BPJS Kesehatan Untuk Siapa ?

Sebuah pertanyaan yang mungkin terpendam dalam hati sebagian masyarakat. Untuk siapa sebenarnya program BPJS Kesehatan ini? Pemerintah, pemilik rumah sakit, tenaga kesehatan, atau masyarakat. Sejak dijalankan pada tahun 2014 sampai saat ini masih banyak permasalahan yang muncul. Sedang permasalahan yang lamapun tak kunjung bisa diselesaikan sehingga permasalahan semakin rumit. Program BPJS Kesehatan yang sudah memiliki payung hukum dalam UU SJSN dan UU BPJS seharusnya bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Mengingat target 5 tahun setelah program ini dijalankan semua masyarakat dapat menjadi peserta program ini.

Bukan tanpa upaya, setiap tahun Pemerintah maupun BPJS Kesehatan selalu berusaha untuk memperbaiki serta menyelesaikan permasalahan yang ada. Akan tetapi, ini saja belum lah cukup jika melihat permasalahan yang ada saat ini. Banyak permasalahan yang sampai saat ini belum juga bisa diselesaikan diantaranya terbatasnya jumlah fasilitas kesehatan yang bisa melayani peserta BPJS Kesehatan. Sampai saat ini belum semua fasilitas  kesehatan (faskes) baik primer, sekunder mapun tersier bisa melayani peserta BPJS Kesehatan yang mencapai puluhan juta.

Hal ini dikarenakan belum semua faskes yang ada memenuhi syarat untuk melayani peserta BPJS Kesehatan baik dari segi administrasi maupun ketersediaan sarana dan prasarana. Mengingat masih terbatasnya jumlah faskes yang melayani peserta BPJS Kesehatan menjadikan terjadinya penumpukan pelayanan sehingga menyebabkan waktu tunggu pelayanan menjadi lama. Selain itu tentu juga dapat menyebabkan meningkatnya beban kerja tenaga kesehatan yang melayani peserta tersebut. Dampaknya yang terjadi sulitnya mencapai pelayanan yang bermutu.

Selain menumpuknya jumlah kunjungan khususnya di faskes rujukan juga menimbulkan berbagai permasalahan. Pertama, karena keterbatasan sarana prasarana maka terjadi permasalahan jika peserta tersebut naik ke kelas yang lebih tinggi yang menyebabkan adanya kenaikan biaya yang itu dibebankan oleh rumah sakit. Ini yang kemudian juga menimbulkan permasalahan sehingga beberapa waktu yang lalu seluruh rumah sakit swasta di salah satu provinsi memutuskan untuk menghentikan seluruh pelayanan peserta BPJS Kesehatan. Lalu siapa yang kemudian dirugikan atas kondisi tersebut, tentunya masayarakat. Meskipun pada akhirnya pemerintah akan merubah aturan tersebut sehingga rumah sakit swasta tidak dirugikan. Hal ini sangat wajar mengingat rumah sakit swasta secara mandiri mengelola keuangannya berbeda dengan rumah sakit pemerintah yang mendapat subsidi anggaran baik dari APBN maupun APBD.

Permasalahan lainnya yang sampai saat ini belum diselesaikan tentunya berkaitan dengan pembagian kapitasi. Ada sebagian tenaga medis yang mengeluhkan rendahnya jasa medis yang didapat dari pelayanan peserta BPJS Kesehatan sehingga diangap tidak sesuai dengan kewajiban yang diemban oleh para tenaga medis. Hal ini dapat mengurangi motivasi kerja para tenaga medis sehingga dapat berpengaruh pada produktifitas kerja para tenaga medis. Beban kerja yang begitu berat dengan bertambahnya jumlah pasien mengingat masih terbatasnya jumlah faskes maka juga harus diimbangi dengan jasa medis yang layak. Sehingga para tenaga medis dapat termotivasi untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu.

Untuk mewujudkan pelayanan yang bermutu ada 5 dimensi yang harus diperhatikan yaitu reliability, tangible, responsiveness, assurance, emphaty. Ke lima dimensi ini harus dipenuhi sehingga mutu pelayanan untuk peserta BPJS Kesehatan bisa meningkat lebih baik lagi. Reliability, pelayanan yang diberikan harus reliable dalam arti ada kesesuaian dengan standar yang sudah ada. Selain itu juga pelayanan dilakukan secara tepat dan handal sehingga tidak menimbulkan kesalahan dalam melakukan pelayanan kesehatan.

Tangible, sarana prasarana harus tersedia dengan lengkap dan dalam kondisi yang baik sehingga dapat menunjang pelayanan. Responsiveness, setiap petuhgas kesehatan harus memiliki respon yang cepat dan tepat dalam melayani pasien. Selain itu, memiliki kesiapan dan tanggap dalam memenuhi kebutuhan pasien. Assurance, pelayanan kesehatan harus memberikan jaminan rasa aman, handal, ramah dan sopan kepada setiap pengunjung faskes.

Emphaty, seluruh petugas faskes harus memiliki rasa kepedulian terhadap pasien, memiliki perhatian yang khusus kepada seluruh pasien termasuk memahami setiap kebutuhan yang diperlukan pasien. selain itu juga perlu diperhatikan  bahwa pelayanan yang diberikan harus mengutamakan keselamatan pasien. Jika ke lima dimensi ini dijalankan maka akan dengan mudah sebuah rumah sakit dalam mewujudkan pelayanan yang bermutu. Terutama pelayanan yang diberikan kepada peserta BPJS Kesehatan yang sering mengeluhkan masih adanya pelayanan yang diskriminatif. Dengan begitu tujuan untuk mewujudkan masyarakat yang sehat dan sejahtera dengan program BPJS Kesehatan atau Jaminan Kesehatan Nasional ini bisa benar-benar terwujud.

Untuk siapa sebenarnya program BPJS Kesehatan ini? Pemerintah, pemilik rumah sakit, tenaga kesehatan, atau masyarakat
Untuk siapa sebenarnya program BPJS Kesehatan ini? Pemerintah, pemilik rumah sakit, tenaga kesehatan, atau masyarakat (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Kesehatan Majalah Mentari Bulan Januari Tahun 2017 , dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait