Indonesia Cerdas dengan Membaca Buku

PENULIS Liswati (Guru SMK Muh 3 Yogya, Anggota tim literasi Komunitas Tinta Emas)

Seiring diresmikannya Perpustakaan Nasional Indonesia tanggal 17 Mei 1980, saat itu pula diperingati sebagai ”Hari Buku Nasional”. Tidak semua masyarakat Indonesia mengetahui bahwa 17 Mei adalah hari buku nasional. Dalam perjalanan sejarah peradaban biasanya seseorang menuangkan karya tulisnya dalam sebuah media, namun media tersebut mengalami beberapa perubahan sehingga menjadi buku seperti yang kita nikmati sekarang ini.

 Buku adalah gudang ilmu, ada yang berpendapat buku adalah jendela dunia dengan membaca buku seolah terbuka cakrawala, kita bisa melihat banyak hal yang baru. Bahkan dapat menceritakan serangkaian peristiwa masa lalu yang telah menjadi sejarah sekalipun. Buku mampu mengungkapkan sesuatu hal, menggambarkan karakter serta perjalanan hidup seseorang (biografi), melahirkan karya dan merubah peradaban karena dalam buku pelajaran berisi ilmu pengetahuan. Sedangkan dengan membaca buku dapat menambah pengetahuan dan pemahaman seseorang, meningkatkan kejernihan berpikir dan mengembangkan ke fasihan bertutur kata. Dengan membaca buku kita akan menyelami dunia orang lain yang akan memberikan kita kebijaksanaan yang lebih mendalam dalam menghadapi hidup.

Buku merupakan kumpulan tulisan dan gambar yang tercetak dalam kertas kemudian dijilid. Namun, bertahun-tahun yang lalu apakah bentuk buku juga sama seperti buku yang kita temui di sekitar kita sekarang? Sejarah mencatat negeri pertama yang melahirkan buku kuno adalah Mesir. Zaman itu sebuah naskah/tulisan tersurat pada sebuah kertas berbentuk lembaran berserat kasar yang terbuat dari daun Papyrus, sejenis daun alang-alang ini tumbuh di tepi sungai Nil. Sehingga masyarakat yang berada di sekitar sungai Nil biasanya membuat tulisan-tulisan itu berupa gulungan.

Bertahun-tahun kemudian seiring perjalanan waktu pada awal abad pertengahan Papyrus kemudian diganti dengan codek (lembaran kulit domba terlipat yang dilindungi kulit kayu). Karena masyarakat merasa kerepotan jika harus menggulung Papyrus dalam ukuran yang panjang dan memerlukan tempat yang besar untuk menyimpannya. Kemudian buku kuno dari Papyrus diganti menjadi perkamen (kertas kulit), yang mendapat inspirasi dari kulit domba yang disamak. Kulit yang telah dibentangkan itu disusun berlipat, disalah satu sisi lipatan dijepit menggunakan kulit. Karena bahan dasarnya kulit Perkamen lebih kuat dan mudah dipotong serta dilipat sehingga lebih mudah digunakan, inilah yang menjadi cikal awal sebuah buku yang dijilid.

Di Indonesia sendiri, pada zaman dahulu tulisan di abadikan pada sebuah kepingan-kepingan batu (prasasti). Misalnya prasasti Muara Kaman yang terletak di tepi sungai Mahakam berisi sejarah kerajaan Kutai, dibuat sekitar 400 M. Kalau di Yogyakarya prasasti Kalasan ditulis tahun 778 M, memuat tentang kerajaan Mataram Hindu, saat itu dipimpin oleh Raja Rakai Panangkaran. Selain prasasti buku kuno umumnya juga ditulis di atas daun lontar yang kemudian dijilid hingga membentuk sebuah buku.

Ts’ai Lun berasal dari Cina melahirkan era baru dengan di temukannya kertas sebagai wadah mengabadikan tulisan. Kemudian ditemukan mesin cetak mengikuti perkembangn selanjutnya. Perkembangan pencetakan mengalami perubahan yang signifikan, demikian juga perkembangan teknologi semakin canggih mendukung kemudahan  pencetakan buku. Dalam waktu yang relatif singkat mesin offset yang besar dapat mencetak buku dengan jumlah ribuan eksemplar. Semua serba canggih sehingga pemotongan kertas tidak menggunakan gunting lagi tetapi menggunakan mesin pemotong kertas.

Dengan menjamurnya pernerbit dan percetakan meramaikan dunia perbukuan, tidak kalah juga persaingan penerbit dan percetakan media massa baik koran lokal maupun nasional. Dengan berbagai cover yang menarik dan berita yang selalu hangat membuat budaya membaca pada masyarakat semakin meningkat.

Perkembangan bidang informatika dikenal buku elektronik biasa disebut dengan e-book atau buku digital. Jika buku pada umumnya berupa lembaran kertas yang dijilid, maka buku elektronik memuat informasi digital berupa file/softcopy. E-book ini bisa di buka di laptop, netbook, tablet maupun android. Tanpa harus membawa setumpuk kertas yang berat maka buku elektronik yang berformat pdf, txt, jpeg, doc maupun html itu pun dapat di nikmati pada android kesayangan. Namun demikian meskipun sudah ada e-book buku tetap mempunyai peranan penting dalam era perkembangan zaman.

Sedikit cerita menarik tentang siswa yang hoby membaca buku. Siswa saya adalah seorang anak difabel, dengan gangguan motorik kasar mengalami kesulitan menulis maupun kegiatan fisik. Meskipun dia memiliki kekurangan semangatnya luar biasa dia suka membaca buku, searching, ngeblog maupun blogwalking. Ketika di dalam kelas dia merasa jenuh maka segera menuju perpustakaan membaca buku, dari novel sampai buku teknologi dia nikmati berjam-jam. Jika tidak keperpustakaan maka dia mencari saya ke ruang guru, dan biasanya saya memberinya kegiatan membaca buku yang tersedia di rak kantor. Belum pernah ada siswa regular yang ke kantor guru mau dan dengan senang hati membaca buku kecuali siswa difabel kami yang istimewa ini.

Seorang anak difabel yang memiliki kekurangan secara fisik saja mampu meningkatkan budaya membaca buku, bagaimana dengan kita yang notabene memiliki fisik sempurna tidak ada kesulitan dalam beraktifitas fisik maupun intelegensi. Mestinya kita juga tertantang demi meningkatnya peradaban manusia.

Sebagai tenaga pengajar saya berharap buku yang merupakan salah satu media yang dapat mencerdaskan bangsa semakin dapat meningkatkan kualitas naskah dan yang tidak kalah pentingnya adalah harga terjangkau oleh saku masyarakat. Mari tingkatkan budaya membaca pada diri kita dan anak-anak bangsa, agar dapat merubah struktur sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi lebih maju merubah peradapan kuno menjadi peradaban modern yang cerdas.

Suasana perpustakaan SD Muh Sapen

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Opini Majalah Mentari Bulan 6 Tahun 2013, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Indonesia Cerdas dengan Membaca Buku
Jurnalis Jamaah
Jamaah Muhammadiyah (pimpinan, anggota, simpatisan dan pegawai) yang mengirim artikel dan berita ke redaksi Majalah Mentari dan PDMJOGJA.ORG. Artikel dan berita ini ditulis oleh penulis lepas / kontributor tidak tetap | Artikel dan berita yang ditulis adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi. Untuk mengirim tulisan silahkan kunjungi link berikut : pdmjogja.org/kirim-tulisan/.

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...