Dasar Dasar Penetapan Bidah

Untuk memberikan hukum terhadap amalan-amalan tertentu tergolong  perilaku bid’ah, tentu harus melihat pokok-pokok yang menjadi dasar dalam menetapkan bid’ah. Ada tiga dasar pokok untuk menetapkan semua macam bidah :

A. Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyariatkan.

Hal ini meliputi beberapa kaidah sebagai berikut :

١. كل عبادة تستند الى حديث مكذوب على رسول لله صعلم فهي بدعة

1. Setiap ibadah yang berlandaskan hadits maudhu’ (palsu) yang disandarkan kepada Rasulullah adalah bid’ah.

٢. كل عبادة تستند الى الرأي المجرد والهوى فهي بدعة كقول بعض العلماء أو العباد أو عادات بعض البلاد أو الحكايات والمنامات

2. Setiap ibadah yang berlandaskan pada pendapat semata dan hawa nafsu, maka itu bidah, seperti pendapat sebagian ulama atau ubbad (ahli ibadah) atau kebiasaan sebagian daerah atau sebagian hikayat dan manamat (apa yang didapatkan di dalam tidur).

٣. اذا ترك الرسول صعلم فعل عبادة من العبادات مع كون موجبها وسببها المقتضى لها قائما ثابتا والمنع منها منتفيا فان فعلها بدعة

3. Jika Rasulullah meninggalkan suatu ibadah, padahal faktor dan sebab yang menuntut adanya pelaksanaan itu ada dan faktor penghalangnya tidak ada, maka melaksanakan ibadah itu adalah bid’ah. Seperti mengumandangkan adzan untuk shalat Tarwih.

٤. كل عبادات ترك فعلها السلف الصالح من الصحابة فان فعلها  فهي بدعة

4. Semua ibadah yang tidak dilakukan oleh As-Salaf Ash-Shalih dari kalangan sahabat, maka melakukan perbuatan tersebut adalah bid’ah.

٥. كل عبادة مخالفة لقواعد الشريعة ومقاصدها فهي بدعة

5. Semua ibadah yang bertentangan dengan kaidah-kaidah dan tujuan-tujuan syari’at adalah bid’ah.

٦. كل تقرب الى الله بفعل شيئ من العادات أو المعاملات من وجه لم يعتبره الشارع فهو بدعة

6. Semua taqarrub kepada Allah dengan adat kebiasaan atau muamalah dari sisi yang tidak dianggap (tidak diakui) oleh syari’at adalah bid’ah

٧. كل تقرب الى الله بفعل ما نهى عنه سبحانه فهو بدعة

7. Setiap taqarrub kepada Allah dengan cara melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah adalah bid’ah.

٨. كل عبادة وردت فى الشرع على صفة مقيدة فتغييرهذه الصفة بدعة

8. Setiap ibadah yang dibatasi dalam syari’at, maka merubah tata cara (batasan) ini adalah bid’ah.

٩. كل عبادة مطلقة ثبتت في الشرع بدليل عام فإن تقييد إطلاق هذه العبادة بزمان ومكان أو نحوهما بحيث يوهن هذا التقييد أنه مقصود شرعا من غير أن يدل الدليل العام علي هذا التقييد فهو بدعة

9. Setiap ibadah muthlaq yang tetap dalam syari’at dengan dalil umum, maka membatasi kemuthlaqan ibadah ini dengan waktu atau tempat tertentu sehingga menimbulkan anggapan bahwa pembatasan inilah yang dimaksud dalam syariat tanpa ada dalil umum yang menunjukkan pembatasan ini, maka termasuk bidah.

١٠. الغلو في العبادة بالزيادة فيها علي القدر المشروع والتشدد والتنطع في الإتيان بها بدعة

10. Ghuluww (berlebih-lebihan) dalam ibadah dengan menambah di atas batasan yang telah ditentukan atau tasyaddud (mempersulit diri) serta tanaththu (memberatkan diri) dalam pelaksanaan ibadah tersebut adalah bidah.

B. Keluar menentang aturan agama

Hal ini meliputi beberapa kaidah berikut ini:

١. كل ما كان من الإعتقادات والاراء و العلوم معارضا لنصوص الكتاب والسنة أو مخالفا لإجماع سلف الامة فهو بدعة

1. Setiap keyakinan, pendapat atau ilmu yang menentang nusush (Al-Kitab dan As-Sunnah) atau berlawanan dengan ijma’ salaful ummah maka itu semua adalah bid’ah.

٢. مالم يرد فى الكتاب والسنة ولم يؤثر عن الصحابة رضي الله عنهم من الاعتقاد فهو بدعة

2. Keyakinan yang tidak ada dalam Al-Kitab dan As-Sunnah serta tidak didapatkan dari sahabat adalah bid’ah.

٣. الزام الناس بفعل شيئ من العادات والمعاملات وجعل ذلك كالشرع الذى لايخالف والدين لايعارض بدعة

3. Mewajibkan manusia untuk melakukan suatu adat dan muamalat serta menjadikan hal itu seperti syari’at yang tidak boleh ditentang dan agama yang tidak boleh dibantah adalah bid’ah.

٤. الخروج علي الاوضاع الدينية الثابتة وتغييرالحدود الشرعية المقدرة بدعة

4. Keluar menentang aturan-aturan agama, dan merubah sanksi-sanksi syar’i yang sudah ditentukan batasannya adalah bid’ah.

٥. مشابهة الكافرين فيماكان من خصائصهم من عبادة أوعادة أو كليهما بدعة

5. Menyerupai orang-orang kafir dalam hal yang khusus bagi mereka, baik berupa ibadah, adat, atau keduanya adalah bid’ah.

٦. الإتيان بشيئ من أعمال الجاهلية التي لم تشرع في الإسلام بدعة

6. Melakukan sesuatu dari amalan-amalan jahiliyyah yang tidak disyari’atkan di dalam Islam adalah bid’ah.

C. Peluang-peluang yang menggiring ke arah bid’ah

Hal ini meliputi beberapa kaidah-kaidah berikut ini :

١. إذا فعل ماهو مطلوب شرعا علي وجه يوهم خلاف ماهو عليه في الحقيقة فهو بدعة

1. Bila mengerjakan sesuatu yang dituntut secara syari’at, tetapi dengan cara yang dapat menimbulkan anggapan yang berbeda dengan keadaan sebenarnya maka hal itu termasuk bid’ah.

٢. إذا فعل ماهو جائز شرعا علي وجه يعتقد فيه أنه مطلوب شرعا فهو ملحق بالبدعة

2. Bila suatu pekerjaan menurut syariat hukumnya jaiz (mubah), tetapi ia diyakini hukumnya sunnah atau wajib menurut syariat, maka ia termasuk bid’ah.

٣. إذا عمل بالمعصية العلماءالذين يقتدي بهم علي وجه الخصوص وظهرت من جهتهم حتي أن المنكر عليهم لايلتفت إليه,بحيث يعتقد العامة أن هذه المعصية من الدين فهذا ملحق بالبدعة

3. Bila perbuatan maksiat dilakukan oleh ulama yang menjadi panutan dengan cara khusus, yang pada akhirnya orang-orang awam meyakini bahwa perbuatan maksiat ini termasuk bagian agama, maka hal seperti itu dikelompokkan dalam bid’ah.

٤. إذا عمل بالمعصية العوام وشاعت فيهم وظهرت ,ولم ينكرها العلماء الذين يقتدي بهم وهم قادرون علي الإنكار,بحيث يعتقد أن هذه المعصية مما لابأس به فهذا ملحق بالبدعة

4. Bila perbuatan maksiat dilakukan oleh orang-orang awam sehingga mewabah dan tersebar di antara mereka sedangkan para ulama yang menjadi panutan tidak mengingkarinya, sehingga hal itu menimbulkan keyakinan orang awam bahwa perbuatan maksiat ini tidak apa-apa maka ini digolongkan bid’ah.

٥. كلما يترتب علي فعل البدع المحدثة في الدين من الإتيان ببعض الأمورالتعبدية أو العادية فهوملحق بالبدعة, لأن ما أنبني علي المحدث محدث

5. Segala sesuatu yang terjadi dan timbul akibat pelaksanaan bid’ah muhdatsah di dalam agama, seperti melakukan beberapa hal yang sifatnya ibadah atau adat istiadat, maka itu semua dikelompokkan juga dalam bid’ah, sebab sesuatu yang dibangun di atas

Semua ibadah yang tidak dilakukan oleh As-Salaf Ash-Shalih dari kalangan sahabat, maka melakukan perbuatan tersebut adalah bid’ah
Semua ibadah yang tidak dilakukan oleh As-Salaf Ash-Shalih dari kalangan sahabat, maka melakukan perbuatan tersebut adalah bid’ah (Sumber gambar : klik disini)

 SUMBER  Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tarjih Majalah Mentari Bulan 12 Tahun 2012 dan dimuat kembali untuk tujuan dakwah
Artikel SebelumnyaMengenal Lebih Dekat Perkara Bid`ah
Artikel BerikutnyaManajemen Industri

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait