Firar [Madarijus Saalikin]

Banyak hal yang haras dilakukan oleh seorang yang mengaku beriman untuk mewujudkan keimanannya. Seorang yang beriman akan selalu berusaha berlari menuju Allah, Dia tinggalkan apa pun yang dibenci Allah, dan bergegas kepada apa pun yang dicintai – Nya. Itulah yang dikenal dengan istilah Al – Firaar illaallah / firar (berlari menuju Allah) [Ibnu Qayyim Al – Jauziyyah, Madarijus Salikin, juz I, hal. 469]

Allah berfirman,

“Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberiperingatanyang nyata dari Allah untukmu.” [Q.S. Adz – Dzariyat / 51 : 50]

Hakikat keislaman itu diwujudkan dengan kepasrahan (istislam) kepada Allah, menunaikan kewajiban kepada – Nya, serta menunaikan hak – hak sesama muslim. Seorang muslim harus segera berhijrah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

“Sesungguhnya orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan larangan – larangan Allah. Dan seorang muslim adalah orang yang bisa menjamin keselamatan sesama muslim yang lain dari (bahaya) lisan dan tangannya.” [HR Ahmad bin Hanbal dari Abdullah bin Umar, Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz II, hal. 205, hadits no. 6912]

Terdapat hijrah yang hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap muslim, yaitu hijrah meninggalkan dosa – dosa dan kemaksiatan. Kewajiban hijrah semacam ini tidak pernah gugur darinya dalam keadaan bagaimana pun.

Hijrah kepada Allah ini mengandung sikap meninggalkan segala hal yang dibenci oleh Allah kemudian diikuti dengan melakukan apa saja yang dicintai dan diridhai – Nya. Pokok hijrah ini adalah rasa cinta dan benci di dalam hati. Dalam pengertian seorang yang berhijrah meninggalkan sesuatu (baca : maksiat) kepada sesuatu yang lain (baca : ketaatan) tentu saja karena apa yang dia tuju lebih dicintai daripada apa yang dia tinggalkan. Oleh sebab itulah dia lebih mengutamakan perkara yang lebih dicintainya daripada perkara – perkara lainnya.

Pelajaran yang dapat kita petik adalah hijrah dengan hati kepada Allah menuntut kita untuk memiliki kesadaran dan ilmu mengenai apa yang Allah benci dan apa yang dicintai oleh Allah. Karena hakikat hijrah ini adalah meninggalkan perkara yang dibenci – Nya menuju perkara yang dicintai – Nya.

Setiap orang Islam harus melakukan firar. Kita harus berlari dari segala yang menarik perhatian kita, menuju kepada Allah. Jadi, hakikat firar adalah melarikan diri dari sesuatu yang dibenci oleh Allah, kepada sesuatu yang lain yang dicintai oleh – Nya.

Firar dalam penjelasan Ibnu Qayyim al – Jauziyyah, ada 2 (dua) macam:

  • Firar orang – orang yang mendapatkan kebahagiaan, yaitu firar kepada Allah.
  • Firar orang – orang yang mendapatkan penderitaan, yaitu firar dari Allah kepada selain Allah.

Sedangkan firar dari Allah kepada Allah adalah firarnya wali – wali Allah. Dalam menafsiri firman Allah, “fafirruu illaallah” Ibnu Abbas berkata, Artinya, larilah dari Allah kepada Allah dan taatlah kepada – Nya. Sedangkan Sahl bin Abdullah berkata, Artinya, larilah dari selain Allah kepada Allah. Yang lain lagi berkata, Larilah dari adzab Allah ke pahala – Nya, dengan iman dan ketaatan. Sementara itu, Al – Harawi menyatakan, bahwa “Al – Firaar illaallah” bermakna : lari dari sesuatu yang tidak ada ke sesuatu yang senantiasa ada.

Ibnu Qayyim al – Jauziyyah menjelaskan bahwa firar dalam hal ini ­ada 3 (tiga) derajat:

(1) Firar – nya orang – orang awam,

yaitu firar dari kebodohan ke ilmu, dengan disertai keyakinan dan usaha, dari kemalasan ke kerajinan yang disertai kesungguhan dan tekad, dari kesempitan ke kelapangan yang disertai harapan.

Tentang firar dari kebodohan kepada ilmu, dinyatakan bahwa kebodohan itu sendiri ada 2 (dua) macam : Pertama, tidak mengetahui kebenaran yang bermanfaat. Kedua, tidak beramal menurut keharusan dan kelazimannya.

Kedua – duanya sudah mendefinisikan makna kebodohan menurut bahasa, istilah, syariat dan hakikat. Maka Musa a.s. berkata,

“… aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang – orang yang bodoh.” [Q.S. Al – Baqarah / 2 : 67]

Beliau berkata seperti itu setelah kaumnya berkata, “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Berarti, Musa a.s. berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang – orang yang suka mengejek.

Yusuf a.s. juga berkata,

“Dan, jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang – orang yang bodoh.” [Q.S. Yusuf / 12 : 33]

Artinya, agar beliau tidak termasuk orang – orang yang melakukan apa – apa yang diharamkan kepada mereka. Allah berfirman,

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang – orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kebodohan.” [Q.S. An – Nisa’ / 4 : 17]

Qatadah berkata, “Para shahabat sudah sepakat bahwa apa pun bentuk kedurhakaan terhadap Allah disebut kebodohan.”. Ada pula yang berkata, “Para shahabat sudah sepakat bahwa siapa pun yang durhaka kepada Allah adalah orang yang bodoh.”. Seorang penyair berkata, “Tak ada gunanya seseorang membodohi kami hingga kita lebih bodoh dari jahiliy.”. Orang yang tidak mendalami ilmu disebut bodoh, entah karena dia tidak bisa mengambil manfaat dari ilmu itu, hingga dia disebut orang bodoh, entah karena ketidaktahuannya terhadap akibat dari perbuatannya. Firar ini merupakan firar dari 2 (dua) macam kebodohan : Kebodohan terhadap ilmu yang harus didapatkan dan diyakini, dan kebodohan terhadap pengamalannya. Firar dari kemalasan ke kerajinan yang disertai kesungguhan dan tekad, artinya meninggalkan belenggu kemalasan lalu berbuat dan berusaha, dengan kesungguhan dan tekad, tidak asal – asalan, tidak meremehkan dan tidak berandai – andai. Kesungguhan artinya kebenaran dalam beramal dan berusaha, sedangkan tekad merupakan kesungguhan dalam kehendak. Maka Allah berfirman kepada Yahya a.s.,

“Hai Yahya, ambillah Al – Kitab (Taurat) itu dengan sungguh – sungguh.” [Q.S. Maryam /19 : 12]

Quwwah dalam ayat ini berarti kesungguhan yang disertai tekad dan usaha, tidak seperti orang yang mengambil perintah – Nya dengan ragu – ragu dan setengah hati. Firar dari kesempitan ke kelapangan yang disertai harapan artinya lari dari dada yang terasa sesak dan penat karena kekhawatiran, kegelisahan, kesedihan dan ketakutan yang dirasakan hamba dari dalam dirinya, dan juga yang datang dari luar dirinya, seperti hal – hal yang berkaitan dengan sebab – sebab kemaslahatan hidupnya di dunia ini, baik dalam masalah harta, badan, keluarga, masyarakat atau musuhnya. Dia harus lari dari semua jenis kesempitan yang menghimpit dada, lalu beralih ke kelapangan keyakinan kepada Allah, tawakal dan harapan kepada – Nya.

“Dan, barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka – sangkanya.” [Q.S. Ath – Thalaq / 65 : 2 – 3]

Ar – Rabi’ bin Khutsaim berkata, “Artinya, Allah menjadikan baginya jalan keluar dari hal – hal yang biasanya membuat manusia merasa sesak dadanya.”

Abu Al – ‘Aliyah berkata, “Artinya, Allah menjadikan baginya jalan keluar dari segala kekerasan, baik kekerasan di dunia maupun di akhirat. Allah pasti memberikan kelapangan bagi orang Mukmin dari segala hal yang biasanya membuat manusia merasa sempit dan sesak dadanya.”. Selagi seorang hamba mempunyai persangkaan yang baik terhadap Allah, berpengharapan yang baik kepada – Nya dan tawakkal secara sungguh – sungguh, maka Allah tidak akan menelantarkannya dan tidak akan mengabaikan harapannya. Keyakinan dan baik sangka terhadap Allah ini merupakan istilah lain dari kelapangan hati. Sebab tidak ada yang lebih membuat dada terasa lapang setelah iman, selain dari keyakinan, mengharapkan yang baik dan berbaik sangka kepada Allah.

(2) Firar – nya orang – orang yang khusus,

yaitu dari pengabaran ke kesaksian, dari rupa ke inti, dari bagian untuk diri sendiri ke pelepasan. Artinya, mereka tidak ridha jika iman mereka hanya sekedar dari pengabaran. Mereka ingin naik lebih tinggi agar bisa menyaksikan siapa pemberi kabar itu.

Mereka ingin naik dari ilmul – yaqin lewat pengabaran ke ainul – yaqin lewat kesaksian, seperti yang diinginkan Ibrahim Alaihis – Salam dari Allah.

”Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, ‘Ya Rabbi, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati !’ Allah berfirman, ‘Belum yakinkah kamu?’ Ibrahim menjawab, ‘Aku telah meyakininya, tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)’.” [Q.S. Al – Baqarah / 2 : 260]

Ibrahim menuntut agar keyakinannya nyata di depan mata dan apa yang ingin diketahui dapat disaksikan.

Inilah makna yang diungkapkan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam tentang kesangsian, dalam sabda beliau,

”Kita lebih layak untuk sangsi daripada Ibrahim yang berkata, ‘Ya Rabbi, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati!”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak pernah sangsi, begitu pula Ibrahim. Tapi memang begitulah beliau mengungkapkan makna ini. Apa yang dituntut Ibrahim itu bukan karena sangsi atau ragu – ragu, tapi karena beliau menuntut kemantapan.

Ada 3 (tiga) tingkatan tentang hal ini : ‘Ilmul – yaqin yang diperoleh dari pengabaran, kemudian hati mendapatkan kejelasan hakikat pemberi kabar. Ilmu tentang pemberi kabar ini berubah menjadi ‘ainul – yaqin, setelah itu menyatu menjadi haqqul – yaqin. Ilmu kita tentang surga dan neraka pada saat ini disebut ilmul – yaqin. Jika surga ditampakkan kepada orang – orang yang bertakwa dan neraka diperlihatkan kepada orang – orang yang durhaka, artinya mereka melihat dengan mata kepala sendiri, maka hal itu disebut ainul – yaqin. Jika penghuni surga sudah masuk surga dan penghuni neraka masuk ke neraka, maka itu disebut haqqul – yaqin.

Firar dari rupa ke inti, artinya keluar dari ilmu dan amal – amal yang tampak, lalu beralih ke hakikat iman dan mu’amalah hati. Orang – orang yang mempunyai tekad yang besar tidak puas hanya dengan rupa – rupa amal yang tampak mata. Mereka tidak mempedulikannya kecuali dengan ruh dan hakikatnya. Pengetahuan tentang Allah tidak mengharuskan seseorang untuk meninggalkan perintah seperti anggapan orang – orang zindiq dan sufi.

Bahkan seharusnya mereka bisa menyimpulkan hakikat perintah, rahasia ubudiyah dan ruh amaliyah. Mereka memposisikan diri di hadapan perintah seperti posisi orang yang mengetahui maksud perkataan orang lain yang berbicara dengannya, entah yang tersamar, yang jelas atau yang berupa isyarat.

Sedangkan posisi selain orang – orang sufi seperti orang yang mengikut di belakang orang yang berilmu itu dan hanya menghapal semata, tanpa memahami dan mengerti maksudnya. Mereka ini lebih membutuhkan kepada perintah, sebab mereka tidak sampai kepada pengertian dan hakikat itu kecuali dengan adanya perintah, di samping haras ada hapalan, pengetahuan dan pengamalan.

Orang – orang sufi ini mengartikan hakikat perintah yang dituntut adalah ruhnya, bukan rupa dan zhahimya. Karena itu mereka berkata, “Kami menghimpun hasrat pada tujuan dan hakikat, dan kami tidak membutuhkan rupa dan zhahirnya. Siapa yang menyibukkan diri dengan rupa berarti melalaikan tujuan dengan suatu sarana.” Mereka tertipu, seperti halnya orang – orang yang hanya memerhatikan rupa amal dan zhahimya tanpa memerhatikan hakikat, ruh dan tujuannya. Golongan yang kedua mengabaikan rahasia amal, tujuan dan hakikatnya, sedangkan golongan pertama mengabaikan rupa dan zhahirnya. Mereka menganggap telah sampai kepada hakikat amal sekalipun tanpa zhahir amal itu. Padahal mereka hanya sampai kepada zindiq dan kekufuran, mengingkari apa yang seharusnya diketahui tentang diutusnya para rasul.

Mereka adalah orang – orang kafir, zindiq dan munafik, sedangkan golongan selain mereka juga tidak sempurna. Hati itu mempunyai ubudiyah sebagaimana anggota badan. Mengabaikan ubudiyah hati sama dengan mengabaikan ubudiyah anggota tubuh. Kesempurnaan ibadah ialah dengan menerapkan ubudiyah untuk masing – masing pasukan, pasukan hati dan pasukan anggota tubuh.

Firar dari bagian untuk diri sendiri ke pelepasan bagian itu ada beberapa tingkatan, yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang benar – benar memiliki ma’rifat tentang hak – hak Allah dan apa yang diinginkan – Nya serta hak – hak hamba – Nya, mengetahui diri sendiri, amal dan penghalangnya. Secara umum, bagian ini artinya apa pun selain yang dikehendaki Allah darimu, entah yang hukumnya haram, makruh, mubah atau sunat. Semua ini tidak akan diketahui kecuali dengan memiliki ilmu yang mendalam tentang Allah dan perintah – Nya, tentang nafsu dan sifat – sifatnya.

Sebenarnya di sana ada bagian yang bisa didapatkan seorang hamba sebagai haknya. Namun dia lari dari bagian ini untuk melepaskannya. Namun jarang manusia yang mampu melakukan hal ini, karena mereka beribadah kepada Allah justru untuk mendapatkan bagian dari apa yang dikehendakinya. Kalau pun ada, maka itu adalah kedudukan para nabi dan shiddiqin.

(3) Adapun firarnya orang – orang yang lebih khusus dari orang – orang yang khusus

ialah lari dari selain kebenaran kepada kebenaran, dari kesaksian firar kepada kebenaran, kemudian firar dari kesaksian firar.

Demikian penjelasan tentang firar, menurut Ibnu Qayyim al – Jauziyyah di dalam kitab Madarijus Salikin. Dan untuk selanjutnya, bila kita ingin mendalaminya, kita bisa mengkaji lebih lanjut di dalam kitab – kitabnya yang lain, antara lain pada kitab al – Fawaid.

Berlari menuju allah
Setiap orang Islam harus melakukan firar. Kita harus berlari dari segala yang menarik perhatian kita, menuju kepada Allah.
Gambar Firar [Madarijus Saalikin]
Drs. Muhsin Hariyanto, M.Ag
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kecamatan Keraton periode 2015 - 2020, Pengisi tetap di kajian Baitul Hikmah PDM Kota Yogyakarta untuk kajian Kitab Madarijus Saalikhin

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...