Budaya Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Muhammadiyah

Gambar Budaya Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Muhammadiyah
Ahmad Ahid Mudayana, S.KM, M.PH.
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan, Ketua Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Keselamatan pasien dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian khusus semua rumah sakit termasuk rumah sakit Muhammadiyah. Perhatian ini dilakukan karena beberapa faktor yang berkaitan dengan perkembangan dunia rumah sakit. Pertama, meningkatnya pengetahuan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Kemajuan teknologi mempermudah masyarakat dalam mendapatkan informasi termasuk terkait pelayanan kesehatan. Semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat maka tuntutan untuk memperoleh pelayanan yang berkualitas juga semakin meningkat, karena semakin sadarnya masyarakat akan pentingnya keselamatan ketika mengakses pelayanan kesehatan. Kedua, perubahan orientasi rumah sakit dari management oriented kepada customer oriented. Ketika rumah sakit masih berorientasi pada kepentingan manajemen maka fokus utama rumah sakit adalah memenuhi keinginan manajemen yang lebih mengedepankan aspek keuntungan disbanding yang lain. Namun, seiring dengan perkembangan pengetahuan, maka saat ini fokus utama tidak lagi pada manajemen akan tetapi berfokus pada pelanggan. Adanya perubahan paradigma ini menjadikan pelanggan termasuk pasien mendapatkan perhatian lebih terutama dalam memperoleh akses pelayanan kesehatan. Ketiga, kompetisi antar rumah sakit yang semakin ketat. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa saat ini semakin banyak rumah sakit berdiri sehingga menyebabkan persaingan semakin ketat. Semakin banyaknya rumah sakit akan memudahkan masyarakat memilih rumah sakit. Maka dari itu rumah sakit harus meningkatkan kualitas pelayanannnya jika tidak ingin ditinggal oleh masyarakat termasuk meningkatkan keselamatan pasien. Keempat, perubahan regulasi rumah sakit. Standar akreditasi rumah sakit versi 2012 mengedepankan pada keselamatan pasien. Standar-standar yang ada hampir secara keseluruhan mencakup aspek keselamatan pasien. Maka, rumah sakit dituntut untuk memenuhi aspek tersebut jika ingin memperoleh akreditasi. Tuntutan tersebut yang kemudian mampu merubah budaya pelayanan yang ada dirumah sakit.

Keempat faktor itulah setidaknya yang menjadikan alasan bagi rumah sakit untuk menerapkan budaya keselamatan pasien. Selain faktor tersebut diatas masih ada faktor lain yang berkaitan dengan kejadian malpraktik. Di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir dikejutkan dengan berbagai kasus dugaan malpraktik. Dugaan malpraktik ini muncul disebabkan karena kurangnya pengetahuan pasien, gagalnya komunikasi antara pasien dengan petugas medis, kurangnya profesionalitas petugas medis.  Sesungguhnya ini bisa dicegah jika semua pihak baik pasien, petugas medis, maupun pihak rumah sakit saling bekerjasama. Kerugian yang disebabkan oleh kasus dugaan malpraktik cukuplah besar tidak hanya kerugian secara materiil tetapi juga non materiil.

Jika kasus dugaan malpraktik tersebut tidak ingin terulang maka budaya keselamatan pasien perlu diatur secara teratur. Termasuk memberikan pemahaman kepada pasien terkait risiko-risiko yang disebabkan karena tindakan medis. Perlu sebuah bidang sendiri didalam rumah sakit untuk mengatur budaya keselamatan pasien. adanya bidang tersebut maka akan mempermudah kinerja manajamen dalam menerapkan budaya keselamatan pasien sesuai standar akreditasi. Jika rumah sakit tidak mampu membentuk bidang tersebut, setidaknya terdapat tim kecil sebagai pelaksana kebijakan penerapan budaya keselamatan pasien.

Hal ini yang sudah dilakukan oleh beberapa rumah sakit Muhammadiyah. Demi menerapkan budaya keselamatan pasien maka pihak rumah sakit membuat bagian tersendiri atau hanya sekedar membentuk tim khusus. Tugas utama dari bagian atau tim tersebut  mulai dari merencanakan program-program keselamatan pasien, melaksanakan program tersebut, melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan budaya keselamatan pasien, serta melakukan evaluasi dari penerapan budaya keselamatan pasien dirumah sakit tersebut.

Demi penerapan budaya keselamatan yang baik, maka diperlukan dukungan dari pihak manajemen. Di antaranya dengan meningkatkan kerjasama, komunikasi, dan menjalankan  kepemimpinan dengan baik. Dari penelitian yang dilakukan menunjukkan hasil bahwa ada korelasi antara kerjasama dengan pelaksanaan keselamatan pasien. Kerjasama yang baik dapat mengjasilkan pelaksanaan keselamatan pasien yang baik pula. Hal ini dapat mencegah terjadinya kejadian-kejadian yang tidak diharapkan. Menurut Rachmawati (2011) kerjasama antar unit kerja di rumah sakit dalam setiap kesempatan diperlukan untuk berlangsungnya orientasi pembelajaran bagi setiap pegawai. Adanya kerjasama maka dapat menutupi kelemahan satu sama lain sehingga bisa bersama-sama dalam menerapkan budaya keselamatan pasien.

Komunikasi juga memiliki korelasi dengan pelaksanaan keselamatan pasien di rumah sakit. Kasus kegagalan komunikasi antar petugas kesehatan di rumah sakit masih ada. Hal ini dapat berdampak pada terganggunya pelayanan kesehatan kepada pasien. Semakin baik komunikasi yang dilakukan maka semakin baik pula pelaksanaan keselamatan pasien. adanya komunikasi yang baik antar petugas juga dapat mencegah dari kejadian yang tidak diharapkan. Menurut Rachmawati (2011) komunikasi yang baik dapat merubah kesadaran individu-individu sehingga dapat merubah pelayanan yang diberikan pada saat dilapangan. Komunikasi yang baik tidak hanya diperlukan untuk antar petugas saja. Komunikasi yang baik juga perlu dilakukan antara petugas kesehatan dengan pasien sehingga terjalin rasa saling percaya. Adanya keterbukaan dari pasien maupun petugas kesehatan dapat mempermudah dalam melakukan pelayanan kesehatan. Terutama dapat mempermudah dalam pengambilan keputusan terkait dengan pelayanan yang akan diberikan kepada pasien.

 Adanya kepemimpinan yang baik dapat menjalankan fungsi manajerial dengan baik. Fungsi manajerial yang baik menurut Sanjaya dan Suarjana (2013) dapat mempermudah dalam penerapan budaya keselamatan pasien. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ada korelasi antara kepemimpinan dengan pelaksanaan keselamatan pasien. menurut Rachmawati (2011) kepemimpinan menjadi faktor tertinggi dalam menerapkan budaya keselamatan pasien. Pentingnya peran kepemimpinan perlu menjadi perhatian tersendiri oleh manajer terutama manajer pada level atas. Kepemimpinan yang baik sangat dibutuhkan untuk menjalankan sebuah organisasi pelayanan kesehatan seperti rumah sakit yang memiliki permasalahan yang sangat kompleks. Peran pemimpin sangat dibutuhkan dalam menerapkan budaya keselamatan pasien, tidak hanya dibebankan pada petugas kesehatan saja. Peran ini bisa dilakukan dengan menjalankan fungsi manajerial. Fungsi tersebut meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi. Fungsi-fungsi tersebut harus dijalankan oleh seorang manajer sehingga budaya keselamatan pasien berhasil diterapkan dengan baik.

Maka dari itu pihak manajemen rumah sakit-rumah sakit Muhammadiyah harus memperhatikan ketiga faktor tersebut yaitu kerjasama, komunikasi dan menjalankan kepemimpinan dengan baik. Maka penerapan budaya keselamatan pasien dapat berjalan dengan baik. Sangat pentingnya keselamatan pasien di semua pelayanan kesehatan harus menjadi prioritas utama bagi pihak manajemen. Perlu upaya yang cukup keras untuk mewujudkan itu sehingga budaya keselamatan pasien benar-benar bisa diterapkan dengan baik. Dari sekarang pihak manajemen rumah sakit Muhammadiyah harus membuat perencanaan yang matang. Perencanaan yang dikelola secara matang dan baik dapat mempermudah dalam menerapkan budaya tersebut sehingga tidak semata-mata berorientasi pada kepentingan manajemen saja. Akan tetapi juga perlu memikirkan kepentingan masyarakat yang lebih luas ditengah tuntutan masyarakat yang ingin memperoleh pelayanan yang bermutu.

Keselamatan pasien dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian khusus semua rumah sakit
Keselamatan pasien dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian khusus semua rumah sakit (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Kesehatan Majalah Mentari Bulan 9 Tahun 2015, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...