Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan rasul yang diutus oleh Allah swt. untuk umatnya termasuk nabi kita Muhammad saw. Keharusan mengikuti syariat Islam, terutama jejak langkah yang pernah ditempuh oleh Rasulullah saw. Allah swt. berfirman  : “Katakanlah, ‘Inilah jalan (dakwah)-ku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada (agama) Allah dengan hujjah (bukti) yang nyata..” (QS. Yusuf: 108). Pada hakekatnya dakwah adalah sebuah upaya untuk mengubah situasi-kondisi individu dan sosial budaya masyarakat. Sebuah perubahan yang dilakukan oleh subyek pengubah (agent of change) untuk semua manusia. Allah swt. berfirman :” Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui”  (Qs. Saba’ :28), bahkan untuk seluruh alam semesta, Allah swt. berfirman : “ Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”  (Qs. Al Anbiya’ :107).

Sebagai suatu upaya dakwah sebenarnya terbatas memberikan informasi dan berusaha  semaksimal mungkin menurut kemampuan manusia. Di dalamnya tidak terkandung pemaksaan agar seseorang masuk Islam (Qs. Al Baqarah : 256). Umat Islam harus menjadi agent of change  dalam setiap masyarakat dan keadaan, sehingga mereka mampu menjadikan ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk itu umat Islam harus memiliki semangat progresif, mereka senantiasa berusaha menjadi garda terdepan dalam memecahkan permalahan dan mensejahterakan umat manusia.

Upaya yang berkesinambungan dan terpadu harus terus dilkukan agar tujuan dakwah bisa tepat sasaran. Realitas dakwah dalam sepanjang sejarahnya tidak berada di waktu dan tempat yang kosong dari nilai, filsafat agama dan kekuatan-kekuatan sosial-budaya. Sepanjang sejarah dakwah zaman Rasulullah, dakwah senantiasa bergumul (interplay) dengan kintek-kontek dan kekuatan sosial dan nilai-nilai budaya yang ada. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa dakwah itu mewaktu dan mendunia, dakwah tidak vakum waktu dan vakum nilai sehingga diperlukan persiapan-persiapan dan perangkat serta profesionalisme dalam pengelolaanya.

Upaya dakwah tersebut bertujuan untuk mengubah dan memperbaiki keadaan invidu dan masyarakat agar lebih islami, yaitu agar sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran Islam. Melakukan perubahan dan perbaikan merupakan bagian tak tak terpisahkan (interent) dengan kehidupan manusia, sebab perubahan itu identik dengan dinamika dan dengan dinamika itulah manusia dianggap ada. Sebaliknya, kemandegan identik dengan kematian. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa perubahan itu merupakan sunnatullah atau alamiah bagi mahluk hidup. Perubahan yang diharapkan berkat aktivitas dakwah yang dilakukan oleh para da’i atau mubaligh meliputi perubahan di segala aspek meliputi aspek agama, sosial, budaya, politik dan ekonomi.

Kegiatan dakwah  merupakan proses  penyampaian ajaran Islam kepada seluruh umat manusia agar berada dan kembali ke jalan Tuhan. Allah swt. berfirman : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmahdan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.  (Qs. An Nahl : 125). Ajaran Islam mencakup berbagai aspek kehidupan manusia baik persoalan keagamaan, sosial, politik dan ekonomi, mencakup hablum minallah dan hablum minanas. Dengan demikian cakupan pesan – pesan dakwah adalah seluas cakupan cakupan ajaran Islam itu sendiri, artinya pesan dakwah itu seharusnya bukan hanya mencakup persoalan keagamaan, namun juga harus mencakup persoalan politik dalam artian mampu meningkatkan kesadaran umat tentang politik Islam, ekonomi dan lainya.

Kegiatan dakwah merupakan proses penyampaian ajaran Islam kepada seluruh umat manusia agar berada dan kembali ke jalan Tuhan
Kegiatan dakwah merupakan proses penyampaian ajaran Islam kepada seluruh umat manusia agar berada dan kembali ke jalan Tuhan (Sumber gambar : klik disini)

Hanya dalam praktek tema dan pesan serta orientasi dakwah mengalami proses sekularisasi. Sebuah proses yang memisahkan persoalan yang berkaitan dengan duniawi dan ukhrawi, kepentingan atau persoalan hubungan manusia dengan Tuhan (spiritualitas) dengan kepentingan dan persoalan politik dan ekonomi. Dalam kontek tema dan pesan dakwah hal ini tertuang dalam jargon pada masa Orde Baru dan masih terus berangsung sampai era melinial seperti saat ini seperti ‘jangan campurkan antara dakwah dan politik’ atau jargon dakwah itu tugas suci, sedangkan politik itu kotor, karena itu jangan campur adukan keduanya. Jargon – jargon tersebut bagaikan dua mata pedang yang memangkas dan mengerdilkan dakwah. Pertama, jargon tersebut berarti mereduksi makna dakwah, dakwah hanya diartikan aktivitas penyampaian ajaran Islam bil lisan. Karena itu aktivitas di luar tersebut seperti di bidang politik, ekonomi tidak masuk kategori dakwah. Hal ini berarti pula mengkotakan (spasialisasi) fungsi dakwah.

Kedua, jargon tersebut juga berarti mereduksi lingkup pesan dakwah, karena pesan-pesan atau materi dakwah (madda’) hanya difokuskan pada persoalan peningkatan ritual keagamaan belaka seperti hubungan manusia dengan Tuhannya dan ketaqwaan dalam makna yang sempit. Gejala tersebut dapat dilihat dalam berbagai aktivitas dakwah umat Islam, seperti dalam pengajian, ceramah keagamaan, khutbah dan kegiatan PHBI. Dengan demikian secara umum menunjukkan bahwa mayoritas da’i dan mubaligh dalam berdakwah memberikan materi hanya seputar aqidah,ibadah dan ahlak. Sedangkan persoalan yang berkaitan dengan politik dan ekonomi tidak atau jarang sekali disampaikan. Kecenderungan seperti ini tentu akan mempengaruhi terhadap kesadaran politik di kalangan umat Islam.

Gejala sekularisasi dakwah tersebut nampaknya sejalan dengan proses spasisalisasi (penyempitan) fungsi masjid dan proses sekularisasi fungsi agama. Masjid hanya difungsikan sebagai tempat untuk melakukan ritual keagamaan seperti shalat dan zikir. Di banyak tempat terutama di pedesaan gejala ini sangat nampak, bahkan sering ditemui masjid hanya dibuka pada waktu shalat lima waktu. Masjid tidak lagi difungsikan sebagai tempat pembinaan umat di luar ritual keagamaan. Padahal masjid bagi umat Islam merupakan bagian penting yang tak terpisahkan dengan kehidupan umat Islam. Masjid bukan hanya sebagai simbul Islam, tetapi sesungguhnya merupakan sarana untuk mewujudkan kemajuan peradaban, kemasyarakatan, dan kerukunan umat. Sejak awal sejarahnya masjid merupakan pusat segala kegiatan masyarakat Islam. Pada awal Rasulullah hijrah ke Madinah maka salah satu sarana yang dibangun adalah masjid. Sehingga masjid menjadi point of development. Masjid menjadi pusat segala kegiatan melahirkan kehidupan islami yang penuh berkah yang menjadi rahmat bagi seluruh alam

Seiring perubahan zaman maka peran dan fungsi masjid juga mengalami pergeseran, salah satu yang bisa dilihat adalah misalnya  ceramah atau pengajian yang dilakukan oleh para da’i atau mubaligh di masjid kini  lebih banyak ditujukan untuk meningkatkan kesalehan invidu dan karenanya menjadi steril dari informasi yang berkaitan dengan persoalan muammalah diniawi seperti persoalan politik, ekonomi dan lainya. Pada level yang luas agama diposisikan pada aspek yang hanya mengajarkan tentang persoalan hablum minallah atau persoalan speritualitas yang dianggap tidak perlu menguruasi persoalan politik, ekonomi, budaya dan lainya.

Akibat dari sekularisasi dakwah tersebut maka umat Islam atau jamaah pengajian, majelis taklim ataupun jamaah masjid kurang memiliki wawasan dan kesadaran akan politik Islam. Sebuah proses penyadaran akan makna pentingnya Islam sebagai acuan pokok dalam seluruh  kegiatan politik. Sebagaian umat Islam mungkin saja memiliki kesadaran berpolitik, namun masih sedikit yang memahami tentang politik Islam. Karena itu perlu dilakukan desekularisasi dakwah yaitu upaya untuk menghilangkan proses sekularisasi dalam kegiatan dakwah. Para da’i atau mubaligh harus memberikan pesan-pesan dakwah yang bersifat terpadu yaitu selain pesan yang berkaitan dengan peningkatan keimanan dan ketaqwaan juga harus memberikan pesan yang berkaitan dengan muammalah-duniawi seperti politk, sosial, budaya  dan ekonomi. Meskipun demikian penyususnan dan pilihan materi dakwah disesuaikan dengan kebutuhan umat sehingga dakwah dapat berfungsi sebagai bimbingan dan penyuluhan hidup meliputi semua bidang kehidupan mulai bidang ibadah hingga muammalah yang meliputi ketrampilan kerja dan pengembangan pemikiran. Seluruhnya merupakan bagian dari usaha mengembangkan mutu sumber daya umat, sehingga dapat menempatkan dan memfungsikan dirinya sebagai khaira ummah  yang secara individual maupun kolektif memiliki kewibawaan sosial dalam membawa perkembangan masyarakat kearah tujuan yang dikehendaki oleh syaraiat agama.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tabligh Majalah Mentari Bulan 10 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Tolong masukkan komentar anda
Tolong masukkan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.