Full Day School : Kewajiban Atau Pilihan ?

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) baru-baru ini mewacanakan tentang full day school (sehari di sekolah). Tak urung wacana Muhajir Efendi, Mendikbud pengganti sebelumnya Anies Baswadean, mendapat hujan kritik. Terutama kritik dari para haters di media online. Apalagi kritik tersebut diwujudkan berupa meme sindiran-sindiran yang tidak jelas.

Di alam demokrasi seperti ini, cara mengkritik sesuatu yang kurang pas, dan kurang tepat justru diberi ruang. Ini bagian dari proses balance (keseimbangan), proses mengingatkan agar segala sesuatu on the track (sesuai jalan). Namun di negeri ini justru ruang kritik kerap dijadikan ajang untuk saling menyindir, yang menjurus pada fitnah, atau adu domba.

Seyogyanya anak bangsa harus menunjukkan kritik yang membangun, kritik yang edukatif. Kembali lagi kepada wacana full day school, seorang Mendikbud tentu dalam menyampaikan ide tentang sehari disekolah sudah melakukan berbagai pertimbangan matang. Walaupun demikian, wacana tersebut harus selalu dikomunikasikan, kemudian dimusyawarah agar bisa diterima semua pihak.

Patut diketahui, sebelum Mendikbud mewacanakan full day school, pada dasarnya telah banyak sekolah melakukannya. Seperti sekolah IT (Islam Terpadu) sebagian besar telah melaksanakan full day. Kemudian pondok pesantren (ponpes) sistem pendidikan justru all day yaitu dari mata terbuka hingga terpejam selalu ada aktivitas.

Di pesantren para santri dibangunkan sebelum subuh untuk melakukan sholat tahajud. Setelah dilajutkan sholat subuh, sekolah dan selesai sampai isya. Sistem yang seperti itu sudah berjalan, namun tidak dipermasalahkan. Hal ini hangat diperbicangkan ketika ada statemen dari sang menteri tentang pentingnya full day bagi siswa.

Memahami hal ini penulis mengajak pembaca untuk lebih jernih melihat persoalan. Jangan terjebak antara setuju dan tidak setuju. Kemudian jangan terprovokasi pula, baik sadar maupun tidak sadar dari para kritikus yang kadang mengkritik kurang proposional. Penulis melihat wacana dari Mendikbud itu sesuatu yang positif dan perlu diapresiasi.

Walaupun demikian, memberlakukan full day school secara nasional memang perlu hati-hati. Dalam menerapkan full day school harus mempertimbangkan berbagai aspek, mulai sosiologis, geografis, Sumber Daya Manusia (SDM), dan insfrastruktur. Dari berbagai pertimbangan tersebut maka bisa dirumuskan full day school ini menjadi sebuah kewajiban atau pilihan.

Kewajiban itu artinya seluruh sekolah dari Sabang-Merauke ini melaksanakan full day school. Sedangkan bagi pilihan itu maksudnya adalah sekolah bisa memilih full day school atau tidak. Terkait itu, maka dipulangkan ke sekolah masing-masing. Lalu yang menjadi pertanyaan bagaimana dengan konteks Indonesia? Apakah full day school menjadi sebuah kewajiban atau pilihan?

Sebelum menjawab tersebut maka sebaiknya penulis uraikan bahwa Indonesia itu kondisinya wilayahnya luas dan beragam. Kondisi secara geografis terbagi menjadi tiga, yaitu : lautan, dataran dan pegunungan. Kemudian masyarakat terbagi menjadi tiga juga yaitu masyarakat nelayan, pedesaan dan perkotaan. Dari pemetaan sederhana tersebut dapat kita simpulkan bahwa kondisi pendidikan di Indonesia itu berbeda-beda. Baik dari segi persoalan, tantangan dll.

Oleh sebab itu menurut hemat penulis full day school untuk saat ini belum bisa diterapkan. Full day school menjadi sebuah pilihan bagi anak-anak sekolah yang kedua orang tuanya bekerja. Full day school menjadi pengawas dan pendidik disaat anak-anak tidak bisa didik dan diawasi oleh orang tua karena bekerja. Hal itu sering terjadi dalam potret sosiologis masyarakat urban. Dimana secara geografis berada di wilayah perkotaan yang metropolis.

Full day school juga tidak akan mengurangi rasa sosialisasi anak terhadap lingkungan di tempat tinggal. Karena Full day school hanya berjalan lima hari dari senin hingga jumat, sehingga waktu libur dua hari sabtu-ahad masih bisa dijadikan waktu untuk bersosialisasi terhadap keluarga dan tetangga.

Dalam menerapkan full day school harus mempertimbangkan berbagai aspek
Dalam menerapkan full day school harus mempertimbangkan berbagai aspek (Sumber gambar : klik disini)

 SUMBER  Artikel ini pernah dimuat di rubrik Rubrik Opini Majalah Mentari Bulan 9 Tahun 2016 dimuat kembali untuk tujuan dakwah
 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait