Independensi Mubaligh Muhammadiyah

Gambar Independensi Mubaligh Muhammadiyah
Margianto, S.Ag, MA
Majelis Tabligh PDM Kota Yogyakarta, Korps Mubaligh Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Mubaligh/مبلغ memiliki arti  penyampai atau orang yang menyampaikan atau biasa disebut sebagai juru dakwah. Dalam  perkembangan selanjutnya mubaligh menjadi suatu istilah yang mengacu kepada seseorang yang tugas pokoknya menyampaikan ajaran Islam dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Dalam tradisi Islam di Indonesia sebutan Mubaligh diidentikan dengan istilah Kyai, Syeikh, Ustadz dan Da’i karena tugas dan fungsi pokoknya sama yakni sebagai juru dakwah. Pada awal Islam Mubaligh atau juru dakwah ini diemban oleh para rasul seperti firman Allah swt :

يَأَيهَا الرَّسولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْك مِن رَّبِّك وَ إِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْت رِسالَتَهُ وَ اللَّهُ يَعْصِمُك مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا يهْدِى الْقَوْمَ الْكَفِرِينَ‏

Artinya  : “Wahai Rasul, sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika kamu tidak melakukan berarti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah menjagamu dari bahaya manusia, sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (Qs. Al Maidah : 57).

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

Artinya  : “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat” (HR. Bukhari, Tirmidzi, Ahmad, Darimi).

Muhammadiyah  sebagai gerakan Islam dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar maka Muhammadiyah memerlukan seorang Mubaligh yang mampu melaksanakan amanah persyarikatan. Seiring dengan perkembangan masyrakat yang semakin maju maka tantangan yang dihadapi oleh para Mubaligh Muhammahadiyah tidaklah semakin ringan melainkan semakin berat, besar dan komplek. Dikatakan berat karena tugas tersebut memerlukan berbagai daya dan upaya serta kemampuan dan usaha sungguh-sungguh untuk melaksanakanya. Sedangkan dikatakan besar dilihat dari segi cakupannya  yang menjangkau semua sektor kehidupan. Dan dikatakan komplek karena satu masalah dengan yang lainya yang dihadapi masyarakat saling memiliki keterkaitan. Dalam mengemban amanat allah yakni berdakwah untuk umat maka Mubaligh Muhammadiyah harus memiliki kecakapan dan keluhuran budi pekerti karena mubaligh akan menjadi figur dan teladan baik  dalam hal bersikap, bertindak, berfikir atau dalam hal beribadah dan mengambil keputusan.  Mubaligh Muhammadiyah harus bisa sebagai agen perubahan sosial ( agent of social change) di masyarakat. Oleh karenaya Mubaligh Muhammadiyah harus membebaskan dirinya dari berbagai tekanan pihak luar termasuk tekanan partai politik serta tidak boleh berpihak dengan siapapun kecuali berpihak terhadap kebenaran. Inilah yang disebut dengan istilah Independensi Mubaligh Muhammadiyah. Hal ini penting untuk dijaga  karena dalam menjalankan dakwahnya para mubaligh dituntut agar dakwahnya senantiasa mengarah kepada hal-hal yang positif dan tidak memecah belah umat

Meskipun demikian dalam pandangan Muhammadiyah, sesungguhnya ada hubungan organis antara dakwah dan politik. Dalam banyak hal kelancaran dakwah dan syiar Islam ditentukan oleh payung politik yang ada. Dengan demikian politik bagi Muhammadiyah tidak lain sebagai instrumen penting yang strategis dari dakwah islam amar ma’ruf nahi munkar dalam mewujudkan transformasi sosial kehidupan umat dan bangsa. (Prof. DR. HM. Amien Rais : Moralitas Politik Muhammadiyah).

Era sekarang muncul fenomena bahwa seorang mubaligh aktif atau  terjun ke dalam politik praktis (parpol) . Upaya menggalang masa dan dukungan politik maka sudah tidak heran partai politik atau elit politik tertentu menggandeng seorang mubaigh terlebih menjelang pesta domokrasi seperti pemilihan presiden, pemilihan kepala daerah baik gubernur maupun walikota dan bupati. Mubaligh biasanya dijadikan alat politik untuk kampanye. Hal ini dilakukan karena mubaligh dengan kemampuan verbalnya yakni keahlian berbicara serta memiliki kharismatik dan jamaah  dinilai mampu mempengaruhi masa dan mampu meningkatkan dukungan masyarakat terhadap parpol tertentu. Fenomena semacam ini jelas mengundang sejumlah kritik dan tanggapan. Jika mubaligh berpolitik praktis, apalagi sampai membentuk partai berbasis islam, identitas dan fungsinya menjadi hilang. Sebab, yang namanya politik praktis selalu berorientasi kepada kekuasaan. Mubaligh  yang masuk ke dalam partai politik, maka identitasnya sudah bukan lagi sebagai “tempat bertanya” (ahlu adz-dzikr) bagi umat. Fungsinya pun berubah menjadi “Mubaligh Partisan”.

Padahal sesungguhnya peran dan fungsi mubaligh lebih luas dari sekedar mengurusi persoalan-persoalan keagamaan. Peran dan fungsi mubaligh ialah sebagai tempat bertanya (ahlu adz-dzikr) bagi umat untuk menyelesaikan persoalan-persoalan duniawi dan ukhrawi. Di sinilah mubaligh menjalankan fungsinya lewat proses penyadaran, bimbingan, dan peneguhan. Dalam posisi seperti ini, Mubaligh Muhammadiyah harus netral dan menempatkan diri di tengah-tengah umat.

Padahal sesungguhnya peran dan fungsi mubaligh lebih luas dari sekedar mengurusi persoalan-persoalan keagamaan
Padahal sesungguhnya peran dan fungsi mubaligh lebih luas dari sekedar mengurusi persoalan-persoalan keagamaan

Dengan demikian, adalah sebuah tantangan berat bagi Mubaligh Muhammadiyah ketika memasuki dunia politik praktis (kekuasaan). Terdapat beberapa konsekuensi yang harus dipikul  Pertama, seorang Mubaligh Muhammadiyah yang terlibat dalam politik praktis dikhawatirkan bakal memanfaatkan agama sebagai legitimasi politik. Yang demikian jelas cukup riskan bagi umat Islam sendiri. Kedua, Mubaligh Muhammadiyah harus tunduk kepada kebijakan partai. Inilah yang kemudian mengubah posisi seorang Mubaligh Muhammadiyah  dari sikap netral menjadi partisan. Mubaligh Muhammadiyah  sudah bukan menjadi milik umat, tetapi milik partai politik tertentu. Ketiga, dalam dunia politik terkait dengan prinsip-prinsip moral yang sering diabaikan. Kalkulasi-kalkulasi politik sering mengaburkan komitmen seseorang. Seorang  Mubaligh Muhammadiyah yang terlibat dalam politik praktis, komitmennya sering menjadi tidak jelas. Integritas-moralnya pun jadi buram dan kabur .Di samping itu, keterlibatan para Mubaligh Muhammadiyah ke dalam politik praktis juga mencerminkan bahwa mereka telah kehilangan identitas dan jati diri. Sebab, para Mubaligh Muhammadiyah yang terlibat di partai politik sudah menjadi milik partai, bukan milik umat secara keseluruhan. Identitas mereka pun sudah menjadi Mubaligh Partisan. Sementara jati diri mubaligh sebagai ahlu adz-dzikr bagi umat sudah hilang. Mubaligh Muhammadiyah  yang terlibat politik praktis sudah tidak lagi melakukan proses penyadaran, bimbingan, dan peneguhan, tetapi malah melakukan pembodohan dan memecah-belah umat.

Keempat : Mubaligh Muhammadiyah yang terjun dan terlibat politik prkatis berpotensi ditinggalkan jamaahnya ketika berdakwah di masyarakat yang memiliki kecenderungan basis politik yang berbeda meskipun memiliki kesamaan organisasi Muhammadiyah, karena tidak bisa dipungkiri bahwa warga Muhammadiyah memiliki pilihan parpol yang berbeda. Dakwah merupakan usaha untuk menciptakan situasi yang lebih baik sesuai dengan ajaran-ajaran Islam di semua bidang kehidupan. Oleh karenanya dakwah pada intinya adalah amar ma’ruf nahi munkar yakni ajakan atau panggilan yang diarahkan pada masyarakat luas umtuk menerima kebaikan dan meninggalkan keburukan. Selain itu dakwah juga bertujuan untuk mengajak masyarakat agar mampu melaksanakan ajaran Islam dengan baik demi keharmonisan dan kerukunan hidup di dunia serta kebaikan hidup di akhirat, namun ini tidak dapat terwujud manakala mubaligh mendapatkan penolakan atau tidak diterima di tengah masyarakat.

Dalam dakwah politik, hubungan antara mubaligh dengan umatnya berubah bentuk menjadi hubungan seorang aktor politik dengan para fansnya. Kritik-kritik mereka kepada pemerintah kentara sekali hanya bertujuan untuk menaikkan posisi tawar politik. Sedangkan yang duduk didalam kekuasaan, tak ayal lagi membuat mereka menjadi kelompok ustadz eksklusif. Mubaligh Muhammadiyah seyogyanya  tetap menjadi kekuatan moral dan juru dakwah yang konsisten di tengah masyarakat serta mampu menjaga independensinya dengan politik praktis. Sebab, dunia politik itu penuh dengan intrik, di samping memang dapat mendatangkan materi yang amat menggiurkan. Tetapi, peran dan fungsi mubaligh harus selalu netral agar umat tidak terpecah-belah.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tabligh Majalah Mentari Bulan 10 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...