangsur-angsur, akibat Revolusi Ilmiah itu, alam dimekanisasi, dianalisis, diatur, dan dimatematiskan. Revolusi Ilmiah itu menandai lepasnya ilmu pengetahuan pada “penjara” dogma agama.

Jika dalam sejarah kekristenan terjadi konflik antara agama dan ilmu pengetahuan, tidaklah demikian dengan Islam. Sejarah Islam sangat akrab dengan pengembangan ilmu pengetahuan. Ayat pertama yang turun memerintahkan iqra’ (membaca) yang menjadi semangat kaum muslimun untuk mengembangkan tradisi meneliti dan selanjutnya mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam Qur’an surah  Fushilat ayat 53, bahkan Allah menunjukkan bahwa dalam segenap ufuk dan di dalam diri manusia terdapat tanda kekuasaan Allah yang akan membenarkan segenap isi al-Qur’an.

Pada masa Rasulullah produktivitas keilmuan ditandai dengan aktivitas tulis menulis. Semenjak awal kenabian hingga wafatnya Nabi Muhammad Saw membangun etos para sahabatnya untuk menulis berkaitan dengan wahyu yang turun. Beliau menyiapkan 60 sekretaris pribadi yang 40 dari itu benar-benar selalu siap mencatat wahyu yang turun. Pada zaman sahabat, penulisan mushaf yang diwariskan Nabi pun terus berlangsung dengan model lain, yaitu menjadikan mushaf-mushaf yang dulunya berpencar-pencar di tangan para sekretaris menjadi satu. Mushaf itu disusun sedemikian rapi dan teratur, hingga terbentuklah Mushaf al-Imam (Usmani) yang beredar sampai sekarang.[1]

Setelah penyusunan mushaf, aktivitas keilmuan Islam juga ditandai dengan adanya studi kesahihan suatu hadits. Ada dua bentuk obyek dalam studi Hadits tersebut. Pertama, studi matan/ isi/ konten Hadits. Kedua, studi sanad/ estafetas personal periwayat Hadits dari masa timbulnya yakni pada masa Nabi saw sampai dengan masa kodifikasinya yakni abad ke-2 atau ke-3 Hijriyah. Pada abad-abad selanjutnya bermunculan tokoh-tokoh ilmuwan Islam dengan studi yang sangat luas. Ada yang mengkaji dan menghasilkan temuan di bidang kedokteran, seperti Ar-Razi (hidup antara tahun 864-930 masehi) yang meneliti demam, penyakit cacar, alergi asma, dan dialah pula ilmuwan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi. Selain itu banyak sekali ilmuwan muslim lainnya dengan berbagai bidang yang digelutinya. Selain kedokteran, ada kajian dan temuan dalam bidang matematika, fisika, kimia, dan juga ilmu sosial.

Kelahiran karya-karya Ilmuwan Islam tersebut menandai bahwa Islam sejalan dengan ilmu pengetahuan, dan bahkan bisa menjadi sumber Ilmu pengetahuan. Ayat-ayat astronomi dalam Qur’an memberi inspirasi Al-Haetamy (hidup tahun 965-1039 M) untuk mengembangkan teori tentang alam semesta yang banyak mempengaruhi teori Kepler (yang dikemukakan tahun 1609). Jauh sebelum Copernicus (hidup sekitar abad 16 M), Kepler (hidup sekitar abad 16-17 M), dan Galileo (hidup tahun 1564-1642 M), ilmuwan Islam menyatakan bumi dan planet berputar mengelilingi matahari. Ilmuwan Islam tersebut adalah Az-Zargaly dan Al-Battani yang hidup sekitar abad 9-10 M.[2]

Tidak pernah terdengar dalam sejarah ada penghakiman atas nama Islam kepada para ilmuwan yang ilmu pengetahuannya dianggap bertentangan dogma agama. Sebab semangat keselarasan ilmu pengetahuan dan al-Qur’an telah disampaikan Allah pada Qur’an surah Fushilat ayat 53. Selanjutnya dalam kajian struktur dasar ayat-ayat Nuzulul Qur’an saya menemukan tiga elemen metodologi pendidikan Islam. Pertama, ada semangat pengembangan riset dalam perintah membaca ciptaan Allah (pada iqra’ bismirobbikal ladzii kholaq, kholaqol insaana min ‘alaq, iqra’ warobbukal akrom). Kedua, ada semangat produktifitas keilmuan dalam pengajaran Allah (pada alladzii ‘allama bil qolam. Ketiga, ada pendekatan demokratis dalam proses pendidikan Islam (pada ‘allamal insaana maa lam ya’lam). Hal tersebut menyiratkan bahwa untuk menjadikan Islam sebagai sumber ilmu pengetahuan harus dikembangkan tradisi penelitian, etos produktivitas keilmuan, dan pendekatan demokratis dalam pengkajian ilmu.

B. Sifat Islam sebagai agama yang objektif

Sebagai seorang muslim kita sejak kecil dikenalkan bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan sunnatullah. Dalam pengertian itu pula sifat Islam sebagai agama yang objektif, yaitu agama yang tidak mengingkari seluruh hukum kehidupan yang berlaku karena ketentuan Allah. Sunatullah atau ketentuan-ketentuan Allah tersebut melingkupi seluruh alam semesta termasuk di dalam diri manusia sendiri.

Salah satu contoh dari sunnatullah di alam ini adalah matahari dan bulan yang beredar di garis edarnya (lihat QS 21: 33). Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang (lihat QS 36: 40). Islam tidak pernah menentang adanya peredaran bulan dan matahari sebagai gejala yang objektif. Dengan dasar itulah kaum muslimin bisa menentukan tanggal dan membuat penanggalan.

Contoh lain dari sunatullah adalah adanya air untuk kesuburan bumi. Kaum muslimin bisa mengembangkan konsep sunatullah tersebut menjadi ilmu pertanian sebagai bentuk objektif dari ayat-ayat pertanian secara lebih lanjut. Salah satunya dalam firman Allah al-Qur’an surah Fushilat [41] ayat 39 yang artinya: “Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur.Sesungguhnya (Rabb) Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”.

Dalam kehidupan sosial, berlaku pulalah sunatullah yang objektif. Allah berfirman dalam Qur’an Surah Ali Imron [3] ayat 14: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia sebagai konsumen akan cenderung memilih barang dengan kualitas yang terbaik dengan harga yang termurah. Manusia cenderung memilih pekerjaan yang ringan dengan gaji yang besar. Manusia cenderung mencari pasangan hidup terbaik dalam hal fisik maupun non-fisik. Semua itu adalah kecenderungan-kecenderungan objektif yang ada pada manusia.

Islam tidak menentang kecenderungan-kecenderungan objektif seperti itu, namun mengingatkan manusia bahwa di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. Kerusakan di muka bumi terjadi akibat ulah tangan manusia (lihat: QS. 30:41) adalah gejala objektif lanjutan jika tidak ada aturan yang membatasi kecenderungan-kecenderungan objektif manusia. Kecenderungan-kecenderungan objektif di atas jelas memiliki potensi melahirkan kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi jika tidak diatur (lihat QS. 2: 30).

Salah satu jalan untuk mengatasi potensi buruk dari kecenderungan-kecenderungan objektif manusia adalah dengan menggali berbagai nilai-nilai dalam Islam untuk dijadikan sumber hukum positif. Kaum muslimin yang mempercayai Islam sebagai agama yang sesuai sunatullah ditantang untuk menjadikan ajaran Islam bisa diterima oleh khalayak sebagai hukum positif. Salah satu caranya adalah dengan objektivikasi, yaitu langkah menampilkan ajaran Islam sebagai sunatullah yang objektif bisa diterima oleh kalangan Islam maupun non Islam.

Islam adalah sumber ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan
Islam adalah sumber ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan (Sumber gambar : klik disini)
  • [1] Murodi, 1987, Sejarah Islam: Tradisi Agama dalam Dialektika Kebudayaan, Karya Thoha Putra, Semarang.
  • [2] Wardhana, Wisnu Arya, 2004, Al-Qur’an dan Energi Nuklir, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 8 Tahun 2015, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait