Etika dalam Organisasi

Gambar Etika dalam Organisasi
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Sudah berapa tahun pembaca terlibat langsung dalam berorganisasi? Merasa senangkah? Kecewa, atau biasa saja? Bila pembaca mendapatkan sesuatu yang kontradiksi dari tujuan semula, bisa jadi niatnya tidak sesuai. Awal mula tujuan untuk terjun berorganisasi tidak ditemukan. Artinya yang diharapkan tidak kunjung datang.

Berorganisasi sejatinya belajar memahami, belajar untuk menjadi dewasa. Tidak ada kepuasan yang langgeng dari sebuah paguyuban bersama. Adanya cuma kepuasan sesaat. Karena manusia tidak akan pernah merasa puas. Kepuasan hanya bisa diperoleh manakala yujuan sesaat terpenuhi. Detik berikutnya, orang akan mencari yang lebih tinggi. Sayangnya manusia lupa bahwa untuk mencapai tujuan, dia perlu orang lain, diperlukan kerjasama untuk memperoleh keinginan. Itulah hakekat belajar memahami karakter orang lain, belajar lebih dewasa untuk memahami dirinya sendiri.

Kerja bareng untuk memperoleh tujuan bersama diperlukan tata aturan yang telah disepakati bersama, agar setiap usaha menghasilkan kepuasan bersama. Tata aturan, tertib kolektif, atau kode etik dalam berorganisasi sering dikenal dengan nama etika. Aturan itulah yang mengikat agar setiap anggota tidak menuruti kehendaknya sendiri. Menjaga ketertiban bersama itulah yang menjamin kelanggengan sebuah organisasi.

Dalam khasanah keilmuan, etika memainkan peranan yang sentral dalam kehidupan berorganisasi. Etika tumbuh dan berkembang sesuai dengan derap sebuah organisasi. Antara etika dan organisasi dapat berkorespondensi. Kala etika dijunjung bersama, maka organisasi akan mekar sejalan dengan perkembangan lingkungan. Saat aturan yang telah disepakati bersama ada noda dilanggar, saat itulah organisasi digerogoti keinginan tertentu dari aktivisnya. Seperti rayap yang tumbuh dan berkembang dalam sebuah kayu. Tampak kokoh dari luar, tapi keropos di dalam.

Biasanya etika menjelma dalam bentuk tata tertib atau yang lebih mengikat dengan kode etik. Norma berperilaku atau kode etik haruslah menjadi pedoman praktek aktual setiap aktivis. Etika ini menjadi milik bersama, dirawat bersama. Pimpinan memiliki kewajiban untuk berperilaku menjadi suri tauladan, hidup bersama, dan sekaligus menjadi pendorong dalam kelangsungan organisasi.

Kode etik menjadi landasan dalam etika berorganisasi. Di lembaga-lembaga yang survive keorganisasiannya, etika adalah sebuah nyawa. Tanpa etika, organisasi seperti kumpulan preman yang memiliki kehendak sendiri-sendiri. Organisasi tanpa aturan. Siapa kuat, dia akan menang dan mengatur sesuai dengan caranya sendiri. Makanya, etika sangat perlu dipublikasikan kepada khalayak ramai. Masyarakat luas perlu mengetahui kode etik yang diterapkan pada sebuah organisasi. Karena informasi ini sangat penting. Masyarakat akan memberi apresiasi yang pada sebuah organisasi yang menjunjung kode etiknya.

Sejatinya etika itu sendiri memiliki arti watak atau kebiasaan. Orang menyebutnya etiket. Tapi kata ini sekarang jarang dipakai. Watak atau kebiasaan manakala muncul bila orang yang bersangkutan sering bergaul. Berinteraksi dengan orang lain. Sehingga menjadi kebiasaan. Karena sudah biasa dilakukan dalam setiap pergaulan, maka etika justru sering dipakai untuk profesi tertentu. Misalnya etika kedokteran, etika hukum, etika jurnalistik dan sebagianya.

Etika erat sekali kaitannya dengan nilai baik dan buruk, benar dan salah, bohong dan jujur dalam melakukan suatu tindakan. Hal tersebut sangat erat kaitannya dengan etika yang ada dalam lingkungannya. Orang yang berinteraksi dengan sesama, orang tersebut dapat menunjukkan perilaku yang dinilai baik atau buruk, benar atau salah. Acapkali ditemukan juga penilaian yang berbeda manakala berada dalam lingkungan yang berbeda.

Mengapa etika masih dianggap sesuatu yang amat penting dan berharga dalam sebuah komunitas? Untuk menjawabnya, marilah kita kupas satu persatu prinsip-prinsip etika dalam sebuah organisasi.

1. Keselarasan

Organisasi itu adalah kumpulan beberapa orang. Setiap orang memiliki karakter sendiri-sendiri. Sifat dan karakter melahirkan perilaku, dan perilaku menunjukkan identitas orang tersebut. Karena terdiri dari beberapa orang, maka organisasi perlu mengatur untuk tata kerja agar terjadi keselarasan dalam langkah melakukan program kerja. Keselarasan, kerapihan dan sikap saling mengerti akan mengakibatkan kerja menjadi efektif dan efisien. Tidak berlarut-larut dalam segi teknis yang akan menghambat laju organisasi.

Keselerasan lebih menekankan pada perilaku, bukan keahlian atau ketrampilan. Perilaku personal dalam organisasi perlu diatur agar ritme dapat berjalan lebih nyaman dirasakan dan elok dipandang. Keahlian perlu digali dan dikembangkan agar ada warna inovasinya. Ketrampilan perlu ditularkan kepada orang lain agar tidak terjadi kelangkaan atau terputusnya sumber daya manusia. Karena sumber daya manusia dan inovasi adalah harta yang tak akan pernah habis diberdayakan.

2. Kebersamaan

Melimpahnya sumber daya manusia dan daya inovasi yang kuat, belum akan berhasil memajukan sebuah organisasi, tanpa kebersamaan. Kerja harus bersama, rasa memiliki harus bersama, saat menemui keterpurukan juga harus ditanggung bersama. Kebersamaan lebih berfungsi manakala setiap orang memiliki bidang garapnya sendiri. Tidak saling mengganggu daerahnya kawan, bahkan yang harus lebih diaktifkan saling membantu. Koordinasi antar lini dibuat garis pemisah yang jelas.
Kebersamaan berlaku universal. Tidak mengenal pada organisasi tertentu. Dan setiap organisasi memiliki karakteristik yang berbeda dengan organisasi lain, meskipun sama-sama bidang yang dikerjakan. Kebersamaan juga tidak harus kerja dalam waktu yang sama. Karena kemajuan teknologi informasi sangat membantu dan menjadi jembatan dalam melakukan pekerjaan.

3. Kebenaran

Kebenaran yang termasuk dalam prinsip etika disini, adalah kebenaran yang diakui oleh orang lain. Jadi kebenaran yang bersifat universal. Bukan kebenaran yang berlaku dalam organisasi itu sendiri. Sebab ada juga kebenaran yang hanya diakui oleh kelompoknya, tetapi setelah dikomparasi, kelompok itu menjadi penghambat kebersamaan dalam masyarakat.

Kebenaran harus pula dapat dibuktikan dan ditunjukkan agar kebenaran itu dapat diyakini dan diterima oleh individu dan masyarakat. Tidak setiap kebenaran dapat diterima sebagai sebuah kebenaran apabila belum dibuktikan. Untuk bisa membuktikan kebenaran tidak dilihat seketika. Ia harus berulang-ulang dan merujuk pada kebiasaan. Sehingga pembuktian kebenaran perlu waktu yang tidak singkat tapi terus menerus.
Etika dalam Muhammadiyah.

Di Muhammadiyah secara umum tidak dikenal dengan etika, tetapi akhlaq. Sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW. Diangkatnya Nabi Muhammad SAW tak lain hanya untuk menyempurnakan akhlaq. Itu landasan utama dalam berMuhammadiyah. KHA Dahlan sengaja mendirikan Muhammadiyah, tidak lain agar umat meniru perilaku yang dituntunkan Nabi Muhammad. Akhlak Nabi adalah panduan perilaku sampai akhir zaman. Akhlak Nabi adalah pedoman hidup sampai umat yang pungkasan.

Tatanan organisasi Muhammadiyah berlandaskan akhlaq. Namun dalam teknis berorganisasi, Muhammadiyah memiliki etika yang dibuat oleh persyarikatan. Etika ini untuk mengatur hubungan antara manusia baik didalam maupun diluar persyarikatan. Tata cara penyusunan etika tidak boleh bertentangan dengan akhlaq. Manakala ditemukan sebuah rumusan etika yang berseberangan atau bertentangan dengan  akhlaq Rasul, maka tata aturan itu batal. Makanya, dalam setiap rumusan hasil produksi Muhammadiyah selalu mencerminkan perilaku akhlaq Nabi Muhammad. Tidak heran, setiap jenjang pendidikan yang dimiliki oleh Muhammadiyah pasti ada materi akhlaq. Setiap jenjang perkaderan Muhammadiyah selalu disisipi tentang akhlaq.

Etika berfungsi untuk mengatur hubungan antara manusia baik didalam maupun diluar organisasi persyarikatan
Etika berfungsi untuk mengatur hubungan antara manusia baik didalam maupun diluar organisasi persyarikatan (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan 12 Tahun 2015, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait