Hukum Wanita Mengikuti Shalat Jum’at

Gambar Hukum Wanita Mengikuti Shalat Jum’at
Wahyu Wijayanta, S.Sy, S.Pd.I
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta periode 2010 - 2015

PERTANYAAN : Bagaiman hukum shalat jum’at bagi wanita dan apakah harus shalat dhuhur lagi bila telah mengikuti shalat jum’at ?

Di sekolah-sekolah Muhammadiyah dijumpai ibu guru, karyawan dan siswa putri tidak pernah mengikuti ibadah shalat jum’at, karena pemahaman umum di masyarakat bahwa shalat jum’at itu wajib hanya bagi laki-laki, sedangkan bagi wanita tidak ada kewajiban. Untuk menjawab pertanyaan di atas, perlu kita kemukakan beberapa dalil yang dapat dijadikan dasar di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Firman Allah SWT :

يَآأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. (الجمعة : 9)

Artinya : Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. al-Jumu’ah / 62 : 9).

2. Hadits Nabi saw :

عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوْ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ. (رواه أبو داود)

Artinya : Diriwayatkan dari Thariq ibn Syihab, diriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda: Shalat Jum’at wajib bagi setiap orang Muslim dengan berjamaah, kecuali empat golongan; hamba sahaya, perempuan, anak-anak dan orang sakit.” (HR. Abu Dawud).

عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوْ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ. (رواه البيهقي)

Artinya : Diriwayatkan dari Abu Musa, diriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda: Shalat Jum’at wajib bagi setiap orang Muslim dengan berjamaah, kecuali empat golongan; hamba sahaya, perempuan, anak-anak dan orang sakit.” (HR. al-Baihaqi).

عَنْ عُمَرَ قَالَ صَلاَةُ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَانِ وَالْفِطْرِ رَكْعَتَانِ وَالنَّحْرِ رَكْعَتَانِ وَالسَّفَرِ رَكْعَتَانِ تَمَامٌ غَيْرُ قَصْرٍ عَلَى لِسَانِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه أبو داود و النسائي وابن ماجه)

Artinya : Diriwayatkan dari Umar r.a., ia berkata: Shalat Jum’at itu dua rakaat, shalat Idul Fitri itu dua rakaat, shalat Idul Adhla itu dua rakaat, dan shalat safar itu dua rakaat, sempurna tanpa dipendekkan, sesuai dengan perkataan Nabi saw.” (HR. Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Mengenai hukum wanita melakukan shalat jum’at terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama, ada yang mewajibkan bagi wanita untuk melakukan shalat jum’at, ada pula pendapat yang tidak mewajibkan. Pendapat yang mewajibkan wanita shalat jum’at berdasarkan pada keumuman perintah Allah swt dalam surat al-jumu’ah ayat 9. Pendapat yang mewajibkan shalat jum’at bagi wanita dapat kita jumpai dua pendapat, yaitu :

  1. Pendapat pertama menyatakan bahwa shalat Jum’at bagi perempuan hukumnya wajib mukhayyar, berdasarkan hadits hadits riwayat Abu Dawud dari Thariq ibn Syihab dan hadits riwayat al-Baihaqi dari Abu Musa al-Asy‘ari.
  2. Pendapat kedua, menyatakan wajib ‘ain, berdasarkan keumuman surat Al-Jumu’ah ayat 9 dan hadits riwayat Abu Dawud, Abu Ya’la, an-Nasai, dan Ibnu Majah dari Shahabat Umar ibn Al-Khathab. Serta menganggap hadits riwayat Abu Dawud dari Thariq ibn Syihab dan hadits riwayat al-Baihaqi dari Abu Musa al-Asy‘ari tentang pengecualian shalat Jum’at atas perempuan dianggap dha’if.

Hasil Muktamar Tarjih dalam buku tanya jawab agama 1, pada halaman 62 dinyatakan telah menerima hadits riwayat Abu Dawud dari Thariq ibn Syihab dan hadits riwayat al-Baihaqi dari Abu Musa al-Asy‘ari tentang pengecualian wanita tidak wajib shalat jum’at telah diterima sebagai istidlal, karena menurut An-Nawawy, hadits tersebut sanadnya shahih berdasar syarah Bukhari Muslim. Sehingga dikalangan muhammadiyah, wanita tidak wajib melaksanakan shalat jum’at. Tetapi bila kaum wanita melakukan shalat jum’at bersama jama’ah laki-laki, Muhammadiyah membolehkan selama tidak membawa dampak negatif, bahkan dapat membawa dampak positif seperti terdapat dalam SM No. 13 tahun 1987. Juga hadits yang membolehkan wanita melakukan shalat jum’at diperkuat dalam hadits mauquf dengan ditakhrij oleh Ibnu Syaibah dengan isnad yang shahih.

Kemudian, bagi wanita yang telah melakukan shalat jum’at, tidak wajib lagi melakukan shalat dhuhur empat rakaat, sebaliknya bila wanita tidak melakukan shalat jum’at dikembalikan pada hukum asal, karena sebelum diwajibkan shalat jum’at, shalat dhuhurlah yang diwajibkan bagi wanita.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita kemukakan sebagai berikut :

  1. Muhammadiyah masih memegang pendapat yang mengatakan bahwa wanita tidak wajib melakukan shalat jum’at berdasar hadits riwayat Abu Dawud dari Thariq ibn Syihab dan hadits riwayat al-Baihaqi dari Abu Musa al-Asy‘ari.
  2. Bagi wanita pada umumnya, atau ibu-ibu guru dan karyawan serta siswa wanita di sekolah-sekolah Muhammadiyah, bila melakukan shalat jum’at dibolehkan selama tidak membawa dampak negatif, bahkan dapat membawa dampak positif seperti terdapat dalam SM No. 13 tahun 1987. Juga hadits yang membolehkan wanita melakukan shalat jum’at diperkuat dalam hadits mauquf dengan ditakhrij oleh Ibnu Syaibah dengan isnad yang shahih.
  3. Bagi wanita yang telah melakukan shalat jum’at, tidak wajib lagi melakukan shalat dhuhur empat rakaat, sebaliknya bila wanita tidak melakukan shalat jum’at dikembalikan pada hukum asal, karena sebelum diwajibkan shalat jum’at, shalat dhuhurlah yang diwajibkan bagi wanita.
Makmum wanita dalam shalat jamaah
Mengenai hukum wanita melakukan shalat jum’at terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tarjih Majalah Mentari Bulan 4 Tahun 2014, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...