Inilah Visi (Kader)

Gambar Inilah Visi (Kader)
Saladin Albany, S.Pd, M.Pd
Pendidik SMP Muhammadiyah 6 Yogyakarta, Wakil Sekretaris Majelis Pendidikan Kader PDM Kota Yogyakarta

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di kala amanah mendidik. Tugas tersebut diminta untuk membuat konsep pedoman/aturan hidup untuk pribadi, dalam keluarga dan dalam masyarakat. Siswa tersebut menuliskan dalam aspek keluarga bahwa aturan hidup yang berlaku adalah belajar sungguh sungguh. Kemudian saya bertanya kepadanya belajar sungguh sungguh biar apa nak? Biar dapat nilai yang bagus pak, jawab dia. Langsung saya merespon jawaban tersebut dengan spontan : kok nilai bagus? Masa nilai bagus si nak?. Kemudian beberapa siswa yang lain merespon jawaban saya, trus biar apa pak? tanya mereka. Biar dapet mental hidup yang bagus, jawab saya. Seketika itu siswa-siswi tidak merespon saya dan terlihat ada sebuah keanehan dalam jawaban saya. Dan dalam keheningan siswa-siswi seakan akan tidak faham akan maksud jawaban saya. Sampe akhirnya saya menjelaskan bahwa mental hidup yang bagus itulah yang akan mengantarkan kepada hasil yang bagus termasuk nilai. Dan mental hidup itulah bernama visi dan visi hidup yang paling tinggi adalah semangat berilmu.

Sebagai pendidik, saya melakukan sebuah terobosan berfikir bahwa seorang pelajar yang penuh visi terlalu dini mengatakan nilai adalah awal sebuah keberhasilan. Kenapa saya lakukan itu? Karena untuk menanamkan jiwa yang penuh visioner kepada kader dan calon kader, respon itu sangat penting. Bahkan merespon dengan cara yang out of the box itulah yang senantiasa menggelorakan jiwa untuk jasmaninya agar melangkah penuh semangat. Dengan semangat itulah maka akan terwujud keberhasilan yang nyata.

Sebagaimana KH. Ahmad Dahlan pernah berkata : “cobalah engkau fikirkan dengan sungguh-sungguh, apakah orang yang mempunyai keinginan mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan dunia bisa berhasil maksudnya dengan tidak bekerja yang sungguh-sungguh? Sudah tentu tidak akan berhasil. Dan juga sudah ada yang merasa bekerja dengan sungguh-sungguh akhirnya tidak berhasil, apalagi tidak bekerja. Sedang yang bekerja saja belum tentu berhasil. Orang yang hendak mencari keduniaan tidak akan berhasil jika tidak dengan sungguh-sungguh. Maka demikian pula orang yang hendak mencari surga, tentu tidak akan berhasil masuk surga apabila tidak berani jihad yaitu bersungguh-sungguh dalam membela agama Allah dengan penuh pengorbanan jiwa, raga dan harta benda.[1]

“Sungguh sungguh” menjadi kalimat yang akan berbuah, buah dari sungguh sungguh adalah keberhasilan. Kesungguhan kita dalam menjalani hidup akan menentukan kebahagiaan kita, maka hidup seorang kader harus penuh visi, penuh semangat, penuh kerja keras dengan satu tujuan meraih keridhoan Allah swt lewat apa yang telah dilakukan. Sekali lagi kenapa kita harus seperti itu? Karena kita ini manusia manusia yang mengemban amanah sebagai orang yang beriman sekaligus sebagai warga persyarikatan. Dua amanah inilah yang perlu kita sadari untuk hidup penuh visioner. Harus kita sadari kita ini warga persyarikatan Muhammadiyah, kita ini sedang berdakwah, kita ini sedang menegakan kebenaran dan kemashlahatan. Kita ini manusia yang pasti akan mati maka apa yang akan kita tinggalkan untuk kemashlahatan dunia dan apa yang akan kita bawa untuk kebahagiaan akhirat. Tanamkan jiwa kita agar penuh dengan visi.

Kita diingatkan oleh Imam Al-Ghazali tentang pembagian manusia menjadi empat golongan :

  1. seseorang yang tahu (berilmu) dan dia tahu kalau dirinya tahu
  2. seseorang yang tahu tapi dia tidak tahu kalau dirinya tahu
  3. seseorang yang tidak tahu (tidak/belum berilmu) tapi dia tau dan sadar diri kalau dia tidak tahu.
  4. seseorang yang tidak tahu (berilmu) dan dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu.

Termasuk manakah kita sebagai warga persyarikatan? Atau kita ingin berada pada kategori yang mana sebagai warga persyarikatan? Mari kita renungkan pada diri kita masing masing dan sebagai pertanggung jawaban kita sebagai orang yang beriman sekaligus diamanahi menjadi warga persyarikatan. Semoga dengan kita merenungi akan memberikan celupan semangat dan visi kepada persyarikatan. Proses penghayatan dan perenungan dilakukan agar kita memahami bagaimana ia seharusnya hidup di dunia. Memaknai diri sendiri tentang bagaimana posisinya didunia sebagai hamba Allah swt, apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan. Keadaan ini menjadikan kita dapat selalu melakukan aktivitas yang bermanfaat dalam setiap langkah hidup.

Merenungi 4 kategori manusia dari Imam Al-Ghazali, visi kader tak akan terwujud apabila tidak dilandasi dengan keilmuan. Semangat untuk berilmu merupakan buah dari beriman yang sungguh sungguh. Ilmu inilah yang akan membuat visi kader menjadi lebih nyata. Nyata untuk apa? Nyata untuk kemashlahatan, bisa jadi kita punya semangat visi namun untuk kemudharatan. Kenapa bisa seperti itu? Karena kita tidak menanamkan dan menjalankan visi dengan keikhlasan. Kita menghindari visi kemudharatan tersebut agar persyarikatan juga tidak berjalan untuk kemudharatan. Kita menanamkan visi kemashlahatan agar persyarikatan juga berjalan untuk kemashlahatan.

BA SMP Muhammadiyah Al Mujahidin 2019
Merenungi 4 kategori manusia dari Imam Al-Ghazali, visi kader tak akan terwujud apabila tidak dilandasi dengan keilmuan

KH. Ahmad Dahlan selalu menyampaikan peringatan kepada umat bahwa kita, manusia ini hidup hanya sekali untuk bertaruh, sesudah mati akan mendapat kebahagiaankah atau kesengsaraankah?. Manusia itu semuanya mati (mati perasaannya) kecuali para ulama yaitu orang-orang yang berilmu. Dan ulama-ulama itu dalam kebingungan kecuali mereka yang beramal. Dan mereka yang semuanya dalam kekhawatiran kecuali mereka yang ikhlas atau bersih.[2]

Inilah Visi yang dalam arti kata dalam kamus besar bahasa indonesia berarti kemampuan untuk melihat pada inti persoalan, pandangan atau wawasan ke depan, kemampuan untuk merasakan sesuatu yang tidak tampak melalui kehalusan jiwa dan ketajaman penglihatan

Catatan Kaki :
  • [1] KRH. Hadjid, Pelajaran KH. Ahmad Dahlan…., hlm. 118
  • [2] KRH. Hadjid, Pelajaran KH. Ahmad Dahlan…., hlm. 7

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Bina Kader Majalah Mentari Bulan 1 Tahun 2019, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...