Dasar Negara Pancasila Sebagai Darul Ahdi wa Syahadah

Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makasar telah menghasilkan keputusan resmi yang penting dan strategis. Salah satunya tentang negara pancasila sebagai darul ahdi wa syahadah. Ini merupakan sikap, keyakinan dan komitmen kebangsaan persyarikatan muhammadiyah terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Istilah Darul Ahdi sebenarnya bukan merupakan konsep baru. Tetapi telah ada sejak lama dan merupakan bagian dari sistem politik Islam. Istilah tersebut juga sering dibahas dalam pandangan kitab-kitab fiqih siyasah (fiqih politik) klasik. Sebelum menguraikan tentang darul ahdi  dalam pandangan muhammadiyah, ada baiknya kita gambarkan tentang konsep darul ahdi pada zaman dahulu.

Menurut Royan Utsany, pakar hukum islam Al- Mawardi dalam kitab Ahkam Sultoniyah menjelaskan darul ahdi adalah perjanjian antara satu negara dengan negara lain. Syarat dari perjanjian itu adalah darul islam (negara islam). Sehingga perjajian itu bisa antar darul islam atau darul islam dengan darul kufri (negeri kafir). Kemudian perjanjian itu bisa dilakukan diberbagai bidang, misalnya perjanjian kerjasama politik, keamanan, ekonomi, perdagangan, atau kebudayaan.

Lalu apa yang dimaksud dengan darul ahdi? Dien Syamsuddin, mantan ketua umum PP Muhammadiyah, dalam Suara Muhammadiyah edisi no 14. Thn ke-101, menjelaskan konsep darul ahdi dengan memberi label hubungan umat islam sebagai komunitas yang berkaitan dengan kelompok-kelompok lainnya. Hubungan ini bersifat bilateral dengan pengertian adanya kesepakatan di antara kelompok, yakni seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk menyepakati bentuknya sebuah negara.

Sementara menurut Zuly Qodir, dosen pasca sarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta  (UMY), darul ahdi adalah  negara Indonesia yang menjadi kesepakatan (ahdi ) antara umat islam dengan umat-umat lain dalam merebut kemerdekaan dari penjajahan kolonial belanda. “Sedangkan makna syahadah adalah umat islam harus menngisi kemerdekan negara republik Indonesian ini dengan kebaikan-kebaikan yang lain,” tandas mantan koordinator Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) tersebut.

Pendapat lain tentang darul ahdi wa syahadah dikatakan oleh Arif Jamali Muis, Wakil Ketua PWM D.I. Yogyakarta bidang Hikmah & Kebijakan Publik adalah keputusan muktamar muhammadiyah tahun lalu. Juga merupakan keinginan persyarikatan muhammadiyah bahwa negara ini adalah negara kesepakatan dan pancasila bagian dari dialog kebangasaan. Muhammadiyah ikut serta dalam proses kebangsaan ini sejak awal. “Kemunculan Darul ahdi wa syahadah merupakan penegasan kembali persyariktan Muhammadiyah di abad ke-2, yang secara organisatoris mempunyai andil dalam proses kebangsaan, “ tegas Guru SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta itu.

Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa darul ahdi pada fiqih klasik adalah perjanjian antar negara. Sedangkan darul ahdi yang diterjemahkan oleh Muhammadiyah adalah perjanjian antar elemen bangsa untuk kepentingan sebuah negara. Sehingga hal ini tidak perlu diperdebatkan dan Muhammadiyah melakukan ini menurut Royan Utsany adalah sah. “Terpenting adalah tidak menggeser subtansi dari istilah ahdi tersebut” tutur ahli hukum islam dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tersebut.

Lebih jauh Ustadz Royan juga menjelaskan bahwa kata syahadah merupakan penambahan istilah dari persyarikatan Muhammadiyah. Syahadah merupakan kelanjutan dari darul ahdi atau konsekuensi dari sikap darul ahdi. “ Setelah ber-ahdi (berjanji) maka harus ber-syahadah (bersaksi/membuktikan janji),” kata alumni dari Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.

Pandangan Teologis Darul Ahdi wa Syahadah

Hadirnya istilah darul ahdi wa syahadah sebagai ijtihad kebangsaan politik Muhammadiyah mengundang berbagai pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana istilah darul ahdi wa syahadah ditinjau dari pandangan teologi islam? Apakah itu sudah sesuai atau tidak? Menurut Afnan Hadikusuomo tidak ada bertentangan secara telogis dari pancasila sebagai darul ahdi wa syahadah. Untuk jelasnya bisa dilihat sila pertama sampai sila kelima dalam pancasila.

“Adakah yang bertentetangan dengan teologi islam? Misalnya sila pertama pancasila : Ketuhanan Yang Maha Esa. Itukan menandaskan Tuhan itu satu, selaras dengan ketauhidan sehingga sesuai dengan sural Al-Ikhlas. Kemudian sila kelima : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Itu sesuai dengan spirit sural Al- Maun” kata cucu pahlawan nasional Ki Bagus Hadikusumo.

Hal senada juga disampaikan oleh Royan Utsany yang menjelaskan konsep Pancasila sebagai darul ahdi wa syahadah, hal itu tidak bertentangan dengan teologi Islam. Hal itu bisa dilihat dari kelima sila dalam pancasila. Misalnya sila pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila pertama itu mengandung arti bahwa tuhan itu satu yaitu Allah SWT itukan ajaran tentang tauhid.

Penjelasan di atas kiranya menjawab pertanyaan yang muncul dari diri kita. Hal ini juga akan memantapkan hati, pikiran dan gerak langkah dalam memahami sikap kebangsaan Muhammadiyah. Bagi Ustadz Royan, langkah Muhammadiyah ini merupakan sikap ijtihad politik yang sebelum diputuskan dan tentu sudah dipertimbangkan dari berbagai aspek. Mulai aspek teologis, sosilogis, maupun budaya. Darul ahdi wa syahadah juga menggambarkan warga negaranya, terutama umat islam yang harus menjadi aktor atau khalifah (pengelola) bumi indonesia, menjadi khalifah yang bertugas untuk mewujudkan cita-cita bangsa yaitu menjadi bangsa Indonesia yang Baldatun Thayibatun wa Rabbun Ghafur.

Muhammadiyah Merumuskan Darul Ahdi wa Syahadah
Muhammadiyah Merumuskan Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah (Sumber gambar : klik disini)

Daftar Laporan Khusus “Darul Ahdi wa Syahadah”.

Reporter : Dani Kurniawan

Liputan ini pernah dimuat di Rubrik Fokus Majalah Mentari Bulan 8 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Dasar Negara Pancasila Sebagai Darul Ahdi wa Syahadah
Dani Kurniawan, S.Kom.I
Anggota Majelis Pustaka Informasi PDM Kota Yogyakarta periode 2015 - 2020, Pengelola Portal Berita redaksi.net dan website pmdiy.or.id, Redaksi Majalah Mentari

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...