Cahaya Muhammadiyah Tanpa Batas

Gambar Cahaya Muhammadiyah Tanpa Batas
Ari Susanto, S.E.I, M.E
Ketua DPD IMM DIY 2016/2018, Anggota MPI PDM Kota Yogyakarta, Peneliti LSM PUNDI Yogyakarta

Muhammadiyah sebagai organisasi Islam asli Indonesia yang didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan telah memasuki usia abad ke-duanya, terhitung sejak organisasi pembawa cita-cita kemanusiaan ini berdiri 18 November 1912. Muhammadiyah adalah organisasi yang didesain mampu menjawab persoalan umat dan tantangan zaman. Hal ini dibuktikan bahwa spirit Islam ala Muhammadiyah melalui tafsir berkemajuan atas surat al-Ma’un, bagaimana ajaran KHA. Dahlan mengoprasionalkan ajaran Islam dalam kehidupan pribadi dan kemasyarakatan. Nampak bahwa apa yang ditanamamkan oleh KHA Dahlan sepirit Islam atas dasar kemanusiaan.

Islam yang diajarkan KHA Dahlan adalah ajaran yang fungsional, meminjam istilah Kuntowijoyo Islam harus menjadi komunitas. Islam fungsional adalah dimana ajaran agama mampu mampu difungsionalkan oleh setiap pribadi manusia untuk selalu taat akan perintah agama, yang selanjutnya mampu menampilkan entitas/komunitas dalam masyarakat yang berkeadaban, berlandaskan keadilan. Islam fungsional sebagaimana menerjemahkan konsep umum tentang Islam rahmat al-‘alamin, Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam ini.

Muhammadiyah telah mengenalkan Islam kepada dunia sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Setidaknya nilai itu tercermin dalam agenda besar dalam satu abad perjuangan Muhammadiyah sebagaimana yang tercermin dalam kegiatan pendidikan (schooling), kesehatan (healing), sosial kemasyarakatan (feeding). Saat masyarakat tidak mengenal baca tulis Muhammadiyah mendidik masyarakat melalui sekolah yang didirikan. Saat penyakit melanda masyarakat, Muhammadiyah mempelopori Kesehatan gratis. Saat masyarakat dalam lumbung kemiskinan, Muhammadiyah memfasilitasinya melalui rumah sosial. Itulah komitmen masa depan kemanusiaan yang diperjuangkan Muhammadiyah. Karena kemajuan suatu bangsa diukur dengan indikator kemajuan dan keunggulan pendidikan dan kesehatan suatu bangsa.

Siapa yang masih meragukan atas komitmen kemanusiaan Muhammadiyah?. Organisasi asli Indoensia turut serta dalam membantu tugas negara dengan mendirikan ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebagaimana yang dilansir laman Resmi Muhammadiyah.or.id, jumlah AUM dalam bidang pendidikan Taman Kanak-Kanak/Taman Pendidikan Qur’an sebanyak 4.623, Sekolah Dasar/Madrasah Ibtida’iyah  sebanyak 2.252, Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah sebanyak 1.111, Sekolah Menengah Atas/Kejuruan/Madrasah Aliyah sebanyak 1.291, Perguruan Tinggi sebanyak 171, pondok pesantren 67. AUM dalam bidang kesehatan Rumah Sakit/Klinik/Rumah Bersalin sebanyak 2.119. sedangkan dalam bidang sosial AUM Panti Asuhan/Asuhan Keluarga/Santunan sebanyak 318, panti Jompo 54, Rehabilitas disabilitas 71, Masjid/Mushollah sebanyak 11.198.

Dari sini dapat kita melihat bagaimana misi kemanusiaan Muhammadiyah dalam berbangsa dan bernegara. Masihkah ada yang meragukan kehadiran Muhammadiyah sebagai organisasi asli bangsa di bumi Indonesia?. Jika ada yang meragukan hendaknya belajar lagi soal sejarah bangsa Indonesia. Dengan ketulusan para pengurus Muhammadiyah untuk terus membantu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tanpa meminta imbalan dan bantuan dari negara. Ditengah gelombang tarik menarik perebutan kekuasaan syarat kepentingan, Seharusnya negara memahami bagaimana memposisikan dan memperhitungkan Muhammadiyah, bukan mengesampingkannya.

Muhammadiyah for All

Jangkauan gerakan dakwah Muhammadiyah diabad keduanya setidaknya dikelilingi oleh berbagai tantangan. Hal itu harus segera dijawab oleh Muhammadiyah setidaknya dalam hal krisis kebangsaan, krisis sosial-politik, krisis moral, krisis budaya, krisis keadaban dan lain sebagainya. Ditengah kemajuan teknologi dan informasi telah membentuk suatu tatanan kehidupan baru yang menuntut lebih cepat dan tepat dalam mengambil keputusan dan memberikan kontribusi nyata dalam kehidupannya. Biarlah anak bangsa saling berebut kursi kekuasaan tanpa tujuan nyata, posisi Muhammadiyah tetap komitmen dalam aksi-aksi nyata untuk memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Posisi Muhammadiyah tetap komitmen dalam aksi-aksi nyata untuk memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara
Posisi Muhammadiyah tetap komitmen dalam aksi-aksi nyata untuk memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara (Sumber gambar : klik disini)

Cahaya Muhammadiyah dalam menyinari kehidupan berbangsa dan bernegara serta dunia internasional tentu tanpa batasan. Karena prinsip memajukan kehidupan merupakan semangat dan spirit Islam yang berkemajuan. Mengimplementasikan suatu spirit Islam yang berkemajuan menjadi keniscayaan. Islam berkemajuan tidak bertentangan dengan kemanusiaan universal, Islam dan kemanusiaan hendaknya dihirup dalam satu tarikan nafas. Sebagaimana konsep kemanusiaan universal keadilan, kebijaksanaan, kearifan, perdamaian, kesejahteraan, harus hidup dalam interaksi sosial berbangsa dan bernegara. Muhammadiyah mencoba hadir sebagai pelita sebagaimana pesan Al-Qur’an Takrij aldhulumat ilannur (memberi pencerahan pada kehidupan).

Diabad keduanya, Muhammadiyah menegaskan bahwa gerakan Muhammadiyah untuk semua (Muhammadiyah for All). Tentu dengan komitmen penegasan diatas membawa konsekuensi agenda-agenda stategis yang harus dilakukan oleh Muhammadiyah. setidaknya agenda yang harus dijawab oleh Muhammadiyah antara lain;

Pertama, Agenda kebangsaan, sebagaimana pemikiran Buya Syafii Maarif bahwa Muhammadiyah harus tampil menjadi penentu arah pembangunan bangsa dan negara. hal ini merupakan syarat mutlak agar perjalanan melakukan agenda kebajikan Muhammadiyah untuk semua mudah berjalan. Hal ini untuk menjawab kekuasaan yang selama ini jauh dari misi kemanusiaan dan misi universalitas. Melalui agenda pencerahan atas krisis moral, dehumanisasi, pertikaian, fitnah, korupsi, kolusi, nepotisme, kekerasan dan lainnya.

Kedua, agenda internasional, sudah waktunya Muhammadiyah medesiminasikan nilai-nilai Islam ala Muhammadiyah di dunia Internasional. Muhammadiyah menjadi organisasi yang teruji dengan kemampuan semangat kolektifitas dengan misi besar membangun peradaban kemanusiaan yang di cita-citakan dalam al-Qur’an. Dengan mempromosikan Islam sebagai agama kemanusiaan, Islam sejalan dengan kemanusiaan universal, Islam sejalan dengan keadilan, Islam senafas perdamaian, Islam agama untuk Manusia, Islam dan misi peradaban dan lain sebagainya.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Opini Majalah Mentari Bulan 12 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...