Budaya Nuswantara Bukan Tiruan Budaya India

Melacak Jejak Umat Nabi Ibrahim Nusantara

Gambar Budaya Nuswantara Bukan Tiruan Budaya India
H. Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Dalam sejarah nuswantara yang disebut kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia banyak diyakini berasal dari penetrasi kebudayaan India. Berkaitan dengan itu menurut catatan Munoz (2013) kebanyakan sejarahwan mempercayai bahwa penetrasi kebudayaan India ini terjadi dalam tiga bentuk. Bentuk pertama yang disebut dengan teori Vaysa, yaitu melalui petualang atau pedagang yang  berhasil menancapkan pengaruh lalu memperkenalkan elemen-elemen kebudayaan India.  Bentuk kedua yang disebut teori ksatria, yaitu melalui seorang atau sekelompok pahlawan perang aristokrat  yang berhasil mengambil kendali komunitas lokal. Selanjutnya bentuk ketiga yang disebut teori brahmana, yaitu melalui seorang pemimpin lokal yang mengambil penasehat dari kalangan brahmana.

Teori Vaysa menyebutkan bahwa seorang petualang atau pedagang India dalam mencari produk-produk lokal telah berhasil dalam mendapatkan suatu pengaruh tertentu atas sebuah pemukiman Austronesia, biasanya dengan menikahi putri seorang penguasa. Dia kemudian mencoba meningkatkan level kehidupannya dengan memperkenalkan elemen-elemen kebudayaan India yang dikuasainya. Melihat sejarah yang ada, teori ini masuk akal, namun faktanya tidak pernah ada migrasi orang-orang India secara besar-besaran untuk mendukung teori ini. Juga sangat diragukan bahwa para pedagang bisa mentransfer bahasa atau kultur kebangsawanan Sanskrit.

Teori Kstria menyebutkan seorang pahlawan aristokrat atau sekelompok pahlawan perang yang mencari kekuatan  dan kekayaan menawarkan jasa mereka pada penguasa lokal dan kemudian berhasil mengambil kendali komunitas. Teori ini sangat mirip dengan legenda Aji Saka, namun perlu dicatat  bahwa teori semacam ini belum pernah disokong dengan fakta-fakta. Dalam hal ini bahkan jika banyak dari Ksatria semacam itu berhasil dalam penaklukan mereka, kata Paul Michael Munoz, dampak kultural mereka sangatlah tidak masuk akal.

Teori Brahmana, didukung oleh banyak sejarahwan, menyebutkan seorang pemimpin lokal yang akrab dengan produk-produk India dan memiliki pengetahuan tentang kebudayaan India melalui dongengan pelaut dan para pedagang, tertarik pada beberapa manfaat yang diberikan oleh kebudayaan ini dan memutuskan untuk mengadopsi beberapa bagian darinya. Konsep Hindu tentang kehidupan dan agama dalam teori ini adalah yang paling diminati oleh para pemimpin Astronesia karena keduanya  bisa menjadi cara yang hebat untuk melegitimasi kekuasaan mereka sehingga mendapat status raja dewata. Untuk bisa mengubah status merekamenjadi raja, para pemimpin ini pertama-tama akan mencoba mendapatkan seorang penasehat seperti apa yang dikatakan para pelaut dan pedagang sebagai “suatu keharusan” bagi seorang raja. Penasehat itu adalah para Brahmana yang bisa didapat dengan cara disewa atau ditangkap. Tugas pertama dari sang Brahmana adalah untuk mengenali titisan salah satu Dewa Hindu dalam sesembahan klan itu untuk membuat suatu garis keturunan yang prestisius bagi para pemimpin klan. Hingga selanjutnya para Brahmana yang mendapatkan posisinya sebagai penasehat raja demi mengamankan status sosialnya dan jaminan kenyamanan hidupnya mengajarkan ritual-ritual Hindu dan ayat-ayat suci kepada para saudara raja.

Menurut Munoz, tidaklah mungkin mengistimewakan salah satu dari tiga teori di atas karena semuanya berdasarkan spekulasi. Meskipun sebagian ada yang menarik dan masuk akal, menurut Munoz semua teori itu tidak didasarkan atau didukung dengan sumber-sumber historis. Hal itu sangat jelas menunjukkan lemahnya klaim bahwa kebudayaan nuswantara lahir dari penetrasi kebudayaan India. Sebagaimana ditulis oleh Denys Lombard (2005), sebenarnya kemungkinan adanya “pengaruh india” tidak pernah terpikir oleh pengarang eropa sebelum awal abad ke19. Rafles mengangkat Indianisasi menjadi topik yang digemari, mungkin untuk mengaitkan Jawa dengan kemaharajaan “Hindia” Inggris.

Dalam catatan yang saya dapat dari kajian buku “Kasultanan Majapahit” dikutip pendapat Louis-Charles Damais, disebutkan bahwa istilah Hindu dipergunakan sejarahwan Belanda merujuk pada istilah hindoesch, indische, Indie, atau Indo. Pengertian kata-kata ini mutlak  berarti “Hindia” Belanda. Hal ini, dengan mengutip tulisan Gunawan Muhammad, bersesuaian dengan istilah oost Indische atau Hindia Timur untuk dunia Islam (Islamistand) sebelah timur Granada. Dan West Indische atau Hindia Barat untuk Islamistand di sebelah barat Granada Spanyol. Hal itu semakin melemahkan klaim yang menyimpulkan adanya penetrasi kebudayaan India di Nuswantara.

Lalu jika tidak karena penetrasi kebudayaan India, dari mana nenek moyang kita belajar bahasa Sansekerta dan berbagai epos yang selama ini dianggap berasal dari kebudayaan India? Coba kalau pertanyaan ini dirubah ke hal yang lebih baru tentu akan lebih mudah menjawabnya: dari mana orang Jawa belajar bahasa jawa? Untuk pertanyaan seperti itu tentu jawabnya mudah, yaitu dari kakek nenek moyang mereka sendiri yang sudah sejak awal bisa bahasa Jawa. Kalau sekarang ini orang Jawa tidak sedikit yang tidak lagi mengenal bahasa Jawa karena telah menggunakan bahasa melayu (bahasa Indonesia), maka bukan berarti bahasa asli orang jawa adalah Melayu dan bahasa Jawa diambil dari kebudayaan lain.

Penggunaan bahasa Sansekerta oleh nenek moyang kita selama ini tidak ada data sejarah yang bisa dipercaya menyebutkan bahasa itu dari kebudayaan lain, termasuk India. Sebuah fakta bahwa di Nuswantara tidak pernah terdapat peninggalan “bahasa” kaum India. Secara linguistik jelas tidak terdapat peninggalan bahasa lisan “orang India kuno” di Nuswantara. Pendapat ini diperkuat oleh Louis-Charles Damais sebagaimana tertulis dalam buku “Epigrafi dan Sejarah Nusantara”. Damais mengatakan bahwa akhirnya sama sekali tidak kata dari salah satu bahasa yang dipakai  secara lisan di India pada zaman dahulu yang tersisa dalam bahasa-bahasa di Indonesia. Menurut Damais suatu dominasi politik oleh orang-orang India sama sekali tidak mungkin.

Bahasa Sansekerta sebagaimana digunakan nenek moyang Nuswantara adalah bahasa yang digunakan untuk menyebutkan hal-hal yang luhur dan agung, tinggi, suci, dan mulia. Sedangkan bahasa sehari-hari yang digunakan oleh orang-orang India Selatan—yang lazim disebut  kaum kolonial sebagai orang-orang Hindu/Budha—adalah bahasa Prakerta. Bahasa Prakerta ini sama sekali tidak dipergunakan oleh nenek moyang Nuswantara. Itulah sebabnya Damais menjelaskan bahwa tidak ada bekas-bekas dan tanda-tanda penggunaan bahasa orang India di Nuswantara.

Dari sisi artefak, keyakinan budaya jawa itu sedikit banyak didukung dengan relief Candi Prambanan. Pemahat relief-relief Rama di Prambanan tidak mengikuti panduan-panduan yang diberikan dalam karya klasik India, maka hal ini menunjukkan dua kemungkinan sebab. Pertama, pemahat tersebut mengikuti panduan dari seniman yang berpegang pada tradisi lisan yang berkembang di daerah itu dan berbeda dengan yang di India. Kedua, ada naskah lain produk manusia nuswantara sendiri yang sekarang belum diketahui dan itu menjadi pedoman seniman untuk memandu para pemahat membuat relief-relief. Keduanya, mendukungan pandangan budaya jawa yang bukan hasil penetrasi kebudayaan India.

Harus ada pelacakan Arkeologis yang jelas ketika mengatakan bahwa penulisan berbagai versi wiracarita Mahabarata yang diperkirakan ditulis pada masa pemerintahan Prabu Dharmawangsa antara tahun 991 sampai 1016 M adalah gubahan dari kitab-kitab yang DIBAWA oleh orang-orang Hindu India. Demikian juga yang dilakukan dengan penulisan Kakawin Bharatayudha oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, tidak serta merta disimpulkan sebagai gubahan dari kitab-kitab yang dibawa oleh orang-orang Hindu India. Di masa Mataram Kuno hal itu tidak menutup kemungkinan merupakan penulisan tradisi tutur yang dikembangkan oleh nenek moyang Nuswantara sendiri, meskipun pernyimpulan seperti ini juga masih perlu penelitian lebih lanjut.

Menarik jika kita melihat tokoh Semar yang tak ada dalam kisah pewayangan India, yang hal ini pun bisa menjadi bahan penelitian tersendiri tentang penulisan tokoh-tokoh pewayangan di Nuswantara. Pada penelusuran sejarah tokoh semar dalam manuskrip Jawa terdapat penjelasan Poerbatjaraka yang oleh Suwardi Endraswara (2010) bahwa Kakawin Gatutkacasraya adalah naskah yang pertama menceritakan kesatrian yang diikuti oleh panakawan atau abdi. Selanjutnya sebagaimana ditulis oleh Edi Sediawati (2014), Candi-candi yang dibangun pada abad ke-13 dan 14 seperti Candi Tegawangi, Candi Kedaton, Candi Surawarna dan Candi Jago mulai menampilkan relief dengan pengiring yang memiliki badan gemuk dan pendek seperti bentuk Semar. Kalau menurut Profesor Slamet Mulyana nama Semar itu muncul pertama dalam Kakawin Sudamala yang diyakini ditulis pada masa Majapahit, namun secara umum kebanyakan para dalang wayang kulit meyakini bahwa pencipta tokoh Semar adalah para Wali pada masa Kerajaan Demak. Namun lepas dari siapa yang menciptakan tokoh  Semar, yang pasti bukan hasil penetrasi kebudayaan India.

Semar adalah salah satu tokoh punakawan. Adapun kata punakawan ini yang berasal dari kata puna / pana = lebih pandai dan kawan = sahabat / pengiring. Dalam wayang India tidak dikenal tokoh punakawan. Sedang dalam wayang jawa dikenal tokoh punakawan seperti semar, gareng, petruk dan bagong. Sekali lagi, panawakawan bukan hasil penetrasi kebudayaan India. Lebih jauh lagi jika melihat bahwa dalam wayang India tidak dikenal istilah Carangan dan Banjaran. Sementara wayang jawa mengenal Carangan dan Banjaran. Carangan adalah cerita detail pelengkap dan Banjaran adalah kronik tentang asal usul tokoh pewayangan. Bagaimana itu kemudian disimpulkan bahwa ada penetrasi kebudayaan India yang demikian otomatis mensahkan menjadikan kebudayaan India sebagai tafsir atas kebudayaan Nuswantara?

Bahkan, dalam masalah keagamaan saja ada perbedaan yang sangat sangat mendasar pada agama Hindu di India dan yang ada di Bali. Bukan hanya pada kebudayaannya, tapi pada hal yang sangat mendasar. Dari yang jelas nampak, sembahyangnya, hari Suci yang dirayakan, maupun hal-hal lain yang kasat mata lainnya, sangat jelas bedanya. Sebagai contoh, sembahyang pemeluk Hindu di Bali dijalankan tiga kali, yang disebut Tri Sandhya, sedang Umat Hindu di India biasanya sembahyang dua kali pagi dan sore.

Kenyataan itu seperti yang diungkapkan oleh pemenang Nobel dan pendidik dari India, Rabindranath Tagore, ketika pada tahun 1927 diundang penguasa Belanda untuk mengunjungi masyakarat Hindu di pulau Bali. Setelah kunjungannya ke Bali, sebagaimana diungkapkan Gede M.N. Natih, Tagore menyatakan bahwa berbeda dengan masyarakat Hindu India yang menganut kepercayaan Hindu Kuno secara filosofi dan Metafisika, masyarakat Hindu di Bali adalah masyarakat Hindu yang memilih melakukan elaborasi estetik terhadap agama mereka. Perlu diketahui Rabrindant Tagore ini adalah cucu Ram Mohan Roy, dari pendiri gerakan Brahma Samaj, dan ayahnya Devendranath Tagore sangat dikenal dengan gerakan-gerakannya yang menghidupkan kembali agama Hindu (menghadapi kebudayaaan eropa).

Masyarakat Hindu di Bali adalah masyarakat Hindu yang memilih melakukan elaborasi estetik terhadap agama mereka
Masyarakat Hindu di Bali adalah masyarakat Hindu yang memilih melakukan elaborasi estetik terhadap agama mereka (Sumber gambar : klik disini)

Kembali pada masalah penetrasi kebudayaan India, Hilman Latief dalam tulisannya “Comparative Religion in Medieval Muslim Literature” menyebutkan dari berbagai literatur Islam abad ke 12-13 itu menyimpulkan bahwa kata al-Hind lebih identik ke identitas wilayah, bukan menunjuk sebuah agama.  Sedang untuk keagamaan, beberapa menyebutnya Brahmin/Brahmana atau varian lainnya. Salah satunya itu dibahas juga dalam kitab Al-Biruni dan al-Syahrastani.

Prasasti-psasasti Kutai Tarumanegara dan Kutai sejalan dengan kesimpulan dari penelitian literatur abad pertengahan yang dilakukan oleh Hilman Latief itu. Prasasti-prasasti itu menunjukkan secara jelas bahwa  kerajaan itu memiliki latar belakang agama Brahmin, Braham atau Abrahamik.  Dalam prasasti Kutai disebutkan Raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi. Demikian juga dalam prasasti Tugu pada masa Tarumanegara disebutkan Raja Purnawarman kenduri (selamatan) dengan menyembelih 1000 sapi. Penyembelihan sapi itu mengingatkan kita pada tradisi Qurban yang diajarkan Nabi Ibrahim dan dilaksanakan umat Islam hingga sekarang pada hari raya Idul Qurban. Tradisi menyembelih sapi pasti bukan tradisi Hindu. Bagi Agama Hindu sapi merupakan hewan suci dan keramat sehingga penyembelihan sapi dilarang. Penyembelihan sapi adalah tradisi agama Abrahamik.

Penyematan tapak kaki pada prasasti-prasasti Kerajaan Tarumanegara lebih menegaskan keberadaan agama Abrahamik (millatu Ibrahim) ini. Tradisi menyematkan tapak kaki pada batu atau prasasti adalah tradisi simbol Abarahamik seperti terlihat dalam Maqam Ibrahim. Umat Islam yang berhaji selalu berjumpa dengan prasasti telapak kaki nabi Ibrahim ini di sekitar Ka’bah di Mekkah.

Dari berbagai artefak pada masa Kutai dan Tarumanegara itu maka tidak salah jika disimpulkan bahwa yang disebut dalam Catatan Fa Xian sepulang dari India di era tahun ke-7 Kaisar Xiyi (411 M) tentang adanya agama Braham itu tak lain adalah agama Abrahamik, dan Braham adalah sebutan Fa Xian untuk Ibrahim. Seperti dikutip Yuanzhi, dari perjalanan pulang dari India ia singgah selama 5 bulan di Yapoti (Jawa dan Sumatra) lalu menulis: “Kami tiba di sebuah negeri bernama Yapoti (Jawa dan Sumatra). Di negeri itu Agama Braham sangat berkembang, sedangkan Buddha tidak seberapa pengaruhnya”.

Atas dasar data-data di atas maka tidaklah salah menghubungkan nenek moyang Nuswantara dengan umat Nabi Ibrahim. Hubungan nenek moyang nuswantara dengan umat Nabi Ibrahim ini sesungguhnya telah menjadi keyakinan lama orang nuswanta yang diwariskan secara turun temurun. Hal itu yang kemudian direkam dalam berbagai penulisan kitab Jangka Jayabaya yang  menyatakan bahwa mula pertama yang datang ke Nuswantara adalah para utusan Gusti Kanjeng Nabi Ibrahim (sekitar 3500 SM). Fakta-fakta ini jelas-jelas mempertanyakan historiografi buatan kolonial yang memaksakan periodesasi dengan sumber-sumber yang lemah.

Periodesasi sejarah Indonesia yang dibuat sejarahwan kolonial misalnya dengan menyebut misalnya Masa Pra-Sejarah, Masa Hindu-Budha, Masa Islam, dan Masa Kolonial, ternyata sangat berpengaruh terhadap cara membaca temuan sejarah. Sepintas periodesasi itu akan bisa membantu memahami data sejarah melalui asumsi adanya konsistensi karakteristik data yang sezaman. Sayangnya, penyakit bawaan kesalahan berpikir generalisasi di dalamnya justru akan membuat seorang peneliti bisa gagal menemukan makna asli karena tertutupi prasangka periode se-zaman. Data atau artefak faktual yang ada pada masa itu   namun dianggap tidak sejalan dengan prasangka periode itu maka akan dianggap datang dari asing, tanpa perlu penjelasan lebih lanjut.

Seperti halnya ketika Profesor R. Soekmono dan Dra. Inajati Andrisijanti Romli membuat sebuah pernyataan yang menyebutkan bahwa Maulana Malik Ibrahim adalah ulama asing yang dimakamkan di Majapahit berkaitan dengan inskripsi pada nisan Maulana Malik Ibrahim, ini bisa dibaca sebagai wujud cara berpikir generalisasi dalam prasangka periode di atas. Meski letak makam itu ada di Majapahit, bagi Profesor R. Soekmono dan Dra. Inajati Andrisijanti Romli tak perlu data yang banyak untuk menyebutnya sebagai orang asing. Jadi,  Maulana Malik Ibrahim bukan junjungan para sultan dan para menteri Kerajaan Majapahit, tetapi sebagai junjungan para sultan dan para menteri dari kerajaan di luar Nuswantara. Lalu, junjungan para sultan dan para menteri dari kerajaan mana serta bagaimana bisa dimakamkan di daerah Majapahit? Penjelasan itu dianggap tidak penting.

Persoalan periodesasi juga sangat terasa berkaitan dengan temuan-temuan artefak yang disangka bagian dari masa megalitikum. Berseraknya artefak pra Masehi yang sedemikian banyak di Nuswantara, ketika dihadapkan dengan prasangka periodesasi itu maka selesai dengan jawaban itu mewakili zaman megalitikum. Alhasil ketika Eropa pada 3500 sampai di 2300 tahun sebelum masehi sudah ada kebudayaan Minos kuno, seakan-akan di Nuswantara ini baru ada peradaban saat Kutai pada abad ke-4 masehi. Artefak-artefak yang berserak di Nuswantara yang berasal dari beberapa abad sebelum masehi, cukup disebut mewakili zaman batu besar. Sedemikian hebatnya kebudayaan Eropa dalam periodesasi sejarah kita.

Referensi :
  • Damais, Louis-Charles, 1995. Epigrafi dan Sejarah Nusantara: Pilihan Karangan Louis-Charles Damais. Jakarta: EFEO.
  • Endraswara, Suwardi. 2010. Falsafah Hidup Jawa: Menggali Mutiara Kebijakan Dari Intisari Filsafat Kejawen. Yogyakarta: Cakrawala
  • Honig Jr,  DR. A.G., 2005. Ilmu Agama. Cetakan ke-11.  Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.
  • Lombard, Denys, 2005, Nusa Jawa Silang Budaya 3 (Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris), Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
  • Munoz, Paul Michael, 2013. Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia. Yogyakarta: Media Abadi.
  • Natih, Gede M.N., 2009. Djohan  Effendi dan Agama Hindu, dalam Taher (Ed.), Elza Peldi. 2009. Merayakan Kebebasan Beragama: Bunga Rampai 70 Tahun Djohan Effendi. Jakarta: Kompas dan ICRP.
  • Sedyawati, Edi. 2014. Kebudayaan Nusantara: Dari Keris, Tor-tor Sampai Industri Budaya. Depok: Komunitas Bambu.
  • Soekmono, Prof. DR. R. dan Dra. Inajati Andrisijanti Romli. 1992. Peninggalan-Peninggalan Purbakala Masa Majapahit, dalam Kartodirdjo, Prof. DR. Sartono dkk. 1992. 700 Tahun Majapahit (1293-1993): Suatu Bunga Rampai. Surabaya: Dinas pariwisata Daerah Tingkat I Jawa Timur
  • Yuanzhi, Prof. Kong, 1999, Silang Budaya Tiongkok Indonesia, Jakarta: BIP.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 2 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...