Bisnis Menurut Al-Qur’an

Bisnis adalah kegiatan perdagangan didalamnya terdapat transaksi jual-beli yang di butuhkan oleh manusia. Bisnis merupakan salah satu bagian yang amat pentig dalam kehidupan manusia. Sebelum dunia mengenal dunia bisnis dan alat transaksi bisnis, masyarakat klasik sering melakukan tukar menukar barang yang dikenal dengan istilah barter. Namun seiring perkembangan dan kemampuan nalar manusia, sistem barter kini telah tiada, dan berkembanglah apa yang disebut dengan berbisnis.

Rasulullah SAW dikenal dengan julukan al-amin, di karenakan kejujuran Rasulullah dalam berbisnis. Cerminan tauladan rasulullah tergambar pula dalam Al-Qur’an bagaimana pola Rasulullah SAW melakukan bisnis dengan baik dan jujur. Karena dengan kejujuran itulah menjadi modal untuk mengembangkan bisnis. Maka tak diragukan lagi jika masa muda Rasulullah dijuluki sebagai pelaku bisnis yang sukses, sebagaimana Rasulullah diamanahi untuk memegang kendali bisnis Khadizah.

Di dalam Al-Qur’an sering terungkap istilah-istilah terkait dengan dunia bisnis, seperti jual-beli, untung-rugi, kredit/pembiayaan dan sebagainya. Perhatikan firman Allah SWT berikut ini “Siapa yang ingin memberi Qardh (Kredit/Pembiayaan) kepada Allah dengan Pembiayaan yang baik, maka Allah akan melipatgandaan (qardh itu) untuknya, dan dia akan memperoleh ganjaran yang banyak” (QS. Al-Hadid {57} :11). Dari penggalan ayat ini dapat kita maknai bahwa jika kita memberikan pertolongan berupa pinjaman maka telah dijamin oleh Allah dengan berlipatganda ganjaran dan gantinya.

Bahkan di ayat lain, bagi manusia yang enggan melakukan aktivitas karena mempertimbangkan keuntungan, maka Al-Qur’an telah melayani dan menawarkan dari suatu kegiatan itu tanpa mengenal kerugian dan penipuan, “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang Mukmin harta dan jiwa mereka dan sebagai imbalanya mereka memperoleh surga, siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) dari Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang kamu lakukan itu. Itulah kemenangan yang besar” (QS. At-Taubah {9}:111). Bagaimana diayat ini menerangkan bahwa jual beli tak sekadar untuk memenuhi kebutuhan fisik, namun ada aktivitas yang substantive yaitu meraih ridho dan imbalan surge dari Allah SWT.

Inilah fitrah yang melekat dalam diri manusia, yaitu berupa dorongan untuk memelihara dirinya. Dorongan itu kemudian menggiring manusia untuk memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang, pangan, papan. Dengan demikian manusia harus berusaha untuk dapat memelihara dirinya dari segala bentuk kekurangan yang mengakibatkan dirinya sengsara. Oleh sebab itu manusia harus berusaha agar kebutuhan pokok itu tercukupi, agar dirinya terpelihara hingga memperoleh ketengan jiwa dan kebahagiaan.

Namun demikian sebagai seorang muslim dalam melakukan aktivitas kerja atau berbisnis harus memiliki orentasi yang jelas sebagaimana yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Pengusaha muslim tidak semata-mata berbisnis dan bekerja hanya soal kebutuhan duniawi namun berorientasi kebahagiaan surgawi. Maka jika pandangan berbisnis ataupun berkerja berorientasi masa kini (dunia) dan masa akan dating (akhirat) maka ini yang dinamakan kuntungan sebagaimana firman Allah SWT diatas (QS. 9:111).

Allah SWT sering kali mengaitkan kata kerja dengan kata iman. Banyak sekali kedua kata ini saling berdampingan, setidaknya menurut Quraish Shihab tidak kurang dari lima puluh kali kata ‘amal (kerja) yang dirangkaikan dengan Iman. Nampak jelas disini bahwa unsur ruhani dalam segala aktivitas manusia harus melekat dan mutalk adanya. Ruhani merupakan unsur terdalam manusia yang sangat fundamental. Sebagaimana firman Allah bahwa segala amal yang tidak disertai dengan iman, maka tidak berarti sedikitpun di sisi-Nya “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” (QS Al-Furqan {25} : 23).

Teranglang bahwa bagi sorang muslim dalam melaukan aktivitas berkerja atau dalam hal ini berbisnis berlu digarisbawahi dan dicatat bahwa harus mendapatkan dorongan yang besar, yakni memperoleh “apa yang ada di sisi Allah”. Oleh karena itu, ayat terkait dengan fitrah manusia selalu diakhiri dengan, Wa Allaahu ‘iindahu husn al-ma’aab (Di sisi Allah terdapat kesudahan yang baik) (QS. Ali-Imran {3} :14). Dengan demikian jelas bahwa pandangan seorang muslim yang bekerja dan berbisnis haruslah melampaui batas masa kini dan masa depannya yang dekat, menuju masa depan yang amat jauh.

Inilah orientasi yang harus tertanam dan diresapi oleh seorang yang bekerja dan berbisnis, tidak sekadar mengejar keuntungan dubiawi  yang segera habis, tetapi berorientasi masa depan yang jauh. Dari sini pula al-Qur’an mengingatkan bahwa sukses yang diperoleh orang-orang yang berpandangan dekat bias melahirkan penyesalan dan dimasa depan mereka akan merugi, sebagaimana yang difirmankan Allah dalah surah Al-Isra’ {17} ayat 18-19 “Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki, dan kami tentukan baginya neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha kea rah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia adalah Mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya akan disukuri (dibalas) dengan baik”.

Inilah orientasi yang harus tertanam dan diresapi oleh seorang yang bekerja dan berbisnis, tidak sekadar mengejar keuntungan dubiawi yang segera habis, tetapi berorientasi masa depan yang jauh
Inilah orientasi yang harus tertanam dan diresapi oleh seorang yang bekerja dan berbisnis, tidak sekadar mengejar keuntungan dubiawi yang segera habis, tetapi berorientasi masa depan yang jauh (Sumber gambar : klik disini)

Sisilain yang dituntutkan bagi pelaku bisnis dalam al-Qur’an yaitu ‘tidak menganiaya’ sebagaimana firman Allah “Bagimu modal kamu. Kamu tidak menganiaya dan tidak pula teraniaya” (QS Al-Hasyr {59}:9). Ayat ini menerangkan bahwa berlaku adil dalam berbisnis harus dicermintakan oleh dua pihak yaitu antara penjual (pembisnis) dan pembeli. Inilah ajaran yang harus dipegang erat bahwa sustansi dari berdagang adalah salaing menguntungkan dan menghindari kecurangan.

Kemudian jika ada yang berhutang dan sulit untuk membayarnya, al-Qur’an mengajarkan untuk memberi jedah agar kreditur mampu bernafas sehingga kelak dapat melunasi hutang-hutangnya tersebut. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Baqorah {2} ayat 280 “Jika orang yang berhutang dalam kesukaran, maka berilah tangguh, sampai dia berkelapangan”.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Muamalah Majalah Mentari Bulan 12 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait