Dakwah Keluarga

Gambar Dakwah Keluarga
Margianto, S.Ag, MA
Majelis Tabligh PDM Kota Yogyakarta, Korps Mubaligh Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Dalam banyak literatur dakwah diartikan mengajak (QS. An Nahl : 125), namun dalam pengertian yang integralistik dakwah merupakan suatu proses yang berkesinambungan yang dilakukan oleh para pengemban dakwah yakni da’i, mubaligh untuk mengubah masyarakat agar mengikuti jalan Allah. Berbeda dengan makna dakwah, dalam konteks keluarga maka al-qur’an menggunakan tiga kata yang semuanya merujuk pada makna keluarga. Pertama : Ahlun adalah keluarga yang senasab dan seketurunan, yang  berkumpul dalam satu tempat tinggal, seperti firman Allah swt  :

يا ايهاالذين امنوا قو انفسكم واهليكم نارا

Artinya  : wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS. At Tahriim : 6).

Kata ‘ahli‘ dalam ayat ini adalah istri dan anak-anak serta yang dikaitkan dengan keduanya. Kedua : Qurba  adalah keluaga yang ada hubungan kekerabatan baik yang termasuk ahli waris maupun yang tidak termasuk, yang tidak mendapat warisan tapi termasuk keluarga kekerabatan seperti firman Allah swt :

لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ ۚ نَصِيبًا مَفْرُوضًا

Artinya  : Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan (QS. An Nisaa : 7).

لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ ۚ نَصِيبًا مَفْرُوضًا

Artinya  : Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan (QS. An Nisaa : 7).

Ketiga : ‘Asyirah adalah keluarga seketurunan yang berjumlah banyak. Kata ‘Asyirah berasal dari kata   عشر  yang menunjukkan pada bilangan yang banyak. Seperti firman Allah swt :

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ

Artinya  : Katakanlah : “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu.” (QS. At Taubah : 24).

Allah swt memerintahkan kita agar melakukan dakwah dalam lingkungan keluarga , seperti firman Allah swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya  : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS. At Tahriim : 6).

Ayat di atas menggambarkan bahwa dakwah  harus bermula dalam lingkungan keluarga.  Allah swt memerintahkan kepada orang yang beriman agar bisa menjaga dirinya serta keluarganya  yakni istri, anak, dan seluruh orang yang berada di bawah tanggung jawabnya untuk tidak melakukan perbuatan yang melanggar syariat agama sehingga kelak di akhirat  terhindar dari api neraka. Terkait ayat ini Ali bin Abi Thalhah menuturkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata : “Lakukanlah ketaatan kepada Allah dan jagalah dirimu dari kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah, dan perintahkan keluargamu dengan dzikir, niscaya Allah swt akan menyelamatkanmu dari neraka”. Maksudnya, ajarilah keluargamu dengan melakukan ketaatan kepada Allah yang dengannya akan menjaga diri mereka dari neraka.

Dakwah dalam lingkungan keluarga sangatlah penting karena keluarga merupakan  komunitas kecil dalam masyarakat. Setiap muslim diwajibkan untuk hidup berkeluarga demi menjalankan tuntutan ajaran islam. Fungsi keluarga sangat berarti dalam membentuk karakter dan kepribadian seseorang. Keluarga merupakan unit (satuan) terpenting bagi proses pembangunan umat. Kepribadian yang baik terbentuk dari sebuah keluarga yang menanamkan budi pekerti yang baik. Islam sebagai agama yang tujuan utamanya adalah kebahagiaan di dunia dan diakhirat. Islam sangat mementingkan pembinaan pribadi dan keluarga. Pribadi yang baik akan melahirkan keluarga yang baik, sebaliknya pribadi yang rusak akan melahirkan keluarga yang rusak. Keluarga ibarat seluruh pilar yang menopang suatu negara. Makin kokoh pilar-pilar penopang tersebut, semakin kuatlah kehidupan negara tersebut

Dakwah bukan perkara mudah, mengajak orang berbuat baik merupakan tugas berat yang harus dilakukan secara serius. Namun demikian meskipun seorang da’i / mubaligh telah mengerahkan semua kemampuanya namun terkadang keberhasilan dakwah belum juga didapat. Hal ini lebih disebabkan semata – mata karena hidyah allah swt belum mereka dapatkan. Allah yang berkuasa memberi hidayah kepada manusia. allah swt berfirman :

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya  : Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat) (QS al-A’raaf : 178).

Dalam lingkungan keluarga, dakwah juga terkadang kurang berhasil. Sungguhpun segala daya kemampuan telah dikerahkan. Ketidak berhasilan atau kegagalan dakwah dalam keluarga bukan hanya dialami oleh  seorang da’I / mubaligh, bahkan sebagian para nabi dan rasul allah pun juga mengalaminya. Al-qur’an telah menceritakan kegagalan dakwah keluarga yang dialami oleh para nabi dan rasul Allah. Pertama : Dakwahnya Nabi Nuh ‘alaihisalam dan Nabi Luth ‘alaihisalam. Mereka adalah nabi dan rasul Allah, seorang yang beriman, taat pada perintah allah swt. Namun mereka berdua memiliki isteri yang justru tidak mau mengikuti seruan dakwah yang mereka lakukan dan berseberangan jalan dengan dirinya. Allah swt berfirman :

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

Artinya  : Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya) : “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam).” (QS. At Tahriim : 10).

Kedua : Dakwahnya nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memulai dakwahnya dari orang terdekat, yaitu ayahnya sendiri yang merupakan seorang penyembah sekaligus pembuat berhala. Beliau mengajak ayahnya dengan kata-kata lembut dan santun, Allah swt berfirman :

وَٱذكُر فِي ٱلكِتَٰبِ إِبرَٰهِيمَ إِنَّهُۥ كَانَ صِدِّيقا نَّبِيًّا. إِذ قَالَ لِأَبِيهِ يَٰأَبَتِ لِمَ تَعبُدُ مَا لَا يَسمَعُ وَلَا يُبصِرُ وَلَا يُغنِي عَنكَ شَي‍ٔا

Artinya  : Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikitpun.” (QS. Maryam : 41-42).

Dakwahnya nabi Ibrahim memulai dakwahnya dari orang terdekat, yaitu ayahnya sendiri
Dakwahnya nabi Ibrahim memulai dakwahnya dari orang terdekat, yaitu ayahnya sendiri (Sumber gambar : klik disini)

Nabi Ibrahim alaihissalam memanggil ayahnya dengan kataأبت (Abati) yang berarti ‘wahai bapakku’, biasanya memanggil bapak adalah dengan kata أبي  (Abi), namun tambahan huruf ت  disini dalam bahasa arab menunjukkan panggilan yang sangat halus penuh penghormatan kepada seorang bapak. Kemudian beliau mulai menyampaikan dakwahnya dengan mengutarakan kata-kata yang seakan-akan mengajak ayahnya untuk berpikir secara logis, pantaskah benda mati yang tidak mendengar, tidak melihat apalagi memberi pertolongan disembah?. Nabi Ibrahim terus mengulang kata أبت (Abati) sampai empat kali, beliau sangat berharap hati ayahnya dapat luluh mendengar ajakannya dan beriman kepada Allah swt. Namun seruan dakwah nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada ayahnya sendiri pun tidak berhasil. Ayah Nabi Ibrahim malah menjawab seruan dakwah anaknya dengan kata-kata yang kasar, keras dan mengancam, dia berkata:

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنتَ عَن ءَالِهَتِي يَٰإِبرَٰهِيمُ لَئِن لَّم تَنتَهِ لَأَرجُمَنَّكَ وَٱهجُرنِي مَلِيّا

Artinya  : Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” (QS. Maryam : 46).

Ketiga : Dakwahnya nabi Muhammad saw. Ketika turun wahyu  Q.S. Asy-Syu’araa : 214, yang berbunyi, “Dan berikanlah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” Maka Rasulullah saw.langsung berdakwah kepada masyarakat quraisy  makkah. Penolakan dakwah nabi Muhammad saw justru berasal dari keluarga dekatnya sendiri yakni Abu Lahab. Sifat angkuh dn sombongnya Abu Lahab serta  tidak mau menerima serun dakwah nabi Muhammad saw. allah swt ceritakan dalam al-qur’an dan diabadikan menjadi salah satu nama surat al-qur’an yakni surat Al lahab.

Betapapun sulit dan beratnya dakwah terhadap keluarga namun hal itu harus tetap dilakukan agar keluarga kita tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama. Nilai – nilai islam harus selalu dijaga dalam kehidupan keluarga agar keluarga kita selamat di dunia dan akhirat. Amin.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tabligh Majalah Mentari Bulan 2 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...