Ikhtiar Sinergis dalam Pembinaan Muballigh Muhammadiyah

Surahmat An-Nashih, S.Ag
Oleh : Surahmat An-Nashih, S.Ag (Korps Muballigh Muhammadiyah Kota Yogyakarta)

Hadits ballighuu ‘anniy walaw aayah cukup menegaskan bahwa setiap muslim adalah muballigh. Bahkan menjelaskan betapa menjadi muballigh itu tidak rumit, cukup ber-tabligh (menyampaikan ajaran Islam) sesuai dengan kemampuan. Artinya, seseorang hanya berkewajiban ber-tabligh sebatas kompetensinya. Maka generalisasi dan spesialisasi menjadi sangat wajar dalam dunia tabligh. Ada muballigh yang kompetensinya meliputi banyak bidang, namun ada pula yang terbatas pada satu atau beberapa bidang. Maka hadits riwayat Al-Bukhari tersebut cukup men-dalil-kan wajibnya seorang muslim menjadi muballigh.

Wajibnya menjadi muballigh tidak perlu diragukan. Bila melihat isim amr hadits tersebut maka ber-tabligh hukumnya wajib. Ketika seseorang menjalankan kewajiban itu maka otomatis ia sedang menjadi muballigh, ia adalah muballigh. Hanya saja dari tinjauan profesi wajibnya ber-tabligh bersifat fardhu kifayah, sebab tidak setiap mukallaf memenuhi “syarat” dalam mengemban taklif ber-tabligh. Syarat bertabligh lebih bersifat metodologis, strategis dan teknis yang bertumpu pada: (1) kepribadian, (2) keilmuan dan (3) skill. Maka persyaratan tersebut bersifat longgar dan relatif. Siapapun berpeluang (besar) menjadi muballigh. Kalaupun ada yang membuat semacam kriteria dan tipologi (misalnya: dari tinjauan kapasitas keilmuan, spesifikasi, keahlian dll) tetap saja setiap orang akan masuk pada salah satu kelas. Kelas apapun itu, toh dia adalah muballigh, bukan?

Dalam konteks ber-Muhammadiyah, maka setiap orang Muhammadiyah (pimpinan, aktivis dan kader bahkan warga Muhammadiyah umumnya) adalah muballigh. Dalam barisan gerakan da’wah Islam, amar ma’ruf nahyi munkar sangat tidak benar kalau orang Muhammadiyah tidak merasa menjadi muballigh. Yang dibenarkan adalah jika seseorang membatasi (karena menyadari) dirinya sesuai kemampuannya. Sangat benar sikap seseorang yang tidak sanggup untuk ber-tabligh di suatu jama’ah karena ia menyadari kualitas,  kompetensi dan kapasitasnya. Sangat lebih benar sikap seorang muballigh yang menyadari bahwa dirinya bukan hanya membawa citra pribadi melainkan juga citra persyarikatan. Inilah kesadaran yang tidak “membunuh” diri pribadi dan persyarikatan. Inilah mental berkemajuan.

Dalam konteks ber-Muhammadiyah, maka setiap orang Muhammadiyah adalah muballigh
Dalam konteks ber-Muhammadiyah, maka setiap orang Muhammadiyah adalah muballigh

Menyuarakan Muhammadiyah adalah tanggung jawab setiap muballigh Muhammadiyah. Artinya, eksistensi dan tercapainya tujuan Muhammadiyah juga tergantung pada suara para muballighnya. Da’wah dan tabligh yang mereka sebarluaskan (seharusnya) identik dengn Muhammadiyah itu sendiri. Contoh kecil misalnya ketika menjawab persoalan fiqhiyah, seorang muballigh Muhammadiyah berkewajiban memberi jawaban yang jelas ke-Muhammadiyahannya. Jika ada beberapa pendapat dalam suatu masalah, ia boleh menyampaikan sejumlah pendapat atau fatwa dari luar Muhammadiyah namun itu sebatas memberi pengayaan dan pendewasaan wawasan saja, sedangkan misi amaliah yang disuntikkannya adalah produk Muhammadiyah. Maka disini dibutuhkan kesadaran setiap muballigh untuk terus belajar dan membekali diri dengan ilmu dan skill berda’wah.

Tarjih dan Tabligh

Tanpa mengesampingkan yang lain, tarjih adalah spirit inti dari aktifitas tabligh Muhammadiyah. Pun tanpa mengesampingkan aspek yang lain, manhaj tarjih dan produk majelisnya sangat mengental di masyarakat. Maksud mengental di sini adalah bahwa manhaj tersebut menjadi ciri dan cara membedakan mana yang Muhammadiyah dan mana yang bukan, mana muballigh yang sudah bergaya Muhammadiyah dan mana yang masih harus menyelaraskan gayanya. Contoh mudahnya adalah dalam hal tuntunan ibadah mahdhah, Muhammadiyah tidak terikat oleh madzhab tertentu. Berbeda dengan  “kelompok” lain yang menganut madzhab tertentu, mereka dikenal sebagai “suatu kelompok yang menganut madzhab tertentu”. Muhammadiyah adalah persyarikatan yang tidak menganut madzhab tertentu, terlepas dari sebuah “candaan” bahwa Muhammadiyah itu bermadzhab tarjih.

Kertarjihan dan ketablighan sudah seharusnya menjiwa di dalam diri orang Muhammadiyah alias muballigh Muhammadiyah. Menjiwa dalam arti berproses dari waktu ke waktu. Dalam hal ini kecepatan dan percepatan setiap orang memang berbeda. Yang pasti harus terus berproses. Berbagai faktor dan aspek yang mempercepat proses tersebut harus dipentingkan. Sinergitas yang terbangun antar bagian dalam tubuh persyarikatan harus diharap dan syukuri sebagai karunia besar bagi proses tadi, yakni proses menjiwanya ketarjihan dan ketablighan dalam diri orang Muhammadiyah, secara personal dan komunal.

Sebagai ikhtiar menggapai karunia besar itu maka – secara formal organisastoris –  penguatan sinergitas Majelis Tarjih dan Majelis Tabligh harus lestari. Artinya, sinkronisasi dan sosialisasi kajian ketarjihan menjadi bagian tak terpisahkan dari kedua majelis. Keterpaduan keduanya harus dirintis dan dikembangkan, baik secara non formal maupun seremonial. Pokoke sinergitasnya kental.

Pembinaan Ketarjihan dan Ketablighan

Masih dalam konteks menjiwa atau berproses, pembinaan ketarjihan dan ketablighan sangat penting diefektifkan. Realisasinya misalnya dengan metode pengkajian dan pelatihan. Yang dimaksud pengkajian disini tidak harus dimaknai kajian ilmiah yang sangat akademis, yang bisa jadi “sulit dinakmati” oleh para muballigh “ballighuu ‘anniy walaw aayah”, melainkan pengajian yang menginovasi metododologi pengkajian. Hal ini terkait target jumlah jama’ah muballigh yang akan direngkuh. Mengapa harus jumlah? Sebab Muhammadiayh ini besar, tuntutan umat (termasuk di bidang tabligh) juga sangat besar, maka kita dituntut dan dituntun untuk menyediakan SDM dalam jumlah yang sangat besar. Selanjutnya pelatihan, disini lebih ditekankan pada skill bertabligh. Misalnya tentang retorika da’wah, yakni mengaplikasikan seni berbicara di depan publik dalam komunikasi da’wah. Harus diakui bahwa jumlah muballigh Muhammadiyah yang retorikanya menawan masih harus selalu ditingkatkan (untuk tidak psimis dengan menyebut masih kurang).

Dalam konteks PDM Kota Yogyakarta, Majelis Tabligh – yang sebagian lingkup programnya adalah pembentukan dan pembinaan KMM (Korps Muballih Muhammadiyah) – pada bulan Sya’ban yang lalu telah melaunching KMM dengan dua program unggulannya yakni: (1) Pesantren Kader Muballigh (PKM yang bersinergi dan berkolaborasi dengan PDPM Kota Yogyakarta dan (2) Layanan Muballigh Jaga (LMJ). Alhamdulillah kedua program tersebut segera dilaksanakan. Terkait dengan pembinaan – yakni pembinaan ketablighan dan ketarjihan – sudah saatnya difokuskan pada kedua program unggulan tersebut. Sasarannya adalah para santri PKM dan para muballigh LMJ.

Pembinaan yang fokus pada pengkajian dan pelatihan sangat relevan bagi pemberdayaan muballigh, terlebih santri PKM dan muballigh LMJ. Dari sudut pandang PKM, kurikulum yang hanya satu semester (sesuai hasil kajian yang diselenggarakan Majelis Tabligh PDM Kota Yogyakarta periode yang lalu, di Kaliurang), masa pendidikan enam bulan dan tatap muka sepekan sekali sangatlah pas-pasan untuk membekali para santri dengan ilmu banyak, luas dan mendalam. Otomatis dan wajar jika kelak para alumni PKM disediakan ruang bagi pengayaan ilmu dan keterampilan berda’wah. Kemudian dari sudut pandang LMJ, para muballigh yang direkrut baru dalam tahap mau dan belum memasuki tahap mampu. Penting dijelaskan bahwa: (1) tahap mau artinya tahap awal menyatakan sanggup, yakni: mengisi biodata, resmi menjadi anggota LMJ dan langsung melayani umat, dan (2) tahap mampu artinya tahap kualifikasi kemampuan, yakni: para muballigh memasuki tahap pembinaan (pengkajian dan pelatihan) sampai akhirnya dapat memahami kompetensi dan kualitas diri demi memberikan pelayanan prima kepada umat. Maka sampai di sini  sinergitas antar bagian – utamanya Majelis Tarjih dan Majelis Tabligh – dalam mengupayakan dan mewujudkan pembinaan yang efektif sangatlah relevan bagi para kader dan muballigh Muhammadiyah demi menanggung, menjawab, melayani dan memberikan solusi bermanfaat bagi kebutuhan umat. Nasrun minallah.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tabligh Majalah Mentari Bulan 9 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait