Dilema Jam PAI dan LHS di Sekolah Muhammadiyah

Penulis : Agung Sudaryono, M.Pd. (Guru PJOK SD Muh. Sapen)

Sekolah Muhammadiyah adalah bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah yang bergerak dalam bidang pendidikan. Bidang yang usianya sama dengan Muhammadiyah itu sendiri sebagai organisasi modern yang berprinsip pada Tajdid atau pembaharuan. Pembaharuan tentunya yang berkemajuan seperti Visi Muhammadiyah yang tidak pernah lekang oleh jaman. Demikian pula dalam dinamikanya yang namanya pendidikan itu terus berubah, terus berbenah untuk menuju kesempurnaan yang tidak mungkin dicapai di dunia ini karena tataran ideal hanya ada di akhirat. Muhammadiyahlah yang memelopori pendidikan Islam modern di negeri ini. Dengan pendidikan ala Muhammadiyah kesetaraan dalam menuntut ilmu menjadi satu bentuk kebutuhan yang akhirnya menjadilah model pendidikan hingga saat ini. Begitupun dengan kader-kader yang dihasilkan oleh pendidikan Muhammadiyah sangat berkualitas dan hingga saat ini kader-kader Muhammadiyah terbaik selalu berperan aktif dan berjuang untuk kemajuan bangsa dan Negara ini.

Pendidikan selalu berpegang pada kurikulum yang ada sebagai ruh atau nyawa pendidikan itu sendiri untuk mencapai atau paling tidak mendekati keadaan ideal dari proses pendidikan. Seperti kata Kyai Ahmad Dahlan : “Bersekolahlah kalian yang tinggi di Kedokteran, menjadi Insinyur, menjadi apapun namun setelah selesai sekolah kembalilah ke Muhammadiyah”. Demikian visioner beliau menggambarkan bahwa dunia pendidikan ke depan akan hiruk pikuk dengan segala seluk beluknya.  visi ini seharusnya bisa ditafsirkan oleh petinggi Muhammadiyah sebagai bentuk tantangan bagi semua insan pendidikan di Muhammadiyah saat ini, bisakah kita menghadapi kemajuan dalam pendidikan ini ? Namun seiring berjalannya waktu dan dimulainya proses pendidikan di semester II ini, ada yang mengganjal di hati kita Warga Muhammadiyah terutama orang tua dan wali siswa di SMA dan SMK Mahammadiyah. Saat menerima raport di akhir semester I wali kelas sudah memberitahukan kepada orang tua untuk mempersiapkan diri kalau di semester II nanti sekolah akan memberlakukan program LHS atau lima hari sekolah. Apa yang sebenarnya terjadi dengan SMA dan SMK Muhammadiyah?

Dengan kurikulum PAI yang secara struktur berjumlah 12 jam pelajaran seminggunya, ada yang beralasan LHS atau lima hari sekolah tidak mungkin dilaksanakan, sehingga SMA dan SMK Muhammadiyah di Yogyakarta belum bisa memberlakukan program ini. Hal ini tentunya bertentangan dengan kebijakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang mendukung penuh semua kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang saat ini dipegang oleh Kader terbaik Muhammadiyah yaitu Prof. Dr. Muhajir Effendi. Dukungan ini tentunya tidak menafikan adanya kesulitan-kesulitan di lapangan yang ada dan langsung dihadapi oleh guru-guru. Namun demikian sebenarnya dengan semangat berkemajuan yang dimiliki saat ini seharusnya untuk mendukung penuh kader dan wakil kita yang ada dalam lingkaran kekuasaan pastilah bisa dicari solusinya. Dicarikan kompromi yang bisa mengakomodir kesemuanya. Sepengetahuan kita 12 jam pelajaran dalam struktur kurikulum PAI bukanlah harga mati yang mutlak harus dipenuhi oleh sekolah. Dengan memaksakan 12 jam itu harus dalam jam efektif di sekolah, banyak hal yang bisa dikompromikan berkaitan dengan jam-jam dan muatan PAI di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Sedangkan sepengetahuan kita ada ayat Allah yang mengatakan “Kerjakan kewajiban itu semampunya …” bukan berarti kita menyerah, tapi kita cari cara lain yang equivalen dengan 12 jam yang harus sampai ke siswa tanpa mengurangi value dan konten materi itu sendiri. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa banyak value dan konten dari PAI yang kia berikan pada siswa terhenti masih dalam tataran teori, belum sampai praktik yang benar, apalagi kebiasaan atau habit, dan baru beberapa siswa di masing-masing sekolah yang menjadikan karakter bagi mereka. Silakan dilihat rata-rata siswa SD Muhammadiyah yang bisa baca Qur’ an berapa, yang sholatnya tertib berapa ? yang sudah menjadi kader Muhammaddiyah dengan IPM dan IRM-nya berapa ? Dalam sebuah survey yang dilakukan oleh sebuah lembaga Pemberdayaan Islam yang disampaikn oleh salah satu Guru Besar UIN SUKA tahun 2015, bahwa dari lebih kurang 230 juta penduduk Indonesia yang 1/3 nya saja  bisa baca Qur’an, dari 70 juta penduduk yang bisa baca Qur’an hanya 1/3 yang tadjwidnya benar, dari 23 juta yang tajwidnya benar hanya 1/3 yang rutin membacanya, dan dari 8 juta yang rutin itu hanya 1/3 yang membaca arti dan tafsirnya. Jadi pengetahuan dan ilmu agama yang disampaikan kepada siswa baru sedikit sekali yang benar-benar menjadi nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin kalau dilihat dari wudhu, sholat, bacaan dan amaliah sehari-hari siswa di sekolah Muhammadiyah mungkin tidak jauh berbeda dengan hasil survey di atas. Mungkin perlu penelitian lebih lanjut akan efektivitas dan efisiensi pemebelajaran materi PAI yang kita berikan selama ini.

Tinjauan pertama yang bisa dilihat dari sudut pandang kebijakan lima hari sekolah yang merupakan program pemerintah dengan keinginan untuk mengakomodir peran dan fungsi masyarakat serta orang tua dalam mendidik generasi penerus bangsa, sehingga mengurangi beban sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Sepehaman kami bahwa ada muatan-muatan yang bisa bekerja dengan orangtua mulai dari penanaman konsep hingga penilaiannya. Bahkan penilaian bisa dilakukan oleh teman sebayanya. Dalam hal peningkatan karakter maka sekolah bisa menerapkan Penguatan Pendidikan Karakter ini melalui 3 jalur yaitu PPK berbasis Kelas, PPK berbasis budaya sekolah dan PPK berbasis masyarakat. Sejauh ini bila dilihat bahwa masyarakat belum pernah mengambil peran dalam pendidikan karakter bagi siswa di seluruh negeri ini yang jumlahnya tidak kurang dari 70 juta siswa. Bahkan masyarakat cenderung yang memberikan efek negatif bagi siswa baik melalui media massa elektronik, media cetak, media sosial maupun dalam interaksi secara langsung. Jika siswa waktu itu belajar di sekolah dari jam 07.00 sampai 14,00 atau 7 jam maka sisanya siswa ada di masyarakat dan di rumah. Tetapi jika ada siswa yang terlibat dalam tindakan negatif pastilah sekolah yang akan mendapatkan getahnya. Inilah sebenarnya yang akan disasar dalam program lima hari sekolah ini, siswa berinteraksi dengan keluarga dan masyarakatnya dengan mengedepankan nilai dan isi dari materi pembelajaran di sekolahnya masing-masing.

Saat menerima raport di akhir semester I wali kelas sudah memberitahukan kepada orang tua untuk mempersiapkan diri kalau di semester II nanti sekolah akan memberlakukan program lima hari sekolah
Saat menerima raport di akhir semester I wali kelas sudah memberitahukan kepada orang tua untuk mempersiapkan diri kalau di semester II nanti sekolah akan memberlakukan program lima hari sekolah

Tinjauan kedua, LHS ini ditujukan untuk guru agar jelas beban mengajarnya dan beban kerja (terutama Aparatur Sipil Negara/ASN/PNS) sebanyak 40 jam mengajar seminggunya. Hal ini mengacu pada Permendikbud no.23 tahun 2017 tentang hari mengajar yang mewajibkan guru untuk memenuhi beban 40 jam kerja per minggu. Sejalan dengan itu mengingat Permendikbud no.19 tahun 2017 yang mengatur jam mengajar guru sebanyak 24 jam, maka sisa waktu dari 40 jam itu dapat digunakan untuk mengembangkan diri dan memperbaiki semua proses pembelajarannya. Guru bisa mengembangkan diri dengan berbagai kegiatan dengan organisasi profesi yang diikutinya. Guru juga bisa mengembangkan kompetensi profesionalnya dengan melakukan penelitian atau membuat tulisan ilmiah baik untuk dipublikasikan maupun untuk dikonsumsi sendiri. Karena menurut data dari Kementerian pendidikan dan kebudayaan dari sekitar 3,2 juta guru dari PAUD hingga SMA/SMK di seluruh Indonesia, baru sekitar 5-7 ribu guru yang aktif menulis dan menghasilkan karya ilmiah dan karya kreatif termasuk buku pelajaran dan buku pendamping (Simposium Nasional Guru, 2015). Seharusnya guru-guru Muhammadiyah bisa mewarnai hiruk pikuk tulis menulis dan karya ilmiah ini, melihat kuantitas dan kualitas guru-guru Muhammadiyah yang sangat luar biasa.

Tinjauan ketiga, belajar dari pengalaman rekan kita di SMK saja yang memiliki mata pelajaran dengan muatan produktif yang dulu lebih keras menolak berlakunya LHS, ternyata bisa mengakomodir semua mata pelajaran produktif dan adaptif dalam lima hari sekolah. Tidak menutup kemungkinan sebenarnya bisa saja kita (Sekolah Muhammadiyah) mengkompromikan program LHS dengan celah-celah kemungkinan untuk mensiasati jam belajar siswa yang menjadi target struktur jam belajar di sekolah. Apalagi dengan masifnya model pembelajaran yang dikenal dengan Model Pembelajaran Abad-21 yang mengedepankan HOTS (High Order Thinking Skills) dan 4C (crtical thinking, creative, collaborative, communication) guru lebih leluasa memberikan materi yang tidak hanya terbatas dengan dimensi waktu, tempat dan sumber belajar. Guru bisa memberikan materi yang sangat penting dengan memanfaatkan teknologi dan lingkungan. Dengan model ini siswa akan lebih senang belajar karena pembelajaran bersifat enjoyfull, meaning full dan usefull. Berkaca dari itu kami kira sebaiknya para petinggi majelis dan kepala sekolah atau guru-guru yang expert hendaklah duduk bersama membicarakan dan mencari solusi dari kebuntuan antara beban struktur PAI di Sekolah Muhammadiyah dengan kebijakan Lima Hari sekolah oleh pemerintah yang juga kader Muhammadiyah.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Opini Majalah Mentari Bulan 2 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Artikel SebelumnyaDakwah Keluarga
Artikel BerikutnyaPernikahan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait