Dakwah Muhammadiyah di era Informasi

Kata dakwah memiliki dua makna : Pertama: Secara etimologis, dakwah berasal dari bahasa Arab “دعوة” dari kata دعا- يدعو yang berarti “panggilan”, “ajakan” atau “seruan”. Ism Fa’il-nya ialah da’i/da’iyah (mufrad) dan du’at (jama’). Kedua: secara terminologi dakwah merupakan proses penyelenggaraan suatu usaha atau aktivitas yang dilakukan dengan sadar dan sengaja yang mengandung nasehat dan ajakan kebaikan kepada umat manusia (Prof. Dr. Yuhanar Ilyas, Lc. MA, Menejemen Dakwah Islam).

Dakwah dan informasi secara formal memiliki kesamaan yaitu menyampaikan pesan kepada orang lain. Tetapi secara substansial memiliki perbedaan. Dakwah tidak netral karena memihak pada nilai-nilai Islam. Informasi dapat dikatakan netral kerana interpretasinya diserahkan kepada obyeknya, tetapi sering kali tak netral karena biasa dikemas untuk interes tertentu dari sumber informasi. Penyebaran informasi yang deras menimbulkan kompetisi yang kuat dari ide-ide dan nilai-nilai yang ditawarkan. Ide dan nilai-nilai yang unggul karena masyarakat memandangnya mampu mengatasi masalahnya dan memberikan kesegaran dan atraktif yang tinggi. Karena itu, di era informasi ini dakwah harus memiliki kebijaksanaan dan strategi tertentu yaitu informasi dikendalikan untuk mendukung dinamika dakwah agar nilai Islam yang ditawarkan menjadi pilihan tepat bagi masyarakat untuk mengatasi problema hidupnya. Kebijaksanaan dakwah untuk pencapaian strategi tersebut adalah akomodatif, kontributif, kompetitif, antisipatif, dan evaluasi-kritis.

Dalam perspektif dakwah, kehidupan manusia merupakan satu kesatuan yang utuh tidak terpisahkan. Sekalipun kehidupan dapat dibedakan menjadi beberapa segi, tetapi dalam kenyataannya kehidupan itu tidak dapat dipisah-pisahkan. Kehidupan politik, ekonomi, budaya, sosial dll adalah satu kesatuan yang utuh dalam kehidupan manusia dan tidak dapat terpisah-pisah dan bahkan satu dengan yang lainya memiliki keterkaitan yang erat. Dakwah yang dilakukan oleh Muhammadiyah harus mampu memasuki wilayah-wilayah kehidupan manusia tersebut.

Dengan tersedianya alat-alat teknologi informasi, seperti internet, e-mail, twitter, facebook, whatsapp, BBM,televisi digital dan lain-lain pada zaman sekarang telah mengubah dunia menjadi sempit, karena setiap manusia bisa saling berkomunikasi dari belahan bumi yang satu dengan orang-orang yang berada di belahan bumi yang lain. Masa meluncurnya arus informasi dari suatu bangsa ke bangsa yang lain, melewati batas benua dan samudera, melalui alat-alat teknologi informasi yang sangat cepat itu disebut dengan era informasi.

Kehadiran alat-alat teknologi informasi yang telah menimbulkan era informasi dan globalisasi, disamping telah memberi dampak positif yang mampu membawa kemudahan-kemudahan dan dapat meningkatkan kesejahteraan hidup umat manusia, juga telah menimbulkan efek negatif yang tidak dikehendaki yang dapat mengancam nilai-nilai agama, moral dan kehidupan manusia sendiri. Oleh karena itu, kehadiran alat-alat teknologi informasi di samping menjadi tantangan bagi pelaksanaan kegiatan dakwah, juga dapat menjadi peluang bagi penyelenggaraan aktivitas dakwah dalam era informasi ini

Informasi telah menjelma menjadi aset dan komoditi yang sangat menentukan kehidupan manusia. Dengan komunikasi yang semakin canggih berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi, arus informasi bergerak sangat cepat tanpa terhalang oleh dimensi ruang dan waktu. Semua bidang kehidupan kita telah dilanda oleh proses mengglobalnya informasi dan komunikasi tersebut. Informasi pada masa sekarang bernilai strategis. Secara jujur kita akui bahwa pada umumnya umat islam belum bersikap infomation-minded. Pada umumnya organisasi-organisasi Islam masih menggnakan pola kerja tradisional dimana pentingnya informasi belum dianggap sebagai unsur mutlak dalam perencanaan dakwah.

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa perencanaan dakwah masih didasarkan atas asumsi dan pekiraan belaka. Mulai informasi terkait medan atau lapangan dakwah hingga potensi dan masalah yang dihadapi oleh obyek dakwah/jamaah tidak dimiliki secara baik. Selain perencanaan dakwah yang akurat menjadi mustahil tanpa informasi yang cukup maka tahapan evaluasi terhadap proses dakwah juga tidak mungkin dilaksanakan dengan baik. Bagaimana mungkin kita dapat membandingkan antara before dan after proses dakwah bilamana gambaran tentang situasi lapangan tidak kita miliki. Oleh karenanya hampir-hampir tidak ada lagi sebuah usaha modern yang tidak di lakukan atas dasar penguasaan informasi yang diperlukan. Menghadapi masyarakat yang terus berubah secara dinamis, proses dakwah harus didasarkan atas penguasaan informasi sosial, ekonomi dan pendidikan yang ada di lapangan.

Masifikasi Informasi

Masifikasi informasi berarti jenis-jenis informasi tertentu bertebaran mendunia tanpa dapat dibendung lagi. Perkembangan informasi yang begitu masif seperti internet, e-mail, twitter, facebook, whatsapp, BBM, televisi digital dan lain-lain jika dilihat dari kepentingan dakwah maka masifikasi informasi tersebut akan menimbulkan kerawanan–kerawanan moral dan etis. Bila seorang santri yang hidup di pelosok desa terpencil mendadak dapat menjadi fans dan penggemar Michael Jackson misalnya, maka hal itu menunjukkan dampak dari masifikasi informasi dalam arti luas. Semua yang terjadi di dunia dapat dengan mudah ditonton dalam sekejap mata oleh siapapun dan dimanapun.

Masifikasi informasi berarti jenis-jenis informasi tertentu bertebaran mendunia tanpa dapat dibendung lagi
Masifikasi informasi berarti jenis-jenis informasi tertentu bertebaran mendunia tanpa dapat dibendung lagi (Sumber gambar : klik disini)

Kerawanan moral dan etis muncul karena kemaksiatan dan munkarot saat ini juga mengalami masifikasi. Barang haram seperti narkoba dengan segala macam jenisnya mengalami peningkatan yang super dahsyat baik pelaku/pengedar maupun penggunanya. Hal ini tidak lepas karena akibat kecanggihan informasi sehingga siapapun dengan mudah mendapatkan barang haram tersebut. Dari uraian di atas, muncul pertanyaan bagaimana dakwah menghadapi masifikasi maksiat dan munkarat tersebut ?

Ungkapan populer dalam dunia dakwah yakni al-haqqu bilaa nidhaamin yaghlibuhu bi nidhaamin. Ungkapan tersebut oleh Prof. DR.HM.Amien Rais, diterjemahkan dengan kebenaran tanpa didukung organisasi yang rapih akan dikalahkan oleh kebathilan dengan organisasi yang rapih (baca buku ; Moralitas Politik Muhammadiyah). Dewasa ini manusia modern yang melakukan amar munkar nahi ma’ruf telah mengunakan tehnologi informasi modern. Mereka benr-benar memanfaatkan secara maksimal penggunaan jasa tehnologi yang canggih.

Sedangkan kita para pengemban dakwah cenderung mengabaikan kegunaan tehnologi mutakhir. Pada umumnya kita mengalami keterbelakangan baik pada penggunaan tehnologi informasi maupun pada kemampuan menjaring informasi yang demikian banyaknya bergerak di sekeliling kita. Ledakan-ledakan informasi itu seolah-olah kita biarkan begitu saja dan sudah tentu resiko yang harus kita terima adalah bahwa kita harus puas dengan ketinggalan informasi itu. Namun jangan sekali-kali kita lupa bahwa ketertinggalan informasi yang kita alami itu pada giliranya akan membuat langkah-langkah dakwah kita bersifat anakronistik atau tidak njamani lagi.

Solusi Dakwah

Era informasi dengan segala kelebihan dan kelemahannya bagi umat manusia memang harus dihadapi oleh para pelaku dakwah agar dakwah Islamiyah amar ma’ruf nahi munkar tetap relevan,efektif dan produktif maka perlu ada tindakan nyata dalam dakwah Muhammadiyah. Pertama, perlu ada agenda pengkaderan yang serius untuk memperoduksi juru-juru dakwah yang handal dan profesional. Ilmu tabligh belaka tidak cukup untuk mendukung proses dakwah. Diperlukan pula berbagai penguasaan dalam ilmu-ilmu tehnologi informasi. Kedua, perlu adanya “labda” atau laboratorium dakwah. Dari sini akan dapat diketahui masalah – masalah riil di lapangan dan dapat pula mengetahui potensi dan kelemahan para mubaligh/dai. Dalam konteks ini KMM/Korps Mubaligh Muhammadiyah PDM Kota bisa menjadi “Labda” nya Muhammadiyah. Ketiga, proses dakwah yang dilakukan tidak hanya bil-lisan tetapi harus diperluas dengan dakwah bil-hal.

Penyebaran informasi yang deras menimbulkan kompetisi yang kuat dari ide-ide dan nilai-nilai yang ditawarkan. Ide dan nilai-nilai yang unggul karena masyarakat memandangnya mampu mengatasi masalahnya dan memberikan kesegaran dan atraktif yang tinggi. Karena itu, dakwah perlu membuat strategi dan langkah-langkah kebijakan agar nilai Islam yang ditawarkan menjadi pilihan tepat bagi masyarakat untuk mengatasi problema hidupnya.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tabligh Majalah Mentari Bulan 4 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait