Ada sebuah kisah di Tiongkok kuno dulu ketika orang Tionghoa menginginkan rasa aman dari serangan kelompok orang barbar dari utara. Mereka membangun sebuah tembok besar. Tembok yang dibangun begitu tinggi sehingga mereka yakin tidak ada seorang pun yang mampu memanjatnya, dan begitu tebal sehingga tidak ada seorang pun yang dapat mendobraknya. Jadi, orang-orang tersebut menjalani kehidupan dengan tenang.

Dalam seratus tahun pertama sejak adanya tembok, Tiongkok diserang sebanyak tiga kali. Namun negara tetap aman, tidak berhasil diduduki.

Suatu kali, musuh menemukan cara untuk menyusup dengan menyuap anak-anak muda setempat untuk membuka pintu gerbang sehingga mereka bisa masuk dan bahkan menyerbu negeri itu. Maka kemudian, Tiongkok begitu sibuk membangun tembok sampai-sampai mereka lupa untuk membangun moral dan integritas anak-anak sendiri (Haryanto Kandani dalam Motivational Leadership).

Bila direnungkan, sebuah organisasi pun sama. Terlalu banyak pemimpin yang sibuk membangun sistem, terburu nafsu membangun sarana, namun kadang mereka lupa untuk membangun orang-orangnya.

Membangun manusia, atau Sumber Daya Manusia (SDM) jangan diabaikan. Bahkan, beberapa pemimpin yang telah berhasil dan gemilang dalam membangun organisasi, hal utama dan pertama dikelola adalah SDM. Potensi manusia yang ada dalam organisasi janganlah menjadi pelengkap.

Beberapa organisasi memang berhasil membangkitkan daya juang kader yang dimiliki, untuk beberapa waktu lamanya. Namun setelah organisasi telah memiliki segalanya, termasuk juga sarana dan sumber keuangan yang berkecukupan, mereka menjadi abai dengan eksistensi organisasinya. Terlena dengan sarana yang dimiliki, visi dan misi tak pernah disentuh, rutinitas kerja hanyalah aktivitas yang berulang tanpa ada inovasi. Lengkap sudah, bila organisasi masuk dalam tubir kehancuran.

Integritas harus dimiliki oleh semua unsur organisasi. Dengan integritas yang kuat akan menjadikan organisasi tangguh dan tahan terhadap godaan dari dalam maupun luar. Integritas yang dibangun bukan hanya sesaat, tapi harus terus menerus digali dan dipupuk agar darah organisasi selalu mengalir untuk memberi energi dalam setiap relung yang dimiliki. Integritas adalah konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan.

Integritas harus dimiliki oleh semua unsur organisasi. Dengan integritas yang kuat akan menjadikan organisasi tangguh dan tahan terhadap godaan dari dalam
Integritas harus dimiliki oleh semua unsur organisasi. Dengan integritas yang kuat akan menjadikan organisasi tangguh dan tahan terhadap godaan dari dalam (Sumber gambar : klik disini)

Seorang dikatakan mempunyai integritas bila tindakannya sesuai dengan nilai dan prinsip dari sebuah organisasi. Seorang dikatakan berintegritas bila ada keselarasan antara perbuatan dan kata-katanya. Ucapan dan perilakunya sejalan. Orang tersebut bukan memiliki tipe seribu wajah. Integritas menjadi karakter kunci bagi pemimpin. Pimpinan yang berintegritas dipercaya karena apa yang menjadi ucapannya juga menjadi tindakannya.

Apa yang akan didapat dengan memegang teguh integritas? Pertama, Keberhasilan atau Kesuksesan. Integritas merupakan salah satu kunci dari keberhasilan. Bila seseorang memiliki ingritas yang tinggi, ia akan konsisten dan memegang dengan teguh nilai-nilai yang telah menjadi prinsipnya. Komitmen untuk menepati janji yang telah diikrarkan, ia pegang dengan sepenuh hati. Sebuah organisasi sangat membutuhkan orang yang memiliki integritas yang tinggi. Orang yang seperti ini, yang mampu menjaga marwah organisasi. Visi dan misi organisasi ia pandang sebagai sesuatu yang tidak rigid, tapi dinamis. Nilai-nilai organisasi harus selalu diperbaharui, direnovasi agar organisasi selalu aktual dalam setiap era dan perubahan.

Kedua, kestabilan Kepemimpinan. Berbicara organisasi tak pernah terpisah dengan manajemen dan kepemimpinan. Dengan kepemimpinan yang kuat dan manajemen yang terukur, akan menjadikan organisasi stabil. Ada sebuah ungkapan yang sangat masyhur tentang kepemimpinan. “siap menjadi pimpinan dan siap dipimpin”. Menjadi pemimpin harus dipandang sebagai amanah. Menjadi yang dipimpin harus dipandang sebagai aset yang siap mensukseskan gerak organisasi. Keduanya sejatinya memiliki beban yang sama.

Dalam organisasi membutuhkan kepemimpinan. Organisasi dapat membantu manusia dalam mewujudkan cita-cita. Dengan berorganisasi segala urusan menjadi mudah, tertata, dan teratur. Berorganisasi juga dapat menunjukkan kemampuan diri tanpa meremehkan orang lain. Keseimbangan potensi yang dimiliki oleh anggota sangat diutamakan dalam berorganisasi. Dalam menjalankan manajemen diperlukan kepemimpinan. Organisasi dan manajemen bagai mata uang yang saling melengkapi. Keduanya bisa berjalan serasi manakala dipandu oleh kepemimpinan yang handal. Manajemen mempermudah pekerjaan.

Ketiga, meningkatkan kepercayaan. Thomas Paine (seorang penulis yang revolusioner) pernah menulis : “Saya menyukai orang yang bisa tersenyum saat dilanda masalah, yang dapat menghimpun kekuatandalam situasi sulit, dan yang berani memegang prinsip-prinsipnya sampai mati”. Contoh yang mudah adalah Bilal pada masa Rasulullah saw. Seorang yang hitam legam, budak, namun muadzin kepercayaan Rasulullah saw. Meskipun disiksa oleh majikannya untuk tidak mengakui ajaran tauhid, Bilal tetap memegang teguh Islam.

Apa yang membuat seseorang mau mengikuti seorang pemimpin? Jawabannya tidak melulu soal kecerdasan, kekayaan, atau posisi tinggi. Mereka rela mengakuinya karena pemimpin yang punya karakter dan berintegritas. Pemimpin yang memiliki intergritas tinggi akan dipercaya oleh masyarakat karena dipandang sudah terbiasa melakukan kejujuran.

Keempat, reputasi. Adanya integritas yang tinggi membuat seseorang akan memiliki citra dan reputasi yang baik di mata masyarakat. Karena orang yang memiliki integritas yang tinggi akan selalu menyesuaikan perkataan dan perbuatan yang dilakukan. Pada akhirnya hal ini akan menghasilkan perkataan, tindakan dan juga reputasi yang baik di mata orang lain.

Reputasi diartikan sebagai nama baik.  Nama baik tersebut bukan kita yang menyematkan namun orang lain yang telah memberikan penilaian tentang kita. Pemberian predikat ini murni orang lain. Validitasnya tinggi, karena pemberian kata ini langsung dari orang lain, tanpa dipengaruhi oleh kita. Reputasi tidak bisa diperoleh dalam waktu singkat karena harus dibangun bertahun-tahun untuk menghasilkan sesuatu yang bisa dinilai oleh publik.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajamen Majalah Mentari Bulan 10 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Tolong masukkan komentar anda
Tolong masukkan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.