Efek Pelabelan Pada Anak

Labeling adalah pemberian cap/gelar. Menurut yang tercantum dalam A Handbook for The Study of Mental Health, label adalah sebuah definisi diri orang tersebut, dan menjelaskan orang dengan tipe bagaimanakah dia. Dengan memberikan label pada diri seseorang, kita cenderung melihat dia secara keseluruhan kepribadiannya, dan bukan pada perilakunya satu persatu. Baik labeling positif maupun labeling negatif akan berpengaruh terhadap perilaku anak, karena seperti kita ketahui bahwa anak mempunyai perasaan yang sangat peka, terutama pada anak usia sekolah dasar.

Efek Labeling Pada Anak

Omongan orang lain berperan membentuk persepsi seseorang atas dirinya. Begitu Juga dengan penilaian atau kritik orang lain dan keadaan atau situasi. Konsep-diri yang terbentuk dalam masa kanak-kanak itu umumnya “bagaikan mengukir di atas batu”. Sulit diubah dan diukur dan akan menjadi sebuah watak, sifat, bawaan atau culture. Berikut ini sifat labeling pada anak yang mempunyai efek besar bagi spikis dan perilaku anak, yaitu labeling bersifat positif  maupun labeling negatif :

  1. Label Positif

Kalimat yang bersifat memuji tentang kehebatan atau kepintaran anak bisa dikatakan termasuk pemberian label positif. Seorang anak yang cerdas dan pintar biasanya akan mendapat perlakuan khusus dari gurunya. Guru sering memberikan label “pintar”, “jenius”, “cerdas” dan label itu menyatu pada identitas mereka. Tentunya hampir semua orang menginginkan labeling positif ini. Begitu pula pada diri seorang anak dan apabila hal ini disertai dengan sikap kita yang mendukung labeling tersebut yaitu bersikap selayaknya pada anak yang baik/pintar/rajin. Maka hal ini akan menumbuhkan minat dan kepercayaan diri anak dalam belajar.

Seorang anak di cap sebagai “anak yang baik” oleh orang tua maupun gurunya disekolahan, hal ini tentunya sangat berarti bagi anak tersebut. Anak bersikap positif dengan menerima labeling ini dan lingkungan sekitar (rumah/sekolah) mendukung labeling ini, sehingga memperlakukannya sebagai anak yang baik. Maka anak tersebut akan berusaha bersikap seperti apa yang di cap orang terhadap dia yaitu menjadi anak yang baik. Hal ini terjadi karena anak merasa dihargai dan pada akhirnya labeling ini akan melekat cukup kuat dalam diri anak. “Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan, jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri”.

Seorang ibu yang setiap menjelang tidur membisikkan kalimat positif pada telinga si kecil ternyata memberi efek yang luar biasa. Dengan belaian lembut sang Ibu berbisik, “Ibu yakin kamu pasti menjadi anak sholeh, pintar dan pemberani”. Setiap malam kata-kata itu seperti mentransfer sebuah energi positif , dan menjadi sebuah sugesti sehingga anak merasa selalu mendapat perhatian yang lebih, semangat, kepercayaan yang tinggi dari orangtua. Lingkungan juga memperlakukannya dan mendidiknya dengan baik maka sugesti itu pasti akan menjadi sebuah kenyataan.

  1. Label Negatif

Begitu juga sebaliknya, disadari atau tidak disadari terkadang beberapa guru bahkan orangtuanya sendiri menyebut anaknya “bodoh”, disebabkan belum dapat memahami pelajaran dengan satu atau dua kali penyampaian, diajak ngomong tidak nyambung-nyambung. Secara tidak sadar guru maupun orangtua telah melakukan labeling pada anak. Sedangkan kata-kata yang sifatnya mengutuk atau menghakimi anak seperti, “dasar anak bodoh!”, “dasar anak dungu”, “dasar goblok” hanya akan mematikan rasa percaya diri anak.  Anak yang mendapat label negatif akan memiliki keyakinan bahwa dirinya memang bodoh. Sehingga membuatnya minder ketika label itu menjadi bahan guyonan maupun ejekan teman-temannya.

Ketika pelabelan negatif sering dia dapatkan, “ya begitulah, namanya juga anak nakal”. Menyebabkan anak merasa tidak berharga, terlebih bila anak bersikap menerima label ini dan kemudian lingkungan memperlakukannya selayaknya anak yang nakal, maka hal ini dapat membuatnya merasa bahwa dia memang seperti apa yang dikatakan orang, walaupun sebenarnya dia tidaklah seperti itu, dan akibat terburuknya ialah apabila label tersebut telah melekat pada diri anak, sehingga anak secara sadar maupun tidak akan menampilkan label tersebut dalam perilakunya sehari-hari.

Adalagi sifat pemalu tetapi malah menjadi label negatif bagi dirinya sendiri. Sifat pemalu timbul karena anak kurang suka bergaul dengan orang lain, tidak mudah mencari teman, pendiam, suka memilih-milih teman kemudian dicap sebagai anak pemalu. Terkadang orangtua menggelari anak-anak sebagai “pemalu” yang kemudian diceritakan pada saudara-saudara yang lain atau teman-teman kantor yang berkunjung kerumah. Meskipun mungkin tujuannya untuk mengurangi sifat pemalu tersebut akan tetapi menceritakan keberaadaan anak di depan matanya malah membuat dia protes dalam hatinya.

Ada juga sebuah kasus minder dari seorang anak yang secara fisik tampak sangat gendut sehingga dia terlihat tidak memiliki keseimbangan tubuh yang baik. Dia tidak lincah bergerak dan mudah terjatuh saat berlari. Dia juga mudah mengantuk saat harus berkonsentrasi. Sehingga dia merasa dirinya bodoh dan sama sekali tidak cantik yang akhirnya membuat dia lebih suka menyendiri dan berada dirumah. Terlebih ketika anggota keluarga atau teman-temannya memberi label negatif, “si gembul”, “si gendut”, “dasar gembrot”, dan lain-lain. “Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki, jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah”.

Pengaruh Labeling Pada Anak

Kuat atau tidaknya label ini melekat dalam diri seorang anak tergantung dari beberapa hal, diantaranya:

  1. Siapa orang yang memberikan label tersebut ?

Dalam hal ini semakin berpengaruhnya seseorang yang  memberikan label dalam kehidupan anak, maka semakin kuat label ini melekat dalam diri anak. Misalnya orang tua sebagai orang yang paling dekat dengan anak di rumah, kakek maupun nenek, guru di sekolah sebagai orang tua kedua maupun teman-teman sekolahnya.

Bagi anak-anak pengalaman mendapatkan label tertentu (terutama yang negatif) memicu pemikiran bahwa dirinya ditolak. Pemikiran bahwa dirinya ditolak dan kemudian dibarengi oleh penolakan yang sesungguhnya, dapat menghancurkan kemampuan berinteraksi, mengurangi rasa harga diri, minder dan berpengaruh negatif terhadap kehidupan sosial dan pendidikannya.

  1. Bagaimana sikap anak terhadap labeling tersebut ?

Apabila anak bersikap menerima labeling tersebut maka labeling ini akan melekat cukup kuat dalam diri anak tersebut. Misalnya ketika seorang anak di cap sebagai anak nakal oleh orangtua ataupun gurunya, kemudian anak bersikap menerima labeling negatif ini. Maka kemungkinan dia akan menjadi anak nakal. Anak yang mendapat lebel ”bodoh” apalagi anak bersikap menerima lebel itu maka bisa menurunkan semangatnya untuk berikhtiar.

Karena anak tersebut tiadak dipacu akhirnya kemampuannya tidak berkembang denganl ebih baik. Kemampuannya yang tidak berkembang itu akan menguatkan pendapat/label orangtua bahwa si anak emang bodoh. Lalu orangtua semakin tidak memicu anak tersebut untuk berusaha yang terbaik, kemudian anak semakin bodoh. Anak yang diberi label negatif dan mengiyakan label tersebut bagi dirinya cenderung bertindak sesuai dengan label yang melekat padanya.

  1. Bagaimana sikap lingkungan sekitar terhadap labeling tersebut ?

Semakin kuat dukungan lingkungan sekitar terhadap labeling tersebut, maka semakin kuat pula label tersebut melekat dalam diri anak. Ketika anak di cap sebagai anak bandel kemudian lingkungan sekitar memperlakukannya sebagai anak bandel. Maka kemungkinan dia akan menjadi anak bandel seperti label yang diberikan oleh lingkungannya. Hal ini terjadi karena anak merasa tidak dihargai atau dipercayai oleh orang-orang disekitarnya dan labeling ini akan melekat kuat pada diri anak.

Dengan ia bertindak sesuai labelnya orang akan memperlakukan dia juga sesuai labelnya. Hal ini sudah menjadi siklus melingkar yang berulang-ulang dan semakin saling menguatkan secara terus menerus. Bagaimana seseorang memandang dan merasakan dirinya sendiri akan menjadi dasar orang tersebut beradaptasi sepanjang hidupnya, dalam buku Raising A Happy Child. Anak yang memandang dirinya baik akan mendekati orang lain dengan rasa percaya dan memandang dunia sebagai tempat yang aman, dan kebutuhan-kebutuhannya akan terpenuhi.

Hati - hati melabeli anak saat sedang marah dengan anak kita
Hati – hati melabeli anak saat sedang marah dengan anak kita (Sumber gambar : klik disini)

 SUMBER  Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Child Education Majalah Mentari Bulan 3 Tahun 2013 dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait