Dakwah Komunitas

Sejak awal berdirnya Muhammadiyah yang merupakan salah satu  Organisasi Islam tertua dan terbesar di Indonesia telah mendeklarasikan organisasinya sebagai organisasi gerakan Dakwah Islam. Ciri khas ini muncul sejak dari kelahiranya tetap melekat tak terpisahkan dalam jati diri Muhammadiyah. Ke-istiqomahan Muhammadiyah dalam menjalankan misi dakwahnya ini karena terilhami oleh seruan Allah swt. yang menyatakan :Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar,  merekalah orang-orang yang beruntung.”(Qs. Ali Imron ayat 104). Firman Allah swt ini seolah menjadi pemicu semangat bagi para aktifis dan warga Muhammadiyah untuk selalu  menggelorakan semangat dakwah di tengah-tengah umat karena memang dakwah diyakini oleh Muhammdiyah sebagai  perintah agama yang harus   dilakukan baik secara individu maupun kelompok/lembaga.

Untuk mencapai tujuan dakwah yakni amar ma’ruf nahi munkar maka dakwah harus dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan serta diperankan atau  dilakukan oleh  orang yang memiliki kompetensi/kemampuan dan keahlian dalam bidangnya. Dengan kata lain  dakwah tidak bisa dilakukan dengan srampangan/wathon/ngawur (bahasa Jawa) namun harus tetap dilakukan secara baik dan profesional serta menggunakan ushlub atau  metode/cara yang jitu agar tujuan mulia dari dakwah bisa diwujudkan.

Seiring dengan perkembangan masyrakat yang semakin maju maka tantangan yang dihadapi oleh para da’i tidaklah semakin ringan melainkan semakin berat, besar dan komplek. Dikatakan berat karena tugas tersebut memerlukan berbagai daya dan upaya serta kemampuan dan usaha sungguh-sungguh untuk melaksanakanya. Sedangkan dikatakan besar dilihat dari segi cakupannya  yang menjangkau semua sektor kehidupan. Dan dikatakan komplek karena satu masalah dengan yang lainya yang dihadapi masyarakat saling memiliki keterkaitan.  Terlebih  berdakwah di era sekarang ini yang dikenal dengan era berkemajuan  di mana terjadi perubahan besar  pada setiap bidang kehidupan manusia baik  kehidupan fisik, sosial, ekonomi, politik, kejiwaan maupun agama.  Perubahan besar ini berdampak pada terciptanya  sekat-sekat kehidupan umat sehingga lahirlah kelompok-kelompok tertentu atau komunitas di masyarakat. Kondisi riel ini merupakan tantangan dakwah bagi Muhammadiyah. Oleh karena itu gerakan dakwah yang dilakukan oleh Muhammadiyah di tengah-tengah masyarakat  harus benar-benar dapat menyentuh dan memberikan manfaat serta  bisa diterima oleh setiap individu masyarakat. Dakwah Muhammadiyah harus berdiri di atas dan untuk semua golongan. Inilah yang kemudian penulis menamakan dengan istilah “Dakwah Komunitas”

Komunitas yang dimaksud adalah adanya keanekaragaman kelompok-kelompok atau jamaah  yang ada di masyarakat. Kelompok adalah kumpulan orang-orang yang memiliki hubungan dan berinteraksi, yang dapat mengakibatkan pertumbuhan perasaan bersama yang terdiri  dua orang atau lebih yang berinteraksi atau berkomunikasi satu sama lain. Lebih lanjut mengenai masalah ini baca buku seri panduan praktis Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah/GJDJ yang diterbitkan oleh Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting PP Muhammadiyah.

Sebenarnya konsep GJDJ ini merupakan terobsan baru dalam uapaya pengembangan masyarakat muslim sehingga bisa memperkuat dan memperkokoh gerakan dakwah Muhammadiyah
Sebenarnya konsep GJDJ ini merupakan terobsan baru dalam uapaya pengembangan masyarakat muslim sehingga bisa memperkuat dan memperkokoh gerakan dakwah Muhammadiyah (Sumber gamar : klik disini)

Sebenarnya konsep GJDJ ini merupakan terobsan baru dalam uapaya pengembangan masyarakat muslim sehingga bisa memperkuat dan memperkokoh gerakan dakwah Muhammadiyah. Dikatakan baru karena memang munculnya konsep dakwah jamaah/GJDJ  diawali pada tahun 1974-1977. Ide tersebut muncul pada Muktamar ke-37 di Yogyakarta dan mengalami penyempurnaan pada Muktamar ke-38 di Ujung Pandang, hingga akhirnya diputuskan pada Muktamar ke-39 di Padang sebagai program persyarikatan jangka panjang.  Strategi yang dilakukan adalah dengan upaya pengelompokan masyarakat berdasarkan basis-basis tertentu. Disamping agenda dakwah dapat menyebar rata  tanpa harus mengumpulkan seluruh lapisan masyarakat dalam satu waktu dan  lebih efektif serta pengelompokan ini dapat  memberikan fokus arahan dari para mubaligh/da’i kepada masyarakat sesuai dengan komunitasnya masing-masing. Selanjutnya dalam konsep GJDJ itu juga telah dipaparkan secara gamblang tentang pola  pengelompokan komunitas  masyrakat yang  didasarkan basis tertentu. Misalnya  :

  1. Basis profesi : tukang becak, andong, tukang ojek, karyawan dll
  2. Basis hobi : memancing, sepeda dll
  3. Basis waktu luang : penjaga gardu ronda dll
  4. Basis kampus : mahasiswa, dosen dll.

Perkembangan ilmu dan tehnologi serta informasi yang nyaris tak terbendung  di era sekarang ini berdampak pada munculnya ragam komunitas baru di masyarakat yang saat konsep GJDJ dicetuskan ragam komunitas baru itu  belum dan bahkan tidak  ada. Komunitas baru itu misalnya Komunitas Virtual (virtual community). Komunitas ini lebih memanfaatkan   dunia maya atau internet sebagai media komunikasi dan interaksinya seperti blog, Facebook, Twitter, Telegram, dan WhatsApp. Jumlah komunitas ini tiap tahun bertambah dan bahkan jumlahnya sangat fantastis. Menurut laporan Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia, pengguna internet terus meningkat tahun demi tahun. Pada sekitar tahun 2015, misalnya, pengguna jasa internet mencapai 139 juta orang. Komunitas baru lainya yang muncul era sekarang in dan harus mendapatkan sentuhan dakwah Muhammadiyah adalah komunitas  sosialita yang melibatkan perempuan – perempuan kelas atas sebagai aktor utamanya.

Komunitas lain yang tidak kalah pentingnya untuk mendapatkan sentuhan dakwah Muhammadiyah adalah yang dikenal dengan istilah Komunitas Khusus. Kehidupan mereka tersisihkan dan termarginalkan dari kehidupan masyarakat kota. Bahkan sebagian dari kita menganggap mereka sebagai mahluk kotor padahal mereka sangat  membutuhkan perhatian serius. Komunitas Khusus ini adalah para  Pekerja Seks Komersial (PSK) dan anak jalanan, gelandangan dan pengemis (GEPENG) serta para nara pidana (NAPI). Semua komunitas khusus ini ada di kota Yogyakarta. Salah satu dari Komunitas Khusus tersebut yakni komunitas NAPI, Majelis Tabligh PDM Kota aktif berdakwah di lingkungan mereka yakni di Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan Wirogunan Yogyakarta. Komunitas Khusus ini memang perlu penanganan  khusus  agar mereka bisa terlepas dan bebas dari kehidupan kelamnya. Ini adalah pekerjaan rumah bagi kita sebagai kader Muhammadiyah untuk terus meningkatkan kompetensi dalam berdakwah sehingga dakwah Muhammadiyah  benar-benar bisa dirasakan oleh semua komunitas. Masih ada juga memang persepsi yang berkembang di masyarakat bahwa dakwah Muhammadiyah masih seputar pemberantasan takhayul, bidah, dan churafat (TBC). Dampaknya, dakwah Muhammadiyah kurang bisa diterima masyarakat pedesaan, abangan, sinkretis, muslim nominalis, kelompok marginal, dan komunitas khusus dan bahkan  dakwah Muhammadiyah pun dianggap kurang populis.

Para mubaligh dan da’i Muhammadiyah memang harus benar-benar merancang dan memodifiksi dakwahnya agar sasaran dan tujuan dakwah bisa tercapai. Dakwah komunitas  ini sebenarnya di samping memudahkan bagi para mubaligh dan da’i Muhammadiyah dalam memilih dan menentukan tema/materi yang akan disampaikan juga  memudahkan masyarakat untuk berkumpul sesuai komunitasnya masing-masing. Dakwah komunitas yang berupaya menhadirkan model dakwah dengan pengelompokan masyarakat berdasarkan basis tertentu sepertinya patut dilakukan pada era sekarang ini, mengingat kemasan (packaging) dakwah Muhammadiyah yang dilakukan selama ini  terasa normatif, kering, kurang adaptif, dan bahkan kehilangan selera humor.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tabligh Majalah Mentari Bulan 3 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait