Gerakan Menghormati Lansia di Muhammadiyah

Gambar Gerakan Menghormati Lansia di Muhammadiyah
H Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Selaku Ketua Takmir, saya bersama pengurus Takmir yang lain pernah menginisiasi suatu bentuk Masjid Ramah Lansia sehingga pada tanggal 27 Juni 2014 diresmikanlah Masjid kami menjadi Masjid Ramah Lansia yang prasasti peresmiannya oleh pemerintah setempat masih terpasang di dinding Masjid. Kriteria yang kami digunakan untuk menggolongkan sebuah masjid itu ramah lansia atau tidak ada empat hal, yaitu: 1) Fasilitas, yaitu adanya fasilitas yang men­dukung kemudahan lansia menjalankan aktivitas di masjid; 2) Edukasi, yaitu adanya pendidikan kepada ja­maah yang memberi kesadaran pentingnya pember­dayaan atau penyantunan lansia; 3) Partisipasi, yaitu ada­nya partisipasi aktif dari para lansia jamaah dalam berbagai kegiatan Masjid; 4) Subsidi, yaitu adanya anggaran yang dialokasikan untuk penyantunan kaum lansia yang tinggal di sekitar Masjid, baik yang aktif seba­gai jamaah maupun yang tidak bisa aktif karena sesuatu hal yang menyulitkan mereka untuk aktif.

Gagasan masjid ramah lansia tersebut berangkat dari kesadaran perlunya setiap masjid melayani kebutuhan seluruh jamaahnya dari seluruh kalangan, termasuk kalangan lansia. Tentu saja gagasan masjid ramah lansia tersebut bukan untuk memprioritaskan jamaah yang lansia saja, tapi tetap dalam kerangka pemberdayaan seluruh jamaah. Pemilihan tema ramah lansia adalah untuk memberi kemudahan jamaah lansia, yang memiliki hambatan ke masjid, untuk tetap selalu datang ke masjid karena keutamaan sholat berjamaah di masjid. Bahkan seorang buta pun disuruh oleh Rasulullah untuk tetap sholat di masjid.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, “Seorang buta pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berujar, “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat di rumah, maka beliaupun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu beranjak pulang, beliau kembali bertanya, “Apakah engkau mendengar panggilan shalat (azan)?” laki-laki itu menjawab, “Ia.” Beliau bersabda, “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah shalat).” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ancaman kepada laki-laki yang tidak shalat berjamaah di masjid dengan membakar rumah mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hal pentingnya sholat berjamaah di masjid tersebut seharusnya ditangkap sebagai perintah untuk memberikan fasilitas yang memudahkan jamaah datang ke masjid. Untuk bisa melayani semua, maka takmir masjid perlu mengenal karakter jamaahnya sehingga kemudian secara ber­tahap bisa meningkatkan pelayanan pada seluruh ja­maahnya dari berbagai lapis usia, sosial, dan latar be­lakang pendidikan. Segala karakter jamaah harus dilayani agar bisa datang ke masjid, terutama mereka yang memiliki kendala-kendala fisik seperti halnya para lansia.

Pelayanan terhadap jamaah berkebutuhan khusus merupakan hal yang penting untuk diperhatikan oleh para takmir masjid, meski tak jarang menemui kendala-kendala di lapangan. Selain kendala teknis, ternyata ada kendala yang lahir dari pemahaman tertentu tentang pengelolaan Masjid. Salah satunya adalah pemahaman tentang masjid dhirar, yaitu masjid yang umat Islam dilarang sholat di dalamnya sebagaimana disebutkan dalam QS. at-Taubah ayat 107-108. Untuk mengatasi kendala tersebut, ada baiknya kita perlu mengetahui sejarah dan hakikat masjid dhirar itu.

A. Masjid Dhirar dalam Tafsir Ibnu Katsir

Penyebab turunnya ayat 107-108 surah at-Taubah ialah bahwa sebelum kedatangan Nabi Saw. di Madinah terdapat seorang lelaki dari kalangan kabilah Khazraj yang dikenal dengan nama Abu Amir Ar-Rahib. Sejak masa Jahiliah dia telah masuk agama Nasrani dan telah membaca ilmu ahli kitab. Ia melakukan ibadahnya di masa Jahiliah, dan ia mempunyai kedudukan yang sangat terhormat di kalangan kabilah Khazraj.

Ketika Rasulullah Saw. tiba di Madinah untuk berhijrah, lalu orang-orang muslim berkumpul bersamanya, dan kalimah Islam menjadi tinggi serta Allah memenangkannya dalam Perang Badar, maka si terkutuk Abu Amir ini mulai terbakar dan bersikap oposisi serta memusuhi beliau secara terang-terangan. Ia melarikan diri bergabung dengan orang-orang kafir Mekah dari kalangan kaum musyrik Quraisy dan membujuk mereka untuk memerangi Rasulullah Saw.

Maka bergabunglah bersamanya orang-orang dari kalangan Arab Badui yang setuju dengan pendapatnya, lalu mereka datang pada tahun terjadinya Perang Uhud. Maka terjadilah suatu cobaan yang menimpa kaum muslim dalam perang itu. tetapi akibat yang terpuji hanyalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Selesai dari Perang Uhudn Abu Amir melihat perkara Rasulullah Saw. makin bertambah tinggi dan makin muncul. Maka Abu Amir pergi menemui Heraklius—Raja Romawi— untuk meminta pertolongan kepadanya dalam menghadapi Nabi Saw. Kaisar Romawi memberikan janji dan harapan kepadanya, lalu ia bermukim di kerajaan Romawi.

Sesudah itu Abu Amir menulis surat kepada segolongan kaumnya dari kalangan Ansar yang tergabung dalam golongan orang-orang munafik lagi masih ragu kepada Islam. Dia menjanjikan dan memberikan harapan kepada mereka, bahwa kelak dia akan datang kepada mereka dengan membawa pasukan Romawi untuk memerangi Rasulullah Saw. dan mengalahkannya serta menghentikan kegiatannya. Lalu Abu Amir menganjurkan orang-orangnya untuk membuat suatu benteng yang kelak akan dipakai untuk berlindung bagi orang-orang yang datang kepada mereka dari sisinya guna menunaikan ajaran kitabnya. Tempat itu sekaligus akan menjadi tempat pengintaian baginya kelak di masa depan bila ia datang kepada mereka.

Maka orang-orang Abu Amir mulai membangun sebuah masjid yang letaknya berdekatan dengan Masjid Quba. Mereka membangun dan mengukuhkannya, dan mereka baru selesai dari pembangunan masjidnya di saat Rasulullah Saw. hendak pergi ke medan Tabuk. Lalu para pembangunnya datang menghadap Rasulullah Saw. dan memohon kepadanya agar sudi melakukan salat di masjid mereka. Tujuan mereka untuk memperoleh bukti melalui salat Nabi Saw. di dalamnya, sehingga kedudukan masjid itu diakui dan dikuatkan.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar telah meriwayatkan dari Az-Zuhri, Yazid ibnu Rauman, Abdullah ibnu Abu Bakar, Asim ibnu Amr ibnu Qatadah, dan lain-lainnya. Mereka mengatakan bahwa Rasulullah Saw. kembali dari medan Tabuk, lalu turun istirahat di Zu Awan, nama sebuah kampung yang jaraknya setengah hari dari Madinah. Sebelum itu di tempat yang sama para pembangun Masjid Dirar pernah datang kepada Rasulullah Saw. yang saat itu sedang bersiap-siap menuju ke medan Tabuk. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami telah membangun sebuah masjid untuk orang-orang yang uzur dan orang-orang yang miskin di saat malam yang hujan dan malam yang dingin. Dan sesungguhnya kami sangat menginginkan jika engkau datang kepada kami dan melakukan salat di dalam masjid kami serta mendoakan keberkatan bagi kami.” Maka Rasulullah Saw. menjawab melalui sabdanya: Sesungguhnya aku sedang dalam perjalanan dan dalam keadaan sibuk. Atau dengan perkataan lainnya yang semisal. Selanjutnya Rasulullah Saw. bersabda pula: Seandainya kami tiba, insya Allah, kami akan datang kepada kalian dan kami akan melakukan salat padanya untuk memenuhi undangan kalian.

Ketika Rasulullah Saw. sampai di Zu Awan, datanglah berita (wahyu) yang menceritakan perihal masjid tersebut. Lalu Rasulullah Saw. memanggil Malik ibnud Dukhsyum (saudara lelaki Bani Salim ibnu Auf) dan Ma’an ibnu Addi atau saudara lelakinya (yaitu Amir ibnu Addi yang juga saudara lelaki Al-Ajian). Lalu beliau Saw. bersabda: Berangkatlah kamu berdua ke masjid ini yang pemiliknya zalim, dan robohkanlah serta bakarlah masjidnya.

Perintah itu karena sesungguhnya masjid itu dibangun hanyalah semata-mata untuk menyaingi Masjid Quba, hendak menimbulkan kemudaratan, serta karena terdorong oleh kekafiran mereka, dan untuk memecah belah persatuan di antara kaum mukmin; juga menunggu kedatangan orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu, yaitu Abu Amir, seorang fasik yang dijuluki ‘si Rahib la’natullah’. Prof. Hamka tatkala mengulas tafsir Ibnu Katsir ini menyebutkan memberikan kesimpulan bahwa pendirinya mendirikan masjid ini dengan maksud jahat, bukan atas dasar iman, melainkan atas dasar kufur, dan hendak memecah belah (tafriq) di antara muslimun dan untuk tempat mengintip (irshad) gerak-gerik Nabi SAW.

Dengan demikian masjid yang memiliki semangat menyantuni kaum lemah dan para lansia itu bukanlah masjid Dirar. Ciri masjid Dirar ini adalah suka memecah belah kaum muslimin dan digunakan untuk mematai-matai oleh orang munafiq yang menunggu bala bantuan dari luar yang akan menghacurkan jamaah kaum muslimin. Karena itu tidak tepat menggunakan isu masjid Dirar ini untuk tidak mau memberi fasilitas ramah lansia kepada jamaahnya.

B. Gerakan Menghormati Lansia di Muhammadiyah

Sebagaimana telah disebut di depan bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya termasuk dari pengagungan kepada Allah ialah menghormati orang muslim yang sudah beruban (orang lansia).” (HR. Abu Dawud).

Hadits tersebut tentu saja tidak hanya bisa diterjemahkan menjadi usaha untuk membangun Masjid Ramah Lansia saja, tapi bisa direalisasikan dalam bentuk Gerakan Menghormati Lansia. Bentuk Masjid Ramah Lansia hanyalah salah satu saja dari Gerakan Menghormati Lansia yang sesungguhnya sangat penting dalam ajaran Islam. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak mengenal hak orang tua kami maka bukan termasuk golongan kami” (HR. Bukhari)

Perhatikanlah hadits diatas. Betapa besarnya hak orang yang sudah lanjut usia. Betapa tinggi kedudukan mereka. Bahkan, Nabi juga berwasiat : “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak-anak kecil dan tidak menghormati orang-orang tua dari kami.” (HR Tirmidzi)

Sabda Nabi “bukan termasuk golongan kami” menunjukkan bahwa orang yang tidak menghormati orang yang sudah tua maka dia tidak mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berada diatas jalan dan sunnahnya.

Islam begitu menganggap penting penghormatan terhadap Lansia. Salah satu buktinya ialah apa yang dikisahkan dalam riwayat berikut ini:

Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di kota Makkah dan duduk di masjid, Abu Bakar datang bersama bapaknya menemui Rasulullah. Ketika Rasulullah melihatnya maka beliau berkata kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu :  “Tidakkah engkau biarkan bapak ini tetap di rumahnya hingga aku mendatanginya?”

Abu Bakar  menjawab, “Wahai Rasulullah, dia lebih berhak datang kepadamu daripada engkau yang datang kepadanya.” Rawi berkata, “Maka Abu Bakar mendudukkan bapaknya di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap dadanya dan berkata, ‘Masuk Islamlah!’ Bapak tersebut akhirnya masuk Islam.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, dan Ahmad)

Lihatlah sikap Rasulullah yang begitu menghormati orang Lansia, sampai beliau menganggap bahwa seorang lansia itu lebih layak beliau datangi ketimbang diminta menghadap kepada beliau. Kurang dalil apa lagi untuk mengatakan pentingnya menghormati orang lanjut usia dalam ajaran Islam? Dalil-dalil dalam syari’at yang mulia – dari al-Qur’an dan Sunnah – yang menunjukkan pentingnya menghormati orang lanjut usia.

Dalam praktiknya Gerakan Menghormati Lansia bisa dilakukan dengan lima cara, yaitu: 1) Anjangsana atau silaturahim secara periodik; 2) Pemberian tali asih atau penghargaan; 3) Sosialisasi Masjid dan Amal Usaha Ramah Lansia; 4) Penyediaan lahan perjuangan untuk aktivis Muhammadiyah yang lansia; 5) Advokasi Kebijakan Publik Pro Lansia

Anjangsana atau silaturahim kepada para lansia secara periodik sangatlah penting dilakukan oleh Pimpinan Muhammadiyah di seluruh tingkatan. Pimpinan Ranting, Pimpinan Cabang, hingga Pimpinan Pusat Muhammadiyah hendaklah memiliki data lansia-lansia yang pernah berkiprah dalam dakwah Muhammadiyah di tingkatannya. Para lansia yang pernah menggerakkan Ranting Muhammadiyah hendaknya secara periodik didatangi oleh Pimpinan Ranting setempat guna menjalin silaturahim dan mendengarkan nasihat-nasihatnya.

Pemberian tali asih atau penghargaan penting sebagai bentuk perhatian atau penghormatan terhadap para tokoh yang pernah menggerakkan dakwah Muhammadiyah. Tali asih atau penghargaan itu janganlah dilihat dari sisi kebutuhan ekonomi para lansia, tapi benar-benar sebagai bentuk perhatian atau penghormatan. Meski bentuk yang diberikan bisa dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi para tokoh yang pernah menggerakkan dakwah Muhammadiyah itu, namun titik tekannya adalah tetap pada penghormatan.

Sosialisasi Masjid dan Amal Usaha Ramah Lansia merupakan gerakan konkrit yang sistematis sebagai wujud perhatian dan penghormatan terhadap lansia. Sosialisasi ini tentu saja akan diikuti dengan realisasi pembentukan Masjid dan Amal Usaha Ramah Lansia di seluruh tingkatan. Pimpinan Daerah Muhammadiyah bisa membuat pedoman pembentukan Masjid Ramah Lansia dan melombakannya untuk mempecepat realisasinya. Empat kriteria Masjid Ramah Lansia sebagaimana telah saya sebutkan di depan bisa menjadi acuan dalam pengembangannya.

Penyediaan lahan perjuangan untuk aktivis Muhammadiyah yang lansia penting untuk menampung energi keikhlasan yang dimiliki para lansia tersebut. Ketika mereka sudah tidak lagi berkiprah sebagai pimpinan, perlu disediakan suatu forum yang tetap bisa membuat mereka berkiprah untuk Muhammadiyah dan umat dengan segala keterbatasannya. Selama ini kebanyakan aktivitas mereka ditampung oleh Masjid-masjid sebagai Imam Masjid atau peran lainnya, yang seharusnya bisa lebih dari sekedar itu. Di luar struktur Pimpinan, untuk tingkatan Ranting, tersedia struktur jamaah yang bisa dibentuk guna menampung aktivitas para lansia disesuaikan dengan kompetensi dan kemampuan fisik mereka. Di tingkatan lain, bisa berbentuk Forum Silaturahmi atau Amal Usaha khusus yang bisa menampung aktivitas dan pemikiran mereka.

Yang tidak boleh dilupakan dalam Gerakan Menghormati Lansia di Muhammadiyah adalah perlunya Muhammadiyah melakukan advokasi agar tercipta kebijakan publik yang peduli lansia. Sesuai UU Nomor 13 Tahun 1998, para lansia berhak mendapat kesejahteraan hidup, baik dari kebutuhan kesehatan dan sosial maupun kesempatan berkarya (bekerja) dan menikmati fasilitas umum. Dengan demikian, tugas pemerintah tidak hanya sebatas menyediakan tempat penampungan saja, seperti panti jompo, tetapi juga wajib memberi pelayanan kesehatan maupun kebutuhan hidup lainnya yang lebih memadai untuk para lansia. Selama ini, kebijakan pelayanan kesehatan lansia hanya alakadarnya, masih banyak disandarkan pada program Jamkesmas. Padahal program Jamkesmas sendiri masih diliputi banyak persoalan seperti kepesertaan, pembiayaan, dan juga pelayanannya. Muhammadiyah dapat melakukan tekanan kepada pemerintah untuk lebih peduli pada lansia, disamping juga mendorong partisipasi masyarakat lewat Aisyiyah dalam bentuk Posyandu Lansia di Ranting-ranting.

Sebagai sebuah gerakan Islam, Muhammadiyah sudah seharusnya mendasarkan berbagai program kegiatannya pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Lima point Gerakan Menghormati Lansia di Muhammadiyah tersebut tentu saja bisa dikembangkan lebih jauh lagi sebagai suatu bentuk praktik sunnah Nabi secara berjamaah. Tujuan utama dari seluruh gerakan itu tiada lain ialah terwujudnya masyarakat  Islam yang sebenar-benarnya.

Pemilihan tema ramah lansia adalah untuk memberi kemudahan jamaah lansia yang memiliki hambatan ke masjid
Pemilihan tema ramah lansia adalah untuk memberi kemudahan jamaah lansia yang memiliki hambatan ke masjid (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 3 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait