Hambatan dan Tantangan Pengelolaan Z.I.S di Indonesia

Di perjalanannya pengelolaan zakat di Indonesia belum maksimal ditandai dengan masih tingginya angka kemiskinan di umat islam itu sendiri. Idealnya jumlah umat islam yang mayopritas dapat menjadi kekuatan untuk melakukan perubahan di bidang ekonomi yang berhubungan langsung dengan kesejahteraan umat. Ini semua dikarenakan terkandala beberapa hal. Diantaranya :

Pertama, beberapa aturan fiqh zakat jikalau diterapkan dalam konteks kekinian akan mencerminkan hilangnya spirit social dan ekonomi. Contoihnya adalah aturan nisab. Dizaman Nabi nisab itu menggunakan sapi (30 ekor) sama dengan nisab kambing (40 ekor) dan emas (20 dinar), dan kalau dihitung dengan asumsi 1 ekor sapi = Rp. 5.000.000 maka nilai nisabnya sebesar Rp. 150.000.000 sana juga dengan 1 kambing = Rp. 800.000 maka nilai nisabnya sebesar Rp. 32.000.000 itu yang harus dibebankan kepeada perternak . Juga diasumsikan nisab harta pedagangan sama dengan nisab emas 85 g menurut Yusuf Qordowi 1 g emas sama dengan Rp. 100.000 berarti ia harus membayar zakat sebesar 2,5 % dari 85 g berarti senilai Rp 8.500.000.

Kedua, SDM yang kurang memadai. Rendahnya SDM menjadi pengaruh kurang maksimalnya penghimpunan dan pentasyarufan zakat. Terihat beberapa aspek :

  1. Program kerja yang kurang bersinergi dengan umat.
  2. Rendahnya kepercayaan muzakki hingga penghimpunan zakat belum maksimal.
  3. Pentasyarufan zakat yang masih jauh dari sasaran pengentasan kemiskinan.
  4. Rendahnya kepercayaan masyarakat kepada lembaga pengelola zakat , umumnya masyarakat mengeluarkan zakatnya bukan kepada tokoh agama, tokoh masyarakat dan lainnya. Dikarenakan pentasyarufannya belum seusai dengen ketentuan.
  5. Kurangnya dana operasional karena keterbatasan itulah mengakibatkan belumoptimalnya pelaksanaan kegiatan sehingga belum terealisasi dengan baik.
  6. Belum adanya data muzakki dan mustahiq yang akurat sehingga berakibat belum efektifnya penghimpunan dan pentasyarufan zakat.
  7. Belum dibuatnya laporan sebagai pertangungjawaban atas evaluasi pelaksanaan program agar dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengukur keberhasilan dan kekurangan organisasi. KEmudian juga berakinat dengan lemahnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga zakat.

Ketiga, kondisi antar elemen pengelola zakat yang masih lemah.Kita asumsikan sebagai tim sepakbola maka setiap lembaga pengelola zakat memiliki wilayah kerja masing – masing akan tetapi menuju satu titik yang sama yaitu membangun kesejahteraan umat. Ada beberapa poin yang harus dijadikan tema antar lembaga pengelol zakat, yaitu :

  1. Program Kerja : Idealnya secara hirarki LAZISMU provinsi sampai kabupaten / kota harus bisa mengatasi problematika kemiskinan dengan segera.
  2. Pengumpulan / penghimpunan dana zakat : pengumpulan / penghimpunan dana zakat menjadi tema yang mendesak untuk dikoordinasikan dengan LAZISMU. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan potensi zakat di masyarakat.
  3. Pendayagunaan / pentasyarufan dana zakat : Keberhasilan pendayagunaan / pentasyarufan dana zakat ditentukan oleh pembagian wilayah kerja antar LAZISMU begitu juga dengan LAZISMU dalam memberdayakan masyarakat bertujuan agar dana zakat dapat diserap oleh berbagai lapisan masyarakat yang membutuhkannya.

Keempat, Masih belum maksimalnya Undang – Undang Zakat. Contoh saja, undang – undang zakat belum mengatur sanksi bagi orang yang tidak menunaikan zakat, persoalan harta yang kena zakat masih menjadi persoalan tersendiri. Mengacu pada aturan fiqh klasik maka harta yang wajib dizakati adalah hanya logam mulia, ternak, pertanian, perniagaan, barang tambang, dan barang temuan. Padahal dimasa kini banyak sekali sumber – sumber penghasilan baik itu diluar 7 sektor tersebut seperti dunia industri bisnis jasa dan lainnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait