Fitnah Sejarah Majapahit Warisan Kolonial untuk Mengadu Domba Orang Nuswantara

Gambar Fitnah Sejarah Majapahit Warisan Kolonial untuk Mengadu Domba Orang Nuswantara
H Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Prasasti Pabanolan, terbuat dari tembaga berangka tahun 1463 Saka atau 1541 M. Prasasti itu dijadikan dasar bahwa saat dibuat Majapahit masih ada, karena prasasti menyebutkan tempat penulisannya di sebuah tempat suci di Wil(w)atikta: telas sinurat ri san hyan baturpajaran ri wil(w)atikta. Tapi hampir semua buku sejarah menganggap bahwa untuk tahun tersebut, tentu saja Majapahit bukanlah sebuah kerajaan sebesar masa Hayam Wuruk. Bahkan, sangat mungkin yang disebut Wil(w)atika dalam prasasti itu hanyalah tempat yang merupakan bekas kerajaan Majapahit.

Secara umum dipahami bahwa kerajaan Majapahit yang beribu kota di Trowulan runtuh pada tahun 1478 M oleh suatu serangan dari Tentara Keling. Sebelum serangan itu, Majapahit paska Hayam Wuruk telah mengalami kerapuhan luar biasa akibat perang saudara terus menerus, yang disebut perang Paregreg. Adapun manuskrip tentang perang ini tertulis pada zaman berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, ada dalam Serat Kanda, Serat Damarwulan, dan Serat Blambangan. Peristiwa Paregreg tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa dan dikisahkan turun temurun. Ketika saya masih SD, beberapa kali guru saya menyebutkan peristiwa perang Paregreg ini sebagai sebab-sebab awal keruntuhan Majapahit. Dari beberapa orang tua di kampung saya, sering saya dengar cerita perang Paregreg ini. Semua selalu ditutup dengan pesan pentingnya persatuan.

Secara umum dipahami bahwa kerajaan Majapahit yang beribu kota di Trowulan runtuh pada tahun 1478 M oleh suatu serangan dari Tentara Keling
Secara umum dipahami bahwa kerajaan Majapahit yang beribu kota di Trowulan runtuh pada tahun 1478 M oleh suatu serangan dari Tentara Keling

Dikisahkan dalam Serat Kanda, terjadi perang antara Ratu Kencanawungu penguasa Majapahit di barat melawan Menak Jingga penguasa Blambangan di timur. Menak Jingga akhirnya mati di tangan Damarwulan utusan yang dikirim Ratu Kencanawungu. Setelah itu, Damarwulan menikah dengan Kencanawungu dan menjadi raja Majapahit bergelar Prabu Mertawijaya. Dari perkawinan tersebut kemudian lahir Brawijaya yang menjadi raja terakhir Majapahit.

Catatan atas perang Paregreg dalam Pararaton dimulai dengan terjadinya perselisihan antara Istana Barat dan Istana Timur. Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana bertengkar (1401 M) dan kemudian tidak saling bertegur sapa. Itu terjadi setelah pengangkatan Bhre Lasem baru, yang mula-mula semacam perang dingin antara Majapahit barat dengan Majapahit timur, lalu berubah menjadi perselisihan.  Dari perselisihan itu meletuslah perang Paregreg pada tahun 1404 M. Kata Paregreg artinya “Setahap demi setahap dalam tempo lambat”. Pihak yang menang dalam perang itu saling berganti. Kadang pertempuran dimenangkan Kraton timur, kadang Kraton barat. Akhirnya, pada 1406 M pasukan barat dipimpin Bhre Tumapel putra Wikramawardhana menyerbu pusat kerajaan timur dan Bhre Wirabhumi akhirnya takluk Kraton timur kembali bersatu dengan kerajaan barat.  Sayangnya, setelah paregreg daerah-daerah bawahan di luar Jawa banyak yang lepas tanpa bisa dicegah. Hingga akhirnya semakin lermah dan runtuh akibat serangan dari Tentara Keling.

Adanya serangan dari Tentara Keling itu didukung data yang berasal dari dua buah prasasti, yaitu prasasti Duku dan prasasti Jiyu I. Dalam prasasti Duku salah satunya diberitakan bahwa pada Ahad Pahing tanggal 10 bulan Jesta  tahun 1408 saka (1486 M), Sri Bathara Prabu Girindrawardhana yang bernama kecil Dyah Ranawijaya berkenan menganugerahkan daerah Petak kepada Sri Berahmaraja Ganggadara. Alasan pemberian hadiah itu disebutkan “karananing sinung ganjaran hamrih kadigwijayanira sang munggwing jinggandukauyunayunanyudha-lawaning majapahit” yang artinya kurang lebih “Sebab pemberian hadiah itu, karena ia berusaha keras supaya mencapai kemenangan bagi raja yang berdiam di Jinggan pada ketika ketika peperangan sedang turun naik melawan Majapahit”.

Prasasti Jiyu I yang juga berangka tahun 1486 M memberitakan bahwa Girindrawardhana alias Dyah Ranawijaya adalah “Sri Maharaja sri wilwatikta pura janggala kaddiri prabunatha” yang artinya “Sri maharaja yang bersemayam di Kraton Majapahit, sang Prabu Janggala dan Kediri”. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa Sri Maharaja memerintahkan pemujaan sraddha lengkap untuk yang mokta di Inderanibawana. Selain itu prasasti Jiyu I juga menyatakan penganugerahan tanah Terailokyapuri, talasan dan tanah kosong kepada Berahmaraja Ganggadara.

Prasasti Duku dan Prasasti Jiyu I tersebut menjadi petunjuk adanya peristiwa perebutan kekuasaan di Majapahit yang diperkirakan sebagai pertanda keruntuhan Majapahit, yaitu pada tahun 1400 saka atau 1478 M. Perebutan kekuasaan itu dilakukan oleh Bathara Keling,  Girindrawardhana alias Dyah Ranawijaya, yang bermarkas di Jinggan dengan dibantu oleh Sri Berahmaraja Ganggadara. Atas kemenangan tersebut Girindrawardhana memindahkan ibu kota Majapahit ke Keling yang terletak di sebelah timur Kediri.

Prasasti-prasasti di atas perlu saya paparkan untuk membantah tulisan-tulisan yang mengabarkan runtuhnya Majapahit adalah akibat dari serangan tentara Islam Demak. Dalam catatan Syamsudduha(2004), Prof. Slamet Muljana mengungkapkan pada buku “Runtuhnja Keradjaan Hindu Djawa dan Timbulnja Negara2 Islam di Nusantara” terbitan Brathara bahwa kerajaan Majapahit pada tahun 1478 telah diserbu oleh tentara Islam pimpinan Raden Patah dari Demak, Pendapat Prof. Slamet Muljana itu didasarkan pada naskah dari buku “Tuanku Rao”. Padahal sangat jelas bahwa berdasarkan prasasti-prasasti di atas, keruntuhan Majapahit akibat peperangan dengan Girindrawardhana alias Dyah Ranawijaya.

Perlu diketahui bahwa buku berjudul “Tuanku Rao” karya Ir. Mangaradja Onggang Parlindungan yang dijadikan dasar penulisan Prof. Slamet Muljana adalah buku yang penuh kebohongan. Tidak hanya berisi kebohongan tentang Majapahit, tapi memuat kebohongan tentang perang Paderi. Buku tersebut telah mendapat bantahan dari Prof. DR. Hamka. Berdasar kajian Hamka (1974), buku “Tuanku Rao” memuat khayal-khayal yang indah, cerita-cerita penggeli hati, fakta-fakta isapan jempol yang dikarang oleh penulisnya. Tidak kurang dari 100 hal yang ganjil-ganjil dalam buku tersebut. Dalam buku bantahannya, Hamka menegaskan bahwa setelah mempelajari buku karya Parlindungan itu dengan seksama ia menemukan lebih kurang 80% isinya tidak benar, atau dusta.

Buku Tuanku Rao yang mendasarkan pada naskah yang katanya tersimpan di Kuil Sam Po Kong dianggap Amen Budiman, pengamat sejarah dari Semarang dan penulis buku Dokumen Sejarah Klenteng Tay Kak Si – Semarang, merupakan satu lelucon yang paling berhasil dalam tahun 1971. Amen Budiman mengatakan bahwa itu semua hanyalah “balachelijkste aller ficties” (yang kira-kira artinya fiksi yang paling bodoh) dari seorang insinyur bernama Mangaradja Onggang Parlindungan. Ia menyatakan bahwa para sarjana sejarah memustahilkan klenteng Sam Po Kong menyimpan dokumen-dokumen sejarah Raden Patah dan sanak keturunannya. Menurut Amen Budiman, yang mungkin menyimpan dokumen adalah klenteng Tay Kak Si yang terletak di gang Lombok Semarang. Wartawan Sin Po bernama Liem Thian Joe pada tahun 1931 pernah menemukan dokumen di sana. Dokumen itu dijadikan bahan untuk menulis buku “Riwayat Semarang” terbit pada tahun 1933. Kesimpulannya, menurut Amen Budiman, jika dokumen Klenteng Sam Po Kong hanya merupakan khayalan belaka bukan mustahil Parlindungan sebelumnya pernah membaca buku “Riwayat Semarang”  dan kemudian dengan daya imajinasinya yang tajam ia berhasil menciptakan dokumen-dokumen tandingan bagi dokumen klenteng Tay Kak Si, dan mengambil tempat lokasi baru  dari Klenteng Sam Po Kong Semarang.

Naskah yang dikatakan ditemukan di Kuil sam Po Kong itu dikatakan oleh Parlindungan berdasarkan sebuah prasasaran yang teramat rahasia (Geheim Zeer Geheim) Residen Portman tahun 1928 kepada pemerintah Belanda. Tentang kebenaran adanya tokoh Portman sebagaimana ditulis Parlindungan M.C. Ricklefts menyatakan bahwa para sarjana Belanda telah berusaha mengidentifikasi orang Belanda yang dimaksud ternyata tidak membawa hasil. Amen Budiman menyatakan bahwa seorang orientalis Perancis bernama Denys Lombard merasa tertarik dengan prasaran Resident Poortman, yang disebut-sebut  dalam buku Parlindungan dan Slamet Muljana, telah berusaha mencarinya di negeri Belanda. Namun hasilnya nihil. Malah putera Poortman sendiri diberitakan sama sekali tidak tahu dengan prasaran ayahnya berdasarkan naskah temuan di Kuil sam Po Kong.

Karena itu tentang diri Poortman, dapat diambil kesimpulan bahwa nama itu memang ada di Belanda. Tetapi yang disebut-sebut Parlindungan sebagai Resident di Hindia Belanda dan murid Snouck Hurgronje serta guru Van Leur, tak pernah ada. Artinya naskah yang dikatakan dari Kuil Sam Po Kong itu tidak lain hanyalah bikin-bikinan saja untuk membuat opini buruk tentang perkembangan Islam di Nusantara, baik di Sumatra maupun di Jawa, yang selama ini dikenal berlangsung secara damai.

Modus penulisan buku kontroversial didasarkan atas temuan yang dikatakan dari Kuil Sam Po Kong ini mengingatkan kita gembar-gembor temuan kitab Nagara Krtagama di beberapa Pura di Bali oleh orang yang sama. Prof. Slamet Muljana turut mempromosikan buku karya Parlindungan tersebut dan menggunakannya sebagai bahan penulisan bukunya berjudul “Runtuhnja Keradjaan Hindu Djawa dan Timbulnya Negara2 Islam di Nusantara” yang diterbitkan oleh penerbit Bhratara Jakarta.  Dalam catatan Syamsudduha buku karya Prof. Slamet Muljana tersebut mendapat tanggapan dari Guru besar sejarah UGM dan UI, yaitu pak Sartono Kartodirdjo. Syamsudduha menuliskan wawancara yang dilakukan oleh Andre Hardjana, MA pada tanggal 16 September 1971 di UGM dan dimuat oleh Sinar Harapan edisi Jakarta tanggal 11 Oktober 1971.

Tanggapan dari Prof. Sartono terhadap buku Prof. Slamet Muljana itu antara lain menyebutkan bahwa buku karangan Muljana tersebut telah menyajikan suatu teori sejarah dengan metodologi yang salah, dan bagi Sartono ini suatu kemalangan yang menyedihkan sekali. Menurut beliau buku tersebut adalah contoh “hoe men een geschiedenisboek niet moet schrijven”, yakni bagaimana seharusnya sebuah karya sejarah tidak ditulis. Prof. Sartono mengatakan bahwa buku tersebut menghidangkan teori yang didasarkan atas buku karya Parlindungan tanpa kritik sama sekali. Dan untuk itu pak Sartono mengemukakan dua kritik yang menunjukkan kelemahan sumber yang digunakan oleh Muljana itu, yaitu tentang keberadaan ruang Kelenteng tempat disimpan dokumen dan tentang siapa Resident Poortman. Pak Sartono juga mengemukakan buku itu dapat menimbulkan bahaya apabila dibaca oleh khalayak ramai, karena tidak adanya atau kurangnya review buku serta karya-karya ilmiah yang memuat teori-teori lain.

Kembali pada Mapajapahit, akhirnya pendapat yang menyatakan bahwa kerajaan Majapahit pada tahun 1478 diserbu oleh tentara Demak pimpinan Raden Patah dikoreksi sendiri oleh Prof. Slamet Muljana. Dalam bukunya “Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit yang terbit tahun 1983, ia tidak hanya mengoreksi tapi juga menggugurkan tesisnya sendiri. Dalam buku itu ia menjelaskan bahwa menurut babad Sengkala, runtuhnya Majapahit berlangsung pada tahun 1400 saka (1478), bukan karena serangan tentara Demak dan tak ada hubungannya dengan berdirinya negara Demak. Babad Sengkala sendiri menurut Prof. Slamet Muljana menyebutkan bahwa negara Demak baru berdiri pada tahun 1403 saka (1481 M). Namun begitu Muljana masih mempertahankan pendapatnya bahwa masuknya agama Islam dalam masyarakat Hindu jawa menimbulkan ketegangan di antara orang Majapahit. Ia tampak bersikukuh ingin menampilkan Islam sebagai agama yang disebarkan dengan cara tidak damai, suatu yang mirip dengan pendirian pengarang Darmogandul yang banyak dicurigai sebagai karya sastra bikin-bikinan Belanda.

Pandangan Prof. Slamet Muljana sejalan dengan sejarahwan kolonial yang diwakili oleh de Graaf dan Pigeaud. Dalam bukunya “Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa Peralihan dari Majapahit ke Mataram” mereka menyebutkan orang-orang Islam sebagai orang asing dari berbagai macam-macam bangsa bertempat tinggal di kampung tersendiri di bandar-bandar. Mereka membuat rumah mereka menjadi kubu pertahanan. Dengan menggunakan tempat-tempat itulah mereka mengadakan serangan-serangan terhadap perkampungan orang “kafir”. Bersamaan dengan itu mereka akhirnya merebut seluruh pemerintahan bandar. Jadi, mereka mengubah gaya hidup, menjadi ksatria golongan bangsawan atau bahkan raja-raja kecil yang mengusai bandar-bandar-bandar di pantai utara Jawa. Sebaliknya, mereka yang kalah, gugur di medan perang, atau terpaksa melarikan diri ke tempat lainnya. Pola islamisasi seperti ini menurut de Graaf dan Pigeaud terlihat di Tuban, Demak dan Jepara, suatu pandangan kolonial yang sesungguhnya tak memiliki data sejarah sama sekali.

Tidak ada satupun prasasti atau manuskrip terpercaya yang mendukung pandangan kolonial di atas. Bukti prasasti Duku dan Jiyu I sangat jelas memberikan informasi bahwa penyerangan dilakukan oleh Tentara Keling. Yang jelas adalah, dengan ditundukkannya Kerajaan Majapahit oleh Girindrawardana, yang kemudian memindahkan ibu kota Majapahit ke Daha (Kediri), maka pewaris kerajaan Majapahit yang sah ialah Raden Patah. Para Wali menginisiasi berdirinya Kerajaan Demak untuk meneruskan kejayaan kerajaan Majapahit yang didirikan oleh leluhur Raden Patah. Adalah wajar jika dalam pendirian kerajaan itu terjadi berbagai perbedaan pendapat, seperti halnya Syekh Siti Jenar dengan para wali yang lain, Hal itu sekedar berkaitan dengan perbedaan pendekatan dakwah diantara mereka. Namun kita melihat bahwa pada akhirnya konflik itu lantas dibesar-besarkan oleh naskah serat yang diduga dibuat untuk kepentingan pelanggengan kolonialisme di Nuswantara.

Babad Sengkala memang mengisahkan pada tahun 1527 Kerajaan yang didirikan oleh Girindrawardana di atas runtuh akibat serangan Sultan Trenggana Raja Demak ke-3. Namun serangan tersebut bukan karena alasan balas dendam atas kekalahan Raja Majapahit leluhur raja Demak, dan bukan juga alasan ekspansi agama dengan kekerasan. Penyerbuan Sultan Trenggana dilakukan karena Daha (Kediri) mengadakan hubungan dengan kolonialis Portugis di Malaka, yang tengah diperangi oleh Demak. Namun anehnya hari ini bisa kita temukan sejarah hendak dibolak-balik untuk mengesankan penyebaran Islam itu penuh kekerasan oleh mereka para pelanjut pikiran kolonial, tanpa dasar artefak yang layak.Pembolak-balikan sejarah itu pun diikuti upaya adu domba orang Islam dengan orang Hindu di Nuswantara ini.

Era akhir Majapahit dalam periodesasi Jayabaya masuk dalam akhir Kaliyoga yang disebut Kaliwisaya, artinya jaman penuh fitnah. Kalawisaya terbagi menjadi tiga zaman yakni Paeka, Ambondan, dan Aningkal. Dimulai dari sengkalan “Sirna Ilang Kertaning Bhumi” yang berarti tahun 1400 saka (1478 M) dimulailah jaman penuh fitnah ini. Orang-orang Nuswantara berada dalam konflik penuh fitnah yang berkepanjangan dengan kaum kolonial dimulai dari Portugis, hingga Belanda, dan seterusnya.

Referensi:
  • Syamsudduha, 2004, Sejarah Sunan Ampel Guru Para Wali di Jawa dan Perintis Pembangunan Kota Surabaya,  Surabaya: Jawa Pos Press
  • Hamka, 1974, Antara Fakta dan Khayal “Tuanku Rao” Bantahan terhadap tulisan Ir. Mangaradja Onggang Parlindungan dalam bukunya “Tuanku Rao”, Jakarta: Bulan Bintang.
  • Budiman, Amen, 1972, Dokumen Sejarah Klenteng Tay Kak Si – Semarang, Jakarta: Indonesia Raya.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 12 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait