Dari Islam Berkemajuan menuju Islam Bil Hikmah

Gambar Dari Islam Berkemajuan menuju Islam Bil Hikmah
H Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Qur’an surah al maa’idah (5) : 8)

Dalam sebuah acara Training Politik Nasional Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang diadakan oleh IMM AR Fakhruddin saya diminta menyampaikan materi “Islam dan Paham Perdamaian”. Dalam rujukan materi (Term Of Reference) yang diberikan panitia kepada saya setidakya ada 5 pokok bahasan yang harus saya sampaikan kepada peserta, antara lain persoalan pluralisme dan radikalisasi. Sebagaimana tertulis di bawah ini, saya menyampaikan 5 pokok pikiran yang bisa menggambarkan paham perdamaian dalam Islam dan saya kaitkan dengan gerakan Muhammadiyah, hingga jika pembaca mau mencermatinya maka akan menemukan bahwa bagian ini adalah merupakan penjelasan konsep dasar “Islam Bil Hikmah”  sebagai kelanjutan dari “Islam Berkemajuan”.

A. Tentang Pluralisme

Secara pribadi saya menghargai dan menghormati ‘pluralitas’ yang serba aneka ragam namun menolak ‘pluralisme’ yang menjadikan penerimaan perbedaan sebagai isme atau ideologi. Pluralitas itu suatu fakta keanekaragaman yang tak bisa dipungkiri keberadaannya, bahwa dalam suatu sistem sehomogen apapun tetap saja ada keanekara­gaman. Namun adanya pluralitas itu tidak bisa membenarkan pandangan yang menjadikan perbedaan sebagai azas hubungan sosial.

Ada kalanya dan selalu harus dicari kesamaan dalam setiap keanekaragaman, untuk memperkuat sendi-sendi sosial. Persatuan itulah yang akan memperkuat dan mengikat dari sekian banyak perbedaan-perbedaan dalam keanekaragaman. Jika kita menengok berdirinya negara Indonesia, ia tidak tercipta dari suatu isme yang menegaskan adanya perbedaan tetapi sebaliknya dari suatu isme yang menegaskan adanya persamaan yang mempersatukan orang-orang di antara sabang dan merauke sebagai satu bangsa bernama nasionalisme.

Islam menghargai pluralitas sebagaimana firman-Nya: “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (QS. al-Maaidah [5]: 48).

Dalam ayat tersebut, sikap yang tepat untuk menghadapi pluralitas adalah “fastabiqul khoirot” atau berlomba-lomba dalam kebajikan. Jika kita merasa lebih baik dari orang-orang Kristen, tunjukkan bahwa kita bisa lebih memberi manfaat ketimbang orang-orang Kristen itu. Sebagaimana sabda Nabi sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Menerima kebenaran orang lain sebagai kebenaran yang diakuinya benar dengan alasan pluralisme tentu saja tidak tepat menurut Islam. Allah menyuruh nabi dan kita sebagai pengikut beliau untuk mengatakan kepada orang-orang kafir “bagimu agamamu bagiku agamaku!”. Itu menuntut kita punya sikap sendiri, tidak mengakui kebenaran orang lain, tapi juga tidak mengganggu kepercayaan orang lain selama mereka juga tidak mengganggu kita dan tidak menimbulkan kerusakan di sekitar kita.

B. Tentang Radikalisme

Seringkali orang langsung menghubungkan problematika terorisme dengan radikalisme. Dalam pandangan itu kelompok-kelompok radikal adalah tertuduh yang dianggap paling bertanggung jawab atas munculnya berbagai kasus teror yang menimpa masyarakat umum. Padahal konsep radikalisme dan terorisme tak mesti sejalan.

Jika kita amati secara kultural, radikalisme pada dasarnya lahir dari kesenjangan antara identitas (sebagai ekspresi dari ideologi) suatu kelompok dengan kelompok lainnya yang dominan. Sedang jika kita amati secara sosial ekonomi, radikalisme bisa lahir dari kesenjangan ekonomi antar kelas dalam masyarakat industri kapitalis. Dari situ kita akan tahu bahwa radikalisme Islam selain lahir dari perasaan akan terpinggirkannya simbol-simbol keislaman dalam kebudayaan kontemporer, juga bisa lahir dari perasaan terpinggirkan secara ekonomi. Perasaan terpinggirkan baik berkaitan dengan hilangnya simbol-simbol keislaman dalam budaya yang ada maupun lepasnya akses-akses modal yang dirasakan oleh kaum radikalis Islam itu kemudian teraktualisasi dalam perilaku yang dianggap kurang toleran, tetapi tak mesti melahirkan teror.

Menisbahkan perilaku teror pada radikalisme dengan sendirinya melupakan utamanya yaitu kesenjangan, baik kesenjangan budaya maupun kesenjangan ekonomi. Jika mengikuti cara berpikir ini, pada dasarnya radikalisme hanyalah sekedar gejala dari penyakit yang bernama kesenjangan. Penyakit kesenjangan kultural harus diobati dengan dialog budaya dan pelibatan mereka yang terpinggirkan dalam proses perubahan sosial (pembangunan). Sedang penyakit kesenjangan ekonomi harus diobati dengan demokratisasi ekonomi yang dilaksanakan secara bertahap agar tak meruntuhkan bangunan sosialnya.

C. Tentang Perdamaian

Dari namanya saja Islam memiliki akar kata yang sama dengan salaam yang artinya damai. Dengan demikian inti perjuangan Islam ialah untuk mencapai perdamaian. Dalam rangka pencapaian tujuan perdamaian itu, Islam mengajarkan keadilan. Sesungguhnya orang yang paling mulia di hadapan Allah ialah orang yang paling bertakwa (lihat QS. al-Hujuurat 13) dan Islam menanamkan keyakinan bahwa sesungguhnya adil itu dekat dengan takwa (lihat QS. al-Maaidah 8).

Semua itu bisa berarti bahwa pada dasarnya tidak akan ada perdamaian sejati tanpa adanya keadilan. Ini mengingatkan pidato Soekarno di tahun 1946: Kita bangsa yang cinta perdamaian, tetapi lebih cinta kemerdekaan!. Keinginan untuk perdamaian tak boleh melupakan kemerdekaan. Lebih jauh lagi, perdamaian sejati harus dicapai dengan melakukan perjuangan melawan ketidakadilan. Karena itu Allah mempertanyakan orang yang tidak mau berperang ketika ada ketidakadilan menimpa suatu kaum dalam firman-Nya: Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan Kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah Kami penolong dari sisi Engkau!”.(QS. An Nisaa’: 75).

Peperangan dalam Islam tidak dibenarkan kecuali untuk menyingkirkan penganiayaan, meski tetap memiliki batasan-batasan. Setiap pejuang Islam harus melindungi anak-anak, orang tua, kaum lemah, bahkan pepohonan. Atas dasar itu, Allah memberi petunjuk: “Kalau mereka cenderung kepada perdamaian, maka sambutlah kecenderungan itu, dan berserah dirilah kepada Allah” (QS Al-Anfal [8]: 61).

Di luar peperangan, penciptaan perdamaian pun harus dijalankan melalui berbagai bentuk dari mempergauli manusia secara baik dan tolong menolong. Dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Umar disebutkan bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah, “Bagaimana Islam yang lebih utama?” Nabi menjawab, “Memberi makan (orang-orang miskin), mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal.” (HR. Bukhari)

Pergaulan sosial secara baik dalam Islam merupakan hal yang sangat penting dan itu merupakan tanda-tanda keimanan. Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah menyakiti tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah serta hari akhir bmaka hormatilah tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah serta hari akhir maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari)

D. Tentang Islam Bermajuan

Pada bagian ini saya ingin masuk membicarakan politik kebudayaan Muhammadiyah. Selama ini Muhammadiyah dikenal dengan jargon Islam Berkemajuan. Jargon tersebut merupakan jawaban kebudayaan Muhammadiyah untuk mengajak umat keluar dari kultur masyarakat agraris masuk pada kultur industri tahap awal. Dalam masyarakat berbudaya industri awal ini simbol yang “laku” adalah kemajuan, sejalan dengan melepaskan budaya agraris masuk kepada budaya industri awal. Demikianlah gebrakan yang dibangun Muhammadiyah di awal-awal berdirinya.

Dalam perkembangannya istilah “berkemajuan” diperkenalkan dalam memberikan ciri tentang masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dalam Muktamar ke-37 tahun 1968 dikupas tentang karakter masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, dan dari sembilan ciri masyarakat Islam yang sebenar-benarnya itu bisa kita temukan bahwa salah satu cirinya ialah “Masyarakat Berkemajuan”, yang ditandai oleh: a) Masyarakat Islam ialah masyarakat yang maju dan dinamis, serta dapat menjadi contoh; b) Masyarakat Islam membina semua sektor kehidupan secara serempak dan teratur/terkoordinir; c) Dalam pelaksanaannya masyarakat itu mengenal pentahapan dan pembagian pekerjaan.

DR Abdul Mu’ti [1] merumuskan lima pondasi Islam Berkemajuan berdasar perjalanan Muhammadiyah yang dilihatnya. Pondasi Islam Berkemajuan yang pertama adalah Tauhid yang murni. Salah satu misi Islam sebagaimana diperjuangkan Muhammadiyah adalah menegakkan tauhid yang murni. Kedua, memahami Al Qur’an dan As Sunnah secara mendalam. Ketiga, melembagakan amal shalih yang fungsional dan solutif. Keempat, berorientasi kekinian dan masa depan. Dan kelima, bersikap toleran, moderat dan suka bekerjasama. Lima pondasi itulah yang mendasari perjalanan Muhammadiyah pada abad pertama dan menjadikan Muhammadiyah eksis melampaui abad pertama.

E. Tentang Islam Bil Hikmah

Kalau dalam masa industrialisasi awal Muhammadiyah keluar dari budaya agraris dengan semboyan “Islam Berkemajuan” maka pertanyaannya, semboyan apa yang cocok untuk Muhammadiyah di zaman yang telah keluar dari industrialisasi awal dan bergerak pada industrialisasi tahap lanjut? Begitu pertanyaan Profesor Kuntowijoyo menjelang Mukhtamar Muhammadiyah tahun 1995. Dalam makalahnya yang disampaikan pada tangal 15 Juni 1995 ia mengatakan bahwa jawaban untuk pertanyaan apakah yang tepat sebagai pengganti simbol “Islam berkemajuan” dalam bidang kebudayaan bukanlah hal yang sedehana. Tetapi beliau meringkas usulannya dengan “Islam dan Kebijakan Kenabian” yang dalam bahasa saya bisa dirumuskan menjadi “Islam Bil Hikmah”.

Apa yang terjadi dalam kultur industri tahap lanjut sejalan dengan fenomena disebut dengan “the End of History”. Persoalan yang menjadi perhatian dari manusia secara umum bukan lagi apa ideologinya, namun bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan seperti kerusakan lingkungan, fenomena korupsi, kemiskinan, dan sebagainya. Menguatnya intelektualisme pun menjadi arus budaya baru dimana ilmu pengetahuan dan teknologi seakan ditempatkan menggantikan agama sebagai “petunjuk” dalam masyarakat luas yang memunculkan arus balik dalam skala terbatas berupa fundamentalisme dengan berbagai bentuknya. Dari yang hanya mementingkan teks, sampai terorisme; dari agama politis sampai yang apolitis, dari yang sekedar menolak gejala peradaban modern sampai yang akan kembali ke masa lampau. Terhadap sekian banyak bentuk ini, dakwah membutuhkan kebijaksanaan memahami objek dakwahnya. Dengan demikian jargon “Islam Bil Hikmah” rasanya tepat untuk menjadi simbol dakwah Muhammadiyah dalam kultur industri tingkat lanjut.

Hikmah pada dasarnya adalah kebijakan kenabian yang sungguh patut dijadikan paradigma dakwah dalam masyarakat industri tahap lanjut. Prof.DR.Hamka[2] menyebutkan bahwa dalam bahasa kita, hikmah bisa disebut dengan bijaksana. Sedang dalam bahasa Arab ahli hikmah disebut dengan al-hakim, yang merupakan salah satu di antara Asma Allah! Maka Allah menyebutkan bahwa mereka yang diberi hikmah maka ia mendapatkan kekayaan yang banyak (khoiron katsiiro).

Syaikh Muhammad Abduh sebagai salah seorang ulama yang hidup di awal abad modern, yang telah banyak membaca buku-buku dari para intelektual, secara luas menafsirkan tentang hikmah. Menurutnya, hikmah itu adalah ilmu yang sah, yang dapat dipertanggung-jawabkan, yang telah sangat mendalam pengaruhnya di dalam diri sendiri, sehingga dia yang me­nentukan kehendak untuk me­milih apa yang dikerjakan. Kalau suatu amal perbuatan benar-benar timbul daripa­da ilmu yang shahih, maka amal itu akan menjadi amal yang memberi faedah dan membawa keba­hagiaan orang.

Allah memberikan hikmah kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Dengan begitu yang diberi alat budi itu berupa hikmah, di antara makhluk ini, hanyalah manusia saja. Akal yang cerdas itu adalah alat yang seam­puh-ampuhnya untuk memperdalam ilmu yang sejati dengan keragu-raguan dan dugaan. Akal adalah alat penimbang, pe­nyaring antara yang meragukan dan ke­simpulan yang benar. Penyaring antara mana yang sudah jelas dan bisa dipahami dengan yang masih perlu renungan pan­jang. Kalau akal sudah bekerja dan mem­beri hasil yang baik, maka segala keragu-raguan menjadi hi­lang, dan mudahlah membedakan mana yang was-was dan mana yang ilmu untuk dipertanggung-jawabkan. Demikian Muhammad Abduh, menafsirkan tentang hikmah.

Ibnu Abbas mengatakan: al-hikmatu huwal fiq-hu fil-qur’aaan (artinya: Hikmah itu ialah kesang­gupan memaham­kan al-Qur’an). Maksudnya bila seseo­rang sudah dapat memahamkan (mem-fiqih-kan) dari dalam al-Qur’an mana yang hudan (petunjuk) dan mana yang hukum, mana yang disuruh (wajib) dan apa sebab wajibnya dan mana yang di­cegah (haram) dan apa sebab dicegah, lalu dapat membandingkan atau meng-qiyas-kan yang furu’ (cabang) kepada yang ashal (pokok), itulah tanda-tanda orang yang diberi hikmah. Maka menurut tafsiran Ibnu Abbas itu orang yang oleh ahli Fiqh disebut Mujtahid patutlah disebut al-hakim juga.

Untuk lebih jelasnya, Hamka mengambil perumpamaan seorang sarjana yang baru lulus dari sebuah Universitas. Meski telah lulus ujian berbagai mata kuliah, pada waktu itu dia baru bisa disebut orang yang berpengetahuan. Dia belum dianggap sebagai ahli hikmah. Dia baru berhak menda­pat sebutan ahli hikmah setelah dia mela­kukan praktik kelak di dalam bidang ilmu yang diketahuinya itu. Setelah dia bekerja dan beramal akan didapatkannya dalam perjalanan beberapa hikmah dan pengala­man. Semua hikmah dan pengalaman itu tidak tertulis dalam buku dan tidak pula diajarkan oleh dosen, tetapi didapat karena bekerja dan mengamalkan ilmunya.

Dengan semua penjelasan di atas sungguh amat jelas bahwa hikmah adalah substansi yang dikembangkan dengan dakwah. Perlu ditekankan bahwa hikmah yang merupakan manifestasi kebijaksanaan kenabian bukan sekedar cara atau metode dakwah. Jika tanpa hikmah yang dijadikan substansi yang dikembangkan oleh dakwah maka dakwah tidak akan memberi pengaruh yang luas, bahkan akan menciptakan berbagai perbenturan. Seperti misalnya dakwah yang mengusung Islam damai akan dibenturkan dengan Islam radikal yang secara faktual ada dalam tubuh umat Islam juga.

Seringkali ”bil hikmah” hanya diartikan sebagai metode atau cara, bukan substansi. Dengan demikian dakwah tidak menawarkan kebudayaan baru, kecuali sekedar nilai-nilai normatif yang terasa kurang konkrit dan tidak menyentuh banyak dimensi kehidupan manusia. Islam hanya menjadi agama pribadi-pribadi dan secara  sosial hanya terdengar di Masjid-masjid, pelajaran-pelajaran agama, dan mimbar-mibar pengajian. Sementara dalam praktik kehidupan bermasyarakat kurang terasa pengaruh spirit Islamnya.

Hikmah sebagai substansi yang dibawa oleh dakwah bisa diartikan sebagai sebuah kebudayaan yang mewakili kebijaksanaan kenabian (yang rahmatan lil ’alamin). Dengan demikian Islam bil hikmah bisa diartikan dengan Islam yang menawarkan kebudayaan yang rahmatan lil ’alamin. Dalam praktiknya Islam bil hikmah ini bisa dikenali dengan 2 pondasinya, yaitu: 1) Islam sebagai agama rahmatan lil ’alamin dan 2) Islam sebagai agama yang ilmiah. Selanjutnya nanti saya akan menguraikan bahwa Islam sebagai rahmatan lil ’alamin memiliki dua sifat ajaran Islam, yaitu bersifat integral dan bersifat konkrit. Sedang Islam sebagai agama Ilmiah memiliki dua sifat ajaran Islam, yaitu bersifat paralel dengan ilmu pengetahuan dan bersifat objektif.

Salah satu misi Islam sebagaimana diperjuangkan Muhammadiyah adalah menegakkan tauhid yang murni
Salah satu misi Islam sebagaimana diperjuangkan Muhammadiyah adalah menegakkan tauhid yang murni (Sumber gambar : klik disini)
  • [1] Dalam Faozan Amar dkk (ed.), 2012 Reaktualisasi dan Kontekstualisasi Islam Berkemajuan di Tengah Peradaban Global, Uhamka bekerjasama dengan UMJ dan Al-Wasat Publisher House, Jakarta.
  • [2] Dalam Tafsir al-Azhar

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 4 Tahun 2015, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait